
Damian duduk di hadapan Adriana. Hatinya merasakan kesedihan saat melihat sang kekasih kini mengenakan baju tahanan. Vonis untuk Adriana belum ditentukan. Pangeran itu bertekad untuk membebaskan Adriana sebelum hukuman itu ditujukan untuknya. Tangannya menggenggam tangan Adriana dengan begitu erat.
Di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Beberapa polisi yang berjaga juga sudah menjadi bawahan Damian.
“Sayang, maafkan Aku. Karena tidak bisa melindungimu hingga kau jadi seperti ini.” Damian mengecup punggung tangan Adriana dengan mata berkaca-kaca.
“Aku akan membuat wanita itu menderita. Bersabarlah.” Damian meletakkan tangan Adriana di atas meja.
“Aku juga sudah memberi kabar kepada Jesica. Ia akan segera tiba di kota ini untuk membebaskanmu dan membunuh Emelie. Tidak lama lagi, kita akan menyatu dan hidup bahagia.”
Adriana terlihat pucat dan tidak sehat. Wanita itu tidak lagi memiliki semangat untuk hidup. Bibirnya terkunci sejak Damian duduk di hadapannya. Ia tidak ingin mengeluarkan kata. Walaupun kini Damian mengatakan janji-janji manis untuknya.
Ada rasa menyesal dan bersalah di dalam hatinya. Semua keluarga bahagia yang ia miliki kini ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Hanya karena rasa cemburu dan iri hati yang memenuhi hatinya. Namun, rasa bersalah itu secepat kilat sirna. Saat wajah Emelie mengiang di dalam pikirannya.
Tatapan Adriana kosong. Wanita itu bisa di bilang seperti mayat hidup. Tidak ada semangat di dalam dirinya untuk tetap bertahan hidup. Sifatnya sudah jauh berbeda dengan dirinya selama ini.
Tangannya terkepal untuk menekan rasa sakit di dalam hatinya. Buliran air mata terus saja menetes membasahi wajahnya yang pucat.
Damian berdiri dari duduknya. Ia semakin tidak sanggup melihat keadaan Adriana. Pria itu berlutut di samping kursi Adriana. Mengambil kedua tangan Adriana sambil memandang wajahnya.
“Sayang, maafkan Aku. Jangan seperti ini. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan sanggup melihat keadaanmu seperti ini.” Damian menopang kepalanya di atas genggaman tangannya dan Adriana. Pria itu juga meneteskan air mata saat melihat wajah sedih Adriana.
Perlahan, Adriana menunduk untuk memandang wajah Damian. Lagi-lagi air mata menetes dengan isakan tangis yang tak tertahan.
“Kenapa hanya untuk bersatu dengan pria yang kucintai. Aku harus melewati rintangan seperti ini?” Suara Adriana terdengar sangat lirih.
Damian memandang wajah Adriana dengan seksama. Meletakkan kedua tangannya di sisi telinga Adriana. Bibirnya tersenyum kecil untuk menghapus wajah sedihnya.
“Sayang, besok. Aku janji. Besok kau sudah bebas. Jangan menangis lagi. Maafkan Aku.” Damian memeluk tubuh Adriana. Merasakan kesedihan Adriana saat itu.
Pelukannya sangat erat dan dipenuhi amarah. Pria itu benar-benar murkah dengan wanita bernama Emelie. Bahkan kematian saja tidak cukup untuk membayar rasa sakit hatinya saat itu. Ia ingin Emelie menjadi wanita paling menderita di dunia ini.
“Aku janji,” sambung Damian sambil memejamkan mata.
Setelah selesai melihat keadaan sang kekasih. Damian pergi meninggalkan kantor polisi itu. Di depan, Damian bertemu dengan Inspektur Tao.
Kau juga akan mati. Semua orang yang terlibat dalam masalah ini harus mati.
Damian mengepal kuat kedua tangannya. Menatap wajah Inspektur Tao dengan penuh kebencian. Ada dendam yang kini tersimpan di dalam hatinya untuk inspektur Tao. Tidak ada satu orangpun yang ia biarkan lolos, saat sudah berhasil menggagalkan rencana miliknya.
