Moving On

Moving On
S2 Bab 34



Emelie dan Zeroun telah tidur dengan begitu nyenyak. Tubuh mereka terasa sangat lelah karena seharian berada di dalam mobil. Zeroun sengaja mengelilingi lokasi tempat tinggalnya, untuk memahami lokasi tersebut.


Wajah Zeroun terlihat sangat tenang malam itu. Berbeda dengan wajah Emelie. Wanita itu terlihat sangat gelisah. Emelie bermimpi tentang masa kecilnya. Tepatnya saat ia masih berusia 10 tahun


Belasan tahun yang lalu



Di sebuah taman yang ada di samping istana. Emelie kecil terlihat berlari-lari dengan wajah yang cukup ceria. Gadis kecil itu mengenakan gaun berwarna putih yang sangat indah. Penampilannya sangat anggun dan menggemaskan. Rambut ikal cokelatnya sedikit terikat dengan sebuah pita berlapis berlian.


“Emelie, kemarilah,” teriak wanita muda yang sangat anggun. Ada mahkota di atas kepalanya. Di samping wanita itu telah berdiri seorang pria yang mengukir senyuman ramah. Pria itu juga mengenakan pakaian seorang Raja dengan sikap yang sangat berwibawa.


Tidak jauh dari lokasi Emelie berada, telah berbaris rapi para pelayan dan pengawal istana. Mereka siap menunggu perintah yang mungkin saja akan datang tiba-tiba. Cuaca pagi itu terlihat sangat cerah. Angin berhembus dengan begitu tenang.


Emelie memandang kedua orang tuanya dengan senyuman yang cukup indah. Gadis kecil itu berlari untuk menghampiri wanita yang telah memanggil namanya.


“Yang Mulia, ada yang bisa saya bantu?” ucap Emelie sambil membungkukkan kepalanya. Wanita itu mengukir senyuman ramah dan siap mendengar perintah sang Ratu.


“Sayang, kemarilah.” Ratu melambaikan tangan sebagai kode agar Emelie mau duduk di sampingnya.


Emelie mengukir senyuman bahagia sebelum berhambur ke dalam pelukan ibu yang paling ia cintai, “Emelie sayang, Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Raja.”


“Emelie, ada hal penting yang mau kami katakan padamu. Kami tahu, mungkin ini terlalu cepat untuk mengungkapkannya. Tapi, selagi ada waktu. Sebaiknya kami tidak menundanya lagi.” Ratu mengusap lembut rambut Emelie. Wanita itu menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh arti.


“Apa yang harus Emelie lakukan? Apa Emelie melakukan kesalahan?” Emelie mendonggakkan kepalanya untuk menatap wajah sang ibu.


Ratu menggeleng pelan, “Tidak sayang, kau tidak melakukan apapun hari ini. Hanya ada satu permintaan yang ingin kami sampaikan.” Wajah Ratu terlihat semakin serius. Sekilas ia memandang wajah Raja sebelum memandang wajah Emelie lagi.


“Emelie akan mengabulkan semua permintaan Yang Mulia Raja dan Ratu,” ucap Emelie dengan nada yang cukup lembut.


Raja dan Ratu tersenyum bahagia, “Kami tahu, Emelie. Kau memang anak yang sangat penurut.”


“Emelie, maukah kau berjanji satu hal?” ucap Ratu sambil memegang kedua pipi Emelie.


Emelie mengangguk, “Emelie akan selalu menepati janji.”


“Anak yang pintar.” Ratu mengusap lembut pipi Emelie, “Nak, kami tidak memiliki anak laki-laki. Kerajaan ini tidak akan pernah memiliki seorang pangeran dan Raja dari keluarga kita. Jika di lihat dari silsilah keluarga kerajaan, keturunan kami yang berhak menyandang status Raja selanjutnya.”


Ratu terlihat bingung saat ingin melanjutkan kalimatnya. Arah pembicaraan itu cukup serius. Tapi, melihat anak berusia 10 tahun di hadapannya, rasa bingung itu memenuhi isi hatinya.


