
Beberapa jam kemudian.
Seluruh anggota kerajaan telah berkumpul di meja makan. Momen seperti itu sudah cukup lama mereka rindukan. Ada canda tawa di antara keluarga yang saling menyayangi. Beberapa putri dan Pangeran kecil berusia sekitar delapan sampai sepuluh tahun juga hadir dalam acara makan malam kerajaan. Acara makan malam itu sengaja di buat sebagai sambutan karena telah kembalinya Putri Emelie.
Paman Arnold duduk di meja utama sebagai perwakian Raja dan Ratu yang telah tiada. Malam itu Paman Arnold ingin memberi informasi penting kepada keluarga kerajaan yang telah hadir.
Pengeran Arnold terlihat cukup bahagia. Keluarganya kini bisa kembali berkumpul seperti dulu lagi. Walau Raja dan Ratu telah tiada, namun bayangannya selalu hadir di antara mereka.
Emelie dan Zeroun terlihat sibuk bermain dengan Putri kecil yang duduk di samping mereka. Sejak dulu, Putri Emelie memang terkenal dengan jiwa ramah dan murah senyum. Hal itu juga yang membuat banyak anak-anak kecil menyukainya. Bahkan tidak sedikit yang mengidolakannya.
Putri Emelie seperti sosok yang selalu menjadi panutan bagi setiap generasi muda kerajaan. Walaupun sejak dulu Putri Emelie terkenal dengan jiwa sedikit pembakangnya. Tapi, tetap saja hal itu tidak berhasil menghilangkan nama baik yang ia miliki.
Shabira dan Kenzo yang juga hadir di dalam makan malam besar itu terlihat mengukir senyum bahagia. Kini keluarga mereka bertambah. Bahkan banyak dari keluarga Putri Emelie yang meminta Shabira untuk berkunjung ke kediaman mereka.
Bagi sosok yang hidupnya selalu di habiskan di jalanan. Momen seperti ini adalah momen langkah yang tidak pernah ia bayangkan akan ia dapat. Bahkan Shabira sendiri sesekali masih menganggap semuanya hanya sebuah mimpi.
Kemegahan istana serta keanggunan semua orang membuat dirinya terasa seperti orang asing. Zeroun dan Kenzo yang selalu menggenggam tangannya hingga akhirnya wanita itu memiliki rasa percaya diri. Di tambah lagi, Kakak Ipar yang ia miliki adalah orang yang cukup di segani. Hal itu memudahkan Shabira berinteraksi dengan semua penghuni istana.
Setelah beberapa menit melakukan ritual makan malam yang cukup hening. Kini tiba saatnya Paman Arnold angkat bicara. Lelaki itu menatap satu persatu wajah yang ada di meja makan. Bibirnya tersenyum.
“Selamat malam, semuanya. Malam ini saya cukup bahagia karena masih bisa di beri kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga saya. Keluarga yang sangat saya cintai dan saya sayangi.” Pangeran Arnold memandang Putri Emelie, “Putri Emelie telah kembali. Mungkin cukup mustahil bagi saya sebelumnya saat berharap Putri Emelie akan kembali. Beberapa waktu terakhir ini, kerajaan kita sedang di timpa musibah. Datangnya seorang penghianat yang berasal dari kalangan yang sama dengan kita, Pangeran Damian. Bukan hanya itu. Putri Adriana yang selama ini kita hormati dan kita sayangi telah melakukan penghianatan. Tapi, kita harus bisa memaafkan mereka. Kita juga harus tetap bangkit dan melangkah ke depan. Terima kasih, Putri Emelie karena telah hadir kembali di antara kami. Kami sangat membutuhkan anda.” Pangeran Arnold mengukir senyuman dengan mata berkaca-kaca.
“Paman Arnold, terima kasih karena masih mempercayai perkataan saya. Saya cukup bahagia karena mendapat sambutan meriah seperti ini. Seperti kabar yang sebelumnya telah tersebar luas. Kalau Putri Adriana bukan saudara kandung saya. Hal itu adalah satu kebenaran. Saya mengetahui kebenaran itu sehari sebelum Yang Mulai Ratu meninggal dunia.”
