Moving On

Moving On
Ledakan Tiba-tiba



Tangan Agen Mia terikat dengan tali. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Beberapa titik di wajahnya membiru seperti terkena pukulan. Rambutnya acak-acakan. bahkan kini pria yang ada di sampingnya, menggenggam rambutnya dengan begitu kasar.


Lukas terdiam beberapa saat. Bagaimana mungkin wanita tangguh seperti Agen Mia bisa kalah semudah itu. Bahkan hal itu belum lama terjadi. Baru saja beberapa menit yang lalu mereka berpisah. Tapi, kini wanita itu muncul dengan puluhan luka di tubuhnya. Dan dimana Inspektur Tao. Sejuta pertanyaan itu kini mengisi pikiran Lukas. Di tambah lagi, Lana yang tidak kunjung muncul membuat Lukasberpikir cukup keras atas rencana besarnya malam ini. Hanya ada dua pilihan. Berhasil atau mati di tempat itu.


“Apa yang kalian lakukan di sini?” teriak seorang pria berjaket hitam berbadan kekar yang kini menjambak rambut Agen Mia.


“Saya hanya seorang wisatawan,” jawab Lukas dengan nada bicara yang cukup santai. “Anggota kalian menyerang saya tiba-tiba tanpa alasan.”


“Apa kau pikir kami percaya?” teriak pria lainnya dengan tawa keras yang cukup menghina.


“Gold Dragon! Kalian ke sini untuk merusak casino milik Pangeran Damian.” Seorang pria berjalan mendekati Lukas sambil memamerkan otot-otot tubuhnya.


DUARR DUAAR


Puluhan tembakan di lepas Lana dan Inspektur Tao secara bersamaan. Beberapa musuh yang kini berada di hadapan Lukas juga kehilangan kosentrasi. Mereka membuat tembakan balasan ke arah Lana dan Inspektur Tao.


Lukas menyerang pria berbadan besar yang ada di hapannya. Kini mereka memiliki lawannya masing-masing. Agen Mia juga berusaha keras untuk melepas ikatan yang kini sangat menyiksanya. Agen wanita itu mengincar tas hitam yang telah di sembunyikan Lukas. Jika ia behasil memasang bom itu maka rencana mereka akan segera berhasil.


Lana menebas sebilah belati di tali yang mengikat Agen Mia. Bibirnya tersenyum kecil sebelum berlari menuju ke arah tas hitam yang sejak awal di incar oleh Agen Mia. Tidak mau kalah, Agen wanita itu juga berlari untuk merebut tas yang ingin di ambil oleh Lana.


“Apa yang kau lakukan?” protes Lana saat tas itu berhasil di genggam oleh Agen Mia.


“Tugasku,” jawab Agen Mia. Bibirnya yang berdarah mengukir satu senyuman penuh kemenangan.


Lana memutar tubuhnya untuk mencari posisi melompat. Mereka memiliki rencana untuk melompat dari ketinggian gedung yang ada dengan tali. Lana melirik Lukas yang masih sibuk bertarung dengan pria berbadan kekar penjaga casino.


“Lagi-lagi pria seperti itu,” ucap Lana pelan sambil memasang tali pada pinggangnya. di sampingnya ada Inspektur Tao yang juga sudah memasang posisi siap sedia.


Agen Mia berlari ke setiap sudut lantai luas itu untuk memasang bom yang ada di dalam tas. Pria berbadan tegab yang kini bertarung bersama Lukas belum juga kalah. Sementara semua bom yang di pasang Agen Mia waktunya sudah berjalan. Hanya ada lima menit terakhir sebelum bom itu meledak.


Agen Mia berlari ke ujung gedung yang tidak jauh dari posisinya berada dan melompat dengan tali. Diikuti dengan Inspektur Tao yang juga melompat secara bersamaa. Lana mengeryitkan dahi dengan wajah bingung. Wanita tangguh itu menatap Lukas yang tidak kunjung berhasil lari dari pria bertubuh besar itu.


