
Lana terlihat sibuk di dapur. Wanita itu tidak mau kalah dengan Emelie. Ia kini juga membuat sebuah omelet untuk mengisi perutnya yang terasa kosong. Semua bahan dan bumbu yang digunakan Emelie juga ia gunakan dengan porsi yang sama banyak. Bibirnya tersenyum indah saat aroma masakan itu menusuk kedalam hidungnya.
“Masakanku pasti tidak kalah enak dengan buatan Nona Emelie.”
Lana meletakkan omelet itu di atas piring kaca berwarna putih. Menghias omelet itu dengan saus dan membentuknya dengan bentuk hati. Wanita itu memegang piring itu dengan satu khayalan.
“Sayang, masakan ini Aku persembahkan untukmu,” ucap Lana yang kini sedang mempraktikkan tingkah laku Emelie di depan Zeroun.
“Apa kau sudah gila?”
Suara Lukas terdengar dari kejauhan. Pria itu berjalan dengan santai mendekati posisi Lana. Melirik makanan buatan Lana yang terlihat lezat dan menggugah selera.
“Lukas, kenapa Kau selalu saja muncul secara tiba-tiba. Apa kau bisa terbang?” Lana melihat sepatu Lukas yang masih melekat di lantai.
“Setiap orang yang berjalan pasti terdengar suara sepatunya.” Lana meletakkan omelet buatannya di atas meja.
“Kau yang tuli hingga tidak bisa mendengar.” Lukas menarik kursi dan duduk dengan posisi nyaman. Mengambil garpu untuk mencicipi masakan Lana pagi itu.
Lana melipat kedua tangannya di depan dada. Sejak awal, masakan itu ia masak hanya untuk dirinya sendiri. Namun, kini tiba-tiba saja Lukas muncul dan merusak semuanya.
Lukas memasukkan potongan kecil omelet itu ke dalam mulutnya. Mengunyah makanan itu dengan penuh penghayatan. Kepalanya menganggguk pelan sebelum meletakkan garpu itu kembali ke atas piring.
“Lumayan,” ucap Lukas pelan.
“Lumayan Kau bilang?” Lana menarik piring itu agar menjauh dari hadapan Lukas.
“Aku tidak memberimu tawaran untuk mencicipinya. Kenapa Kau mencobanya tanpa rasa bersalah seperti itu.” Lana menarik kursi dan duduk untuk menikamti sarapan paginya.
“Kau bisa membuatnya lagi. Kenapa pelit sekali!” Lukas tidak mau kalah, pria itu mengambil paksa omelet itu agar bisa melahapnya lagi.
“Lukas, kau buat sendiri saja sana.” Lana menahan piringnya agar Lukas tidak berhasil meerebutnya.
“Kau.” Lukas mulai sedikit kesal melihat kelakuan Lana pagi itu. Pria itu melepaskan tangannya sebelum beranjak dari kursi.
“Kau buat saja sendiri. Aku jamin, Kau tidak akan bisa membuatnya.” Lana melanjutkan sarapan paginya dengan wajah cemberut.
Sedangkan Lukas, pergi meninggalkan dapur dengan wajah kesal. Belum ada bawahannya yang begitu berani dengan dirinya selain Lana. Baik pria maupun wanita, semua yang berstatus bawahannya selalu takut melihat wajahnya. Bahkan dengan suka rela memberikan apa yang ia inginkan.
“Wanita pembakang,” umpat Lukas sebelum pergi ke arah pintu depan.
Di halaman depan, terlihat pasukan Gold Dragon yang sedang berlatih ilmu bela diri. Lukas bersandar di dinding untuk melihat kualitas yang dimiliki bawahannya itu. Tetapi, tiba-tiba saja wajah Lana memenuhi pikirannya. Lukas tidak lagi bisa kosentrasi dengan pekerjaan yang ingin ia lakukan pagi ini.
“Wanita itu. Kenapa Aku harus terus-terusan mengingatnya.” Lukas mengeluarkan pistol untuk latihan menembak. Pria itu berharap, saat menembak nanti ia bisa membuang jauh wajah Lana yang ada di dalam pikirannya.
Disisi lain. Lana baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Wanita itu terlihat tertarik saat mendengar suara tembakan dari arah pintu depan. Dengan cepat, ia membersihkan mulutnya dengan tisu dan meminum air putih yang ada di depannya.
