Moving On

Moving On
Malam Penuh Bintang



Malam indah itu benar-benar berhasil menghipnotis Emelie. Wanita itu bahkan tidak lagi ingat jam berapa saat ini. Jadwal tidurnya sudah lewat hingga dua jam. Saat ini sepasang kekasih itu duduk di atas kursi yang empuk. Kursi itu berada tidak jauh dari pinggiran pantai.


Zeroun dan Emelie terus bercanda tawa dalam keceriaan sambil menatap bintang yang bersinar terang. Kado yang sempat ia rebut dari tangan Zeroun juga masih belum mau ia buka. Putri kerajaan itu ingin menikmati malam pergantian usianya untuk menatap bintang bersama pria yang sangat ia cintai.


Angin yang bertiup dengan begitu kencang membuat rambut Emelie berterbangan. Zeroun tidak lagi memakai jas yang sejak awal ia kenakan. Jas hitam itu kini sudah berpindah tubuh. Emelie mengenakan jas hitam Zeroun untuk meindunginya dari rasa dingin. Ombak pantai terlihat sangat indah saat cahaya rembulan masih setia menemainya.


“Emelie, apa kau tidak tertarik untuk membuka hadiah sederhana dariku?” tanya Zeroun sambil menatap wajah Emelie yang kini duduk di sampingnya. Pria itu cukup penasaran. Kenapa sejak tadi kekasihnya tidak ada niat untuk membuka kado pemberiannya.


Emelie menggeleng kepalanya, “Aku ingin membuka kadonya besok pagi. Tepatnya saat aku membuka mata pertama kali setelah bangun tidur,” ucapnya dengan suara mulai serak.


“Kenapa harus seperti itu?” tanya Zeroun sambil mengeryitkan dahi.


“Setiap aku ulang tahun. Yang mulia Raja selalu menyiapkan kado tepat di samping bantalku tidur. Aku tidak pernah membuka kado lain sebelum membuka kado pemberiannya. Pernah satu kali ia lupa meletakkan kado di samping bantal tidurku. Aku menangis dengan wajah dipenuhi kecewa. Padahal saat itu karena Yang Mulia Raja harus pergi menghadiri pertemuan penting hingga ia lupa dengan ulang tahunku.” Emelie menatap wajah Zeroun dengan seksama.


“Aku ingin kado pemberian darimu bisa mengobati rasa rinduku kepada Yang Mulia Raja,” sambung Emelie dengan buliran air mata yang tidak bisa terbendung lagi.


Zeroun mengukir senyuman kecil sebelum menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya. Pria itu mengusap lembut punggung Emelie, “Aku akan berusaha untuk membuatmu selalu bahagia, Emelie,” ucap Zeroun sebelum mengecup pucuk kepala wanita itu.


Emelie kembali ingat dengan telepon Inspektur Tao beberapa jam yang lalu. Dengan wajah sedikit merasa bersalah Emelie memberanikan diri menatap wajah Zeroun.


“Ada hal penting yang ingin aku katakan, Zeroun.”


“Apa itu? Kau bisa mengatakannya sekarang juga, Emelie.” Zeroun menyelipkan rambut Emelie yang berserak di belakang telinga.


“Tadi, Inspektur Tao menghubungimu. Tapi, aku yang mengangkat telepon itu. Ada seorang wanita berteriak minta tolong. Sepertinya mereka sangat membutuhkan bantuanmu saat ini. Apa kau mau pergi untuk menolong mereka?” tanya Emelie dengan hati ragu-ragu.


Sejujurnya ia tidak ikhlas kalau harus merelakan kekasihnya pergi detik ini juga. Apa lagi, tujuan perginya sudah jelas untuk bertarung dan menerima luka. Tetapi, Emelie gak ingin terkesan seperti penghalang dalam pekerjaan kekasihnya.


“Apa mereka masih hidup?” tanya Zeroun sambil mengeryitkan dahi.


“Tentu saja itu tidak aneh. Kejadiannya sekitar dua jam yang lalu. Tidak ada yang bisa bertahan lama jika berkelahi lebih dari dua jam. Sudah bisa di pastikan saat ini, mereka menang atau kalah,” ucap Zeroun dengan wajah santainya.


“Kalau kalah berarti Inspektur Tao tewas, gitu maksudnya?” tanya Emelie sekali lagi untuk kembali memastikan.


Zeroun mengangguk pelan, “Bisa dibilang seperti itu.”


Emelie terdiam dengan debaran jantung yang tak karuan. Tiba-tiba saja hatinya di selimuti rasa bersalah yang sangat besar.


‘Kalau Inspektur Tao benar-benar tewas bagaimana. Ini semua salahku.”


Zeroun mengukir senyuman kecil saat menatap wajah takut Emelie. Pria itu membuang tatapannya ke arah laut. Detik itu pikirannya juga melayang dan menjauh dari raga. Ia masih memikirkan bagaimana nasip anak buahnya saat ini. Apa mereka menang atau kalah dalam melawan Heels Devils.


Strategi ini memang sengaja di buat oleh Inspetur Tao agar Heels Devils tidak lagi memiliki rasa curiga saat rombongan Lukas besok berangkat ke Monako. Penyerangan hari ini juga menjadi awal mula penyerangan Zeroun. Setelah Lukas tiba di Monako. Zeroun berniat untuk menyerang Damian di kota Rio. Ia akan membuat Damian sibuk hingga tidak lagi kosentrasi dengan Kasino yang ia miliki di Monako nantinya.


Setelah beberapa menit melamun, Zeroun tidak lagi mendengar suara kekasihnya. Saat pria itu memutar pandangannya, Emelie sudah terlelap di dalam tidurnya. Kado pemberian Zeroun ia genggam di depan dada. Wajah Emelie saat memejamkan mata memang terlihat sangat tenang. Tidak akan ada yang tega untuk membuatnya terluka jika memandang wajahnya saat ini. Zeroun masih tidak habis pikir dengan tingkah laku Adriana. Semua kekacauan besar ini juga di mulai dari Adriana. Kalau tidak ada rasa iri di dalam hati Adriana. Mungkin Hari ini Emelie masih tidur dengan tenang di Istana.


Zeroun mengangkat tubuh Emelie ke dalam gendongannya. Kado yang sempat ia beli juga ia bawa masuk ke dalam rumah. Pria itu berjalan dengan langkah kaki yang sangat tenang. Sesekali Zeroun menatap wajah Emelie yang masih ada di dalam gedongannya.


Satu persatu anak tangga ia jejaki sambil memikirkan nasip Lukas dan Lana saat ini. Ingin sekali Zeroun pergi untuk memeriksa langsung keadaan yang terjadi. Tapi, ia tidak akan mungkin meninggalkan Emelie sendirian di rumah. Walau kota yang kini mereka tempati terbilang aman. Tetap saja tidak bisa membuat hati Zeroun benar-benar yakin untuk meninggalkan Emelie sendirian di rumah.


Zeroun meletakkan tubuh Emelie di atas tempat tidur. Pria itu mengecup pucuk kepala Emelie sebelum meletakkan kado pemberiannya di samping bantal Emelie.


“Selamat ulang tahun, Sayang.”


Zeroun pergi meninggalkan kamar itu. Malam ini Zeroun lebih memilih untuk tidur di kamar lain. Semakin hari semakin sulit untuknya mengendalikan diri jika berada di dekat Emelie. Rasa cintanya memang sangat berbeda jauh jika dibandingkan cintanya yang dulu. Rasa kepemilikannya jauh lebih besar bahkan selalu bertambah setiap harinya.