Moving On

Moving On
Chapter 8



(Almira)


Saat ini,aku bersama Arabela berada di cafe anak-anak. Kencan ala mom and daughter. Dulu,waktu di paris kita selalu menyempatkan waktu berdua di akhir pekan. Berbicara selayaknya teman. Sebisa mungkin,aku menjadi orang tua yang bisa menjadi teman,sahabat bagi Ara.


Dia mengangkat gelas dengan tangan mungilnya.


"Cheers!" ujarnya.


"Cheers!"


Dan kita meminum Es masing-masing. Dia terlihat sangat gembira sekali hari ini. Aku ragu ingin membahas tentang Nino padanya. Takut akan membuat Ara sedih atau bingung dengan keadaan sekarang.


"Ara!"panggilku dengan ragu.


"Ya mom." jawabnya. Dengan mata berbinar- binar menatapku dengan senyuman manisnya.


"Sayang... Sebenarnya ada sesuatu yang ingin mommy biacarakan denganmu." Aku membalas menatapnya dengan keraguan.


"Tentang Papamu."


Dia seperti kebingungan. "Kupikir mommy takkan pernah membicarakannya." ujarnya.


"Memang tidak. Tapi, itu tidak adil untukmu. Kamu punya hak mengenal siapa papahmu,sayang." Aku berubah menjadi emosional membicarakan dengannya.


"Tapi itu jika kamu mau sayang. Karena jika tidak,juga tak apa sweety."


"Kelihatannya dia baik padaku mommy... Om yang kemarin kita temui,kan? Kalian berdua terlihat canggung di awal,dan aku melihatnya mommy. Jika mommy tahu maksudku." katanya.


Aku terkejut mendengarnya, "Bagaimana kau bisa... Okey."


Aku menghela nafas. Aku masih terkejut dengan Ara, bagimana bisa dia bisa mengerti keadaan dengan mudah. "Ya. Sayangku, kami bertemu saat kami masih muda. Tetapi, yang harus kamu tahu,dia tidak melantarkanmu. Dia bahkan tak tahu ,kalau mommy mengandung kamu sayang."


"Ya, dia sangat terkejut melihatku. Katanya, aku mirip dengan keluarganya." ujarnya.


Putriku sangat dewasa. Bagaimana mungkin anak kecil seperti dia bisa mengerti apa yang terjadi dengan orang tua. Aku sangat menyesal padanya.


"Mommy,ajak dia makan malam bersama. Mungkin bisa membantunya,mengenal kita." katanya. Dia begitu mudah mengucapnya, tanpa keraguan.


"Kau yakin?"


"Ya, mommy. Serius."


"Kamu membuat mommy kagum,sayang."


" I love you,mommy."


"I love you,sweety."


Mata ku berkaca-kaca. Sungguh aku tak menyangka , Ara begitu mudah menerima Nino. Aku sangat bersyukur memeliki putri sepertinya.


Akhirnya kita menikmati,akhir pekan dengan indah. Dia bahagia mengentahui bahwa Nino itu papanya. Dia juga tak sabar ingin bertemu dengan Nino lagi. Ketakutan yang aku rasakan,kini menghilang. Seketika beban yang ku miliki sirna.


***


Aku dengan Ara berada di dapur. Menyiapkan makan malam untuk bertiga. Ya, akhirnya aku mengundang Nino untuk makan malam bersama. Dan dia juga sangat antusias ingin bertemu Ara lagi.


Suasana dapur menjadi kacau, karena Ara membantu memasak. Aku tidak melarang Ara dengan situasi saat ini karena tak ingin merusak suasana hatinya sekarang. Dia tampak gembira menyiapkan makanan bersama. Dialah yang pertama kali mengajukan memasak, alih- alih makan di luar. Katanya dia ingin menikmati suasana dengan tenang tanpa keramaian.


"Mommy..." teriak Ara.


"Ya sayang!" jawabku.


Ara berada di kamarnya. Tadi aku menyuruh untuk mandi, dan mempersiapkan diri. Dan aku masih berada di dapur, menata makanan di meja.


"Baju Ara dimana ?" tanyanya.


Aku melangkah menuju kekamarnya. Dan aku terkejut dengan keadaan kamarnya sekarang. Sungguh berantakan, baju bersebaran dimana-mana.


"Ya ampun, sayang. Kenapa bisa berantakan sih?"


"Hehehe...sorry mom. Ara bingung mau pakai baju apa." ujarnya.


"Kan bisa pakai apa aja sayang. Semuanya kan masih bagus."


"Tapi kan..."


