Moving On

Moving On
Misi Kedua



Zeroun dan Lukas berjalan ke arah pintu rahasia yang hanya bisa dibuka dengan kartu Id yang ada di tangannya. Bos Mafia itu terlihat tenang saat memasuki pintu yang akan menghubungkannya dengan ruang rahasia itu. Setelah pintu terbuka, kehadiran Zeroun sudah di sambut oleh Heel Devils.


Gerombolan Heels Devils sudah berhasil mendapatkan chip itu. Kini mereka berusaha lari dan membawa pergi chip berharga itu.


Zeroun tersenyum kecil. Memang ini rencananya. Menghalangi Heels Devils untuk kabur membawa chip itu.


“Menyingkirlah!” Satu pria dengan badan yang tegab berdiri di depan pasukan Heel Devils. Pria itu menjadi pemimpin aksi Heels Devils malam ini.


“Tidak semudah itu,” jawab Lukas cepat.


Pasukan Gold Dragon dan Heels Devils menodongkan senjata secara bersamaan. Zeroun memasang ekspresi dinginnya. Menatap satu persatu wajah Heels Devils yang kini berdiri di hadapannya. Tatapannya terhenti saat melihat wanita yang sangat ingin ia temui. Ada senyum puas di sudut bibirnya.


“Kami juga menginginkan benda itu!” sambung Lukas sambil berjalan beberapa langkah ke depan.


“Tidak semudah itu!” jawab pria itu sambil mengeluarkan tembakan. Baku tembakpun terjadi.


Zeroun mengejar salah satu pasukan Heels Devils yang mundur dan berlari. Pria yang berbadan tegab itu sempat menghalangi langkah Zeroun. Tetapi dengan cepat, Lukas mengeluarkan tembakan di bawah kakinya hingga pria itu mundur.


Zeroun berlari dengan sangat cepat. Pria itu tidak ingin kehilangan target utama yang selama ini ia cari. Wanita itu masuk kedalam ruangan dengan cepat, belum sempat ia menutup pintunya. Zeroun sudah lebih dulu menendang pintu itu.


Wanita itu terjebak, ia tidak lagi memiliki jalan untuk berlari.


“Apa kau takut saat melihatku, Jesica? kau berjanji untuk bertarung denganku dipertemuan kita yang kedua.” Zeroun berjalan ke arah sofa menjatuhkan tubuhnya dengan nyaman.


Jesica memutar tubuhnya, membuka topi dan kaca mata hitam yang sempat menutupi wajahnya.


“Kau memang pria yang menarik Zeroun Zein.” Jesica berdiri dengan pistol yang ada di genggaman tangannya.


“Pistol itu tidak akan bisa mengalahkanku.” Zeroun berdiri dari duduknya. Berdiri di hadapan Jesica dengan tangan di dalam saku.


“Kau harus membayar semuanya dengan nyawamu Jesica.” Wajah Zeroun sudah tidak terbaca lagi. Pria itu ingin segera membunuh wanita licik yang kini ada di hadapannya.


Tanpa menunggu lama, Zeroun memutar tubuhnya dan menendang pistol yang ada di genggaman Jesica. Pistol itu terpental ke atas dan terjatuh ke tempat yang jauh dari jangkauan Jesica.


“Kau yang akan mati malam ini, Zeroun Zein.” Jesica mulai membalas pukulan Zeroun. Wanita itu menendang kaki Zeroun dengan kaki kirinya. Zeroun menghindar dan memberikan satu pukulan di wajah Jesica dengan gerakan tiba-tiba.


Jesica menahan tangan Zeroun. Memutar tubuhnya sambil menggengam tangan Zeroun. Sekali lagi, ia menendang tubuh Zeroun hingga tendangannya pas mengenai perut Zeroun. Membuat Zeroun mundur beberapa langkah.


“Lumayan,” ucap Zeroun dengan satu senyuman tipis.


Jesica berdiri dengan napas yang tidak lagi normal. Wanita itu mengambil kursi kayu yang ada di sampingnya. Melemparkan kursi itu di hadapan Zeroun. Dengan cepat, Zeroun menghindar dan berlari untuk membalas pukulan Emelie. Pukulan itu tepat mengenai bagian dada Jesica. Membuat wanita itu mengeluarkan cairan merah segar dari dalam mulutnya.


Tidak cukup disitu, Zeroun menendang wajah Jesica dengan hingga wanita itu tersungkur di lantai.