Emelie menghentikan kalimatnya, entah kenapa setiap kali bibirnya mengucapkan kata Yang Mulia hatinya selalu bergetar hebat. Zeroun meletakkan tangannya di atas punggung tangan Emelie. Lelaki itu merem*as kuat tangan wanitanya agar bisa tetap tegar.
“Putri, maafkan kami karena terlambat mengetahui semua ini.” Paman Arnold menunduk dengan wajah sedih.
“Paman, saya tidak ingin menyalahkan siapapun di sini.” Emelie berusaha mengukir senyuman manis miliknya. Kedua bola matanya menatap wajah Zeroun dengan seksama.
“Terima kasih, Putri. Anda memang wanita yang sangat mulia.” Pangeran Arnold memandang ke arah seluruh anggota kerajaan dan yang lainnya, “Malam ini saya ingin memberi informasi penting. Saya dari pihak keluarga Arnold akan mengangkat Tuan Zeroun Zein sebagai anggota kerajaan kami. Memberinya gelar Pangeran atas jasa besar yang telah ia lakukan karena telah melindungi Putri Emelie.” Keputusan pertama yang di ucapkan Pangeran Arnold mendapat sambutan hangat dari seluruh anggota keluarga. Emelie dan Zeroun saling memandang dengan satu senyuman.
Tepuk tangan meriah telah terdengar memenuhi seisi ruangan. Semua orang tersenyum dengan wajah haru. Hari bahagia akan segera tiba. Semua orang ingin menyambutnya dengan senyuman dan rasa bahagia.
“Terima kasih, Paman Arnold,” ucap Zeroun dengan rasa bahagia yang tidak lagi bisa di ucapkan dengan kata-kata. Bos Mafia itu hanya bisa mengukir senyuman bahagia atas kabar baik yang baru saja ia dengar.
“Terima kasih, Paman Arnold.” Putri Emelie mengukir senyuman bahagia dengan mata berkaca-kaca. Tidak lama lagi ia akan bersatu dengan lelaki yang ia cintai. Emelie sudah tidak sabar menunggu hari bahagia itu tiba.
Dari kejauhan, Lukas dan Lana berdiri dengan senyum bahagia juga. Sepasang kekasih itu berdiri pada posisinya sejak Paman Arnold mulai berbicara. Semua kalimat yang diucapkan oleh Paman Arnold tidak ada yang terlewati.
“Lukas, apa sebentar lagi kita akan berpisah dengan Bos Zeroun?” ucap Lana dengan wajah sedih.
Lukas melirik wajah Lana dengan perasaan yang sama. Rasa sedih itu tiba-tiba saja memenuhi hatinya hingga menyesakkan dada. Namun, dalam hitungan detik lelaki itu ingat dengan kelakuan Lana yang belum mendapat hukuman. Ia kembali melirik kaki Lana yang katanya sakit.
“Kita lihat, sampai kapan kau bisa berbohong,” gumam Lukas di dalam hati. Lelaki itu berjalan mendekati beberapa pengawal yang berbaris. Ia meminjam dua buah pedang dari pengawal kerajaan. Setelah mendapatkan pedang yang ia inginkan, Lukas memberikan pedang yang satu kepada Lana.
“Buat apa pedang ini?” ucap Lana dengan wajah bingung.
“Tentu saja hukuman untukmu. Malam ini kita akan bertarung dengan pedang. Jika kau menang, kau bisa bebas dari hukumanmu.” Lukas mengukir senyuman sebelum melangkah pergi mencari tempat yang tepat untuk bertarung.
Sedangkan Lana mengikuti langkah Lukas dari belakang, masih dengan akting kaki yang sakit, “Dasar lelaki tidak berperasaan,” ucap Lana penuh rasa kesal.
.
.
.
Like, Vote dan Komen. Terima kasih reader...😘