Moving On

Moving On
Misi ketiga



Zeroun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah menempuh jarak puluhan kilometer, kini mobil yang ia tumpangi berhenti di pinggiran jalan. Ada Lukas dan Lana yang menunggu kedatangan Zeroun siang itu. Zeroun menatap wajah Emelie dengan wajah cukup sedih.


“Sayang, Lana akan menjagamu selama Aku tidak ada di sampingmu.” Zeroun mengusap lembut pipi Emelie.


“Hati-hati,” ucap Emelie dengan tetesan air mata. Selama berpacaran dengan pria berbahaya itu, detik ini adalah momen yang selalu ingin ia hindari saat ini. Di dalam hati Emelie, ia ingin melarang kekasihnya untuk pergi. Wanita itu tidak ingin kekasihnya terluka apalagi sampai pergi meninggalkannya.


Zeroun menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya. Sejak kemarin-kemarin, hal seperti ini yangsangat ia takuti. Meninggalkan Emelie sendiri dengan perasaan khawatir dan gelisah saat beraksi.


“Aku akan segera kembali,” ucap Zeroun sambil mengecup pucuk kepala Emelie. Tidak menunggu lama lagi, Zeroun pergi meninggalkan Emelie sendiri di dalammobil itu. Langkahnya sungguh berat saat itu. Tapi, semua juga harus ia lakukan. Gold Dragon tidak akan menang melawan Jesica saat ia tidak ada untuk memimpin geng mafia miliknya itu.


“Bos, Heels Devils sudah tiba dilokasi.” Lukas menatap beberapa pasukan Gold Dragon yang sudah ia persiapkan untuk melindungi Emelie.


“Lana, jaga Emelie. Apapun yang terjadi nanti, segera hubungi saya atau Lukas.” Zroun menatap tajam wajah Lana.


“Baik, Bos.” Lana memutar tubuhnya dan berjalan menuju ke arah mobil. Wanita bercelana pendek itu masuk ke dalam mobil dengan wajah harap-harap cemas. Sama halnya dengan Lukas, sejak melihat Lana masuk ke dalam mobil ada rasa tidak percaya kalau Lana bisa melindungi Emelie dari bahaya.


Zeroun memandang wajah Emelie dengan tatapan tajam. Pria itu juga sangat berat untuk melangkah pergi meninggalkan mobil itu.


‘Aku akan segera menyelesaikan ini dan kembali bersamamu sayang.


Zeroun masuk ke dalam mobil yang sama dengan Lukas. Mobil itu melaju dengat cepat menuju ke lokasi peperangan. Dari belakang mobil Lukas, ada Lana dan beberapa pasukan Gold Dragon yang mengikuti.


***


Jsica tersenyum penuh kemenangan saat melihat pasukan miliknya berhasil menerobos masuk. Dari kejauhan, terlihat Heels Devils yang sedang berkelahi dengan Gold Dragon. Wanita itu duduk di atas kereta hitam dengan kaki di angkat. Satu senjata api laras panjang menjadi temannya untuk menonton pertunjukan itu.


“Zeroun Zein, apa sekarang kau mulai menyesal karena sudah berani melawan Heels Devils.” Tatapan wanita itu berubah saat melihat polisi hadir dengan senjata yang tidak kalah dengan milik pasukan Jesica. Ada agen Mia di dalam rombongan itu.


“Agen wanita ini, sepertinya Aku harus membunuhnya sejak awal. Dia cukup merepotkan saat ini.” Jesica memberi kode kepada bawahannya untuk melawan polisi-polisi itu. Sedangkan Jesica, mengendarai sepeda motornya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Ia ingin membawa kabur senjata yang sudah sempat mereka curi walau hanya sebagian.


Dari arah berlawanan, Lukas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu ingin menabrak Jesica yang masih belum sadar dengan kehadiran mobilnya.


“Kau harus mati wanita ibl*is,” ucap Lukas dengan wajah kesalnya.


Jesica melebarkan kedua bola matanya sebelum mobil Lukas berhasil menambrak mobil miliknya. Wanita itu terpental jauh dengan luka di bagian tangannya.