Tidak lagi ingin membuang-buang waktu. Lana berlari kencang menuju ke arah halaman depan untuk melihat si pemilik tembakan.
Ada banyak senjata tersusun rapi di atas meja. Dari ukuran kecil hingga ukuran panjang. Bahkan senjata yang biasa digunakan para sniper ahli juga ada di meja itu. Lukas bisa menguasai semua senjata api itu dengan begitu ahli. Sejak dulu, Zeroun sering mewariskan bakat yang ia miliki kepada Lukas.
Tanpa banyak kata, Lukas menembak ke arah bidik sasaran. Memposisikan dirinya dengan posisi yang pas untuk menembak. Tembakan demi tembakan terdengar begitu memekakan telinga.
Dari gerombolan pasukan Gold Dragon, Lana berdiri di antaranya. Wanita itu juga cukup kagum dengan keahlian menembak yang dimiliki oleh Lukas. Lana tidak bisa menggunakan seluruh senjata yang ada di atas meja itu. Hanya beberapa senjata api saja yang mampu ia kuasai.
“Bos, apa saya boleh menggunakan senjata itu?” ucap Lana dengan wajah santai.
Seluruh anggota Gold Dragon menatap wajah Lana tanpa berkedip. Belum ada satu orangpun yang berani mengganggu Lukas saat latihan. Namun, pagi itu. Dengan wajah lugu dan begitu tenang, Lana muncul dan menawarkan diri untuk dilatih oleh Lukas.
Lana merasakan perubahan sikap semua orang. Wanita itu memegang tengkuknya yang tiba-tiba saja merasa dingin. Seperti berada di rumah hantu saat siang hari. Seluruh mata yang kini menatapnya seperti ingin melahapnya hidup-hidup.
Lukas terlihat kesal saat melihat wajah Lana pagi itu. Ia menembak untuk melupakan bayangan wajah Lana yang sejak tadi mengganggunya. Tapi, kini wanita itu mala muncul dan menawarkan diri untuk berada di dekatnya.
“Kemarilah,” perintah Lukas sambil mengacungkan satu jarinya.
Lana tersenyum bahagia. Wanita itu terlihat bersemangat saat Lukas memanggilnya maju ke depan.
“Bos, apa yang bisa saya lakukan?” Lana memperhatikan senjata api itu dengan begitu takjub.
Lukas memandang ke arah Gold Dragon, “Pergilah. Tinggalkan kami.”
“Baik, Bos.” Gold Dragon tidak lagi mau mengganggu Lukas dan Lana pagi itu.
Lana memperhatikan pasukan Gold Dragon yang berangsur-angsur menghilang. Wanita itu kini menyimpan rasa curiga terhadap pria yang berdiri di hadapannya.
“Kenapa menyuruh mereka pergi, Lukas? bukankah ini latihan menembak yang harus dikuasai semua orang?”
Lukas mengambil satu pistol berukuran sedang. Pria itu mengokang senjata apinya sebelum memberikannya kepada Lana.
“Aku memberimu satu misi yang harus segera kau selesaikan. Jika tidak bisa, maka Aku tidak akan mengijinkanmu masuk ke dalam rumah.”
Lana menelan salivanya. Merasakan sesuatu yang buruk akan segera menghujani dirinya saat ini. Dengan hati-hati, Lana menerima pistol itu.
“Apa misinya?” tanya Lana dengan suara yang begitu pelan.
“Tembak burung yang terbang di langit. Jika kau berhasil menembaknya, tunjukan padaku burung itu. Aku akan memeriksa peluru yang mengenai burung itu. Jika tidak sama dengan peluru pistol ini, maka Aku akan memberimu hukuman yang jauh lebih berat.” Lukas berjalan meninggalkan Lana begitu saja.
“Hei, Lukas! apa kau gila. Bagaimana cara menembak burung yang berterbangan tinggi hanya dengan pistol kecil seperti ini. Untuk menembak burung Aku harus menggunakan senjata yang memiliki bidikan. Hei Lukas.”
Lana mengepal kuat pistol yang ada di genggamannya dengan wajah begitu kesal. Memperhatikan Lukas yang pergi masuk ke dalam rumah dengan wajah santai dan tidak bersalah.
“Lukas, Aku akan membalasmu!” teriak Lana dengan begitu kuat.