
Emelie tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan. Wanita itu duduk di atas pangkuan Zeroun. Wajahnya sampai memerah dan ada air mata juga yang keluar dari sudut matanya karena terlalu lama tertawa.
“Bukankah itu sungguh lucu,” ucap Emelie sambil melihat video yang ada di dalam ponselnya.
Terlihat jelas, bagaimana ekspresi wajah Lana saat melihat Lukas di goda oleh wanita lain. Lana gengsi. Seperti itulah yang dipikirkan Emelie. Semua wanita berpakaian seksi itu adalah orang suruhan Emelie. Wanita itu sengaja membuat rencana seperti itu untuk membuat Lukas dan Lana berbaikan.
“Baiklah. Mereka sudah berbaikan. Sekarang, letakkan ponsel itu pada tempatnya. Kau sudah memutar video itu berulang kali,” ucap Zeroun dengan senyuman. Pria itu mengambil ponsel yang ada di tangan Emelie lalu meletakkannya di atas meja. Kedua tangannya melingkari perut sang istrinya sebelum menariknya agar bersandar di tubuh kekar Zeroun.
“Seandainya mereka mau ikut dengan kita ke Cambridge. Pasti akan sangat seru. Melihat gaya mereka berpacaran sungguh selalu membuat hatiku bahagia.” Emelie memeluk lengan Zeroun yang berada di atas perutnya.
“Lukas belum pernah berpacaran. Pria itu tidak terlalu ahli dalam berinteraksi dengan wanita.” Zeroun mulai mengatur posisi tidurnya. Pria itu ingin beristirahat dengan tubuh sang istri di pelukannya.
Emelie mengukir senyuman sambil memandang keluar jendela. Langit terlihat sangat gelap. Tidak ada cahaya apapun yang bisa dilihat karena mereka telah berada di ketinggian.
“Aku harap, mereka berjodoh. Aku akan memberikan Lukas dan Lana kado terbaik jika mereka menikah nanti,” ucap Emelie sebelum memejamkan mata.
Zeroun mengukir senyuman sebelum mendaratkan ciuman di pipi Emelie, “Selamat tidur, Sayang.”
***
Mobil yang dikendarai Lukas dan Morgan saling kejar-kejaran di tengah jalan yang sunyi. Laju mobil itu sangat kencang walau tidak termasuk jenis mobil balap. Jalanan sunyi malam itu terlihat seperti arena balap bagi mereka.
Lana duduk dengan wajah yang sangat tenang. Wanita itu tidak terlalu banyak bicara. Ia hanya diam sambil menikmati balapannya bersama sang kekasih. Sesekali Lana mengambil pistol dan mengisi peluru di dalamnya. Wanita itu juga akan turun tangan untuk memberi pelajaran kepada Morgan.
Hatinya cukup sakit saat kembali mengingat kejahatan mantan kekasihnya. Lana tidak tahu, apa ini semua salah dirinya atau Morgan sejak awal. Hubungan mereka berakhir tanpa alasan yang jelas. Saling menghindar hingga akhirnya menemukan kebahagiaan tersendiri bersama yang lain.
Ketika jumpa kembali mereka belum sempat membicarakan perihal hubungan mereka di masa lalu. Hanya ada rasa benci dan permusuhan setelah pertemuan mereka kembali.
“Lana, tembak ban mobilnya,” perintah Lukas kepada Lana.
Lana memandang wajah Lukas sekilas sebelum mengangguk pelan. Wanita itu mengarahkan pistol miliknya ke arah ban mobil Morgan. Tapi, rencana Lukas dan Lana sudah diketahui oleh Morgan. Dengan begitu ahli, Morgan menaikan kecepatan mobilnya dan menghindari tembakan Lana.
“Ini cukup sulit,” ucap Lana dengan wajah kesal.
