Moving On

Moving On
S2 Bab 33



Morgan menembak ke arah Lukas berada. Tapi, gerakan pria itu sangat lincah hingga peluru yang di miliki Morgan tidak ada satupun yang mengenai tubuhnya. Hingga akhirnya peluru di dalam pistol itu habis. Morgan melempar senjata tak berpeluru itu ke lantai.


Morgan mendengus kesal sebelum berlari kencang. Pria itu ingin berhadapan langsung dengan Lukas. Walau hanya menggunakan tangan kosong, tapi ia cukup percaya kalau akan menang nantinya.


Lukas menatap wajah Morgan. Memang sejak awal ia sudah tidak sabar untuk menghajar Morgan. Lukas ingin menghabisi seluruh pasukan Morgan termasuk pemimpinnya.


Lukas menyingkirkan pasukan Morgan yang sempat mengahalanginya. Tangannya terkepal kuat dan tidak lagi bisa bersabar untuk memukul Morgan. Sekilas ia menatap wajah Lana. Ada rasa bahagia saat melihat kekasihnya masih baik-baik saja.


“Kau tidak akan bisa membawanya pergi. Lana milikku!” Morgan berdiri dengan tatapan menghina.


“Kau terlalu banyak bermimpi, Morgan.” Lukas tidak lagi bisa bersabar. Pria itu mendaratkan satu pukulan ke arah perut Morgan. Satu kakinya juga siap untuk menjenggal kaki Morgan.


Morgan tidak mau kalah secepat itu. Pria itu menghindar sebelum melompat. Sambil melompat, ia mengarahkan satu pukulan di wajah Lukas. Kali ini, Morgan yang memenangkan pertarungan babak pertama.


Lukas tersenyum tipis sebelum membuang salivanya. Pria itu memegang pelan sudut bibirnya yang terluka, “Cih. Pukulanmu bahkan kalah dari pukulan Lana. Tidak ada apa-apanya,” hina Lukas.


Morgan terlihat semakin panas. Pria itu melayangkan pukulan lagi ke arah perut Lukas. Kali ini tangannya berhasil di tahan oleh Lukas. Bukan hanya di genggam, tapi Lukas melintir tangan Morgan sebelum menendang perut musuhnya dengan kaki.


Lana yang melihat pertempuran Lukas dan Morgan mulai tidak kosentrasi dengan pertarungannya. Wanita itu terkena pukulan di sudut bibirnya. Ada darah yang keluar.


“Beraninya kau!” umpat Lana kesal sebelum membalas lagi pukulan pasukan Morgan.


Lana kembali ingat dengan bom yang di rakit oleh Morgan. Wanita itu mencari cela agar bisa menemukan bom tersebut. Ia cukup yakin, kalau bom itu bisa menyelamatkan nyawanya dan Lukas malam itu.


Melihat Morgan hampir kalah saat bertarung dengan Lukas, pasukan Morgan mulai berkerumun untuk membantu Morgan. Mereka memukul dan menodongkan senjata api ke arah Lukas. Posisi pasukan milik Morgan kini mengelilingi Lukas.


Sehebat apapun ilmu bela diri Lukas tidak akan bisa menang jika musuhnya main keroyokan seperti itu. Di tambah lagi dengan senjata api yang siap menembus kulitnya.


Lana berlari pergi untuk mencari bom yang di rakit oleh Morgan. Di sebuh laci yang memang di gunakan Morgan untuk menyimpan senjata-senjata berharga miliknya. Lana membuka laci tersebut. Bibirnya mengukir senyuman saat melihat bom itu. Dahinya mengeryit saat tidak tahu cara menggunakan bom tersebut.


Tidak mau banyak berpikir, Lana berlari untuk menemui Lukas dan Morgan. Ada harapan besar di dalam hatinya kalau kini ia akan berhasil.


“Hentikan!” teriak Lana sambil memamerkan benda yang baru saja ia temukan, “Aku akan meledakkan benda ini jika kalian tidak menyingkir.”


