Moving On

Moving On
S2 Bab 27



Lana berdiri di depan jendela sambil memikirkan tentang Lukas. Burung-burung berterbangan di langit biru yang cerah.


Apartemen milik Lana menghadap langsung dengan lautan. Wajahnya masih sedih karena kini Lukas tidak ada di sampingnya. Bukan karena berada jauh. Tapi, ia takut kehilangan Lukas. Pria itu pergi untuk bertarung bukan sekedar jalan-jalan.


Lana memejamkan matanya. Napasnya masih terasa berat. Tubuhnya masih terasa sangat lemah. Bahkan bibir dan wajahnya masih terlihat pucat. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menunggu. Sedikit saja keadaannya membaik, ia akan segera pergi menemui Lukas di Dubai.


Suara pintu terbuka. Lana tidak terlalu peduli dengan siapa yang hadir di dalam kamarnya. Wanita itu sudah bisa menebak Agen Mia yang kini menemuinya. Sejak awal Lukas telah memberi tahunya kalau wanita itu tetap di Hongkong untuk menjaganya.


“Aku bisa menjaga diriku sendiri,” ucap Lana masih dengan memejamkan mata.


“Honey, aku ke sini menjemputmu.”


Lana melebarkan kedua bola matanya saat mendengar suara pria yang tidak asing di dalam hidupnya. Segera mungkin ia memutar tubuhnya untuk memastikan apa yang ia pikirkan. Tubuhnya mematung saat melihat Morgan berdiri di kamar miliknya dengan satu senyuman bahagia.


“Dejanos ir a casa (Ayo kita pulang).” Morgan membuka kedua tangannya dengan senyuman yang cukup manis. Pria itu terlihat bersemangat membawa Lana pergi saat Lukas tidak ada di sampingnya.


“No?!” Lana berlari dengan sekuat tenaganya ke arah laci yang menjadi tempatnya menyimpan pistol. Namun, langkahnya terhenti saat Morgan memeluk tubuhnya dari belakang. Pria itu menahan tubuh Lana agar tidak bergerak.


“Aku akan membunuh rekanmu, jika kau tidak menuruti permintaanku saat ini.” Morgan mengeluarkan ponselnya. Pria itu memutar video Agen Mia yang sedang terikat di pinggiran gedung. Tubuh wanita itu siap untuk di dorong dari ketinggian gedung berlantai 50.


Napas Lana terasa sesak. Walau ia tidak dekat dengan Mia, tapi pemandangan tersebut membuat Lana tidak bisa menganggap sepele kelakuan Morgan, “Lepaskan dia. Aku akan ikut denganmu.” Lana menyerah.


“Kau semakin menggemaskan jika menurut seperti ini. Apa kau sakit, Honey? Aku akan menyembuhkan sakitmu nanti.” Morgan mencium pipi Lana dengan wajah penuh kemenangan, “Te echo de menos, mi amor (Aku merindukanmu, cintaku).” Morgan mempererat pelukannya. Hatinya terasa sangat bahagia saat bisa kembali memeluk tubuh wanita yang ia cintai.


Lana memandang wajahnya dan Morgan dari cermin yang ada di hadapannya. Wanita itu menggertakkan giginya karena sangat kesal melihat kelakuan Morgan. Percuma saja bagi Lana saat ini melawan. Tenaganya benar-benar hilang. Ia tidak memiliki kemampuan apapun untuk membela diri.


Morgan menyingkirkan rambut Lana dengan senyuman, “Lana, kau tahu sesuatu? Kalau Lukas juga tidak akan pernah menemuimu lagi. Pesawat yang ia tumpangi sudah mendapat campur tangan White Tiger," Morgan memainkan tangannya, “Pesawat pria itu sudah masuk ke dalam lautan.”


Lana memiringkan kepalanya. Wanita itu menatap wajah Morgan dengan seksama. Ada rasa marah atas kabar buruk yang baru saja di katakan oleh Morgan. Ia belum mendengar kabar apapun dari Lukas sejak siang ini. Jika di hitung dari waktu pria itu berangkat, seharusnya memang kini ia masih ada di dalam pesawat.


Aku tahu, kalau ini hanya gertakan Morgan saja. Lukas pasti baik-baik saja. Aku yakin dan percaya kalau kami akan kembali bertemu nanti.


“Kau bekerja sama dengan White Tiger?” ucap Lana dengan mata memerah menahan tangis. Ia masih tidak percaya kalau Lukas akan celaka dengan cara seperti itu. Lukas pria yang cukup waspada. Ia tidak akan mungkin terjebak dan pergi secepat itu. Seperti itulah cara Lana memperkuat hatinya.


