
Kalimat yang baru saja mereka dengarkan membuat Zeroun mematung seperti batu. Pria itu memutar tubuhnya untuk memandang wajah Emelie yang kini berdiri di belakang kursi.
“Baby?” ucap Daniel mulai menahan tawa, “Kau memanggil istrimu dengan sebutan Baby, Zeroun?”
Serena tertawa terbahak-bahak saat mendengar perkataan yang di ucapkan Daniel. Kenzo dan yang lainnya juga ikut tertawa.
Emelie mengukir senyuman sambil berjalan mendekati kursi yang di duduki Zeroun. Wanita itu menatap satu persatu wajah yang mengelilingi meja, “Dengan sebutan itu aku akan lupa kalau ia seorang bos mafia.”
Serena mengangguk pelan, “Itu ide yang bagus.”
Emelie mengukir senyuman saat menatap wajah Serena, “Serena terima kasih.”
Ekspresi wajah Serena berubah saat mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Emelie. Wanita tangguh itu mengelipkan rambutnya di balik telinga dengan tawa kecil, “Untuk apa? Aku tidak melakukan apapun untukmu, Emelie.”
“Terima kasih karena kau mau melindungi keluargaku malam itu,” ucap Emelie dengan senyuman.
Zeroun memandang wajah Emelie dan Serena secara bergantian, “Apa ada hal yang tidak aku ketahui?”
Emelie menatap wajah Zeroun sebelum mengangguk, “Serena yang menyelamatkan semua keluarga kerajaan. Termasuk Paman Arnold. Bahkan ....” ucapan Emelie tertahan. Wanita itu memandang wajah Serena dengan seksama.
“Apa ada yang kau sembunyikan dariku, Sayang?” Daniel mencengkram kuat tangan Serena. Wajah pria itu tiba-tiba saja panik.
Serena membuang tatapannya ke arah lain. Satu tetes air mata menetes di pipinya.
“Sayang, kau membuatku khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi?” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya. Lelaki itu tidak pernah sanggup saat melihat wanita yang ia cintai meneteskan air mata.
Shabira beranjak dari duduknya. Wanita itu juga tidak lagi tenang saat melihat Kakak yang paling ia cintai berubah sedih, “Kak, apa yang telah terjadi? Kenapa Kakak tidak menceritakan semuanya kepada kami?” Shabira berlutut di hadapan Serena. Kedua tangannya ada di atas paha Serena dengan wajah yang sangat bingung.
“Emelie, apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Zeroun dengan wajah yang gak kalah serius dengan yang lainnya.
“Anak buah Damian berhasil memasukkan sebuah pil ke dalam mulut Serena. Pil itu adalah racun yang bisa membunuh korbannya secara perlahan. Karena berhasil menyelamatkan paman Arnold, malam itu paman Arnold mencari penawar untuk racun yang mengancam nyawa Serena. Tidak di sangka, racun itu membuat efek lain pada wanita. Serena tidak akan pernah bisa memiliki anak lagi,” ucap Emelie dengan nada yang cukup lirih.
Emelie juga merasa sedih dan tersiksa saat mendengar kabar yang baru saja di ceritakan oleh Paman Arnold. Lelaki paruh baya itu hanya menceritakan seorang wanita malang yang telah menolongnya. Namun, dalam waktu singkat. Putri kerajaan itu kembali ingat dengan Serena. Tidak ada wanita tangguh lainnya yang berani mengambil resiko hingga seperti itu selain Serena.
“Serena, apa hal itu yang menyebabkanmu kesulitan saat melawan Jesica?” ucap Zeroun dengan wajah serius.
Serena mengangguk pelan, “Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir.”
“Kau sangat menyebalkan, Sayang. Kenapa kau setega itu padaku. Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak lagi membohongiku?” protes Daniel dengan wajah sedih.
“Aku hanya ingin membuat Emelie dan Zeroun hidup bahagia. Seperti kita,” sambung Serena dengan nada yang lirih.
“Aku baik-baik saja. Daniel juga tidak ingin aku melahirkan lagi. Ia ingin dua anak saja,” ucap Serena sambil menghapus air matanya.
