Moving On

Moving On
Kercurigaan Zeroun



Bibirnya terasa dingin seperti es. Tapi, kenapa ada kehangatan dan rasa panas yang membara seperti api. Dalam sekejab, tubuhku terasa seperti terbakar. Di dalam pelukannya kenapa Aku kehilangan akal sehatku saat ini. Apa ciuman seperti ini rasanya? Astaga ... apa yang sudah Aku pikirkan.


Setelah sadar dengan apa yang terjadi. Lukas segera mendorong tubuh wanita mabuk itu agar segera menjauh dari tubuhnya. Lana mundur dan menabrak rak berisi gelas-gelas kristal yang tersusun rapi. Karena terkena benturan Lana yang cukup keras, gelas-gelas kristal itu jatuh dari rak dan akan segera jatuh untuk menimpahi bagian tubuh wanita malang itu.


“Jika bukan karena tangan kanan Bos Zeroun, Aku pasti sudah membunuhmu saat ini.” Lukas menghapus bekas ciuman Lana yang masih sangat terasa di bibirnya. Kedua bola matanya melebar saat melihat gelas-gelas yang akan terjatuh menimpah kepala Lana saat itu.


“Sial!” umpatnya kesal.


Lukas berlari cepat untuk melindungi Lana yang tidak lagi sadarkan diri. Pria itu memeluk tubuh Lana agar gelas-gelas kristal itu tidak mengenai bagian tubuh Lana. Terdengar suara pecahan kaca-kaca dari dalam ruangan itu. Seluruh permukaan lantai kini dipenuhi dengan pecahan kaca yang begitu tajam. Ada beberapa gelas kaca yang terbentur kuat di bagian atas kepala Lukas.


Lukas melepaskan pelukannya dari tubuh Lana. Menatap kesal wajah wanita itu. Tiba-tiba saja bagian kepalanya terasa basah seperti disiram air hangat. Dengan cepat pria tangguh itu memegang bagian kepalanya. Ada darah segar yang menempel di telapak tangannya. Darah itu sudah cukup memberi tahu kalau kini kepalanya telah terluka.


“Kau memang wanita yang cukup menyebalkan!” umpat Lukas semakin kesal.


Lana tidak bisa lagi menopang tubuhnya yang sempoyongan. Wanita itu ingin menjatukan tubuhnya di permukaan lantai yang dipenuhi banyak kaca. Lukas tidak tinggal diam melihat wanita itu akan terluka karena pecahan kaca. Lagi-lagi ia menarik tubuh Lana agar berada di dalam pelukannya.


“Sangat hangat, jangan lepaskan Aku. Tetap seperti ini,” gumam Lana sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lukas. Wanita itu terlihat sangat bahagia saat berada di dalam pelukan Lukas. Tubuh Lukas benar-benar bisa membuat tubuhnya tidak lagi merasa kedinginan. Lana memejamkan matanya dengan kepala bersandar di dada bidang milik Lukas.


Sedangkan Lukas. Hanya bisa menghirup udara segar dengan wajah kesal. Tidak pernah terbayangkan di dalam pikirannya, ia bisa melalui harinya dengan cara seperti ini. Tubuhnya berdiri tegak tanpa mau membalas pelukan Lana. Pria itu terlihat bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat itu.


“Aku akan membalas semua perbuatanmu nanti! awas saja kau!”


***


Zeroun dan Emelie baru saja selesai melaksanakan ritual makan siangnya. Setelah meletakkan gelas kembali di atas meja, Zeroun terlihat mencari-cari keberadaan dua bawahannya itu. Tidak seperti biasanya Lukas tidak ada saat pria itu sedang makan siang. Bahkan, jika benar sedang pergi meninggalkan markas. Pria kepercayaannya itu selalu saja berpamitan lebih dulu.


Emelie membersihkan mulutnya dengan selembar tisu. Meminum segelas air putih sebelum mengukir senyum ceria. Perutnya sudah terasa cukup kenyang dengan energi yang sudah kembali. Pistol Lana yang tertinggal di atas meja menjadi pusat perhatiannya saat itu. Putri kerajaan itu menatap pistol hitam ukuran kecil yang tergeletak tanpa berkedip. Di lubuk hatinya yang terdalam, Emelie sangat ingin menggenggam senjata itu.


“Dimana Lukas?” Zeroun menatap wajah Gold Dragon yang kini berjalan mendekati posisinya. Pertanyaan Zeroun membuat lamunan Emelie terpecahkan. Wanita itu juga menatap dua wajah pasukan Gold Dragon yang kini berdiri di hadapan kekasihnya.


