
Setelah misi penyelamatan Inspektur Tao dan Agen Mia berhasil, tidak ada lagi terdengar masalah dalam hubungan Emelie dan Zeroun. Semua rencana yang sudah di susun Paman Arnold telah berjalan dengan semestinya. Pelantikan Zeroun juga berjalan lancar tanpa hambatan dan gangguan dari pihak manapun. Tidak ada yang tahu kalau Zeroun terlibat dalam aksi pembebasan para tahanan yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Hingga akhirnya, hari bahagia itu telah tiba. Di sebuah tempat ibadah berukuran megah dan mewah telah di hiasi aneka bunga-bunga berwarna putih yang harum dan cukup indah. Setiap kursi yang ada di dalam gedung itu telah di isi dengan para tamu undangan pilihan. Karpet merah terbentang di sepanjang jalan.
Di depan gedung ada banyak pengawal kerajaan yang berbaris rapi dengan senjata tajamnya. Tatapan mereka terlihat tidak berkedip bahkan berdiri kaku seperti sebuah patung.
Di setiap kursi bisa di lihat wajah-wajah orang terdekat Zeroun dan Emelie. Walau kebanyakan tamu undangan yang hadir berasal dari keluarga kerajaan. Serena dan Daniel bersama dengan dua baby kembarnya juga telah hadir di dalam ruangan itu. Shabira dan Kenzo, Lana dan Lukas, dan semua orang yang pernah mengenal Zeroun duduk di dalam gedung untuk menyaksikan akad pernikahan yang akan segera berlangsung.
Zeroun berdiri di samping pendeta untuk menunggu sang pengantin wanita datang. Lelaki itu mengenakan seragam resmi seorang pangeran agar selaras dengan calon istri yang berkedudukan sebagai seorang Putri. Suasana memang terlihat tenang namun tetap saja membuat hati Zeroun tidak karuan. Lelaki itu gugup hingga mengeluarkan peluh seolah habis berlari kencang.
Pintu terbuka saat rombongan pengantin wanita telah tiba. Di ambang pintu berdiri putri Emelie dengan gaun panjang yang menyapu lantai. Selendang berwarna putih menutupi wajahnya yang sangat cantik. Di samping Putri Emelie telah berdiri Paman Arnold sebagai pendamping wanita itu. Semua tamu undangan berdiri untuk menyambut kedatangan pengantin wanita. Terdengar alunan musik untuk menyambut kedatangan Emelie.
Zeroun menatap calon istrinya tanpa berkedip. Hatinya cukup bahagia. Ia tidak pernah bermimpi kalau detik ini akan mengucapkan janji pernikahan kepada wanita yang ia cintai. Begitu banyak rintangan di dalam hidupnya, hingga membuat pria tangguh masih menganggap semua ini seperti mimpi.
Emelie berjalan secara perlahan. Ada senyum di bibirnya yang merah. Bahkan matanya yang tersembunyi di balik selendang putih itu tampang berkaca-kaca. Tangannya yang ada di lengan Paman Arnold berubah dingin seperti sebuah es.
Setelah berjalan beberapa meter, Emelie dan Paman Arnold tiba di hadapan Zeroun. Paman Arnold berdiri tepat di samping Emelie. Lelaki itu menyerahkan keponakan tercintanya untuk mengucapkan janji suci bersama dengan lelaki yang di cintainya. Suasana berubah hening ketika janji sepasang pengantin itu di ucapkan. Debaran jantung Zeroun semakin tidak karuan saat mengucapkan sumpah sehidup semati di depan sang pencipta. Lelaki itu mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan sungguh-sungguh. Seperti sebuah janji yang memang akan ia tepati hingga maut memisahkannya dengan sang istri.
Para tamu undangan juga mmeneteskan air mata haru saat janji itu telah terucap dari bibir masing-masing mempelai. Setelah janji itu di ucapkan dengan sempurna, Zeroun meraih jemari Emelie. Lelaki itu menyematkan cincin pernikahan yang menjadi simbol bersatunya mereka. Emelie juga melakukan hal yang sama. Dengan bibir tersenyum bahagia, ia menyematkan cincin itu di jari Zeroun.
Zeroun bisa merasakan dengan jelas bagaimana dinginnya tangan Emelie saat itu. Ada senyum kecil di bibir Zeroun saat kedua bola matanya memandang wajah Emelie. Secara perlahan, lelaki itu membuka selendang putih yang menutupi wajah istrinya.
Emelie memandang ke bawah. Wanita itu masih belum siap menatap wajah Zeroun bahkan di saat selendang yang menutupi air mata harunya terbuka. Zeroun merapikan selendang itu agar tidak merusak penampilan istrinya. Emelie memberanikan diri untuk menatap wajah Zeroun secara langsung. Kelopak matanya naik secara perlahan saat kedua bola matanya ingin memandang wajah Zeroun.
