Moving On

Moving On
Perasaan Lana



Lana menggeleng kepalanya pelan, “Aku tidak bercanda, Lukas. Aku mengatakan yang sesungguhnya. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak tahu, sejak kapan perasaan itu datang.” Jemari Lana mulai menyentuh pipi Lukas dengan kelembutan, “Kau tidak perlu membalas cintaku, Lukas. Hanya dengan mengungkapkannya saja aku sudah bahagia.”


Dari kejauhan, Joy muncul dengan langkah kaki yang cukup tenang.


“Lana, apa kita bisa berbicara sebentar?” ucap Joy yang sudah berdiri tidak jauh dari belakang Lana.


“Aku pergi sebentar,” ucap Lana dengan senyuman indah. Dengan gerakan cepat, Lana mengikuti jejak kaki Joy ke suatu tempat.


Lukas menatap punggung Joy dan Lana dengan tatapan tajam. Hatinya masih di selimuti dengan kata kecewa, “Apa kau pikir aku masih percaya dengan semua kata-katamu saat ini?”


Lana berjalan ke sebuah ruangan tertutup. Tidak ada orang lain di ruangan itu. Hanya dia dan Joy di dalamnya.


“Untuk apa kau membawaku ke sini?” Lana menatap wajahnya di depan cermin yang ada di ruangan itu. Bibirnya mengukir senyuman saat membayangkan wajah Lukas beberapa saat yang lalu.


“Lana, kau memang wanita yang sangat pintar. Bahkan Lukas cukup percaya dengan apa yang baru saja kau ucapkan,” ucap Joy dengan senyuman yang cukup indah.


“Aku benar-benar mencintainya,” jawab Lana dengan wajah berseri.


“Lana, kita memang sejak awal di kirim oleh Pangeran Damian untuk membunuh Zeroun dan Lukas. Kenapa kau pura-pura lupa seperti ini? Maafkan aku Lana. Aku tidak bisa bekerja sama denganmu lagi. Bagaimanapun juga, Bos Lukas sudah cukup baik kepadaku selama beberapa hari ini.”


“Apa maksudmu mengatakan hal ini?” ucap Lana bingung. Wanita itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kini di katakan lawan bicaranya. Belum sempat ia melanjutkan perkataannya. Tiba-tiba saja Lana merasakan sesuatu yang salah saat itu.


“Baiklah, kau bisa melakukannya sekarang!” ucap Joy dengan senyum menyeringai.


Lana tidak bisa lagi bergerak saat ia merasakan ujung pistol kini melekat di pelipisnya. Wanita tangguh itu bisa merasakan dengan jelas dinginnya senjata api yang kini ada di kulitnya. Tidak cukup dibagian dahi. Bahkan tiba-tiba saja sekujur tubuhnya juga berubah dingin. Satu tangan Lana ingin bergerak untuk mengeluarkan pistol yang tersimpan di pahanya. Ia juga tidak tahu, sejak kapan pistolnya ada di situ. Namun, tangannya terhenti saat pantulan seseorang yang kini menodongkan senjata terlihat jelas di depan cermin.


“Lukas,” ucap Lana dengan nada lirih. Perasaannya cukup campur aduk saat itu. Tatapan Lukas tidak lagi sama saat mereka belum berpisah tadinya. Tatapan mata itu seperti tatapan orang asing yang tidak pernah ia kenali.


“Lukas, kau boleh menembak kami secara bergantian sekarang.” Joy melipat kedua tangannya di depan dada. Sepertinya pria itu tidak ingin mati sendirian hari ini.


“Apa yang kau katakan Joy?” ucap Lana dengan suara yang serak.


“Kau tidak pernah memberi tahu Lukas kalau kau pernah berhubungan dengan Morgan?”


“Morgan?” celetuk Lana kaget.


“Morgan musuh Lukas, Lana. Apa kau pura-pura amnesia saat ini?” Joy tertawa kecil.


Lana semakin membeku seperti es. Wanita itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kini ia benar-benar terpojokkan. Seseorang telah berhasil menjebaknya hingga membuat pria yang sangat sulit percaya itu kini membencinya bahkan ingin membunuhnya. Buliran air mata jatuh menetes membasahi pipi Lana.


Dengan napas yang masih sesak, Lana berusaha untuk menghirup oksigen yang kini ada di sekitar tubuhnya. Matanya terpejam lagi sebelum bibir merahnya berhasil mengeluarkan kata.


“Aku mencintaimu, Lukas. Sangat mencintaimu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ya, memang aku ada di antara mereka. Tapi, aku tidak pernah memiliki niat buruk terhadapmu. Jika memang aku berniat untuk membunuhmu, mungkin sudah aku lakukan sejak awal. Aku tidak perlu sulit-sulit untuk merayumu agar bisa sedekat ini denganku.” Bibir Lana gemetar mengucapkan kalimat-kalimat itu. Ia tidak tahu, apa itu cukup berhasil untuk membujuk Lukas saat ini. Mengingat selama ini ia sangat sering menggunakan kalimat itu sebagai satu lelucon.


