Moving On

Moving On
S2 Bab 86



Lana memutar tubuhnya. Wanita itu memandang wajah Morgan yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


“Selamat siang, Lana. Senang bertemu denganmu lagi. Terima kasih karena kau masih mau menemuiku,” sambut Morgan dengan kedua tangan terbuka. Pria itu memiliki harapan besar kalau Lana akan memeluknya dengan penuh cinta.


“Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu. Kau tidak perlu berpura-pura kalau di antara kita tidak ada masalah. Karena hingga detik ini juga posisi kita berada di pihak yang berlawanan.” Lana melipat kedua tangannya di depan dada.


Lana dan Morgan saling menatap satu sama lain. Kali ini pertemuan mereka bukan untuk berkelahi. Ada satu masalah yang sejak dulu belum mereka selesaikan. Siang itu Lana ingin menemui Morgan dan menjelaskan semuanya. Ia tidak ingin berada di posisi bersalah terus-terusan. Ia ingin hidup tenang dan bahagia bersama Lukas.


“Kau mengkhianatiku, Lana. Sejak awal aku sudah tahu kalau penawar obat itu tidak bisa di buat. Pria itu mengatakannya padaku. Hanya ada dua botol racun dan dua botol penawar. Ia tidak akan bisa membuat penawarnya lagi jika aku menghilangkan semua penawarnya. Tapi, apa kau tahu Lana. Di saat aku sangat membencimu. Aku justru menyimpan satu botol penawarnya.”


Morgan mengukir senyuman yang cukup menggambarkan hatinya yang terluka, “Aku tidak ingin kau mati. Bahkan aku sempat berpikir untuk menculikmu dan menyembuhkanmu saat itu.”


“Apa kau pikir aku akan percaya dengan kebohonganmu?” ucap Lana dengan tatapan tidak terbaca. Wanita itu menurunkan tangannya yang terlipat sebelum mengepalnya dengan begitu kuat.


“Kau yang membuat hubungan kita menjadi seperti ini, Lana,” tegas Morgan dengan wajah memerah karena menahan amarah.


“Kau yang menghancurkan hatiku lebih dulu. Kau yang pertama kali membuatku terluka, Morgan!” teriak Lana dengan suara histeris. Wanita itu tidak lagi memikirkan nasipnya saat ini. Ia ingin meluapkan satu kata yang memang selama ini ia rasakan.


“Lana, kau,” ucapan Morgan tertahan. Tidak pernah terbayangkan kalau Lana akan mengatakan kalimat menyudutkan seperti itu. Cukup menyakitkan dan menyesakkan dada bagi Morgan.


“Setelah semua terjadi dan aku sudah berhasil membuat hatiku kembali bersatu. Dengan mudahnya kau bilang kalau aku yang melukaimu. Aku yang meninggalkanmu. Apa kau pernah berpikir lebih dulu sebelum mengatakannya? Kau yang mengajariku cara melukai, jadi sekarang jangan salahkan aku karena aku telah melukai hatimu.”


“Lana, kau tidak boleh bersamanya. Kau milikku!” Morgan menggenggam lengan Lana dengan cukup erat. Sorot matanya yang tajam menatap wajah Lana tanpa berkedip. Pria itu tidak rela jika harus melihat Lana berpaling dan kembali dalam pelukan pria lain. Morgan ingin Lana tetap bersama dengannya.


“Jika dulu, aku selalu memandang benar atas kesalahan yang kau perbuat. Tapi kali ini, aku bukan Lana yang sama dengan yang dulu kau kenal.” Lana menghempaskan tangan Morgan yang terus saja berusaha menahannya.


"Lana," ucap Morgan dengan suara lirih.


"Selamat tinggal, Morgan. Aku harap kau tidak pernah hadir dalam hidupku lagi."


Morgan berdiri mematung dengan gigi saling beradu. Pria itu mengepal kuat tangannya sebelum membuang tatapan matanya. Ia tidak lagi memiliki kata-kata pembelaan ataupun bujukan untuk mempertahankan Lana agar tetap bersama dengan dirinya. Detik itu juga Morgan menyerah. Ia benar-benar harus merelakan Lana berbahagia dengan pria lain.


Lana berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Ia tidak lagi ingin memutar tubuhnya untuk melihat keadaan Morgan saat itu. Hatinya cukup lega karena berhasil meluapkan rasa sakit hatinya selama ini. Setidaknya hari ini Morgan telah tahu, apa yang ia rasakan saat pria itu pergi meninggalkannya. Betapa sakit dan kecewanya Lana saat itu.


Dari balik tiang beton yang cukup kokoh, Lukas berdiri dengan tubuh bersandar. Pria itu mendengar dengan jelas percakapan antara Morgan dan Lana. Ia sengaja tidak muncul karena memang tidak ada bahaya yang perlu ia waspadai saat itu. Hatinya cukup lega saat mendengar penolakan Lana. Akhir cerita, Lana tetap memilihnya dan menjadi miliknya.