“Tapi tidak dengan cara seperti ini. Aku tidak pernah mempermasalahkan keadaanmu yang tidak lagi bisa mengandung. Tapi racun itu. Bagaimana bisa kau menyembunyikannya bahkan tidak menceritakan padaku apa yang telah terjadi.” Daniel masih berusaha menahan rasa kesalya. Ia juga tidak ingin membuat Serena jauh lebih sedih lagi.
“Aku mengirim orang untuk menolong Paman Arnold malam itu,” ucap Zeroun dengan dahi mengeryit. Sejak malam itu ia sangat yakin kalau orang yang ia kirim yang telah berhasil menyelamatkan Paman Arnold dan keluarganya.
“Mereka kalah saat melawan anggota Damian. Aku sengaja mengatakan kepada Paman Arnold kalau aku adalah orang yang kau kirim,” ucap Serena pelan.
Emelie menghela napas. Tidak ada kata lain yang bisa ia ucapkan untuk Serena. Wanita tangguh yang ada di hadapannya benar-benar sempurna. Bukan hanya dari segi paras dan kemampuan. Tapi, hati wanita yang menjadi mantan tunangan suaminya adalah sosok wanita berhati malaikat. Detik itu juga Emelie semakin tahu, kenapa semua orang bisa menyayangi Serena dan selalu ingin melindunginya.
“Maafkan aku, Serena.”
Zeroun mencengkram tangan Emelie, “Jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti itu, Emelie.”
“Apa yang di katakan Zeroun benar. Kau harus membayar pengorbananku ini dengan cara mencintai Zeroun. Kau harus berjanji padaku untuk tidak meninggalkannya dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun,” ucap Serena sambil memandang wajah Emelie.
Emelie mengangguk pelan, “Aku berjanji Serena. Aku akan selalu menepati janjiku.” Wanita itu beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati posisi Serena berada, “Serena, apa kau mau menjadikanku sahabatmu?”
“Tentu saja,” jawab Serena dengan bibir tersenyum. Wanita itu beranjak dari duduknya lalu memeluk Emelie dengan penuh kasih sayang.
“Terima kasih, Serena. Aku sangat senang bisa menjadi sahabatmu,” ucap Emelie saat pelukan dua wanita itu telah terlepas.
Serena mengukir senyuman manis, “Aku akan selalu mendoakan kalian agar selalu bahagia. Jangan pikirkan soal keadaanku saat ini. Aku sudah jauh lebih baik. Aku juga sudah memiliki Baby Al dan Baby El. Mungkin takdir memintaku untuk fokus mengurus mereka berdua saja.”
Emelie menghapus sisa air mata yang ada di pipi Serena, “Mulai sekarang, air mata ini juga menjadi air mataku. Jika kau menangis aku juga akan menangis, sahabatku.”
Serena tertawa kecil saat mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan Emelie, “Terima kasih, sahabatku.”
Zeroun dan Daniel sama-sama mengukir senyuman bahagia. Kenzo berjalan ke arah Shabira lalu memeluk wanita itu dengan mesra, “Semua baik-baik saja.”
Shabira mengangguk pelan, “Pemandangan yang cukup indah bukan? Bahkan Kak Erena dan Kak Emelie bisa menjalin persahabatan yang cukup indah seperti itu.”
Emelie dan Serena melanjutkan pelukannya. Wajah dua wanita itu benar-benar bahagia. Masalah rumit yang sempat singgah di dalam kehidupan mereka telah berhasil mereka lalui dengan cukup sempurna.
Jika Serena pernah mengucapkan kata mati daripada harus memilih, maka Emelie pernah mengucapkan kata mati daripada kehilangan. Dua jalan hidup manusia dengan cabang yang berbeda namun dengan tujuan yang sama. Yaitu kata cinta.
Setiap jodoh pasti sudah di tentukan oleh takdir kepada siapa akan berlabu. Sesulit apapun cobaan yang pernah menguji cinta tetap akan kalah jika jodoh masih tetap pada orang yang sama. Namun, jika memang tidak lagi berjodoh. Apapun cara mempertahankannya tidak akan pernah berhasil.
Cinta bukan hanya untuk orang yang kita cintai. Tapi, cinta yang sempurna adalah cinta yang kita berikan kepada orang yang kita sayangi. Selama orang yang kita sayangi masih ada di depan mata kita. Maka, sayangi dan cinta orang tersebut dengan sepenuh hati.