Lukas menghela napas. Pria itu juga menambah laju mobilnya. Dahinya mengeryit saat Morgan mengarahkan laju mobilnya ke jalanan berdebu. Mobil Morgan tertutup debu berwarna cokelat yang berasal dari jalan. Jarak pandang Lukas terhalangi.
Lana menutup jendela mobilnya. Wanita itu sempat batuk-batuk karena debu yang masuk ke dalam mobil, “Dia pria yang gila.”
Lukas memandang wajah Lana sekilas sebelum mengecek keberadaan pasukan Gold Dragon melalui spion. Tidak ada satu mobilpun yang berhasil mengikutinya. Kini Lukas sendirian mengejar Morgan. Jika bertarung, mungkin ia akan bertarung bersama Lana saja untuk melawan Morgan dan pasukannya.
Morgan melajukan mobilnya ke sebuah pabrik yang sudah tidak terpakai lagi. Pria itu mengukir senyuman licik saat melihat Lukas sudah masuk ke dalam jebakannya. Morgan menghentikan mobilnya lalu keluar dari dalam mobil. Pria itu berdiri di depan mobil dengan tangan terlipat di depan dada.
Lukas masuk ke dalam pabrik itu. Setelah mobil Lukas tiba di dalam pabrik, secara otomatis pintu besi berukuran besar itu tertutup. Tidak ada mobil yang bisa masuk lagi ke dalam pabrik itu.
Lana dan Lukas saling memandang. Mereka sudah tahu, kalau Morgan pasti sudah merencanakan semuanya. Sepasang kekasih itu mengambil senjata api mereka dan menyelipkan belati untuk berjaga-jaga.
Lukas menghentikan laju mobilnya. Baru saja pria itu mematikan mesinnya, sudah muncul puluhan pria bersenjata yang sedang menodongnya. Sorot mata mereka cukup tajam. Ada dendam dan keinginan membunuh di sana.
“Shi*t!” umpat Lukas dengan wajah kesal. Pria itu menarik tubuh Lana dan memeluknya untuk melindungi. Ia terlihat geram karena telah berada di dalam posisi terjebak seperti itu.
Tanpa di duga-duga. Ratusan tembakan muncul. Tembakan itu berasal dari pasukan Gold Dragon. Walau tidak kelihatan, tapi mereka berhasil menemukan keberadaan Lukas saat ini.
Lukas mengukir senyuman. Ia cukup bangga dengan pasukan yang sudah ia pimpin. Gold Dragon memang tidak pernah mengecewakannya sama sekali. Pria itu melepas pelukannya. Ia meletakkannya di sisi kanan dan kiri wajah Lana. Kedua matanya menatap wajah Morgan yang masih memperhatikan gerak-geriknya.
“Aku mencintaimu,” ucap Lukas sebelum mendaratkan bibirnya di bibir Lana. Pria tangguh itu sengaja ingin menekankan kepada Morgan, kalau Lana sudah menjadi miliknya seutuhnya. Wanita itu kini dalam keadaan sehat. Hanya dengan cara seperti itu Lukas bisa memancing emosi Morgan.
Lana tidak membalas ciuman Lukas malam itu. Wanita itu hanya memegang lengan Lukas dan mencengkramnya kuat. Ia bingung. Bisa-bisanya di saat genting seperti itu sang kekasih menciumnya. Lana bahagia. Sentuhan itu memang membuatnya melayang. Tapi, ia tidak ingin lupa diri. Kini mereka sedang berperang. Hanya ada satu kata di akhir pertarungan. Kalah atau menang.
“Aku juga mencintaimu,” ucap Lana sambil memejamkan mata.
Lukas mengukir senyuman sebelum keluar dari dalam mobil. Lana juga keluar dan mengikuti jejak kaki Lukas. Sepasang kekasih itu memandang wajah Morgan dengan tatapan membunuh.
Morgan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pertarungan yang akan segera berlangsung. Anak buahnya tidak lagi bisa diandalkan. Cepat atau lambat, pasukan milik Morgan pasti kalah.
