
Lukas masuk ke dalam kamar Lana. Pria itu melangkah dengan hati-hati. Wajahnya lagi-lagi harus berubah sedih saat melihat Lana berbaring lemah dengan wajah yang pucat. Pria tangguh itu berdiri di pinggiran tempat tidur sambil merapikan selimut Lana.
"Kau harus kuat, Lana," ucap Lukas sambil mengusap lembut rambut Lana. Pria itu mengecup pucuk kepala Lana sebelum memutar tubuhnya. Langkahnya terhenti saat Lana menahan tangannya.
"Temani aku," ucap Lana dengan suara yang lirih.
Lukas memutar kembali tubuhnya. Pria itu menatap Lana dengan wajah bingung. Sejak tadi Ia berpikir kalau wanita yang ia cintai telah tertidur lelap. Tidak di sangka wanita itu hanya pura-pura tidur.
"Aku akan menemanimu sampai kau kembali tidur, Lana." Lukas duduk di tepian tempat tidur sambil memandang wajah Lana.
"Aku ingin kau tidur di sampingku sampai besok pagi," pinta Lana dengan nada memohon.
"Baiklah," ucap Lukas mengalah. Pria itu tidak tega jika harus menolak permintaan kekasihnya. Hanya menemani tidur. Bagi Lukas itu pemintaan yang cukup unik dan manis.
Belum sempat Lukas menemukan posisi nyamannya. Ponselnya harus kembali berdering. Jika tadi ada Kenzo yang mengganggu waktu tidurnya. Detik itu Ia tidak tahu siapa lagi yang ingin mengganggunya.
Lana menghela napas kasar. Cukup sulit baginya untuk meminta Lukas menemaninya tidur sampai pagi.
Lukas memandang wajah Lana sambil melekatkan ponselnya di telinga. Wajahnya berubah serius saat mendengar kabar buruk yang baru saja disampaikan oleh bawahannya. Ponsel itu di genggam Lukas dengan ekspresi marah.
"Aku akan ke sana," ucap Lukas sebelum mematikan ponselnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Lana bingung. Ekpresi wajah Lukas berubah. Sudah pasti kalau kini pria tangguh itu baru saja mendapatkan masalah.
"Aku harus pergi. Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu malam ini." Lukas mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana, "Tidurlah. Kau butuh istirahat yang cukup."
Lana hanya mengangguk pelan dengan senyuman pahit, "Hati-hati dan cepat kembali." Tidak terucap sedikitpun kata tanya untuk Lukas. Walau malam itu Lana sangat ingin tahu apa yang ingin di lakukan kekasihnya.
Lukas mengangguk sebelum pergi meninggalkan kamar Lana. Lana menatap punggung Lukas dengan wajah sedih.
"Aku harap besok pagi saat membuka mata wajahmu yang pertama kali aku lihat," gumam Lana di dalam hati.
Lukas berdiri di depan kamar Lana. Pria itu memandang wajah Kenzo dan Zeroun sudah berdiri di sana.
"Kita tidak bisa membiarkan Morgan membawa pergi pria itu," ucap Kenzo dengan wajah yang cukup serius.
Zeroun memandang wajah Lukas dan Kenzo secara bergantian, "Morgan lawan yang kecil dan tidak terlalu berbahaya. Kenapa harus sesulit ini mengalahkannya."
Kenzo menepuk pundak Zeroun dengan senyum kecil, "Baby, terkadang musuh yang kau anggap lemah justru ia yang akan merenggut nyawamu.'
Zeroun melirik wajah Kenzo dengan tatapan tidak suka. ingin sekali ia memukul wajah pria itu karena tidak suka dengan ledekannya.
Lukas yang awalnya berwajah tegang kini sedang menahan tawa. Pria itu menunduk sebelum berdehem pelan.
Kenzo yang mulai sadar dengan perubahan wajah Zeroun malam itu, mulai memasang wajah yang serius.
"Bos Zeroun, anda sebaiknya tetap di markas ini. Shabira juga ada di sini. Kehamilannya sudah cukup besar. Aku harap kau bisa menjaganya selama aku pergi bertugas." Kali ini Kenzo mengedipkan sebelah matanya.
Zeroun tidak lagi mau membahas ledekan Kenzo. Wajahnya berubah berseri saat mendengar kabar adik tercintanya itu.
"Pergilah. Temui pria itu. Biar aku yang menjaga tempat ini."