Dengan wajah sangat kesal, Lana melepas tali yang ada di pinggangnya. Ia berlari dengan tembakan ke arah tubuh pria berkulit tebal yang kini belum berhasil di kalahkan Lukas. Tidak ada satu pelurupun yang menancap. Menurut perhitungan Lana, hanya tersisa hitungan detik terakhir sebelum bom itu meledak.


Lukas menghapus darah yang ada di sudut bibirnya. Pria itu menancapkan belati di punggung kanan musuhnya. Tidak peduli dengan keadaan musuhnya saat itu. Lukas berlari dengan sangat cepat ke tepian gedung. Diikuti Lana di belakanganya. Lukas dengan cepat memasang tali dan siap untuk melompat. Sedangkan Lana, menghentikan langkah kakinya. Kalung yang sempat ia pakai terlepas. Terjatuh tepat di samping tubuh pria berbadan kekar yang kini kesakitan.


Kalung itu hadiah pertama yang selalu menemaninya sejak kecil. Bahkan Lana sendiri gak tahu siapa yang memberi kalung itu waktu dirinya masih kecil. Dengan gerakan cepat, Lana memutar kembali langkah kakinya. Lukas melebarkan kedua bola matanya saat melihat aksi nekad Lana malam itu.


Lana mengeluarkan belati untuk menghalangi pria berbadan tegab itu.


“Lana!” teriak Lukas. Hanya tersisa hitungan detik dan bom itu akan meledak untuk menghancurkan casino Damian.


Kalung berwarna silver itu berhasil berada di genggaman Lana. Dengan gerakan cepat Lana memutar tubuhnya untuk menjauh dari ledakan yang akan segera di mulai.


DHOOMM!


Ledakan dahsyatpun terjadi. Gedung megah dan mewah itu mengeluarkan kepulan api dan asap hitam yang begitu dahsyat. Seluruh pengunjung yang masih ada di lantai bawah berusaha menyelamatkan diri di detik-detik sebelum gedung itu roboh.


Tidak jauh dari gedung meledak itu, Agen Mia dan Inspektur Tao berdiri menyaksikan kekalahan Damian. Ada senyum puas di sudut bibir Inspektur Tao saat itu. Namun, tiba-tiba ia ingat dengan Lukas dan Lana yang sejak tadi tidak kunjung muncul. Di sinila titik pertemuan yang sudah di tentukan Lukas. Tapi, sudah cukup lama menunggu dua mafia itu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.


“Apa pasukan Gold Dragon tidak tersisa satupun?” Agen Mia menatap wajah Inspektur Tao dengan seksama. Hanya belasan Gold Dragon yang ikut ke Monako. Namun, belasan pria itu sudah meregang nyawa sebelum Lukas tiba.


“Tidak mungkin, aku yakin Lukas dan Lana selamat dan berhasil lari.” Inspektur Tao memandang jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Sudah waktunya untuk pergi,” ucap Agen Mia sambil melangkahkan kakinya ke arah helikopter yang sudah siap untuk terbang.


Inspektur Tao memandang ke arah depan. Ia masih ingin menunggu Lukas dan Lana muncul. Namun, Lukas juga berpesan. Apapun yang terjadi. Siapapun yang selamat maka harus segera pergi meninggalkan Monako.


“Aku yakin kalian masih hidup. Segera temui kami di Kota Rio,” ucap Inspektur Tao sebelum berlari menuju ke arah helikopter yang sudah siap untuk terbang.


Helikopter itu naik secara perlahan untuk membawa Agen Mia dan Inspektur Tao menuju ke bandara. Mereka harus segera menjauh dari Monako sebelum Damian tahu semua ini. Ia akan mengunci akses atas seluruh pengunjung agar tidak bisa meninggalkan Monako dengan selamat.


Likenya jangan lupa...sama vote seikhlasnya...