Moving On

Moving On
Berbelanja



Emelie kembali ingat dengan tawarannya kepada Lana untuk memasak bersama untuk makan siang. Di kulkas tidak ada bahan masakan yang Emelie butuhkan saat ini. Wanita itu ingin mengajak Lana untuk berbelanja bahan makanan agar bisa membuat masakan untuk siang nanti.


“Lukas, dimana Lana?” Emelie memandang wajah Lukas dengan seksama.


Lukas kembali ingat dengan hukuman yang ia berikan kepada Lana. Pria itu tersenyum kecil saat membayangkan kesulitan yang kini di hadapi oleh Lana. Hatinya sedikit puas karena bisa membalaskan perbuatan Lana tadi.


“Lana sedang latihan menembak, Nona,” jawab Lukas dengan begitu tenang.


“Latihan menembak?” Emelie terlihat tertarik dengan kegiatan Lana saat itu.


“Aku mau ikut,” sambung Emelie cepat.


Zeroun memandang wajah Emelie sambil mengerutkan dahi, “Kau mau belajar menembak?”


Emelie mengangguk cepat penuh semangat, “Ya, Aku ingin menembak seperti dirimu.”


“Tidak perlu. Kau harus tetap menjadi Emelie yang seperti ini.” Zeroun memperkuat pelukannya.


“Biar Aku yang memegang senjata untuk melindungimu. Tugasmu hanya didapur untuk memasak makanan yang lezat untukku,” bisik Zeroun dengan begitu menggoda. Ini pertama kalinya ia memiliki wanita yang mau memasak untuk dirinya.


Sangat berbeda dengan Erena yang tidak pernah bisa untuk memasak. Ratu Mafia itu justru lebih kuat makan dan tidak pernah bisa menahan lapar.


Lukas mengeryitkan dahinya. Rayuan Zeroun kepada Emelie cukup membuat tubuhnya merasa geli.


“Hmmp, baiklah. Aku dan Lana akan memasak untuk makan nanti siang. Apa Aku dan Lana boleh pergi untuk berbelanja bahan makanan?”


“Tidak!” ucap Zeroun dan Lukas secara bersamaan.


Emelie menatap wajah Zeroun dan Lukas secara bergantian. Sama halnya dengan Zeroun yang juga menatap wajah Lukas saat ini.


“Maafkan Saya, Bos. Maksud saya, sebaiknya Nona tidak pergi dengan Lana.” Lukas masih ingat jelas dengan kemampuan Lana. Wanita itu tidak akan bisa dipercaya untuk melindungi Emelie saat berada dalam bahaya


Zeroun mengangkat satu alisnya, “Aku akan mengantarkanmu berbelanja.”


“Baiklah, tapi Aku ingin pergi bersama Lana juga.” Emelie memasang wajah memohon.


“Iya, Lana juga akan ikut.” Zeroun mengukir senyuman.


Lukas menunduk dengan wajah kesal. Belum ada setengah jam Lana menjalani hukumannya, kini wanita itu sudah diselamatkan oleh Emelie dan Zeroun.


“Lukas, persiapkan semuanya.” Zeroun menatap wajah Lukas dengan seksama.


“Baik, Bos.” Menunduk sebelum pergi meninggalkan kamar milik Zeroun.


Emelie memperhatikan punggung Lukas dengan wajah tidak terbaca, “Setiap kali menyebutkan nama Lana, dia terlihat tidak suka. Apa mereka bermusuhan?”


Zeroun mengangguk kecil, “Sejak pertama kali bertemu mereka memang sudah bermusuhan.”


Emelie menyipitkan kedua bola matanya, “Apa mereka bermusuhan seperti kita?”


“Baby, kenapa Kau menyamakan mereka dengan kita. Itu jauh berbeda,” protes Zeroun tidak terima.


“Hmm, baiklah. Aku mau bersiap-siap.” Emelie beranjak dari pangkuan Zeroun. Wanita itu duduk di depan cermin untuk merapikan penampilannya sebelum berangkat pergi. Zeroun masih tetap duduk di sofa sambil memperhatikan Emelie dari kejauhan.


“Baby?” Zeroun tertawa kecil saat mengucapkan sebutan manja itu.


Tidak pernah terlintas di dalam pikirannya, kini sikapnya yang begitu kejam bisa ditaklukan oleh wanita lemah seperti Emelie.


***


Beberapa saat kemudian.


Mobil yang dikendarai Lukas berhenti di sebuah pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota. Di sampingnya ada Lana yang duduk dengan wajah kesal. Di belakang ada Emelie dan Zeroun yang duduk dengan begitu tenang.


Dari luar. Pusat perbelanjaan itu terlihat ramai akan pengunjung. Beberapa mobil mewah berbaris rapi diparkiran. Beberapa pengunjung yang sudah selesai berbelanja terlihat menyusun barang di bagasi belakang.


