Moving On

Moving On
Tembakan Emelie



Emelie memandang pistol yang kini ada di hadapannya. Wanita itu sangat bingung dengan keputusan yang seharusnya ia ambil. Rasa benci dan sakit hati memang membuat dendam di dalam hatinya. Ingin sekali ia membunuh dua orang yang kini ada di hadapannya.


“Kau menjadikan wanita lembut sepertinya untuk menjadi seorang pembunuh. Kau memang hebat, Zeroun Zein.” Damian tepuk tangan dengan tawa menghina. Lelaki itu menatap wajah Adriana sekilas.


“Kenapa Emelie. Kau tidak berani untuk menembak kami?” ledek Adriana dengan wajah yang gak kalah menghina dari Damian.


Zeroun mengukir senyuman tipis saat melihat kekasihnya tidak juga memberi reaksi apa-apa. Emelie hanya diam tanpa kata dan tanpa tindakan apapun.


“Aku sudah memberimu kesempatan, Sayang. Hanya ada satu kali kesempatan. Ambil atau tidak untuk selamanya,” bisik Zeroun di telinga Emelie. Pria itu menjauhkan tubuhnya agar bisa lebih jelas menatap wajah kekasihnya saat itu.


“Zeroun, Zeroun. Apa kau pikir dia wanita yang berani?” ledek Damian sekali lagi.


Emelie menatap Damian dengan wajah dipenuhi emosi. Dengan cepat Emelie merebut pistol yang ada di tangan Zeroun dan mengeluarkan satu tembakan asal saja.


DUARR


Tembakan itu ia arahkan ke bawah. Tepat di depan Damian dan Adriana berdiri. Emelie memang bukan penembak handal. Tanpa membidik, maka sasarannya bisa saja meleset jauh. Namun, tembakan yang diberikan oleh Emelie. Cukup untuk memberi peringatan kepada Damian dan Adriana. Bahkan sepasang kekasih itu terlihat kaget dan tidak percaya dengan aksi berani Emelie saat itu.


Zeroun mengangkat satu alisnya, “Tidak buruk. Setidaknya kau berhasil membuat wajah lawan kita berubah pucat seperti sebuah tembok,” ledek Zeroun gantian.


Emelie berusaha mengatur napasnya. Entah kenapa, setelah menembak kali ini jantungnya berdebar tak karuan. Bahkan napasnya juga berubah sesak.


“Emelie! Beraninya kau !” teriak Adriana dengan begitu kuat.


“Aku memang berani. Apa kau pikir aku tidak berani membunuhmu hari ini,” jawab Emelie dengan wajah yang tidak kalah menyeramkan dari Adriana.


Adriana maju beberapa langkah, “Kau boleh menembakku sekarang. Kenapa harus ke arah bawah seperti itu? Jika kau menembakku saat ini, maka kau tidak hanya membunuh satu nyawa. Kau juga akan membunuh dua nyawa, Emelie.”


“Jangan mengancamku dengan bayi yang ada di dalam rahimmu itu, Adriana. Kau bahkan tidak memikirkan hal seperti itu sebelum merencanakan pembunuhan Ratu.” Emelie mengangkat pistol itu ke arah Adriana berdiri. Tatapan matanya tidak lagi sama dengan sikap lemah lembutnya yang biasa.


Zeroun memperhatikan Damian dengan seksama. Pria itu tidak ingin ada cela sedikitpun untuk Damian mencelakai kekasihnya hari ini.


“Kau memang pantas menjadi berandal. Bukannya sejak dulu kau juga suka hidup di jalanan,” ucap Adriana sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


“Ya, sejak dulu hingga sekarang. Aku memang tidak layak menjadi seorang putri kerajaan. Bukankah kau yang selalu sempurna?” ucap Emelie dengan satu senyuman tipis.


“Bagus kalau kau menyadarinya sekarang.” Adriana membuang tatapannya ke arah lain.


“Sesuai perkataanmu Adriana. Emelie yang sekarang bukan lagi Emelie yang dulu merawatmu saat sakit. Bukan lagi Emelie yang memelukmu saat menangis. Bukan lagi Emelie yang menangis saat kau dalam kesulitan. Satu hal yang harus kau ingat seumur hidupmu, Adriana. Emelie yang sekarang, bukan wanita yang bisa kau panggil kakak sampai kapanpun.”


“Seharusnya kau bersyukur, Emelie. Jika aku tidak membunuh Ratu, maka pria yang ada di sampingmu itu mungkin sudah berbaring di dalam kuburan.” Adriana mengangkat satu alisnya.


“Apa kau pikir aku percaya dengan kata-katamu, Adriana?”