Aku mengerti dengannya. Karena ini pertama kali bertemu dengan papanya, dia ingin menunjukan yang terbaik.


Aku jongkok, mensejajarkan dengannya. Memegang kedua tangannya.


"Semua baju Ara bagus kok. Semuanya cantik kalau di pakai Ara. Papa pasti suka."


Raut wajahnya berubah menjadi senduh.


"Ya mom. Kalau gitu mama yang milihin."ujarnya.


"Iya sayang. Ara juga bantu merapikan baju yang berantakan yaa..."


Ku usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Nah gitu dong. Anak mommy pintar deh."


Ara merapikan baju-bajunya yang berserakan. Sedangkan aku mencari baju untuknya.


Setelah itu, aku membantunya merapikannya. Dia anak pintar, dan selama ini tidak pernah mengeluh. Dia tumbuh menjadi pribadi yang baik.


Kamar Ara sudah rapi seperti semula. Dan Ara sudah bersiap diri dengan rapi. Aku menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


Terdengar pintu bel berbunyi. Pasti itu Nino sudah datang. Sedangkan aku masih berganti pakaian.


Ku buka pintu kamar,


"Ara, tolong bukakan pintu yaa..."teriakku.


"Ya,mommy."jawabnya.


Terdengar suara pintu terbuka. Aku mempercepat berganti baju dan berdandan diri.


***


Aku melangkah menuju ke mereka yang berada di ruang tamu. Ku lihat Ara berada di sampingnya. Ya dia Nino, papa kandung Ara. Teman baikku di masa lalu.


"Hai,kamu udah datang."sapaku.


"Hai juga. Iya."jawabnya.


Dia berdiri menghampiriku dan memelukku.


"Makasih."katanya.


Dia memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya dengan erat.


"Sama-sama Nin. Welcome... "


Dia tersenyum,sambil melepaskan pelukan. Dia semakin tampan malam ini. Matanya terpancar dengan kebahagian.


"Mom, hayo kita makan. Ara udah laper."ujar Ara.


"Sorry, sayang. Hayo kita kedapur."


"Hayo papa."ajak Ara. Dia menggandeng tangan Nino.


"Ha...Oke sayang."jawabnya.


Dia melihatku yang berada di belakangnya. Dia seakan bingung dengan putrinya.


Aku hanya tersenyum padanya. Dan aku hanya merespon menganggukan kepala. Seakan aku menyuruh mengikuti Ara.


Ara terlihat sekali antusias bertemu dengan Nino. Tadi dia mengabaikan ajakanku. Sungguh menggemaskan putriku.


Kita semua sudah berada di meja makan. Ara dan Nino bersebelahan sedangkan aku berada di depannya. Aku bahagia melihat mereka berdua, yang akhirnya bertemu.


Di masalalu, aku pernah marah dengan keadaan. Aku begitu frustasi mengandung tanpa seseoarang Yang menemani. Hampir aku pernah ingin menggugurkannya, tapi akhirnya aku menerima semuanya.


Aku merawatnya selama 9bulan. Meski aku tertatih-tatih, aku tetap bertahan. Aku sangat menyanginya. Aku ingin melihat anakku tumbuh dewasa.


Dan liat sekarang, dia begitu cantik di hadapanku. Dia terlihat malu-malu di hadapan papa kandungnya, yang selama ini tak pernah ia ketahui.


Mata berbinar-binar menunjukan bahwa dia juga sangat menyukai papanya. Aku tau, selama ini dia ingin bertemu dengannya. Meski dia tak pernah bilang, tapi aku pernah melihanya. Di saat Ara melihat temannya di gendong papanya, matanya terlihat senduh seperti merindukan seseorang.


Kini dia bisa menatap dengan puas. Dan bisa memeluknya dengan erat. Menggengam tangannya dan membelai wajahnya.


Maafkan aku sayang. Mommy begitu jahat denganmu. Dulu aku tak berani seperti ini, tapi sekarang aku bisa melangkah jauh karena kamu putriku.


Aku tersenyum melihat interaksi mereka. Nino memandangku, seakan dia bingung.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanyanya.


"Iya aku baik-baik aja. Aku hanya senang melihat kalian berdua."jawabku.


Aku tersenyum kearah Ara. Dia membalas senyumanku.


"Hayo, kita makan."


"Selamat makan, mommy, papa."ujar Ara.


"Selamat makan juga."


SELAMAT MEMBACA READERS 😘🥰🤩


Jangan lupa like dan comment ya 🥰


dan Jangan lupa follow akunku yaa. 😊🤩