“Apa kita sudah sampai?” Emelie memandang keluar jendela.


Lana dan Lukas keluar secara bersamaan untuk membukakan pintu mobil.


“Emelie, jangan jauh-jauh dariku,” ucap Zeroun dengan begitu khawatir.


“Baiklah,” jawab Emelie dengan senyuman.


Zeroun dan Emelie keluar secara bersamaan dari dalam mobil. Lukas menjaga Emelie dengan begitu hati-hati. Memperhatikan keadaan sekitar yang terlihat ramai itu. Dari kejauhan, beberapa pasukan Gold Dragon juga telah tiba di pusat perbelanjaan itu. Mereka berpencar untuk menjaga majikannya secara diam-diam.


“Emelie, kemarilah.”


Emelie tersenyum sebelum berlari kecil mendekati Zeroun. Wanita itu merangkul lengan Zeroun dengan begitu mesra. Sepasang kekasih itu berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan untuk mencari bahan-bahan makanan yang dibutuhkan oleh Emelie. Lana dan Lukas mengikuti langkah Emelie dan Zeroun dari belakang.


“Lana, ayo kita mencari sayuran di sana.”


Emelie melepas gandengannya dari lengan Zeroun. Kini putri kerajaan itu merangkul lengan Lana dan menarik tubuhnya berjalan ke lokasi yang dipenuhi aneka sayur-sayuran.


Zeroun dan Lukas tetap berdiri pada posisinya. Mengawasi Emelie dan Lana dari jarak yang tidak terlalu jauh.


“Bos, sekarang kita sudah berada di daftar pencarian polisi.”


“Kita akan menghadapi polisi-polisi itu nanti malam.” Zeroun memasukkan kedua tangannya di dalam saku.


Matanya tidak berkedip memperhatikan posisi kekasihnya yang kini sibuk memilih bahan makanan.


Lana dan Emelie terlihat bersemangat untuk mencari bahan masakan. Dua wanita itu benar-benar bertekad untuk membuat masakan spesial nanti siang.


Tidak menunggu waktu yang lama, kini troly yang didorong Lana telah penuh dengan bahan masakan. Zeroun dan Lukas juga sudah berada di belakang Emelie dan Lana.


“Apa masih ada yang kurang?” Zeroun memperhatikan isi trolly itu dengan seksama.


“Tidak ada, semua sudah kami beli.” Emelie tersenyum manis. Tetapi tiba-tiba wajahnya berubah. Emelie merasa ingin buang air kecil saat itu.


“Zeroun, Aku mau ke toilet.”


Zeroun memandang Lana yang masih mengantri untuk membayar. Ia tidak mungkin membiarkan Emelie pergi ke toilet sendirian dalam keadaan seperti ini.


“Lukas, temani Lana.” Zeroun memberi perintah kepada Lukas dengan wajah penuh arti.


“Baik, Bos,” jawab Lukas sambil membungkukan kepalanya.


“Ayo Emelie, biar Aku yang menemanimu.” Zeroun menggandeng pinggang Emelie untuk menemani wanita itu pergi ke toilet.


Setelah berada dekat dengan toilet, Emelie menghentikan langkah kakinya. Wanita itu memandang wajah Zeroun dengan tatapan penuh arti.


“Ini toilet wanita, kau tidak boleh masuk.”


Zeroun melihat tulisan yang ada di toilet. Pria itu sedikit ragu untuk melepaskan kekasihnya sendirian walau hanya masuk keruang terbatas itu.


“Emelie, jika terjadi sesuatu. Berteriaklah. Aku akan segera masuk untuk menolongmu.” Zeroun mengusap lembut pipi Emelie.


“Ok, Baby.” Emelie melangkah masuk kedalam toilet dan menutup kembali pintu ruangan itu. Sedangkan Zeroun ia berdiri dengan bersandar di dinding yang tidak jauh dari toilet. Setiap jejak langkah kaki yang kini ia lakukan selalu dipenuhi dengan rasa khawatir.


Dari lorong yang tidak terlalu jauh, segerombolan polisi terlihat menodongkan senjata ke arah Zeroun. Satu wanita tangguh yang cukup dikenali Zeroun menjadi pemimpin pasukan polisi itu.


Zeroun Zein terlihat bingung dengan situasi yang kini ia hadapi. Di dalam toilet, ada Emelie yang belum juga keluar. Tetapi polisi-polisi itu, akan segera menangkapnya jika ia tidak segera lari.


“Zeroun Zein, angkat tangan dan menyerahlah,” teriak Agen Mia sambil menodongkan senjata.


Dengan cepat, Zeroun mengeluarkan pistol miliknya dan memberi satu tembakan di hadapan Agen wanita itu.


DUARRR!


Vote, like jangan lupa... yang punya koin juga bisa bagi dikit sama author...


Terima kasih readers...