“Seharusnya kau berpikir dua kali sebelum mencari masalah denganku!” Zeroun mengeluarkan pistolnya. Mengarahkan ujung ujung pistol itu di hadapan Jesica.


“Angkat tangan!” teriak seseorang dari belakang Zeroun.


Zeroun menahan tembakannya. Jesica memandang wajah beberapa polisi yang kini menodongkan senjata ke arah tubuh Zeroun.


Zeroun masih berdiri membelakangi polisi itu.


“Menyerahlah! kalian tidak akan bisa lari lagi.” teriak polisi pria itu sambil berjalan dengan begitu waspada.


DUARR! DUARR!


Dua tembakan di lepas Jesica ke arah polisi itu. Zeroun mengeryitkan dahinya sebelum menangkis pistol yang ada di genggaman Jesica.


Pria itu lagi-lagi memukul wajah Jesica hingga wanita itu benar-benar tidak berdaya.


“Apa kau ingin membusuk di penjara!” teriak Jesica tidak terima.


“Aku lebih suka berada di penjara dari pada melihatmu masih bernyawa.”


DUARR! DUARR!


Tiba-tiba gerombolan Heels Devils datang dari arah pintu. Beberapa tembakan terus dilayangkan di hadapan Zeroun. Membuat pria itu mundur dan berlindung di balik meja. Belum sempat ia membalas tembakan itu, asap putih yang tebal telah memenuhi ruangan.


Zeroun mendengar suara tembakan itu seperti memojokkannya di balik meja. Dengan cepat Zeroun mengeluarkan senjatanya lagi, hingga dua pistol itu ada di genggaman tangannya. Zeroun berdiri dan membalas tembakan musuhnya. Pria itu berlari kearah pintu.


Beberapa Heels Devils yang sempat menembaknya juga sudah tidak lagi bernyawa. Asap putih itu menghilang bersama dengan Jesica. Di lantai ruangan itu terlihat beberapa polisi yang tergeletak tak bernyawa. Zeroun memperhatikan wajah polisi itu. Salah satu polisi itu adalah agen yang bertugas menjaga chip itu.


“Buronan lagi!” umpatnya kesal.


Zeroun menarik napas kasar sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


Di sisi lain. Lukas terus saja memukul lawannya. Wajah dua pria berotot itu sudah sama-sama dipenuhi Luka. Tapi, masing-masing dari meraka tidak ada yang mau menyerah. Lukas membalas lagi pukulan demi pukulan yang sempat ia terima.


“Apa hanya segitu kemampuanmu?” sindir pria itu dengan satu belati di tangannya.


Lukas tersenyum kecil. Belati adalah senjata favoritnya. Dengan wajah dingin, Lukas mengeluarkan belati yang sempat ia simpan. Mengacungkan belati itu di depan musuhnya.


“Apa kau lebih suka mati dengan cara ditusuk?” Lukas menaikan satu alisnya. Menusukkan belati itu tepat ke arah dada musuhnya.


Dengan cepat, pria itu menahan belati milik Lukas. Tangannya mengeluarkan darah dengan begitu deras. Satu tangannya yang menggenggam belati sudah siap untuk menusuk Lukas. Dengan cepat Lukas memutar tubuhnya hingga belati itu menyayat tangan musuhnya dengan begitu dalam dan membuat pria itu merasakan sakit yang luar biasa.


Setelah melihat musuhnya berteriak kesakitan, Lukas tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat ia tusukkan belati itu tepat di dada musuhnya. Tidak cukup sekali. Ia tarik belati itu dan ia tusuk kembali ke bagian tubuh yang tidak terlalu jauh. Dengan satu senyuman penuh kemenangan, Lukas memutar belati yang tertusuk di dalam tubuh musuhnya.


“Lain kali, Kau harus berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengan Gold Dragon” Lukas menarik belatinya.


Pria itu membuka matanya dengan lebar. Darah mengucur deras membasahi tubuhnya. Dengan wajah menahan sakit, pria itu tergeletak di permukaan lantai. Kedua bola matanya memandang wajah Lukas dengan penuh kebencian.


“Setidaknya Aku sudah mengabulkan permintaan terakhiru, untuk mati dengan belati kesayanganku ini.” Lukas berdiri dari duduknya. Menatap Gold Dragon yang tergeletak di lantai.


Pria itu merapikan jas hitam yang ia kenakan untuk mencari keberadaan Zeroun.


Like, Komen, Vote.