Moving On

Moving On
Tidak terselamatkan



“Aku yang lebih dulu mengenalnya dan mencintainya. Tapi Ratu memilihmu sebagai calon istrinya." Adriana teris-terusan meluapkan emosi di dalam hatinya. Sudah lama ia ingin mengungkapkan isi hatinya itu.


“Kau tidak bisa menyalahkanku terus-terusan, Adriana. Jangan membuat posisimu seolah orang yang paling sedih di antara kita. Kau yang memulai semua ini. Jika saja sejak awal kau menceritakan semuanya, maka semua ini tidak akan terjadi.” Sudah tidak tertarik lagi untuk menembak Adriana saat mendengar tentang utang budi itu.


“Emelie, jika memang aku harus mati hari ini aku tidak mau mati sendirian. Kita harus mati bersama-sama,” ucap Adriana sebelum berlari kencang ke arah Emelie. Wanita itu berniat membawa tubuh Emelie bersamanya jatuh dari atas gedung. Tubuh mereka berdua melayang. Bahkan pistol yang di genggam Emelie terhempas dan terbang melayang juga. Dengan gerakan cepat, Emelie mundur beberapa langkah.


Damian dan Zeroun memandang kejadian itu dengan mata melebar. Dua pria itu berlari untuk menyelamatkan wanita yang mereka cintai secara bersamaan.


Emelie terus berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dari atas gedung itu. Kedua lengannya kini sudah di pegang erat oleh Adriana.


“Adriana, apa yang kau lakukan,” teriak Emelie di sela-sela usahanya untuk tetap bertahan pada posisi itu.


“Aku membencimu, Emelie. Walaupun kau mati, aku tidak akan memaafkanmu. Aku membencimu,” ucap Adriana sambil meneteskan air mata. Wanita itu berusaha keras untuk mendorong tubuh Emelie agar bisa jatuh sama-sama di atas gedung. Sebenarnya wanita itu sudah sangat lelah dengan pertarungan ini. Ia rindu dengan ketenangan hidup yang pernah ia jalani. Ia rindu pelukan hangat seorang kakak yang selama ini selalu ia dapatkan. Namun, rasa sakit hatinya menghilangkan perasaan itu semua.


Emelie menahan tubuhnya dengan kaki yang bertumpuh pada beton berukuran setengah meter. Wanita itu memutar tubuhnya hingga posisi mereka tertukar. Kali ini Adriana yang berada di ujung gedung itu dengan sajian ketingian yang begitu menyeramkan.


Dari atas gedung itu, mobil-mobil terlihat sangat kecil. Jika mereka benar-benar harus terjatuh maka tubuh mereka akan tergeletak di jalanan yang di penuhi mobil-mobil itu. Melihat dari ketinggian gedung juga bisa di pastikan. Siapapun yang jatuh tidak akan mungkin untuk selamat.


“Maafkan aku, Adriana,” ucap Emelie dengan satu tetes air mata. Wanita itu berusaha untuk menarik tubuh Adriana agar mereka berdua sama-sama selamat. Tapi, sayangnya posisi Adriana terlalu minggir. Wanita itu tidak siap untuk menahan tubuhnya sendiri. Bahkan high heels yang cukup tinggi yang kini ia kenakan membuat keseimbangan tubuhnya tidak lagi sama.


Adriana melayang di udara saat tangannya terlepas dari cengkraman Emelie. Wanita itu mengukir senyuman indah sambil memejamkan mata saat tahu dirinya tidak akan memiliki kesempatan lagi.


Di waktu yang bersamaan, Zeroun melingkarkan satu tangannya di perut Emelie. Pria itu menarik tubuh Emelie agar tidak terjatuh dari atas gedung bersamaan dengan Adriana. Setelah berhasil menjauhkan tubuh Emelie daru tepian gedung, Zeroun memeluk tubuh wanita itu dari belakang.


“Apa yang kau lakukan, Sayang.”


Napasnya seakan terhenti beberapa detik yang lalu. Kini pria itu memejamkan mata untuk mengatur debaran jantungnya yang tidak karuan. Kepalanya ia benamkan di pundak Emelie dengan napas terputus-putus. Kalau sampai ia terlambat satu detik saja, mungkin wanita yang ia cintai akan meregang nyawa bertepatan di tanggal ulang tahunnya itu. Hampir saja ia melakukan kesalahan terbodoh yang akan ia sesali seumur hidupnya.


“Adriana!” teriak Damian. Dengan tubuh bersimbah darah. Pria itu berteriak dengan suara yang dipenuhi kesedihan.


Kini tubuh Adriana telah berbaring di permukaan jalanan dengan darah yang menggenangi tubuhnya. Melihat hal mengerikan itu membuat Damian semakin murkah. Wanita yang paling ia cintai kini telah tewas bersamaan calon buah hati yang juga sangat ia nantikan kelahirannya.


Pistol yang sempat ada di lantai ia ambil dan ia arahkan langsung ke arah Emelie. Zeroun melebarkan matanya saat melihat pucuk senjata api itu lagi-lagi mengancam nyawa kekasihnya. Dengan cepat Zeroun memutar tubuhnya hingga peluru itu menancap di lengan kekar yang sebelah kanan.


Tidak ingin tembakan kedua juga melukainya. Zeroun menangkis pistol berukuran kecil itu dengan kaki kanannya. Hingga akhirnya pistol itu terpental di udara dan jatuh dari atas gedung.


“Kau pembunuh, Emelie!” teriak Damian dengan wajah memerah. Pria itu terjatuh dengan posisi berlutut di atas tumpukan debu. Air mata mengalir deras untuk mewaliki rasa kehilangan yang kini ia rasakan. “Adriana.”


Emelie juga menangis saat itu. Ia memang ingin memberi pelajaran kepada Adriana. Tapi tidak dengan cara kematian mengerikan seperti ini.


Zeroun mengangkat tubuh Emelie ke dalam gendongannya. Ia ingin membawa Emelie segera menjauh dari lokasi itu. Memasukkan tubuh Emelie ke dalam mobil. Pria itu menatap wajah Damian lagi sebelum membuka pintu mobil, “Kau memang pantas mendapatkan kesedihan seperti itu, Damian.” Ada satu senyuman tipis di sudut bibir bos mafia itu sebelum ia masuk ke dalam mobil. Zeroun mengemudikan mobilnya dengan cepat. Diikuti oleh beberapa Gold Dragon yang tersisa.