
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Alika sedang membantu Lana bangkit dari tidurnya. Setelah beberapa jam tertidur dan tidak sadarkan diri Lana akhirnya terbangun. Alika cukup khawatir dengan keadaan adiknya. Lana sangat jarang mabuk hingga seperti tadi. Wanita tangguh itu selalu menghindari minuman keras karena ia memiliki kesan buruk dengan minuman beralkohol.
“Kak, apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di sini? Di mana Lukas?” tanya Lana sambil meneguk minuman hangat yang sudah di buat oleh Alika.
“Bos Lukas sudah pergi sejak beberapa jam yang lalu. Lana, kenapa kau selalu saja membuatku tidak tenang. Apa yang terjadi di antara kau dan Bos Lukas?” tanya Alika dengan wajah penasaran. Kali ini, apapun yang di katakan Lana ia akan percaya seutuhnya.
“Aku sudah bilang sejak awal, kalau aku berpacaran dengan Lukas. Tapi kakak tidak percaya.” Lana meletakkan gelas yang sempat ada di genggamannya kembali ke atas meja.
“Lana, apa kau tidak tahu kalau Morgan dan Bos Lukas bermusuhan. Bahkan hingga sekarang, Morgan masih dalam pencarian Bos Lukas. Kau terlalu mengambil resiko mendekati Bos Lukas. Bagaimana jika Bos Lukas tahu kalau kau pernah berhubungan dengan Morgan.” Akila mencengkram kuat lengan Lana. Wanita itu cukup frustasi dengan hubungan adiknya saat ini.
“Kak, aku sudah melupakan Morgan. Bahkan aku sangat membencinya sekarang. Kakak yang salah. Kenapa Kakak tidak bilang sejak awal kalau pria berinisial L yang selalu di cari Morgan adalah Lukas.” Lana menatap wajah Alika dengan tatapan menuduh.
Akila menghela napas. Sudah cukup rapi ia rahasiakan masalah Lukas dan Morgan. Tapi tetap saja akhirnya ketahuan juga, “Maafkan Kakak. Kau pernah bilang kalau akan membunuh pria yang sudah membuat Morgan kehilangan matanya. Dendammu terlihat sangat mengerikan waktu itu. Hingga kakak tidak berani menceritakan semuanya.”
Lana menatap wajah Akila dengan penuh rasa bersalah, “Kak, maafkan aku. Jangan bersedih seperti itu.” Wanita itu memeluk tubuh Alika dengan hati yang sedih, “Aku tahu apa yang kakak pikirkan sejak awal. Kakak gak salah.”
Akila mengusap lembut pundak Lana dengan bibir tersenyum, “Lana, Bos Lukas adalah pria yang tidak pernah bersentuhan dengan wanita. Cukup berbeda dengan Bos Zeroun. Apa kau tahu maksud kakak?”
Lana melepas pelukannya. Menatap wajah Alika dengan seksama, “Ya. Aku tahu. Awalnya aku juga tidak percaya kalau Bos Lukas belum pernah berciuman sebelumnya.” Lana menundukkan kepalanya. Terlihat jelas ada beban yang memenuhi pikirannya saat itu, “Apa yang terjadi pada hubungan kami kalau ia tahu yang sebenarnya. Kalau dia bukan lagi lelaki pertamaku. Tubuhku sudah cukup sering di sentuh oleh Morgan.”
Akila menghela napas. Masalah Lana memang cukup membuatnya stress hingga tidak tahu harus berbuat apa, “Cepat atau lambat kau harus mengatakan keadaanmu yang sebenarnya.”
“Morgan juga bukan pria pertamaku,” protes Lana dengan suara serak.
Alika merasa cukup terpukul saat melihat kesedihan Lana malam itu, “Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu.”
Lana wanita manis dengan sejuta senyuman. Ia wanita yang cukup ramah dan memiliki banyak teman. Walau memang sejak kecil ia sudah ada di jalanan, tetapi lingkungan itu tidak mengubahnya menjadi wanita yang liar. Lana selalu menjaga dirinya.
Hingga suatu malam seseorang menjebaknya dengan minuman. Pada akhirnya ia mabuk dan tidak lagi ingat dengan apa yang telah terjadi. Lana bangun di salah satu kamar hotel dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun. Ada bercak darah di atas seprei yang ia tiduri. Bercak cairan merah itu cukup menjawab rasa takutnya. Malam itu ia telah kehilangan kehormatannya yang berharga bahkan tidak tahu siapa lelaki pertamanya.
Setelah kejadian itu Lana mulai masuk ke dunia jalanan hingga bertemu dengan Morgan. Lelaki itu yang cukup berjasa dan membuatnya hingga bisa menembak dan berkelahi. Namun, suatu malam Morgan mengalami perkelahian yang membuat kedua bola matanya rusak dan ia tidak dapat melihat lagi.
Bukan memberi penjelasan yang terperinci kepada Lana, justru lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan Lana. Satu ukiran huruf berbentuk L menjadi target Lana selama ini. Awalnya ia mengira itu ukiran namanya. Tapi, lama kelamaan Lana mulai sadar kalau musuh yang mencelakai Morgan adalah pemilik inisial huruf L tersebut.
“Lana,” ucap Akila dengan lembut.
Lana tersadar dari lamunannya. Wanita itu menatap wajah Alika dengan seksama. Satu nama mengingatkannya akan keberadaan Morgan saat ini, “Kak, sepertinya Morgan mengikutiku selama ini. Ia mengirim Joy untuk membunuh Lukas saat di Monako.” Wajah Lana berubah serius.
“Joy?” celetuk Alika kaget. Joy memang salah satu anak buah yang dipercaya oleh Morgan, “Dimana dia sekarang?”
“Lukas sudah menembaknya hingga tewas,” jawab Lana cepat.
“Berarti Morgan juga tahu kalau saat ini kau sedang menjalin hubungan dengan Lukas?” Akila memegang tangan Lana dengan wajah panik yang luar biasa, “Lana, apa yang akan aku lakukan untuk membelamu jika Morgan muncul di hadapanmu dan Lukas? Lelaki itu pasti sudah merencanakan sesuatu untuk mencelakai Bos Lukas.”
Lana membuang tatapannya. Wanita itu juga tidak tahu harus berbuat apa. Jika memang Morgan telah mengikutinya, sudah pasti dalam waktu dekat lelaki itu akan menunjukkan wajahnya di hadapan Lana.
Kenapa kau harus kembali. Aku cukup membencimu, Morgan. Kenapa kau tidak menghilang saja untuk selamanya. Apa kau tahu kalau aku ada di dekat Lukas. Hingga akhirnya kau memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyianmu?