Moving On

Moving On
Perjanjian Pahit



Cabridge. Inggris.


Dua hari telah berlalu. Emelie sudah kembali ke istana. Lukas dan Lana sudah kembali ke Hongkong dengan selamat. Tidak ada lagi Gold Dragon maupun Heels Devils. Semua musnah bersama dengan hilangnya Zeroun dan Jesica. Kini mereka semua harus menjalani hidup tanpa bayang-bayang masa lalu lagi.


“Apa itu benar?” Apa dia sungguh tidak akan kembali? Apa malam itu terakhir kalinya aku melihat wajahnya?” ucap Emelie dengan suara serak. Matanya terlihat bengkak. Sudah dua hari ia tidak tidur dan makan. Hanya menangis dan meratapi kepergian pria yang sangat ia cintai.


Emelie menangis sejadi–jadinya. Ia duduk di tepi jendela dengan kaki di tekuk ke atas. Semua itu masih terasa seperti mimpi. Semua kenangan indahnya bersama dengan Zeroun muncul untuk mengganggu suasana hatinya. Semua tentang Zeroun masih melekat dengan begitu hangat di dalam hatinya.


Suara ponsel berdering. Emelie menatap layar ponselnya dengan wajah tidak terbaca. Melekatkan ponsel itu di telinga kirinya. Ponsel itu terjatuh dari genggaman tangannya. wajahnya mematung beberapa saat. Putri Kerajaan itu masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Emelie beranjak dari jendela itu, berlari kencang meninggalkan kamar. Putri kerajaan itu ingin segera tiba di tempat yang bisa mempertemukannya dengan seseorang. Langkahnya terlihat begitu cepat. Emelie meminta supir mengantar ke alamat yang telah di tentukan. Meminta supir itu untuk melaju dengan cepat.


Beberapa menit kemudian. Emelie tiba di sebuah gudang. Satu pria berbadan tegap, menyambut Emelie dan membawa wanita itu masuk ke dalam gudang. Emelie berjalan tanpa takut, hatinya kembali tenang saat pria yang ia cintai masih hidup.


Pria itu membawanya ke sebuah ruangan sunyi yang menuju ke sebuah pintu yang ada di sudut ruangan. Dengan cepat, pria menyeramkan itu membuka pintu yang menghubungkan Emelie dengan ruangan serba putih.


Emelie masuk ke dalam ruangan itu dengan perasaan bercampur aduk. Di tengah–tengah ruangan, ada tempat tidur ukuran sedang. Zeroun berbaring di atas tempat tidur itu. Suasana sangat hening. Hanya terdengar monitor detak jantung di ruangan itu.


Emelie memberanikan diri untuk mendekati Zeroun. Bibirnya bisa tersenyum dengan perasaan bahagia. Terdengar suara sepatu pria. Emelie memandang kedatangan Damian. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dengan wajah sangat tenang. Ada senyum jahat di bibirnya yang manis. Dengan langkah hati–hati Damian mendekati Emelie.


“Lama tidak berjumpa, Putri. Apa anda tidak merindukan saya?” Damian menyeringai di hadapan Emelie.


Emelie sudah tahu detik ini ia akan bertemu Damian. Suara pria yang ada di telepon adalah suara Damian. Pria itu juga yang memberi tahunya kalau Zeroun masih hidup.


“Apa yang kau inginkan?” tanya Emelie tanpa basa–basi.


Ada Zeroun di ruangan itu, sudah bisa di pastikan kalau Damian adalah orang yang berhasil menolong Zeroun. Tapi, Damian pria yang sangat jahat. Pasti akan ada imbalan untuk perbuatannya itu.


“Anda wanita yang sangat pintar dan cerdas Putri.” Damian berjalan ke arah Zeroun yang tergeletak. Memegang beberapa alat medis yang melekat di sekujur tubuh Zeroun.


“Jika saya melepas alat ini, pria ini akan pergi menemui ajalnya.” Wajah Zeroun terlihat mengancam Emelie detik itu.


Emelie berjalan cepat dengan wajah khawatir.


“Jangan lakukan itu aku mohon.” Emelie mengatupkan kedua tangannya, berlutut untuk memohon belas kasih Damian. Putri Kerajaan itu tidak ingin Zeroun benar-benar pergi untuk selama-lamanya.


“Drama yang sangat menyayat hati.” Damian berdecak kuat, berjongkok dihadapan Emelie.