Lukas menatap tajam rambut pendek Lana. Secara perlahan ia mulai menarik pelatuknya. Hatinya memang menolak untuk percaya dengan apa yang baru saja diucapkan pria asing yang berdiri tidak jauh dari sampingnya.


Hingga beberapa detik kemudian.


Lana mencengkram kuat kedua tangannya. Wanita itu tidak merasakan apapun saat itu. Bahkan untuk membuka mata saja ia masih sangat takut.


“Apa mati itu tidak sakit?” ucap Lana pelan.


“Tentu saja sangat sakit,” ucap Lukas dengan suara khasnya.


Lana membuka matanya dan memutar tubuhnya dengan cepat. Joy telah terbaring di lantai dalam keadaan tidak bernyawa. Ada satu luka tembak tepat di pelipis kanannya. Matanya melebar seakan menahan rasa sakit saat malaikat pencabut nyawa menjemputnya.


“Lukas. Kau ....” ucapan Lana terhenti. Wanita itu kini semakin bingung dengan apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya. Beberapa detik yang lalu nyawanya seakan berada di ujung tanduk. Namun, dalam sekejab justru tubuhnya kini benar-benar terasa aman.


“Apa yang ingin kau katakan? Apa kau ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi?” Lukas melekatkan bibirnya di telinga Lana, “Kalau kau seorang penghianat?” bisik Lukas dengan nada yang penuh tekanan.


“Aku tidak berpikir kalau kau lebih percaya orang lain daripada perkataanku,” jawab Lana ragu-ragu.


Lukas menjauhkan tubuhnya dari Lana. Pria itu berjalan ke arah kereta api yang akan segera berangkat. Hanya kereta api yang bisa menyelamatkan mereka dari kejaran Polisi Monako yang kini masih berkeliaran.


“Lukas, tunggu!” teriak Lana sambil mengejar pria berbahaya itu. Pintu kereta api tertutup tepat saat Lana tiba di dalamnya. Lukas bersandar di dinding kereta api sambil memandang wajah Lana.


“Hari ini kau hampir mati,” ujar Lukas, “Aku hampir menembakmu tadi, kenapa kau tidak menembakku?”


“Aku tidak bisa melakukannya,” ucap Lana, “Jika aku menembakmu, itu sama saja seperti aku menembak diriku sendiri. Kau percaya padaku. Itu sudah cukup!”


Lukas menatap wajah Lana dengan seksama. Secara perlahan ia mendekatkan tubuhnya hingga dahi mereka saling bersentuhan. Hembusan napas yang hangat itu sangat terasa, “Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”


Lana menyentuh wajah Lukas dengan jemarinya. Matanya terpejam beberapa detik, “Katakan.”


“Sepertinya aku juga jatuh cinta padamu, Lana.” Ada senyum kecil di sudut bibir Lukas saat itu, “Tapi, aku menunggu sampai benar-benar yakin untuk mengatakannya padamu.”


“Kau pria yang terlalu banyak perhitungan,” ujar Lana dengan tawa kecil, “Lalu bagaimana sekarang? Apa kau sudah benar-benar yakin?”


Lukas melekatkan bibirnya di telinga Lana, “Aku sangat yakin saat ini. Kalau hatiku benar-benar sangat mencintaimu,” bisik Lukas dengan satu senyuman.


“Ya, aku tahu itu. Kau terlalu lama menyadari perasaanmu, Bos.” Lana melekatkan bibirnya di bibir Lukas. Wanita itu mencium Lukas dalam durasi yang cukup lama. Kereta api berjalan melewati terowongan bawah tanah. Tidak ada yang bisa terlihat saat itu. Hanya ada sentuhan hangat yang kini sangat memabukkan.


“Aku mecintaimu, Lukas. Sangat-sangat mencintaimu,” ucap Lana dengan napas tersengal.


Lukas menarik pinggang Lana untuk memeluk tubuh ramping wanita itu. Ia ingin Lana ada di dalam pelukannya. Melindunginya dari bahaya dan dari orang-orang yang ingin menyakiti Lana, “Aku akan selalu menjagamu, Lana.”


**Aku Uda up banyak...Kalian sebagai reader setia juga harus vote yang banyak...biar babang Zeroun bisa naik rangkingnya. Terima kasih.😘


Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan**....


Oiya satu lagi...Novel ini Uda ada versi audio booknya... bagi yg ingin dengeri versi audionya juga bisa ya...tpi masih ada bbrp bab awal saja...