“Maaf. Bos. Sejak tadi kami tidak lagi menemukan keberadaan Bos Lukas dan Nona Lana. Terakhir kali kami melihat Nona Lana sekitar jam 1.” Salah satu pria berbadan tegab itu angkat bicara.


“Jam satu?” Zeroun mengeryitkan dahi sambil memperhatikan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Mungkin mereka pergi berjalan-jalan atau ada sesuatu yang harus mereka selesaikan di luar,” ucap Emelie sambil menatap wajah Zeroun.


“Maaf, Nona. Tetapi, mobil Bos Lukas dan Nona Lana masih ada di parkiran. Sejak tadi, kami tidak melihat mereka berdua pergi meninggalkan markas. Satu-satunya jalan untuk pergi meninggalkan markas jalan dari depan. Tidak ada jalan lain selain jalan depan.” Dua pasukan Gold Dragon itu juga terlihat bingung dengan keberadaan Lukas dan Lana saat ini. Mereka sudah memeriksa ke segala penjuru ruangan. Tetapi tidak juga menemukan batang hidung dua atasannya itu.


Zeroun terlihat berpikir sejenak. Hilangnya Lukas dan Lana secara bersamaan membuat sesuatu mengganjal di dalam hatinya. Selama ini dua bawahannya itu memang terlihat tidak akur dan sering berkelahi. Tetapi, bukan karakter Lukas membunuh bawahannya tanpa alasan. Apa lagi seorang wanita seperti Lana.


“Bawa handphoneku kemari,” perintah Zeroun dengan wajah yang cukup khawatir.


“Baik, Bos.” Dua pasukan Gold Dragon itu menundukkan kepala sebelum pergi meninggalkan Zeroun di meja makan itu.


“Zeroun, apa sesuatu telah terjadi?” Emelie juga terlihat khawatir saat melihat perubahan sikap kekasihnya sore itu.


“Aku akan mencari mereka melalui ID pelacak. Setiap pasukan Gold Dragon memiliki Id pelacak agar posisi mereka bisa diketahui.” Zeroun menatap wajah Emelie dengan dua bola mata tajam.


Emelie mengukir senyuman kecil sebelum memandang gelang yang kini melingkar di tangan kirinya.


‘Apa dia selalu memasang alat pelacak seperti ini ke semua orang. Dasar Bos Mafia, bahkan kegiatan orang lain dia bisa mengetahuinya. Bagaimana mungkin bawahannya berani berbuat yang aneh-aneh jika seperti ini keadaannya.


Tidak menunggu lama. Ponsel yang ia inginkan kini sudah ada di atas meja. Zeroun mengaktifkan alat pelacak yang ada di dalam ponselnya. Matanya membulat lebar saat melihat posisi dua bawahannya masih ada di sekitar rumah. Bos Mafia itu terlihat berpikir keras saat itu. Hanya posisi yang bisa ia lacak saat ini. Sedangkan posisi itu kini terletak di tempat dirinya berada.


“Mereka masih ada di rumah ini.”Zeroun beranjak dari duduknya sambil menatap bawahannya.


“Apa kalian yakin sudah mencari ke setiap sudut ruangan?” tanya Zeroun dengan perasaan ragu.


“Benar, Bos. Di kamar Bos Lukas dan Nona Lana tidak ada. Bahkan di gudang senjata kami juga tidak menemukan keberadaan mereka. Beberapa pasukan Gold Dragon juga sudah mengelilingi rumah ini tetapi tidak ada yang berhasil menemukan mereka.” Terpancar jelas raut wajah takut saat menjelaskan kalimat itu kepada Zeroun Zein. Sejak dulu, Zeroun tidak suka ketika bawahannya melakukan kesalahan. Jika suasana hatinya buruk, satu pukulan atau tamparan akan segera melayang di wajah pria berbadan tegab itu.


Ada senyum kecil di sudut bibir Zeroun sore itu, “Apa kalian yakin sudah memeriksa semuanya?” Kedua bola matanya mengecil. Ada penekanan di dalam kalimat Zeroun saat itu. Wajahnya terlihat tidak suka atas penjelasan pasukan Gold Dragon. Pria itu tidak cukup puas dengan cara kerja bawahannya saat ini.


“Su-sudah, Bos.” Tubuh dua bawahannya itu terlihat gemetar dengan hati yang diselimuti ketakutan.


Like, Vote and Comen.😊