“Aku tidak berharap kau percaya atau tidak. Tapi, pagi itu Ratu sudah mengirim orang untuk membunuh semua orang yang menolongmu di rumah susun. Aku tidak tahu, mereka berhasil atau tidak. Tapi, target kedua Ratu adalah Zeroun Zein. Dia tidak akan mungkin membiarkan putri kesayangannya dekat dengan seorang mafia.” Adriana menatap wajah Zeroun sekilas, “Kau bisa menanyakan kebenarannya dengan supir yang membawa kami pulang saat di pemakaman.”


Emelie terdiam. Wanita itu sangat kenal dengan karakter sang Ratu yang memang jauh lebih keras jika dibandingkan Raja. Sampai kapanpun, sang Ratu tidak akan membiarkan Emelie untuk dekat dengan pria yang tidak memiliki gelar bangsawan. Apalagi seorang mafia seperti Zeroun.


Wanita yang cukup licik. Ia menggunakan orang yang Uda mati untuk mengancam orang yang masih hidup. Sepertinya wanita ini cukup berbakat dalam memanipulasi keadaan.


Zeroun menatap Damian tanpa berkedip. Pria itu secara diam-diam mulai meraih pistol untuk menembak Emelie. Dengan gerakan cepat Damian mengeluarkan satu tembakan ke arah tubuh Emelie.


Zeroun menarik pinggang Emelie hingga peluru yang di luncurkan Damian meleset. Pria itu merebut paksa pistol yang ada di tangan Emelie, lalu mengeluarkan satu tembakan balasan ke arah Damian. Tembakan itu menancap di lengan Damian hingga membuatnya mengeluarkan banyak darah. Bahkan pistol yang ada di genggaman Damian juga terjatuh.


“Damian!” teriak Adriana. Deng wajah Emosi, Adriana mengambil pistol yang ada di lantai. Belum sempat Adriana menarik pelatuknya, Zeroun sudah menembak pistol itu hingga terpental cukup jauh.


Pasukan yang di miliki Damian tidak tinggal diam. Mereka mulai melakukan penyerangan saat melihat pemimpin mereka telah terluka. Tembakan itu juga di balas dengan tembakan dari pasukan Gold Dragon. Zeroun menarik tubuh Emelie ke arah belakang mobil. Pria itu menatap wajah Emelie yang kini terlihat menahan tangis.


“Emelie, aku tahu kau tidak akan mampu melukai mereka. Kau terlalu lemah untuk itu. Aku sudah pernah bilang bukan. Pekerjaan penuh darah seperti ini tidak pantas untuk kau lakukan.” Zeroun memegang kedua pipi Emelie sambil menatap wajahnya dengan seksama.


“Aku tahu, kalau Ratu pasti ingin membunuhmu, jika malam itu ia tidak mengalami kecelakaan.” Emelie manatap wajah Zeroun dengan tatapan sedih.


Zeroun menggeleng pelan, “Tidak akan semudah itu untuk membunuhku. Sekarang tetaplah di sini. Aku akan menghabisi mereka berdua detik ini juga.” Zeroun mencengkram kuat senjata apinya sebelum beranjak dari tempat itu.


Baku tembak itu terjadi di mana-mana. Bahkan suaranya cukup memekakan telinga. Satu-satunya target utama Zeroun saat itu adalah Damian. Pria itu menatap wajah Damian dengan tatapan membunuh. Tapi, Zeroun tidak ingin menembak musuhnya yang sudah terluka. Pria itu menyimpan kembali senjata apinya. Ia ingin membunuh Damian dengan cara memukul pria itu tanpa ampun.


“Adriana, pergilah. Biar aku yang menghadapi pria ini. Aku tidak ingin kau terluka dibuatnya,” perintah Damian sambil menahan rasa sakit pada lengannya.


“Aku tidak mau meninggalkanmu,” ucap Adriana dengan tangisan.


“Pergilah, Sayang. Aku akan baik-baik saja,” ucap Damian sambil menatap Zeroun yang sudah semakin mendekat.


Adriana tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah Damian. Wanita itu berlari kencang untuk kabur dari incaran Zeroun.


“Aku lawanmu, Zeroun. Sejak awal, aku musuhmu. Aku tidak akan membiarkanmu melukai Adriana dan calon anak yang ia kandung,” Damian berusaha bangkit untuk melawan Zeroun saat itu. Ia tidak akan memberikan kesempatan kepada Zeroun untuk melukai Adriana.


Bab selanjutnya akan segera menyusul ya reader....kalau gak pagi siang. Author ngantuk. Baru Sampek rumah langsung ngetik. Nti di usahain dua bab lagi. Biar satu hari ini up 3 bab.