“Aku tidak perlu bekerja sama dengan siapapun. Aku hanya ingin mendapatkanmu kembali dan membunuh Lukas. Hari ini dia sudah tiada, kau juga sudah kembali padaku. Tidak ada hal lain yang aku inginkan lagi,” jawab Morgan dengan wajah yang cukup santai.


“Kau pria yang cukup hebat,” ucap Lana sambil menepuk pipi Morgan. Wanita itu mengukir senyum kecil dengan wajah frustasi. Jika saja kabar yang di sampaikan Morgan benar, ia akan segera bunuh diri untuk menyusul kekasihnya. Percuma ia hidup jika Lukas tidak lagi bisa menemuinya.


Dengan hati-hati Lana membuka laci yang sudah berada sangat dekat dengannya. Wanita itu mengambil belati dan siap untuk membunuh Morgan detik itu juga. Ia sengaja memasang wajah semanis mungkin agar Morgan tidak mencurigainya.


Belati yang ada di genggaman Lana terlepas saat tangannya terasa sakit. Morgan segera memukul pundak Lana hingga wanita itu tidak sadarkan diri, “Aku yang melatihmu. Aku cukup tahu dimana letak kelemahanmu, Honey.”


Morgan mengangkat tubuh Lana ke dalam gendongannya. Pria itu mengukir senyuman kemenangan sebelum pergi meninggalkan apartemen Lana. Di depan pintu telah berbaris rapi pasukan milik Morgan.


Beberapa pasukan Gold Dragon yang di tugaskan untuk menjaga Lana telah tewas dan tergeletak di lantai. Ada darah yang cukup banyak di permukaan lantai.


Morgan menatap wajah tangan kanannya dengan satu kode. Dua pria itu berjalan lebih dulu di depan sebelum diikuti pasukan miliknya dari belakang.


“Bos, bagaimana dengan wanita itu?” ucap tangan kanan Morgan. Ia kembali ingat dengan Agen Mia yang sudah berhasil mereka tangkap dan diikat di suatu tempat.


“Kita masih butuh nyawanya untuk mengancam Lana,” jawab Morgan tanpa mau memandang.


“Baik, Bos.”


“Aku tidak ingin gagal lagi. Detik ini juga kita berangkat ke Spanyol.” Morgan menatap tajam ke arah depan.


Selama ini ia masih bersembunyi di suatu tempat sambil memikirkan cara merebut Lana. Tidak di sangka, takdir berpihak padanya. White Tiger kembali berjaya hingga membuat pasukan Gold Dragon fokus melindungi Zeroun Zein. Tidak terkecuali Lukas.


Kesempatan ini di manfaatkan sebaik mungkin oleh Morgan. Saat Agen Mia tiba di Apartemen Lana, Morgan dan pasukannya telah siap menyerang. Satu wanita lawan banyak pria. Di tambah lagi, ilmu bela diri Agen Mia tidak terlalu hebat. Wanita itu hanya menguasai tembak jitu. Memang itu kemampuannya sejak dulu.


Dengan satu teknik pukulan saja sudah berhasil membuat Agen Mia menjadi sandraannya. Morgan cukup bahagia siang itu karena rencananya kali ini berjalan dengan mulus tanpa rintangan sedikitpun.


“Bos, Nona Lana tidak akan bisa kembali pada anda.” Sejak awal pria yang berstatus tangan kanan Morgan tidak setuju dengan keputusan Morgan untuk memperebutkan Lana dari Lukas. Ia tidak ingin Morgan celaka dan berada dalam bahaya lagi.


“Lana wanitaku. Selamanya ia milikku. Aku tidak akan melepaskannya kepada pria lain. Apa lagi Lukas,” jawab Morgan tanpa mau mendengarkan penjelasan selanjutnya, “Aku juga akan membunuhmu, jika ka uterus-terusan memperingatiku dengan kalimat yang sama.”


“Maafkan saya, Bos.” Pria itu membungkuk hormat sebelum membukakkan pintu mobil. Ia menatap tajam keadaan sekitar sebelum berlari ke bangku kemudi.


Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke bandara. Siang itu juga mereka akan kembali ke Spanyol. Markas besar mereka, rumah dan pertahanan terkuat mereka.


.


.


.


Like, Komen dan Votenya jangan lupa. soalnya aku lihat semakin sedikit aja...