Moving On

Moving On
Bertemu Lagi Part. 2



Lana mengangkat satu alisnya lalu berjalan mendekati posisi Lukas berdiri. Bibirnya mengukir senyuman sebelum mengeluarkan kata, “Selamat sore, Bos Lukas. Apa kau ke sini karena merindukanku?” ledek Lana sambil menarik dasi yang saat itu di kenakan oleh Lukas.


Alika segera beranjak dari posisinya berlutut. Wanita itu menarik tangan Lana yang menurutnya cukup keterlaluan, “Bos, maafkan adik saya, Bos. Saya akan menanggung hukuman yang anda berikan. Tapi, saya mohon jangan hukum adik saya, Bos.”


Lukas menghela napas. Lelaki itu juga tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan bibirnya tidak bisa mengeluarkan satu katapun di depan Lana.


“Kakak, Kakak jangan takut. Bos Lukas ke sini hanya ingin berkunjung ke rumah kita. Bukankah begitu, Bos Lukas?” ledek Lana sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Ikut denganku,” ucap Lukas singkat. Lelaki tangguh itu memutar tubuhnya lalu pergi begitu saja menuju ke arah lift.


Lana melipat kedua tangannya di depan dada, “Dasar pria yang suka mengatur.”


“Lana, mungkin Bos Zeroun membutuhkan bantuanmu,” ucap Alika dengan wajah panik. Wanita itu berlari untuk mengambil beberapa senjata api milik Lana dan jaket hitam favorit adiknya, “Sekarang pergilah. Cepat kejar Bos Lukas sebelum dia marah.” Alika mendorong tubuh Lana agar segera keluar dari rumah itu.


“Kenapa Kakak mengusirku!” ucap Lana kesal, “Hei Bos Lukas! Aku tidak mau pergi jika kau tidak kembali ke sini dan menggandeng tanganku.” Lana mengukir senyuman penuh kemenangan. Hanya dengan cara seperti itu agar kakaknya percaya kalau dirinya memang memiliki hubungan dengan pria berbahaya itu.


Lukas menghentikan langkah kakinya. Pria itu memutar tubuhnya sambil mengeryitkan dahi, “Apa kau tidak lagi takut padaku?” ketus Lukas dengan wajah cukup menyeramkan.


Lana menggeleng kepalanya pelan dengan wajah cukup menantang.


“Lana, apa yang kau lakukan. Bos Lukas maafkan atas kelakuan adik saya.” Alika memandang wajah Lana dengan seksama, “Lana, apa yang kau lakukan. Kau bisa bercanda dengan siapa saja. Tapi tidak dengan Bos Lukas. Kenapa kau selalu membuatku tidak tenang. Kenapa kau selalu-” ucapan Alika terhenti.


Kini pemandangan yang ada di depan matanya sungguh membuatnya tidak percaya. Baginya ini bukan satu kenyataan tapi sebuah mimpi yang gak tahu jenisnya mimpi indah atau mimpi buruk. Lukas mencengkram kuat tangan Lana sebelum menariknya pergi. Tidak ada kata yang terucap dari bibir pria itu. Bahkan senjata api dan senjata tajam juga tidak ada yang terlihat.


“Kakak, kami pergi kencan dulu ya. Bye bye,” ucap Lana dengan senyum indah. Wanita itu melambaikan tangannya untuk meledek Kakaknya yang masih berdiri tidak percaya.


“Apa itu Bos Lukas? Apa aku bermimpi? Atau itu kembaran Bos Lukas? Atau itu pria yang mirip Bos Lukas?” ucap Alika dengan sejuta tanya yang membuatnya tidak lagi bisa hidup dengan tenang.


Lukas dan Lana sama-sama berjalan menuju lift. Sepasang kekasih itu masuk ke dalam lift secara bersamaan. Ada wajah berseri dengan hati yang cukup bahagia. Lana mengenakan jaket hitam yang sempat di berikan oleh Akila untuk menutupi tubuhnya yang saat itu berpakaian seksi. Pistol yang sempat ada di genggamannya juga sudah ia selipkan dengan rapi dan aman.