“Tenyata dia di sini. Sepertinya kali ini Damian yang jauh lebih beruntung daripada Aku.” Jesica bangkit dengan wajah dipnuhi amarah. Wanita tangguh itu menodongkan senjata roken miliknya. Bidikan ia arahkan ke arah mobil Zeroun dan Lukas. Dengan cepat, Jesica melepas roket untuk meledakkan mobil hitam itu.


“Zeroun!” teriak Emelie yang juga menyaksikan pristiwa itu. Wanita itu menangi sejadi-jadinya. Mulutnya tertutup dengan tangan dengan wajah sangat khawatir.


“Nona, anda harus tenang. Bos Zeroun pasti baik-baik saja.” Lana memegang tangan Emelie dengan lembut. Wanita itu berusaha untuk menyakinkan Emelie agar tetap berada di dalam mobil.


Di waktu yang sama. Rombongan Damian juga telah tiba. Pria itu sempat kecewa karena Zeroun lebih dulu pergi sebelum dia tiba tadi. Walau begitu, ada senyum kecil di bibir Damian saat ini. Pria itu memandang Zeroun yang sedang berhadapan langsung dengan Jesica. Sedangkan Emelie hanya bersama Lana dan beberapa pasukan Gold Dragon yang bisa dengan mudah Ia kalahkan saat ini.


.


.


Zeroun bangkit dan melepas tembakan demi tembakan ke arah Jesica. Membuat wanita itu berlari untuk bersembunyi. Dengan cepat, Jesica mengganti senjatanya dengan senjata api yang memakai peluru. Wanita itu juga melepas tembakan demi tembakan ke arah Zeroun.


Lukas berlari mendekati posisi persembunyian Zeroun. Pria itu memberi tahu keapda Zeroun kalau kini senajat api sudah berhasil di bawah oleh Jesica sebagian. Ada rasa kesal di dalam hati Zeroun saat menerima kabar buruk itu.


“Ledakan mobil mereka. Apapun caranya! jangan biarkan mobil itu lolos dengan senjata itu,” perintah Zeroun sambil terus membidik ke arah Jesica.


“Baik, Bos.” Lukas berlari untuk menghalangi perginya mobil Heels Devils. Dari kejauhan, Agen Mia sudah siap untuk menyerang Jesica. Kini bisa di bilang Jesica memiliki dua musuh dari arah yang berlainan.


“Apa kalian pikir bisa mengalahkanku semudah ini?” Jesica mengeluarkan remot pacu yang ia simpan di dalam saku. Entah daerah mana lagi yang ingin diledaki wanita itu. Ada senyum penuh percaya diri di dalam hatinya kalau kini ia bisa memenangkan petarungan ini.


“Selamat tinggal Agen cantik,” ucap Jesica sambil menatap wajah Agen Mia yang sejak tadi menembak ke arah dirinya. Dari kejauhan, Zeroun membidik remot pacu itu dnegan hati-hati. Ia tidak ingin melakukan kesalahan agar bisa berhasil mengagalkan rencana Jesica siang itu.


DUARRR!


Satu tembakan Zeroun tepat sasaran. Remot pacu itu meledak sebelum Jesica meledakkan lokasi keberadaan Agen Mia. Ada senyum kecil yang terukir di bibir Agen Mia saat melihat pertolongan Zeroun saat itu.


“Sial!” umpat Jesica kesal. Tidak ingin kalah dengan Zeroun dan Agen Mia, Jesica berlari menuju ke arah pasukan miliknya. Satu-satunya cara untuk menyelamatan semuanya adalah kabur.


Zeroun berlari mengejar Jesica dengan tembakan demi tembakan. Langkahnya terhenti saat melihat Damian berhasil menyeret paksa wanita yang ia cintai. Lana tergeletak di tanah dengan mata terpejam.


Seperti berdiri di antara pilihan yangcukup sulit saat itu. Zeroun menatap Jesica yang sudah semakin mejauh. Jika wanita itu berhasil lari maka ia harus menyusun strategi lagi untuk menyerang wanita itu. Tetapi, jika ia mengejar Jesica saat ini. Nasip kekasihnya tidak akan lagi diketahui bagaimana selanjutnya.


“Aaaaaaaaaaaaaa!” teriak Zeroun dengan cukup kuat untuk melampiaskan emosinya.