Kenzo dan Lukas saling memandang. Dua pria itu mengambil senjata api yang tertata rapi di sebuah lemari. Lemari itu berukuran besar. Di dalamnya ada banyak jenis senjata api dan belati yang di khususkan untuk Lukas dan Zeroun.
"Kami pergi dulu," ucap Kenzo sambil memeriksa kembali senjata apinya.
Zeroun tidak menjawab apapun. Pria itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku sambil memandang punggung Kenzo dan Lukas.
Zeroun memutar tubuhnya. Pria itu berjalan ke arah kamar tidurnya dan Emelie. Langkahnya terhenti saat melihat Shabira keluar dari dalam kamar.
"Kak, apa Kenzo sudah pergi?" ucap Shabira sambil merapikan rambutnya yang terlihat berantakan.
"Ya. Zetta, kemarilah." Zeroun merentangkan kedua tangannya. Ia ingin memeluk adik kandungnya.
Shabira mengukir senyuman sebelum berjalan ke arah Zeroun berada. Tanpa ragu-ragu wanita hamil itu memeluk tubuh Zeroun.
"Sepertinya kandunganmu sudah cukup besar," ucap Zeroun sambil mengusap punggung Shabira.
"Kehamilanku sudah berusia tujuh bulan. Apa Kakak mau tahu jenis kelamin anak yang aku kandung?" Shabira mendongakkan kepalanya agar bisa menatap jelas wajah Zeroun.
"Laki-laki?" celetuk Zeroun dengan senyum kecil.
"Kenapa Kakak tahu!" protes Shabira tidak terima.
Zeroun tertawa kecil sambil mengusap lagi punggung Shabira, "Aku tahu semuanya. Termasuk kelakuanmu malam ini."
Shabira melepas pelukannya dari tubuh Zeroun, "Aku hanya ingin melihat wajah wanita itu. Aku tidak berniat untuk melukai pasukan Gold Dragon."
Zeroun mengangkat kedua bahunya secara bersamaan, "Aku tidak tahu, wanita hamil ini yang semakin hebat atau pasukanku yang semakin lemah."
Shabira tertawa kecil, "Kakak tidak bisa meragukan kemampuanku. Bahkan, jika malam ini aku di ajak bertarung juga masih sanggup dan sudah pasti akan menang."
Zeroun mengukir senyuman, "Apa kau benar-benar ingin melihat wajahnya?"
"Wajah Agen Mia yang sekarang Kakak kurung?" Wajah Shabira terlihat bersemangat.
"Ya. Hanya itu Mia penghianat di Gold Dragon."
"Tentu saja aku mau. Kenzo melarangku hingga aku tidak berani melihat wajahnya." Shabira menunduk sedih.
"Ayo. Kita akan melihatnya sekarang juga," ucap Zeroun sambil mengulurkan tangannya ke arah Shabira.
"Terima kasih, Kakak." Shabira menyambut uluran tangan Zeroun. Senyumnya mengembang dengan hati berbunga-bunga.
"Bersiap-siaplah kecewa," ucap Zeroun sambil berjalan menuju ke arah Lorong yang menghubungkannya dengan ruangan Agen Mia di kurung.
Shabira hanya diam dengan debaran jantung yang tidak karuan. Ia tidak tahu harus berharap yang bagaimana. Jika memang benar Agen Mia itu adalah Mia yang ia kenal, maka akan sulit baginya untuk menyelamatkan Mia dari hukuman yang akan diberikan Zeroun. Tapi, jika wanita yang ada di dalam ruangan itu bukan Mia yang ia kenal. Maka Shabira juga akan merasa sedih. Sahabat terbaik yang ia nantikan kedatangannya harus pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Zeroun berjalan dengan tenang menuju keruangan itu. Beberapa pengawal yang berjaga tampak menunduk saat melihat kedatangan Zeroun malam itu.
"Masuklah, dia di dalam." Zeroun memberi jalan kepada Shabira untuk masuk.
Shabira memandang pintu yang sudah terbuka. Ada seorang wanita yang menekuk kepalanya. Rambutnya tergerai hingga menutupi sebagian wajahnya.
Agen Mia membuka mata saat melihat cahaya terang masuk ke dalam ruangan itu. Wanita itu mendongakkan kepalanya untuk melihat sosok tamu yang datang mengunjunginya.
"Mia?" celetuk Shabira dengan suara pelan.
.
.
Apakah Shabira tahu kalau wanita yang ada di dalam adalah Mia yang ia kenal?