Moving On

Moving On
S2 Bab 56



Waktu terus berlalu hingga rembulan kembali muncul untuk menghiasi malam. Agen Mia pergi meninggalkan markas Gold Dragon secara diam-diam. Bahkan wanita itu terlihat seperti pencuri. Agen Mia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Agen Mia mengambil ponselnya dari dalam saku. Wanita itu melekatkan ponselnya di telinga dengan satu tangan di setir mobil, “Aku akan segera tiba.”


Agen Mia mematikan panggilan teleponnya. Lawan bicaranya telah setuju untuk menemuinya. Agen Mia tidak perlu khawatir lagi. Wanita tangguh itu menambah kecepatan mobilnya agar bisa segera tiba di lokasi.


Beberapa saat kemudian.


Agen Mia menghentikan mobilnya di sebuah gedung berlantai sepuluh. Wanita itu mematikan mesin mobilnya sambil menatap pria yang telah menunggunya berdiri di pinggiran gedung. Agen Mia mengambil pistol dan menyelipkannya di paha. Walau kini orang yang ia temui tidak pernah mengancam nyawanya, tapi tetap saja Agen Mia ingin berjaga-jaga.


Agen Mia menurunkan satu persatu kakinya dari dalam mobil. Wanita itu berjalan cepat untuk mendekati pria yang ingin ia temui.


“Untuk apa kau mengajakku ketemuan di kota ini. Apa kau tahu kalau aku sedang menghindari Lukas?” Morgan memutar tubuhnya. Pria itu menatap wajah Agen Mia dengan tatapan tidak suka.


“Ada hal penting yang harus kita bicarakan,” jawab Agen Mia dengan wajah serius.


“Apa kau tidak bisa mengatakannya lewat telepon?” Morgan menaikan satu alisnya.


“Tentu saja tidak bisa.” Agen Mia membuang tatapannya ke arah pemandangan kota yang di penuhi cahaya lampu. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada.


“Katakan apa yang kau inginkan. Aku ingin segera pergi meninggalkan tempat ini. Kau pasti tahu kalau Gold Dragon sedang mencariku saat ini.” Morgan melihat waktu dari jam yang melingkar di pergelangan tangannya, “15 menit. Cepat katakan.”


“Aku ingin meminta racun itu,” ucap Agen Mia sambil menatap wajah Morgan dengan tatapan yang sangat tajam, “Aku ingin membunuh Emelie dengan racun itu.”


Morgan tertawa kecil saat mendengar permintaan Agen Mia malam itu, “Apa kau gila? Apa kau sadar, siapa wanita yang ingin kau racuni itu?”


“Aku tahu. Mungkin perbuatanku ini akan mengorbankan nyawa yang aku miliki saat ini. Tapi, aku tetap ingin melakukannya.”


“Aku tidak bisa memberikannya,” jawab Morgan sambil membuka botol minuman beralkohol yang ada di hadapannya, “Wanita itu calon Ratu di kerajannya Cambridge. Meracuninya itu sama saja membuat orang di seluruh istana untuk membuat penawar racunnya. Itu akan membuat rencanaku menjadi gagal.” Morgan meneguk minuman beralkohol itu langsung dari botolnya.


“Kau tidak bisa menolakku. Sejauh ini aku telah membantumu. Kau tidak bisa menghianatiku seperti ini,” protes Agen Mia dengan wajah kesal.


Morgan menyunggingkan bibirnya ke samping, “Kau yang bersedia bekerja sama denganku. Kenapa sekarang kau terlihat menyesalinya.”


Agen Mia mengepal kuat tangannya. Ingin sekali ia memukul Morgan malam itu. Ia sakit hati karena kini orang yang selama ini ia bantu dan ia ajak kerja sama tidak lagi mendukung keinginannya.


“Satu lagi. Kau juga seorang penghianat Mia. Sejak awal aku tidak pernah mempercayaimu.” Morgan membuang botol minuman yang telah kosong, “Lebih tepatnya memanfaatkanmu.” Sorot mata Morgan terlihat membunuh saat memandang wajah Agen Mia malam itu.


Beberapa minggu yang lalu.