Raja menghela napas, “Emelie, kau harus berjanji untuk tidak meninggalkan kerajaan ini. Kau boleh bermain sejauh yang kau ingin. Tapi, ingat satu hal. Kau putri kami. Kau Putri Emelie. Kau yang akan menjadi Ratu kerajaan Cambridge nantinya.”



“Mahkota yang ibu kenakan, akan terpasang indah di atas kepalamu nantinya. Kau akan terlihat semakin cantik saat mengenakan mahkota ini.” Ratu mencubit pipi Emelie.


“Dan Mahkota ini, akan di pakai oleh pria yang akan mendampingimu nanti. Siapapun orangnya, Kami berharap kau selalu bahagia. Dimanapun nantinya kami berada, kami hanya ingin kau juga bahagia, Emelie.”



“Yang Mulia jangan khawatir. Emelie akan menjaga kerajaan ini. Emelie akan memakmurkan rakyat kita nantinya,” ucap Emelie dengan penuh keyakinan.


“Kau mau berjanji pada kami, Sayang? Kau tahu, kalau janji harus di tepati dan tidak boleh pernah di ingkari,” ucap Ratu dengan wajah berseri.


“Emelie berjanji akan menjaga kerajaan Cambridge,” ucap Emelie sekali lagi.


Raja dan Ratu terlihat sangat bahagia. Mereka membuka tangan untuk memeluk Emelie dengan penuh kasih sayang, “Terima kasih, Nak. Kami sangat ingin melihat penyerahan mahkota itu di saat kau telah menikah nanti.”


.


.


.


Emelie terbangun dari tidurnya dengan napas terputus-putus. Wanita itu duduk di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi pinggangnya. Keringat berkucur deras seperti habis bermimpi buruk. Emelie tidak tahu harus bagaimana.


Satu hal yang pasti, di tengah malam itu ia kembali merasa sedih. Tidak tahu kenapa mimpi itu harus hadir. Air mata menetes deras. Emelie menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Zeroun terbangun saat merasa pelukannya terlepas. Dengan sigap, ia duduk dan memandang bingung istrinya, “Emelie, apa yang terjadi?”


“Mereka kembali hadir untuk mengingatkanku,” ucap Emelie dengan suara lirih.


“Siapa? Apa ada seseorang yang menjahatimu?” Zeroun semakin khawatir. Pria itu menatap sekeliling kamarnya yang masih terlihat sunyi.


“Raja dan Ratu,” jawab Emelie dengan suara yang pelan, “Mereka mengingatkan janjiku dulu. Kalau aku tidak akan pernah meninggalkan kerajaan.”


Zeroun menghela napas sebelum menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya, “Tidak ada yang memintamu untuk meninggalkan istana. Semua masalah ini tidak akan merusak nama baikmu. Aku berjanji,” ucap Zeroun penuh kebohongan. Pria itu juga bingung, menyikapi istrinya malam itu.


“Kita akan melakukan kesalahan yang cukup besar. Jika ketahuan pihak istana, maka kita bisa di usir dari istana,” jawab Emelie dengan wajah sedihnya.


“Aku akan mengusahakan agar semua tidak ketahuan pihak istana.” Zeroun mengecup pucuk kepala Emelie, “Jangan pikirkan lagi. Sekarang sudah sangat malam. Sebaiknya kita kembali istirahat.”


Emelie mengangguk pelan, “Maafkan aku.”


Zeroun mengusap lembut pipi Emelie, “Tidak ada yang salah dan tidak ada yangperlu di maafkan.”


Zeroun dan Emelie kembali berbaring di atas tempat tidur. Sepasang suami istri itu terlihat berpelukan dengan mesra. Walau mata sudah tidak mengantuk lagi, tapi tetap mereka paksa untuk terpejam. Besok mereka akan menghadapi hari-hari yang sangat melelahkan. Malam ini mereka harus beristirahat dengan cukup.


“Maafkan aku karena telah membuatmu berada di posisi yang sulit, sayang,” gumam Zeroun di dalam hati sebelum mengecup pucuk kepala Emelie. Ia memejamkan mata dan kembali mempererat pelukannya.


Karena masih ada di 10 besar, jadi aku up 3 bab... Vote yang banyak ya reader..biar aku semangat ngetik.


terima kasih, like dan komen juga selalu di nanti.