
Di dalam gedung istana, Emelie terlihat tidak tenang. Sejak tadi wanita berstatus sebagai putri kerajaan itu berjalan mondar-mandir seperti orang yang kebingungan. Wajahnya terlihat panik saat kekasihnya belum juga memberi kabar. Di sebuah sofa yang ada di dalam kamar Emelie, ada Shabira yang sedang memandang wajah kakak iparnya dengan tangan menopang kepala. Sesekali wanita itu mengukir senyuman saat membayangkan bagaimana suasana hati Emelie malam itu.
“Kak, semua akan baik-baik saja. Strategi malam ini sudah ada campur tangan kak Zeroun.” Shabira kembali berusaha membujuk Emelie agar segera istirahat.
Jam sudah menunjukkan hampir jam dua pagi. Bahkan mata wanita hamil itu sudah tidak sanggup menahan kantuknya. Namun, Shabira memiliki tugas penting dari Zeroun. Ia tidak akan membiarkan Emelie kabur dari istana untuk menjemput Zeroun di lokasi perang.
“Zetta, sudah dua jam ia pergi. Kalian bilang ini hanya sebuah order kecil. Tapi apa yang sekarang aku rasakan tidak sama dengan apa yang kalian katakan.” Emelie berdiri di hadapan Shabira dengan kedua tangan di pinggang. Semakin lama ia tidak lagi percaya dengan bujukan adik iparnya. Hatinya tidak lagi bisa di ajak kerja sama atas masalah yang kini di hadapi lelaki yang ia cintai.
“Kak, kami pernah melewati masa yang jauh lebih sulit seperti ini. Penyerangan malam ini tidak ada apa-apanya jika di bandingkan penyerangan kami waktu di Thailand,” ucap Shabira sambil memperhatikan kukunya yang lentik.
“Thailand?” celetuk Emelie dengan dahi mengeryit.
Shabira mengangguk pelan, “Itu pertarungan paling besar yang pernah kami lakukan seumur hidup kami. Kami berjuang untuk menyelamatkan Kak Erena,” ucap Shabira dengan wajah yang tiba-tiba sedih, “Bahkan kak Erena harus kehilangan anak pertamanya dalam aksi besar waktu itu.”
Emelie tertegun. Wanita itu duduk di samping sofa yang juga di duduki oleh Shabira. Kedua tangannya mencengkram kuat tangan adik iparnya, “Ceritakan padaku, Zetta. Apa yang telah terjadi saat itu.”
Shabira memandang wajah Emelie dengan keraguan. Wanita itu takut menceritakan masa lalu yang berhubungan dengan Zeroun dan Erena. Tapi, wajah Emelie di penuhi harapan besar kalau dirinya akan menceritakan semuanya.
Shabira mengukir senyuman sebelum mengeluarkan kata, “Kak, aku akan menceritakan semuanya dengan jujur tanpa ada yang aku tutupi. Tapi, aku harap kakak bisa mendengar cerita ini dengan hati yang terbuka. Aku tidak ingin kakak salah paham atas masa lalu yang pernah terjadi di antara kak Zeroun dan-” ucapan Shabira tertahan, “Kak Erena.”
Emelie mengukir senyuman manis, “Aku janji akan menerima semua masa lalu Zeroun. Sama halnya Zeroun yang sudah menerima masa laluku selama ini. Kau harus percaya padaku Shabira.”
Shabira mempercayai perkataan Emelie malam itu. Ia memulai ceritanya yang di awali saat bom yang terjadi di rumah Diva. Wanita itu terlihat bersungguh-sungguh dalam cerita yang ia katakan. Tidak ada satu kejadian pun yang ia tutupi. Hingga akhir dari cerita itu berhenti pada persahabatan yang terjalin antara Daniel dan Zeroun.
“Aku sangat bahagia bisa melihat mereka bersatu menjadi satu keluarga. Walau di awali dengan luka dan penderitaan, tapi cerita cinta segitiga mereka berakhir bahagia.” Shabira menghapus tetes air mata yang tiba-tiba saja terjatuh.
Sama halnya dengan Emelie. Wanita itu juga meneteskan beberapa bulir air mata saat mendengar cerita cinta yang terjadi di antara Serena, Zeroun dan Daniel. Ia tidak pernah menyangka, telah jatuh cinta pada pria yang setia seperti Zeroun. Bahkan nyawa pria itu tidak lagi penting baginya saat wanita yang ia cintai dalam bahaya.
“Aku sangat bahagia bisa memiliki Zeroun. Aku sangat mencintainya, Zetta.” Emelie merem*as tangan Shabira dengan mata berkaca-kaca.
Shabira memeluk tubuh Emelie dengan penuh kasih sayang. Wanita itu juga bahagia karena kini Zeroun telah menemukan pengganti Erena. Bahkan Emelie bisa membuat hidup Zeroun jauh lebih terbuka dan ceria jika di bandingkan sifatnya yang dahulu.
Dua wanita itu asyik berpelukan dalam waktu yang cukup lama. Secara tiba-tiba pintu kamar Emelie terbuka. Zeroun dan Kenzo muncul dengan senyuma bahagia di bibir Mereka.
“Apa semua baik-baik saja?” ucap Emelie penasaran.
Zeroun mengangguk pelan, “Ya. Semua berjalan sesuai rencana. Untuk sementara kami mengirim Inspektur Tao dan Agen Mia ke Hongkong. Mereka akan aman di sana selama polisi memburu narapidana yang kabur.”
“Sayang, kenapa kau belum tidur?” Kenzo menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya. Lelaki itu mendaratkan satu kecupan di dahi Shabira. Satu tangannya mengusap lembut rambut istrinya.
“Aku tidak akan bisa tidur sebelum Kak Emelie juga tidur,” jawab Shabira dengan mata yang cukup berat.
“Maaf,” ucap Emelie pelan.
Zeroun mengukir senyuman. Lelaki itu mengusap lembut rambut Emelie dengan satu senyuman indah, “Kau pasti sangat mengkhawatirkanku hingga tidak tidur. Sekarang aku sudah kembali. Tidak ada lagi yang akan mengganggu tidurmu, Sayang.”
Emelie mengangguk pelan, “Selamat malam. Aku sangat mencintaimu, Zeroun.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Emelie.” Zeroun mengusap lembut pipi Emelie sebelum memutar tubuhnya.
Kenzo dan Shabira juga mengikuti langkah Zeroun dari belakang. Mereka ingin segera beristirahat. Setelah ini, tidak ada lagi masalah yang akan mengganggu hubungan Zeroun dan Emelie. Semua rencana indah akan segera terlaksana di hari yang bahagia.
Emelie berjalan ke arah tempat tidur. Wanita itu berbaring dengan senyum yang sangat indah, “Aku sudah tidak sabar menjadi istrimu, Zeroun Zein.” Secara perlahan, Emelie memejamkan mata. Bukan hanya menanti mimpi yang indah, tapi kehidupannya juga terasa jauh lebih indah jika di bandingkan dengan mimpinya saat ini.
“Semua akan berlalu pada waktunya. Aku tidak perlu marah pada takdir yang telah menguji hidupku. Masa indah akan segera tiba saat masa sulit terlewati." ~Emelie.
.
.
.
Besok Part Royal Wedding.. siapkan koin dan poin banyak buat undangan.🤣🤣