Agen Mia duduk di sebuah pinggiran kota sambil melamun. Wanita itu tidak pernah membayangkan hidupnya yang kini berubah buruk menjadi seorang buronan. Walau Zeroun dan Gold Dragon telah membebaskannya beberapa malam yang lalu, tapi tetap saja semua yang kini terjadi di dalam hidupnya karena ulah Gold Dragon juga.


Morgan muncul dan berdiri di hadapan Agen Mia. Pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Agen Mia berdiri, “Wanita cantik seperti anda tidak pantas duduk di pinggiran jalan.”


Agen Mia menatap wajah Morgan dengan seksama. Satu kata yang memenuhi isi kepalanya. Tampan. Namun Agen Mia tidak ingin larut dengan pesona Morgan. Wanita itu justru membuang tatapannya ke arah lain.


Morgan meletakkan kembali tangannya ke samping tubuh. Pria itu mengukir senyuman tipis sambil membuang tatapannya ke arah lain, “Kita memiliki musuh yang sama. Gold Dragon.”


Agen Mia menatap wajah Morgan. Wanita itu terlihat tertarik dengan kalimat yang di ucapkan oleh Morgan, “Apa yang kau inginkan? Apa kau mengenal Gold Dragon?”


Agen Mia tersenyum tipis, “Apa mereka telah membebaskan musuh mereka sendiri?”


“Sepertinya aku sedang beruntung saja.” Morgan meminta sejumlah uang kepada anak buahnya, “Aku akan membayarmu sesuai harga yang kau minta. Dengan syarat kau harus bekerja sama denganku. Aku juga akan memberimu daerah kekuasaan di Spanyol jika rencanaku berhasil.”


Agen Mia terlihat tertarik dengan setumpuk uang yang ada dihadapannya. Wanita itu menerima uang pemberian Morgan dengan senyuman indah, “Apa yang harus aku lakukan?”


Morgan cukup senang karena bisa dengan mudah menjalin kerja sama dengan Agen Mia saat itu, “Aku ingin kau menjadi bagian dari Gold Dragon.”


Agen Mia menatap tajam wajah Morgan, “Aku sangat membenci mereka. Sekarang kau memintaku untuk menjadi bagian dari geng itu?” nada bicara Agen Mia mulai meninggi.


“Sangat sulit memasukkan penghianat ke dalam Gold Dragon. Bahkan orang yang aku kirim juga sudah tidak ada lagi di dalam geng Gold Dragon. Kau hanya perlu membuat mereka percaya dan yakin kalau kau bukan seorang penghianat. Setelah semua berjalan baik, aku akan mengatakan rencana selanjutnya.”


“Baiklah.” Agen Mia mengambil ponselnya. Detik itu juga ia menghubungi Inspektur Tao yang sedang bersembunyi di suatu tempat untuk memasukkannya ke dalam Gold Dragon. Ada isak tangis yang sengaja di buat-buat oleh Agen Mia untuk melengkapi dramanya.


Rencana Agen Mia membuahkan hasil. Sejak saat itu Zeroun memberi perintah kepada Lukas untuk mengajak Agen Mia bergabung di dalam Gold Dragon. Saat itu memang Zeroun tidak ada menyimpan rasa curiga sedikitpun kepada Agen Mia. Baginya Agen Mia dan Inspektur Tao sudah seperti bagian dari keluarganya.


Kemunculan Morgan yang menculik Lana di Hongkong juga bagian dari rencana Agen Mia dan Morgan. Bahkan penyelamatan yang di lakukan Agen Mia hanya sebuah akting agar Lukas mempercayainya. Hanya dengan cara seperti itu Agen Mia bisa mendapatkan posisi yang bagus di depan mata Zeroun dan Lukas.


Hingga akhirnya Arron kembali muncul. Kemunculan Arron seperti kabar gembira bagi Agen Mia dan Morgan. Mereka tidak perlu bersusah-susah lagi menyerang Gold Dragon dan mengalahkan pasukan Gold Dragon.