Bibir Emelie tersenyum saat kedua bola matanya berhasil menatap langsung wajah suaminya. Pria yang sangat ia cinta dan akan selalu ia cinta. Zeroun menarik pinggang Emelie agar wajah wanita itu dekat dengan wajahnya. Tanpa mau menunggu lagi, ia mendaratkan satu ciuman di bibir Emelie sebagai pelengkap ritual pernikahan mereka. Sorak tamu undangan terdengar begitu meriah.
“Aku mencintaimu, Emelie,” ucap Zeroun saat ciumannya telah terlepas.
“Aku juga mencintaimu, Zeroun Zein.” Emelie mengukir senyuman yang cukup indah.
Setelah acara di tempat itu selesai, Zeroun dan Emelie berjalan ke depan gedung. Pengantin baru itu ingin menyapa semua warga yang sudah berkumpul di halaman depan gedung. Beberapa kereta kuda juga sudah tersedia di depan gedung untuk membawa Zeroun dan Emelie. Zeroun dan Emelie akan kembali ke kerajaan dengan menggunakan kereta kuda yang telah tersedia. Beberapa tamu penting juga ikut di dalam kereta kuda.
Beberapa pengawal berkuda mengiringi kereta kuda yang mereka tumpangi. Sejak awal hingga detik di kereta kuda, Zeroun tidak pernah melepas tangannya yang menggenggam tangan Emelie. Lelaki itu memandang kagum atas antusias warga yang kini memeriahkan pernikahannya. Di tambah lagi, pengawal-pengawal bersenjata yang melindungi mereka seperti sebuah berlian yang berharga.
Sejak dulu Zeroun memang selalu memiliki pengawal. Bedanya, hari ini ia di kawal dengan pengawal berkuda yang menggenggam pedang. Biasanya ia di kawal dengan pengawal yang mengunakan senjata api dan ada di dalam mobil.
“Zeroun, aku sangat bahagia,” ucap Emelie dengan senyuman yang cukup indah.
Zeroun memandang wajah Emelie dengan senyuman yang cukup indah juga, “Bukan hanya hari ini. Sejak aku jatuh cinta padamu, sejak detik itulah aku mulai merasa bahagia.” Lelaki itu mengangkat tangan Emelie sebelum mendaratkan satu kecupan manis di punggung tangan Emelie, “Sayang, aku akan menjagamu dan selalu membuat hidupmu bahagia.”
Emelie mengangguk pelan, “Aku percaya kalau kau akan selalu menjaga dan membuat hidupku bahagia, Sayang.” Jemari Emelie menyentuh lembut wajah Zeroun. Hatinya benar-benar tenang karena sudah berhasil menyandang status sebagai istri Zeroun Zein.
Di tempat lain, Lana dan Lukas terlihat duduk saling berhadapan. Zeroun sudah di kawal oleh ratusan pengawal kerajaan. Hal itu tidak lagi membuat kedua tangan Zeroun Zein khawatir. Mereka kini menikmati momen bersama di sebuah cafe. Ada dua gelas jus segar di atas meja.
“Pesta pernikahan Bos Zeroun sungguh meriah. Hingga siang dan malam mereka akan mengadakan resepsi mewah di dalam istana.” Lana mengaduk-ngaduk jus yang ada di hadapannya sebelum menyedot isinya, “Bos Erena juga ada di lokasi pesta.”
Lukas memandang wajah Lana sebelum menatap ke arah lain. Lelaki itu kembali memikirkan cara untuk memperkuat pertahanan Gold Dragon yang kini ia pimpin. Tiba-tiba dari televisi yang ada di cafe sederhana itu ada info atas wajah-wajah buronan yang kabur. Lukas dan Lana menatap ke arah layar TV.
Lana terlihat syok ketika wajah Morgan ada di layar televisi. Wanita itu menatap wajah Lukas dengan seksama. Ia takut ketahuan jika malam itu ia yang telah melindungi Morgan tanpa sepengetahuan Lukas.
Lukas menatap wajah Lana dengan seksama saat melihat nama Morgan ada di samping nama Inspektur Tao dan Agen Mia. Lelaki itu kembali mengingat atas sikap aneh Lana saat di lokasi penyelamatan malam itu. Di tambah lagi, setelah beberapa hari setelahnya Lana terlihat berbeda.
“Apa kau ingin mengatakan sesuatu?” ucap Lukas dengan nada yang lembut.
Lana mematung saat pertanyaan yang ia takuti kini ia dapatkan. Wanita itu menunduk dengan penuh rasa bersalah. Ia takut untuk jujur namun ia tidak sanggup untuk berbohong.
“Jangan katakan apapun. Aku sudah tahu apa yang kau pikirkan saat ini,” ucap Lukas dengan wajah kesal. Lelaki itu pergi meninggalkan meja yang sempat ia tempati. Tanpa lagi peduli dengan Lana yang masih duduk di salah satu kursi.
Lana menghela napas sebelum beranjak dari duduknya. Wanita itu juga berusaha mengejar Lukas dan menjelaskan semua yang terjadi. Ia tidak ingin Lukas salah paham dan akhirnya membenci dirinya.