Lukas memperhatikan Lana tanpa berkedip. Lelaki itu memasukkan satu tangannya di dalam saku. Setelah pintu lift terbuka Lukas berjalan keluar lebih dulu. Tangan kekarnya segera di sambut Lana saat wanita itu ingin berjalan keluar lift. Lana menggandeng lengan Lukas dengan wajah polos dan tidak merasa bersalah sedikitpun.


“Apa yang kau katakan padanya?” ucap Lukas singkat sambil terus berjalan.


Lukas berjalan menuju ke arah bangku kemudi. Lelaki itu kembali ingat dengan bunga yang sudah ia persiapkan untuk Lana. Hatinya cukup bahagia saat membayangkan wajah berseri Lana saat melihat bunga mawar itu nantinya. Ia menahan langkahnya agar Lana yang masuk lebih dulu ke dalam mobil. Lukas ingin melihat reaksi Lana secepatnya.


“Lukas, apa Bos Zeroun memesan bunga mawar untuk Nona Emelie?” ucap Lana yang kembali menatap wajah Lukas yang ada di seberang mobil.


“Bos Zeroun?” ucap Lukas sambil mengeryitkan dahi.


Lana mengangguk, “Ya. Bunga ini. Bukankah ini milik Bos Zeroun? Apa kita akan melakukan misi lagi?”


Lukas menghelas napas dengan wajah cukup kesal. Sungguh reaksi yang tidak sama dengan apa yang ia harapkan. Pria berbahaya itu masuk ke dalam mobil tanpa peduli lagi dengan perkataan yang diucapkan oleh Lana.


Lana menatap wajah Lukas dengan wajah bingung, “Kenapa ia terlihat cukup kesal,” ucap Lana sebelum masuk ke dalam mobil.


Bunga mawar yang ada di atas jok mobil ia pangku dan ia perlakukan dengan penuh hati-hati. Sekilas ia mencium aroma bunga mawar itu. Matanya terpejam dengan bibir tersenyum, “Bos Zeroun memang pria yang cukup romantis.”


Lukas semakin kesal dengan tingkah laku Lana sore itu. Lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa peduli dengan Lana yang sudah siap atau belum.


“Lukas apa yang kau lakukan?” teriak Lana tidak terima. Bunga mawar yang ada di genggamannya terjatuh di bawah kaki. Tubuhnya yang belum sempat memakai sabuk pengaman juga hampir saja terbentur dengan dashboard mobil.


Tiba-tiba saja Lana melihat sebuah kertas kertas yang terjatuh di bawah kakinya. Kertas itu berasal dari bunga yang sempat ia genggam. Dengan wajah penasaran dan sikap selalu ingin tahunya. Lana meraih surat itu. Membuka isinya dengan dahi mengeryit.


“Sorry?” celetuk Lana bingung, “Apa Bos Zeroun dan Putri Emelie sedang berkelahi?” Lana menatap wajah Lukas dengan seksama.


“Tidak,” jawab Lukas singkat.


“Apa-” ucapan Lana terhenti saat Lukas mengentikan laju mobilnya di pinggiran jalan.


Lukas mendekatkan tubuhnya dengan Lana. Satu tangannya menarik leher Lana dan mencium bibir wanita itu dengan segera. Sudah sejak tadi ia tidak sabar untuk menyentuh wanitanya. Ocehan-ocehan yang di ucapkan Lana semakin lama justru membuatnya semakin tergoda.


Lana mengukir senyuman sebelum membalas ciuman Lukas. Hatinya cukup tenang dan bahagia, karena bisa mendapat perlakuan lembut dari pria yang ia cintai. Kedua tangannya ia kalungkan di leher Lukas sebelum menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan pria berbahaya itu.