Saat Lukas pergi untuk menemui Zeroun di Dubai. Lagi-lagi Agen Mia juga ada di dalam rencana itu. Morgan sengaja menggunakan ancaman kalau akan membunuh Agen Mia jika Lana tidak menurut. Hanya Lana yang tidak percaya dengan sikap Agen Mia saat itu. Hal itu tentu saja membuat ketidaknyamanan bagi Morgan dan Agen Mia.


Agen Mia dan Morgan membawa Lana ke Spanyol. Kabar kalau Agen Mia lolos dari sekapan juga salah satu trik dari Morgan. Pria itu ingin memancing kemunculan Lukas yang belum di ketahui keberadaannya dimana.


Tidak di sangka, saat itu White Tiger muncul. Agen Mia justru tertangkap oleh pasukan White Tiger. Morgan sempat bingung saat itu. Ia tidak tahu, harus menyelamatkan Agen Mia atau membiarkan Agen Mia celaka.


Saat itu takdir memang masih memihak Morgan. Lukas muncul dan menyelamatkan nyawa Agen Mia. Morgan kembali tenang. Sejak saat itu Morgan dan Agen Mia menghindari komunikasi dalam bentuk apapun. Zeroun telah tiba di Spanyol. Morgan cukup paham, kalau Zeroun adalah pria yang waspada dan selalu tahu jika ada penghianat di dalam geng mafianya.


***


“Kau juga sudah menjebakku. Kenapa kau tidak bilang kalau penculikan Lana semalam hanya sebuah trik dari Zeroun,” ucap Morgan dengan nada marah.


“Aku juga tidak tahu. Jika aku tahu sejak awal aku pasti sudah memberimu peringatan. Aku bahkan sudah mengikuti Lukas saat pria itu membawa Lana pergi meninggalkan markas. Tidak ada yang mencurigakan. Kesedihan Lukas malam itu tidak seperti di buat-buat.” Agen Mia membuang napasnya kasar, “Aku juga tidak menyangka jika itu hanya akting.”


Agen Mia tidak pernah tahu kalau sebenarnya memang Lukas tidak tahu rencana Zeroun. Seperti kata Agen Mia. Jika Lukas tahu rencana yang sudah di buat Zeroun untuk menjebak Morgan dan Arron, maka kesedihan pria itu tidak akan terlihat seperti nyata. Lukas bukan pria berperasaan. Zeroun terpaksa memainkan perasaan cinta Lukas kepada Lana malam itu agar aktingnya menjadi sangat sempurna.


“Zeroun pria yang cerdik. Berpikirlah untuk menyelamatkan nyawamu setelah ini,” ucap Morgan sambil memutar tubuhnya. Pria itu tidak lagi tertarik dengan obrolannya bersama dengan Agen Mia.


Baru beberapa meter Morgan melangkah, pria itu kembali menghentikan langkah kakinya. Ia memutar tubuhnya lalu memandang wajah Agen Mia lagi, “Mulai malam ini kita bukan lagi rekan bisnis. Masalahku bukan lagi masalahmu. Sebaliknya. Apapun yang terjadi kepada hidupmu, jangan coba-coba menemuiku untuk minta tolong. Aku sangat tidak suka penghianat. Jika semalam kau berani mengkhianati Gold Dragon, sudah pasti suatu saat nanti kau akan menghianatiku.” Morgan masuk ke dalam mobil. Pria itu melajukan mobilnya untuk meninggalkan Agen Mia sendirian di gedung itu.


Agen Mia terlihat sangat kesal dan kecewa malam itu, “Aaaaaaaa!” teriaknya dengan suara yang sangat kuat. Kini ia telah sendirian. Tidak ada seorangpun yang akan menolongnya. Inspektur Tao yang biasanya menolong hidupnya juga tidak tahu kini berada di mana.


“Dasar pria breng*sek,” umpat Agen Mia kesal. Wanita itu berjalan ke arah mobil. Ia juga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk meninggalkan gedung itu.


Dari balik tiang beton, seorang pria yang sejak tadi mengikuti Agen Mia mengukir senyuman kecil, “Wanita ini bahkan jauh lebih berbahaya daripada Laura. Sepertinya kematian saja tidak cukup untuk menghukumnya,” ucap Pria itu dengan senyum tipis.