Morgan menatap wajah Lana dengan tatapan tidak suka. Sama halnya dengan Lukas. Pria itu juga menatap wajah Lana dengan tatapan tidak suka. Bom yang di pegang Lana bukan bom waktu. Mengatakan meledakkan benda ini, itu berarti ia sama saja mengatakan akan bunuh diri.


Tiba-tiba saja suasana berubah sunyi. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menatap wajah Lana dengan seksama. Jika benar bom itu meledak, bukan hanya Lana yang tewas, tapi semua orang yang ada di dalamnya akan meregang nyawa detik itu juga.


“Honey, jangan main-main dengan benda kecil itu. Benda itu sangat berbahaya,” ucap Morgan dengan senyuman indah.


Lukas melirik wajah Morgan sekilas. Hatinya tidak terima, jika wanita yang ia cintai di sapa dengan mesra oleh pria lain. Dengan ekspresi wajah dingin favoritnya, ia memandang Lana dengan seksama.


Lana menatap wajah dua pria itu secara bergantian. Posisi mereka ada dibawah tangga. Sedangkan Lana, ada di lantai dua dengan tinggi sekitar 10 meter.


“Kenapa mereka terlihat kompak seperti ini. Apa mereka lupa kalau mereka sedang bermusuhan? Mereka pria tangguh, kenapa harus memasang wajah manis seperti itu,” gumam Lana di dalam hati.


“Honey ....”


“Lovely ....”


Lana menghela napas, “Aku tidak suka negosiasi. Bukankah daya ledak benda ini lumayan. Aku ingin lihat, seberapa besar ledakan yang akan di hasilkan nantinya.”


Tanpa pikir panjang Lana melayangkan bom itu ke arah Morgan dan pasukannya berada. Wanita itu segera melompat turun dari lantai atas saat bom itu telah melayang di udara.


Morgan dan pasukan miliknya tidak lagi fokus dengan Lukas, Perhatian mereka terpusat pada bom yang kini akan menghancurkan markas mereka.


Lukas menatap Lana dengan wajah yang cukup serius. Pria itu berlari kencang untuk menangkap tubuh Lana sebelum terbentur keras dengan lantai. Gerakan Lukas sangat cepat. Di waktu yang tepat, pria itu berhasil menangkap Lana. Menggendong Lana dengan tatapan yang menyeramkan.


“Aku tahu kau akan menangkapku,” ucap Lana dengan senyum menyeringai. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Lukas sebelum mempererat pelukannya.


Lukas mengeluarkan bom asap yang ia bawa. Ia lempar ke arah Morgan dan pasukannya berada sebelum berlari pergi. Tidak ada hal lain yang ingin ia lakukan lagi saat Lana telah bersamanya. Tujuan utamanya memang Lana sejak awal.


Dengan gerakan cepat Lukas berlari pergi meninggalkan markas Morgan yang kini di penuhi asap putih. Pria itu berlari ke arah mobil dan membawa Lana masuk ke dalam. Ia menatap sekali lagi markas Morgan sebelum masuk dan duduk di bangku kemudi.


“Apa kau baik-baik saja? Apa kau sudah sembuh?” tanya Lukas dengan wajah yang sangat khawatir.


“Aku baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkanmu saat Morgan bilang pesawat yang kau tumpangi meledak,” jawab Lana dengan wajah sedih.


Mendengar kata pesawat kembali mengingatkan Lukas pada Alika. Pria itu tidak tahu, harus jujur atau tidak kepada Lana. Kepergian Alika pasti menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi Lana.


“Aku baik-baik saja,” jawab Lukas pelan.


Lana memeluk Lukas dengan penuh kerinduan, “Akhirnya kita bersama lagi.”


Lukas mengukir senyuman bahagia. Pria itu mengusap lembut punggung kekasihnya dengan mesra, “Kita harus segera pergi sebelum mereka menyadari kepergian kita.”


Lana melepas pelukannya. Wanita itu mendaratkan kecupan cinta di bibir Lukas sebelum mengatur posisi duduknya, “Ayo kita berangkat.”


Lukas mengukir senyuman. Lana sudah terlihat ceria seperti biasanya. Pria itu cukup bahagia. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera menjauh dari markas milik Morgan.