“Lihatlah, pria yang katanya tidak terkalahkan kini terbaring lemah dan kapan saja bisa pergi.” Damian mendekatkan wajahnya dengan wajah Emelie. Menghirup aroma tubuh Emelie sambil memejamkan mata.


“Apa yang kau inginkan? Aku akan melakukan apapun asal kau membiarkan Zeroun tetap hidup. Jika kau ingin seluruh harta Ratu, Aku juga akan memberikannya.” Emelie pasrah. Ia tidak butuh semua kekayaan itu. Kini satu-satunya barang berharga yang bisa membuat hidupnya tetap bertahan adalah Zeroun. Apapun akan dilakukan oleh Emelie asal pria yang ia cintai tetap bisa membuka mata.


Damian tersenyum kecil.


“Saya sangat suka dengan penawaran anda, Putri.” Damian meraih rambut Emelie.


“Menikalah dengan Saya. Dengan begitu Saya akan mengirim Zeroun kembali ke Hongkong dalam kondisi hidup.” Damian tersenyum kecil dengan penuh arti.


“Aku sudah kehilangan Adriana. Anda harus menggantikan wanita yang seharusnya menjadi istri Saya, Putri Emelie.” Ada penekanan di setiap kata yang diucapkan oleh Damian.


Emelie memandang wajah Damian dengan penuh kebencian. Hatinya hanya untuk Zeroun. Pria yang ingin ia nikahi juga Zeroun. Tapi, detik itu keadaan berubah. Kini Zeroun tidak berdaya. Pria itu terbaring lemah dengan luka di sekujur tubuhnya. Beberapa alat medis terpasang di tubuhnya menbantunya untuk bertahan.


“Baiklah, Aku mau menikah denganmu.” Emelie tidak memiliki pilihan lain. Untuk meminta bantuan Lukas atau siapapun itu justru akan membuat Damian membunuh Zeroun. Detik itu, Emelie harus rela mengorbankan cintanya demi menyelamatkan pria yang ia cintai.


“Ingat satu hal putri, tidak ada yang boleh tahu kalau Zeruon masih hidup. Jangan bertindak ceroboh, saya tidak suka di khianati,” bisik Damian di telinga Emelie.


“Anda punya waktu lima menit untuk berpisah dengan kekasih yang anda cintai itu.”


Damian pergi meninggalkan ruangan itu, menutup pintu. Membiarkan Emelie dan Zeroun berdua di dalamnya. Emelie melangkah dengan kaki yang terasa berat. Napasnya benar–benar sesak.


“Zeroun, Sayangku, Kau harus bertahan.” Emelie memegang tangan Zeroun, mengecupnya dengan deraian air mata.


“Kau harus tetap hidup. Maafkan Aku.” Emelie menangis sejadi–jadinya. Bibirnya tidak sanggup untuk mengeluarkan kata–kata perpisahan dihadapan Zeroun. Ia hanya bisa menangis dengan napas terasa sesak.


“Maafkan Aku,” ucap Emelie dengan sejuta rasa bersalah.


“Aku sangat mencintaimu. Bangun dan bawah aku pergi.” Emelie menghapus buliran air matanya. Mengatur napasnya yang sesak agar napasnya normal kembali.


“Aku sangat mencintaimu.” Emelie mencium bibir Zeroun sambil menangis. Tetesan air matanya membasahi wajah Zeroun. Tersimpan harapan besar di dalam hatinya kalau Zeroun bangun dan menolongnya dari pernikahan ini. Tapi, semua seakan sia-sia. Zeroun tidak juga memberi tanda kalau ia akan segera bangun dan membawanya pergi.


“Maafkan Aku,” sambung Emelie lirih. Putri Kerajaan itu mengecup bibir Zeroun dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya hatinya mulai merasa tenang. Hembusan napas Zeroun membuat Emelie menjadi wanita yang kuat.


Emelie pergi menjauh dari tempat itu. Memutar kembali tubuhnya untuk menatap wajah Zeroun untuk yang terakhir kalinya.


“Aku mencintaimu ....” Emelie menutup pintu. Meninggalkan Zeroun sendirian di ruangan itu. Emelie berusaha tegar. Ia tidak ingin terlihat seperti wanita lemah. Emelie berjalan pergi dengan Ekspresi dingin. Menghapus sisa air mata yang ada di pipinya.