Moving On

Moving On
S2 Bab 36



Beberapa menit sebelum suara tembakan terdengar.


Zeroun dan Emelie sama-sama bangun saat cahaya matahari mulai masuk menembus jendela kaca. Zeroun mendaratkan satu kecupan mesra di pucuk kepala istrinya. Kecupan yang lembut itu terus saja berpindah-pindah dan berlabuh pada bibir.


Emelie mengukir senyuman saat merasakan hembusan napas Zeroun di wajahnya. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher jenjang Zeroun sebelum membalas ciuman mesra suaminya. Sebisa mungkin ia memberi kecupan yang bisa membuat suaminya merasa bahagia.


“Aku sangat mencintaimu, Zeroun Zein,” ucap Emelie saat Zeroun telah melepas bibirnya dari bibir Emelie.


“Aku juga mencintaimu, Putri Emelie.” Zeroun mengusap lembut pipi Emelie sambil menatap wajah istrinya dengan penuh cinta.


Emelie tertawa kecil saat mendengar kalimat yang di ucapkan Zeroun, “Ayo kita bangun. Bukankah hari ini kita akan jalan-jalan.”


Zeroun mengangguk lalu beranjak dari tempat tidur. Di ikuti Emelie dari belakang. Sejak menikah, mereka lebih sering mandi berdua. Mandi berdua memang terasa sangat indah dan membuat bahagia.


Setelah setengah jam menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, Sepasang suami istri itu keluar dengan tubuh yang di balut handuk. Emelie berjalan dengan santai ke arah lemari bersama dengan Zeroun. Ia harus memakai celana lagi karena harus mengikuti suaminya di saat bertarung.


“Apa aku sudah mirip Serena?” ucap Emelie sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin. Celana panjang dengan jaket hitam yang menutupi tubuh. Tidak lupa Emelie mengikat satu rambutnya agar terlihat rapi.


“Emelie sejak awal aku sudah bilang. Kau dan Serena adalah wanita yang berbeda. Serena tidak bisa menjadi dirimu, dan sebaliknya. Kau juga tidak bisa menjadi seperti dirinya.” Zeroun mengukir senyuman sebelum mengancing satu persatu kancing kemejanya.


“Ya. Aku sudah berulangkali mendengarnya. Tapi Serena adalah idolaku,” ucap Emelie dengan bibir tersenyum indah.


Zeroun menggeleng pelan, Pria itu merapikan lagi penampilannya sebelum berjalan ke arah meja. Ia ingin mengambil pistol dan senjata yang ia perlukan sebelum keluar kamar.


Langkahnya terhenti saat mendengar suara tembakan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Emelie berlari kencang mendekati posisi Zeroun. Wanita itu cukup takut dengan apa yang kini ia dengar.


“Apa kita diserang?” ucap Emelie sambil menatap wajah Zeroun.


Zeroun memberikan sebuah pistol kepada Emelie, “Pegang ini. Kau harus ingat dengan semua yang pernah aku ajarkan. Aku ingin kau tetap di sampingku dan jangan pernah menjauh.”


Emelie mengangguk setuju. Walau ia sendiri masih ragu, berhasil atau tidak nantinya.


Pintu terbuka secara tiba-tiba. Beberapa pria berbadan kekar muncul dengan senjata api di tangan mereka. Senjata api itu mengarah langsung ke arah Zeroun dan Emelie.


“Selamat pagi, Zeroun Zein. Senang bertemu denganmu hari ini.” Arron muncul dengan senyum tipis yang cukup menghina.


“Kau datang di waktu yang tepat. Jadi Aku tidak perlu lagi mencarimu, Arron.” Zeroun mengukir senyuman tipis. Zeroun mengangkat tangannya untuk memberi kode kepada pasukan miliknya yang telah tersembunyi.


Kode itu membuat laser berwarna merah mengincar tubuh Arron dan timnya. Beberapa penembak jitu milik Gold Dragon telah bersiap untuk menembak Arron dan pasukan White tiger setelah Zeroun memberi perintah nantinya.


“Apa kau pikir aku akan menyerah begitu saja?” ucap Arron dengan ekspresi cukup tenang. Pria itu mengeluarkan senjata api dan mulai menarik pelatuk senjata apinya, “Sebelum mereka menembakku, aku yang akan lebih dulu menembakmu, Zeroun Zein.”


DUARR


Satu tembakan di lepas Arron ke arah Zeroun dan Emelie berada. Dengan gerakan cepat, Zeroun membawa tubuh Emelie untuk menghindar dari peluru yang mengincar mereka. Keadaan kamar itu berubah kacau seketika. Tembakan yang di keluarkan Arron berhasil membuat pasukan Gold Dragon lainnya muncul dan siap melawan.


Zeroun mengangkat tubuh Emelie. Pria itu mengalungkan satu tangannya di perut istrinya. Tubuhnya berputar sambil menembak ke arah musuh-musuh yang ada di depan mata.


“Emelie, sekarang saatnya,” perintah Zeroun. Pria itu juga ingin Emelie membantunya untuk mengalahkan musuh yang kini ada di depan mata.


Dengan tangan gemetar Emelie mengangkat pistolnya. Tembakan wanita itu tidak lagi tepat sasaran karena ia terlalu bingung dan takut. Zeroun terus saja berusaha menghindar dan melindungi istrinya dari peluru yang mengincar.


Pasukan Sniper Gold Dragon tidak lagi berani mengeluarkan tembakan karena posisi Gold Dragon dan White tiger yang sudah berbaur menjadi satu.


Agen Mia muncul saat itu. Wanita tangguh itu mengambil alih untuk menyerang Arron secara langsung. Tidak peduli kalau lawannya kini tidak sebanding dengan kemampuannya. Yang terpenting baginya. Zeroun baik-baik saja.


Pukulan demi pukulan telah di layangkan oleh Agen Mia, tapi Arron tidak bergeming sedikitpun. Baginya tenaga Agen Mia hanya seperti gigitan semut kecil yang tidak memberi rasa apa-apa.


“Bagaimana ini?” ucap Emelie yang mulai panik. Ada darah dimana-mana. Walaupun sejak awal ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi pemandangan seperti itu. Tapi, tetap saja. Saat pemandangan itu benar-benar terjadi, Emelie tidak sanggup menerimanya.


“Emelie, peluk aku dan pejamkan matamu,” ucap Zeroun yang seolah mengerti dengan ketakutan istrinya.


Emelie mengangguk pelan sebelum memeluk Zeroun. Sesekali ia masih mengeluarkan tembakan saat melihat ada musuh yang mencoba untuk mendekatinya. Zeroun menatap Agen Mia yang terlihat kesulitan menghadapi Arron. Memang sejak awal Arron adalah lawannya, bukan Agen Mia.


Zeroun membawa Emelie ke sudut kamar yang ia pikir itu sangat aman. Pria itu memberi kode kepada snipernya untuk melindungi Emelie, “Jangan bergerak dari tempat ini. Tembak setiap musuh yang ingin mendekatimu.”


Emelie mengangguk. Wanita itu menatap wajah Zeroun dengan tatapan khawatir, “Hati-hati.”


Zeroun mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Emelie. Pria itu memutar tubuhnya untuk melawan Arron secara langsung.