“Malam ini aku akan menang,” ucap Morgan penuh percaya diri. Pria itu melirik Lana sekilas sebelum memandang Lukas. Bibirnya tersenyum kecil.
Lukas tidak lagi memiliki niat untuk membalas perkataan Morgan. Pria itu melayangkan satu pukulan ke arah wajah Morgan lebih dulu. Lana juga terlihat bersiap untuk memberi tendangan ke arah tubuh mantan kekasihnya.
Morgan tidak tinggal diam. Pria itu menahan tangan Lukas yang beberapa centi lagi menyentuh wajahnya. Bahkan gerakan Lana dengan mudah ia tahan dan ia tangkis dengan kaki, “Hanya segini. Apa kau tidak ingin melawanku sendirian? Kau seperti pecundang yang memanfaatkan wanita untuk membantumu bertarung,”
Lana mengepal kuat tangannya saat mendengar kalimat yang dikatakan Morgan. Wanita itu mundur beberapa langkah sebelum mengeluarkan sebuah belati. Tidak ada lagi maaf untuk Morgan. Wanita itu berniat untuk membunuh Morgan dengan tangannya sendiri. Morgan harus membayar penderitaan dan rasa sakit yang sempat ia rasakan.
Dari kejauhan. Tangan kanan Morgan muncul. Pria itu melayangkan tembakan ke arah tangan Lana hingga membuat belati yang di genggam wanita itu terhempas jauh. Lana memutar tubuhnya. Lana menatap tajam lawannya malam itu.
“Aku akan menghadapi pria sial*an ini,” ucap Lana sebelum berlari untuk menyerang.
Lukas menatap wajah Morgan tanpa berkedip. Pria itu melakukan satu trik memutar tubuh dengan kaki terangkat satu. Bagian perut Morgan yang ia incar malam itu. dengan gerakan cepat, membuat Lukas berhasil menendang perut Morgan.
Morgan juga membalas perbuatan Lukas. Pria itu melayangkan pukulan dengan tangan terkepal kuat. Ada cincin dengan besi yang runcing di jarinya. Ia berniat untuk merobek wajah Lukas dengan senjata kecil itu.
Lukas menghindar. Tidak semudah itu menyentuh wajahnya. Walau memang ia akui, malam ini kemampuan bela diri Morgan terlihat hebat dan terlatih. Tapi, Lukas tidak ingin kalah. Ia ingin menjadi pemenang di akhir pertarungan ini.
Morgan dan Lukas saling memukul dan menendang dalam durasi yang cukup lama. Ada banyak luka di wajah mereka. Bahkan beberapa bagian tubuh seperti kaki dan tangan juga terdapat tanda biru-biru akibat pukulan. Dua pria tangguh itu bertarung tanpa kenal lelah dan putus asa.
Di sisi lain, Lana masih terus berjuang mengalahkan pria yang menjadi lawannya. Wanita itu berulang kali menghadiakan musuhnya tendangan, namun gerakannya tertahan. Kali ini lawan Lana mengenggam belati. Pria itu melayangkan belati untuk mengincar bagian perut Lana.
Lana berusaha menghindar hingga akhirnya belati itu hanya mengenai lengannya. Sayatan senjata tajam itu cukup panjang dan lebar. Tangan Lana berdarah dan terasa tidak bertenaga lagi.
DUARR
Baru saja beberapa detik Lana mengatur napasnya, wanita itu sudah mendengar suara tembakan. Pria yang ada di hadapannya tergeletak tidak bernyawa saat sebuah peluru menancap di dahinya.
Lana memutar tubuhnya untuk melihat sumber tembakan. Dari kejauhan, Lukas menggengam pistol. Pria itu yang menembak lawan Lana karena tidak terima kekasihnya di lukai. Morgan sudah ada di dalam cengkraman Lukas dengan wajah babak belur.