
Zeroun dan Emelie memandang lukisan itu dengan penuh perasaan. Sepasang suami istri itu mengukir senyuman yang cukup indah. Seandainya wanita itu segera mengandung dan melahirkan seorang Pangeran. Maka kebahagiaan Zeroun seperti yang ada di lukisan itu akan sama dengan kebahagiannya yang sekarang.
“Baby,” ucap Emelie dengan penuh perasaan.
“Hmm.” Zeroun mengecup leher Emelie dengan mesra. Pria itu selalu saja gemas melihat lekuk tubuh istrinya yang indah. Aroma tubuh Emelie juga selalu membuatnya ketagihan.
“Apa kalian sudah berhasil menemukan Inspektur Tao?” tanya Emelie dengan wajah yang cukup santai.
Zeroun mengukir senyuman kecil, “Ternyata dia tidak ada di sana.”
“Benarkah?” Emelie mulai memasang wajah serius.
Zeroun menatap wajah Emelie dan menjawab dengan ragu-ragu, “Benar, Sayang. Aku tidak mungkin membohongimu.” Pria itu mengukir senyuman seindah mungkin.
“Apa kau mau tahu, dimana Inspektur Tao berada saat ini?” Emelie berdiri di hadapan Zeroun. Wanita itu menatap kedua bola mata suaminya tanpa berkedip.
“Sayang, apa kau tahu dimana pria itu berada?” Wajah Zeroun berseri. Ia berharap Emelie benar-benar tahu keberadaan Inspektur Tao saat ini.
“Tunggu sebentar,” ucap Emelie pelan. Wanita itu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia mengotak-ngatik ponselnya sebelum memperlihatkannya kepada Zeroun, “Di sini. Inspektur Tao berada di sini.” Wanita itu menunjukkan layar ponselnya dan menunjuk satu titik yang ada di dalamnya.
Zeroun meraih ponsel Emelie. Pria itu mengeryitkan dahi dan memperhatikan titik itu dengan begitu serius. Hingga beberapa detik kemudian ia tersadar. Kalau arah jalan yang di tunjuk Emelie adalah jalan tempatnya dan Lukas berputar-putar.
Zeroun memandang wajah Emelie dengan senyuman kecil. Satu tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Emelie, wanita itu sudah melipat kedua tangannya di depan dada. Menaikan satu alisnya dengan tatapan menyeramkan.
“Ada apa? Baby,” ucap Emelie penuh penekanan.
“Itu...” ucapan Zeroun tertahan. Ia bingung bagaimana harus membela dirinya.
“Kau ingin menyalahkan orang lain?” Emelie menarik telinga Zeroun dengan gigi menggertak, “Kau memang suami yang menyebalkan. Bisa-bisanya kau kabur dan membohongiku tadi.”
“Emelie, ini sakit. Apa kau ingin membuat telingaku lepas?” protes Zeroun sambil berusaha melepaskan tangan Emelie dari telinganya.
“Ini hukuman untukmu.” Emelie melepas telinga Zeroun. Wanita itu memasang wajah kesal lalu memutar tubuhnya untuk membelakangi Zeroun, “Hanya soal baju kau membohongiku. Apa aku seburuk itu hingga harus terus-terusan kau bohongi. Kenapa kau selalu saja berbohong.”
Emelie melampiaskan rasa kesalnya. Sejak awal wanita itu sudah curiga atas gerak-gerik Zeroun dan Lukas. Hingga akhirnya ia memiliki ide untuk melihat keberadaan mobil dua pria itu dengan meminta bantuan Lana.
“Maaf,” ucap Zeroun dengan kelembutan. Pria itu melingkarkan kedua tangannya di perut rata milik istrinya, “Aku tidak pernah sanggup menolak permintaanmu. Namun, jika aku menerimanya. Harga diriku bisa tercoreng, Baby.” Zeroun membenamkan wajahnya di rambut Emelie.
“Kau memang pria yang selalu ahli dalam merayu. Kali ini rayuanmu tidak akan berhasil. Aku tidak akan memaafkanmu dengan semudah itu.” Emelie masih tetap memasang wajah kesal.
“Benarkah?” celetuk Zeroun dengan wajah yang tidak kalah serius dari Emelie.
“Ya.”
Zeroun mengukir senyuman. Pria itu melepas pelukannya lalu memutar tubuh Emelie agar menghadap wajahnya, “Sekarang katakan. Kalau kau tidak mau memaafkanku.” Zeroun menatap wajah Emelie dengan seksama. Sorot matanya penuh daya pikat tersendiri. Pria itu tidak mengedipkan matanya sama sekali. Satu tangannya telah sibuk mengusap pipi Emelie.