“Selamat malam, Pangeran. Apa yang anda lakukan malam-malam seperti ini dikantor polisi?” Inspektur Tao berdiri di hadapan Damian.
“Aku hanya ingin bertanya kepada Adriana kenapa ia melakukan semua ini.”
“Anda menanyakan itu sambil menangis?” Sindir Inspektur Tao yang mulai curiga dengan sifat Damian.
“Jangan terlalu ikut campur, Inspektur Tao. Selamat malam.” Damian pergi begitu saja diikuti beberapa pengawal setianya.
Aku harus menyelidiki Pangeran Damian. Sebelum semuanya terlambat.
Inspektur Tao masuk ke dalam kantor polisi untuk menyelesaikan tugas miliknya.
***
Damian duduk di dalam mobil dengan wajah penuh kesal. Pria itu lagi-lagi membayangkan wajah sedih Adriana. Hatinya terluka dan merasa tidak tega.
Ponselnya bergetar di dalam saku. Pangeran Damian mengeluarkan ponselnya. Menatap nama bawahannya terukir di layar ponsel itu. Dengan wajah tidak terbaca ia mengangkat panggilan masuk itu.
Wajah Damian memerah dengan luapan amarah yang tidak terhingga lagi. Pria itu baru saja mendapat kabar kalau kini Emelie ikut pergi bersama dengan Zeroun.
Genggamannya sangat kuat. Dengan cepat, Damian melempar ponselnya ke depan. Ponsel itu terjatuh dengan layar masih menyala.
Damian berteriak dengan penuh kesal hingga suaranya memenuhi isi mobil. Kali ini dia benar-benar kalah saat bertarung di babak pertama dengan Emelie.
“Selidiki, kemana Zeroun membawa Emelie pergi.” Damian memberi perintah kepada supir pribadinya.
“Baik, Pangeran.” Supir itu mengangguk sambil terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
“Zeroun. Tadinya aku ingin membiarkanmu bebas. Tapi, sepertinya kau sendiri yang mengibarkan bendera perang di antara kita. Baiklah, jika itu maumu. Sekarang kita adalah musuh. Salah satu di antara kita harus ada yang kalah bukan?” Wajah licik itu lagi-lagi terukir di wajah Damian.
Tadinya ia berpikir akan sangat mudah menghabisi nyawa Emelie. Tapi kabar terbaru itu, membuat semua rencana yang ia susun gagal. Satu-satunya yang bisa di lakukan oleh Damian adalah bekerja sama dengan Jesica untuk mengalahkan Zeorun dan Emelie.
Cuma Jesica yang memiliki harapan untuk bisa menang melawan Zeroun. Mengingat daerah kekuasaan Jesica jauh lebih luas jika dibandingkan milik Zeroun.
“Selidiki semua orang terdekat Zeroun Zein. Kita juga bisa menggunakan orang-orang terdekatnya untuk membuat pria itu menjadi lemah,” sambung Damian dengan wajah penuh percaya diri.
“Aku ingin semua info tentang Zeroun Zein.”
“Baik, Pangeran.” Supir itu mengingat semua perintah Damian. Tidak ingin ada yang terlupakan satupun.
Kini, bukan hanya Zeroun. Semua orang yang berhubungan dengan hidup Zeroun akan masuk dalam list target Damian. Pria itu tidak lagi mencerminkan sifat seorang pemimpin kerajaan. Kekuasaan dan harta sudah merubah jati dirinya menjadi seorang ibl*s.
Tidak ada lagi rasa toleransi atau persaudaraan di dalam hatinya. Yang ada di dalam pikiran Damian hanya ambisi yang harus segera ia menangkan. Pria itu tidak ingin menerima kegagalan lagi. Untuk babak selanjutnya ia ingin memenangkan pertarungan itu.
Mobil Damian pergi meninggalkan Kota Cambridge. Pria itu mengatur tempat persembunyian Adriana saat wanita itu dibebaskan. Bala bantuan akan datang besok pagi. Setelah Jesica tiba, maka ia bisa kembali memeluk sang kekasih yang sangat ia cintai.
Vote, like, komen...
biar author semangat.
Terima Kasih untuk Reader setia.
Love u Pulll....💗