Belum sempat Lukas memiliki pemikiran untuk meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar suara decitan ban mobil yang begitu dekat. Lukas memutar tubuhnya untuk memandang ke arah sumber suara mobil tersebut.


Beberapa pria berbadan kekar tampak mengelilingi tubuh Morgan. Pria-pria itu memiliki senjata tajam dan senjata api. Lukas memperhatikan pemandangan itu dengan seksama. Ia tidak tertarik untuk melakukan apapun. Lukas lebih memilih untuk menjadi penonton.


Morgan mengukir senyuman menghina sebelum mengeluarkan senjata tajam miliknya. Pria itu siap bertarung walau saat itu satu lawan banyak. Ia tidak yakin akan menang karena memang kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.


“Malam itu kami yang menolongmu. Sebaiknya kau ucapkan terima kasih,” ucap pria itu penuh percaya diri.


Morgan menyunggingkan bibirnya ke samping. Ia tidak tertarik untuk mengucapkan terima kasih. Justru wajahnya tampak muak melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya.


Morgan lebih dulu melakukan penyerangan. Pria itu tidak terima jika di hina begitu saja. Gerakan cepat Morgan mampu membuat satu pukulan yang cukup keras. Tidak terima pimpinan mereka terluka, semua pasukan yang di bawa pria misterius itu mengangkat senjata api mereka. Mereka siap merenggut nyawa Morgan detik itu juga.


Tapi, satu hal tidak terduga. Lana muncul dan menghajar pria-pria yang terbilang tidak sebanding dengan kemampuannya. Dari kejauhan, Lukas tampak syok melihat pertarungan itu. Tangannya terkepal kuat dengan gigi saling menggertak. Lukas cukup kecewa melihat wanita yang ia cintai kini bertarung demi membela pria lain. Tapi, ia tidak bisa diam saja di situ sebagai penonton. Hatinya akan jauh lebih terluka ketika melihat wanita yang ia cintai terluka.


Lukas berlari untuk membantu Lana. Ya. Hanya demi Lana semua itu ia lakukan. Melihat Morgan di serang tentu saja membuat satu rasa puas di dalam hatinya. Tapi, tidak dengan pemandangan yang sekarang terjadi.


Lana menghentikan pertarungannya sejenak saat melihat Lukas muncul secara tiba-tiba. Wanita itu tidak tahu harus bagaimana dan harus berkata apa. Ia lebih memilih untuk melanjutkan pertarungannya dan berusaha menang.


Lukas dan Morgan sama-sama menghajar komplotan tidak dikenali itu. Sekilas mereka saling memandang satu sama lain dengan tatapan membenci sebelum melanjutkan pertarungan mereka.


Lana terjatuh dengan luka di bagian wajahnya. Wanita itu memandang dua pria yang kini bertarung dengan sekuat tenaga. Dalam hitungan detik, Lana mematung. Kini telah berdiri dua pria yang pernah mengisi hatinya. Jika yang satu telah hilang, yang satunya lagi masih tetap ada.


Lana bangkit lalu mengukir senyuman. Andai saja Lukas dan Morgan bisa bersahabat seperti itu, maka ia akan merasa jauh lebih tenang. Walau Lana sendiri sadar, itu permintaan yang cukup mustahil.


Seorang pria mengangkat senjata apinya. Ia menodongkan senjata api itu ke posisi Lana berdiri. Baginya jika tidak bisa mengalahkan Morgan, setidaknya ia bisa membunuh Lana.


Lukas dan Morgan sama-sama melihat pemandangan mengerikan itu. Lukas mengambil senjata apinya lalu menembak ke arah pria yang ingin melukai Lana. Tapi, gerakan Lukas terlambat. Detik dimana peluru milik Lukas keluar, dua peluru pria itu lebih dulu mengincar tubuh Lana.


Lana mematung memandang dua peluru yang meluncur menuju dirinya. Wanita itu ingin sekali menghindar agar tidak menjadi korban peluru tersebut. Tapi, gerakannya seakan terhenti. Wanita itu membisu dan memejamkan mata seolah pasrah dengan kematian yang mengincarnya.


***


Reader : Gantung terus Thor. Lagi seru juga.


Author : Cuma mau bilang. Besok Part bawang.🤧


Reader : Kan... pasti ada yang celaka. Author gitu dech.


Author : Aku Uda nangis duluan bayanginya. Kenapa kalian gak bantu doa semalam🤧


Reader : Jangan pisahi 2L ya Thor, apapun yang terjadi.


Author : Besok Uda ada jawabannya. Mereka pisah atau tidak.