Zeroun tertawa kecil sebelum menarik tubuh Emelie ke dalam pelukan, “Maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi kebohongan seperti itu lagi. Tapi, berjanjilah untuk tidak mengajakku memakai pakaian seperti itu lagi.”
“Pakaian itu cukup bagus dan mahal.” Emelie membalas pelukan Zeroun. Wanita itu tidak ingin berkelahi dengan suaminya terlalu lama. Sejak awal ia memang sudah memaafkan Zeroun. Bahkan ia ingin mengucapkan terima kasih. Tanpa ide kabur-kaburan Zeroun, maka dirinya dan Lana tidak akan mungkin menghasilkan lukisan seindah itu.
“Ini bukan dari segi harga. Sayang, Aku dan Lukas memakai tato yang cukupp meyeramkan. Apa kau pernah berpikir, ketika tato kami di tutupi baju dengan gambar hati seperti ini,” ucap Zeroun sambil mengusap lembut punggung Emelie.
“Ya, ya. Maafkan aku. Lain kali aku tidak akan mempersulitmu lagi.”
***
Di sisi lain.
Lana memandang ke luar jendela. Wanita itu masih belum mau berbicara apa lagi memandang wajah kekasihnya. Ia lebih memilih mengunci mulutnya sambil menikmati musik yang terdengar. Hatinya terus saja mengumpat kesal. Sejak awal Lukas yang salah karena berbohong kepadanya. Tapi, kini posisi itu seolah tertukar.
“Kenapa harus aku yang meminta maaf duluan. Bukankah dia yang salah,” gumam Lana di dalam hati.
Lukas melepas satu tangannya di stir mobil. Pria itu meraih tangan Lana dan menggenggamnya dengan erat. Ia juga menarik tangan kekasihnya dan mengecupnya dengan mesra.
“Masih marah?” ucap Lukas sambil memandang wajah Lana sekilas.
“Apa wanita sepertiku berhak marah? Bukankah wanita sepertiku di larang berbohong. Aku hanya bisa di bohongi dan harus selalu memaafkan. Aku tidak memiliki hak apapun untuk marah dan tidak di perbolehkan sedikitpun untuk marah,” ucap Lana asal saja tanpa mau memandang wajah Lukas.
Lukas mengerem mobilnya. Pria itu mematikan mesin mobilnya lalu melepas genggamannya dari tangan Lana, “Kenapa kau keras kepala seperti ini? Itu bukan masalah yang serius.”
Lana memandang wajah Lukas dengan tatapan yang cukup menyeramkan, “Dari hal kecil saja kau berbohong. Bagaimana dengan hal lainnya. Kau akan terus-terusan membohongiku,” teriak Lana mulai kesal.
“Ini hanya kebohongan kecil. Anggap saja aku sedang bercanda,” ucap Lukas membela diri.
“Lukas!”
Lukas sudah hampir terpancing emosi. Pria itu memang bukan pria berhati lembut seperti Zeroun. Jangankan merayu. Berbicara lembut saja ia cukup kesulitan, “Lana. Itu sama dengan posisimu yang seperti ini. Saat aku memaksamu untuk melakukan hal yang tidak kau suka. Apa yang kau lakukan? Aku tidak bisa menolakmu. Menolakmu sama saja dengan mengibarkan bendera perang. Akan ada banyak perdebatan di dalamnya. Aku tidak terlalu suka hal seperti itu.”
Lana menyipitkan kedua matanya sambil menatap Lukas, “Apa kau mulai pandai merayu saat ini?”
“Aku hanya ingin berkata jujur. Aku tidak suka baju itu. Aku juga tidak bisa menyakiti perasaanmu. Apa kau tahu, menyakiti peraanmu itu sama saja dengan menyakiti diriku sendiri.” Lukas menatap wajah Lana dengan seksama.
Lana mengangguk pelan sebelum membuang tatapannya ke arah lain, “Dia hanya pergi sebentar dengan Bos Zeroun. Namun, sifatnya sudah jauh berbeda. Kenapa dia harus mengatakan hal seperti itu. Membuatku ingin tertawa saja,” gumam Lana mulai mencari-cari alasan untuk menyalahkan Lukas lagi.
Lukas diam membisu. Pria itu mengulang lagi kalimat yang baru saja ia ucapkan. Ada rasa aneh dan geli di dalam hatinya, “Apa yang baru saja aku katakan? Apa itu kalimat rayuan?” gumam Lukas di dalam hati.
Lukas tidak mau larut dengan kebucinannya. Pria itu kembali menghidupkan mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Walau masalah di antara dirinya dan Lana belum selesai, tapi setidaknya ia sudah memiliki usaha untuk merayu wanita berstatus kekasihnya itu dengan penuh ketulusan.