Moving On

Moving On
S2 Bab 19



Zeroun menurunkan tubuh Emelie dari gendongannya. Satu kecupan ia daratkan di pipi wanita berstatus istrinya itu. Bibirnya mengukir senyuman karena terlalu bahagia hingga tidak tahu mau berbicara apa lagi. Seperti ini menikah dan seperti ini memiliki istri. Rasanya Zeroun tidak lagi peduli dengan apapun saat ini selain istrinya. Ia sangat mencintai Emelie hingga menjadikan wanita itu prioritas utama di hatinya.


Sama halnya dengan Emelie. Walau ia sendiri akan menjabat sebagai seorang Ratu di istananya nanti. Tapi, tetap saja baginya Zeroun adalah sosok pemimpin yang selalu ia patuhi dan ia hormati. Emelie sangat mencintai Zeroun hingga membuat dirinya sangat bersyukur sudah terlahir di dunia ini dan bertemu dengan Zeroun. Hari-hari pernikahannya masih terasa seperti mimpi karena terlalu bahagia.


“Sayang, apa kau suka dengan kamar ini?” bisik Zeroun sambil memeluk tubuh Emelie dari belakang. Pria itu juga tidak tahu kalau kamar tidurnya kini telah di dekor dengan suasana romantis dan memang di peruntukan pengantin baru seperti mereka.


“Aku sangat suka. Kamar ini sangat indah. Tapi, aku tidak terlalu kaget melihat kamarnya. Karena aku sudah cukup yakin sejak awal, kalau kau pasti akan menyiapkan kamar seperti ini nantinya,” jawab Emelie dengan tawa kecil.


“Bukan aku yang memintanya. Ini bonus dari hotel,” jawab Zeroun dengan tawa kecil.


“Benarkah?” Alis Emelie saling bertaut karena ia tidak percaya jika dekorasi kamar itu tidak ada campur tangan suaminya.


Zeroun mengangguk. Kali ini memang ia sendiri tidak ikut campur. Bagi Zeroun, apapun bentuk kamarnya. Selama ada tempat tidur, maka semua terasa sempurna, “Aku hanya butuh kau tidak ada yang lain.”


Emelie lagi-lagi harus merona malu. Wanita itu memutar tubuhnya lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Zeroun, “Aku juga sangat membutuhkanmu.”


Emelie melekatkan bibirnya di bibir Zeroun untuk memberi kecupan singkat. Wanita itu mengukir senyuman sambil membuka satu persatu kemeja yang di kenakan oleh Zeroun, “Ayo kita mandi. Aku sudah tidak sabar untuk melihat kejutan berikutnya.”


Zeroun menaikan satu alisnya saat melihat sikap berani istrinya. Bibirnya mengukir senyuman sebelum menarik pinggang Emelie, “Kita harus berkeringat dulu baru mandi bersama di sana. Bukankah tempat tidur itu cukup sayang jika tidak di tiduri.”


Emelie menundukkan kepalanya. Seluruh kancing kemeja Zeroun telah terbuka. Sesekali ia melirik tubuh berotot suaminya dengan wajah malu-malu. Di tambah lagi, kalimat ajakan yang baru saja di ucapkan oleh Zeroun.


“Kau semakin menggoda jika pipimu merona seperti ini, Sayang.” Zeroun menarik kepala Emelie agar posisi wanita itu pas untuknya. Satu ciuman mesra ia daratkan di bibir Emelie dalam durasi yang cukup lama. Satu tangan Zeroun mulai membuka resleting gaun Emelie agar bisa melihat dengan jelas tubuh mulus istrinya.


Emelie memejamkan mata sambil menjambak rambut Zeroun. Secara spontan, wanita itu menurunkan kepala Zeroun lalu memintanya menyentuh bagian lain. Cumbuan Zeroun memang selalu memabukkan. Sentuhan seorang suami yang di penuhi dengan cinta menjadi satu sentuhan yang membuat Emelie sangat bahagia.


Emelie tidak pernah bisa menolak keinginan suaminya. Seluruh hati dan tubuhnya memang hanya untuk Zeroun. Walau tubuh masih terasa lelah karena terlalu lama di perjalanan. Tidak bisa menghalangi niat Zeroun dan Emelie untuk memadu kasih. Seperti itulah bentuk ungkapan cinta mereka setelah menikah. Tubuh mereka telah bebas bersentuhan dan bebas melakukan apa saja. Termasuk bercinta berulang kali dalam sehari.


Namun, untuk adegan pembuka selama bulan madu tidak semulus adegan-adegan sebelumnya. Suara ponsel Zeroun yang berdering secara mendadak, membuat Zeroun harus mengumpat kesal di dalam hati. Wajah pria itu di penuhi api amarah. Ingin sekali ia membunuh si pengganggu jika ada di depan mata.


Emelie tertawa kecil sambil memakai kembali gaun yang sudah terbuka dan memamerkan bagian dadanya. Wanita itu mengusap lembut pipi Zeroun dengan mesra.


“Jangan seperti itu. Kau harus tersenyum saat mengangkat telepon,” ucap Emelie. Wanita itu memandang layar ponsel Zeroun yang baru saja di keluarkan dari dalam saku.


“Kenzo?” celetuk Zeroun sebelum melekatkan ponselnya di telinga.


“Ada apa? Jika bukan hal yang penting, aku akan membunuhmu,” ujar Zeroun dengan wajah kesal. Sejak menikah dengan Shabira, Kenzo memang selalu saja muncul dan mengganggu hidupnya.


[Apa aku mengganggu kebersamaan di bulan madumu hingga kau marah seperti ini?] jawab Kenzo dengan tawa bahagia.


Zeroun memandang wajah Emelie dengan seksama, “Katakan apa yang kau inginkan.”


[Morgan. Apa kau ingat dengan Morgan? Dia musuh Lukas.]


[Kita telah membebaskannya saat di penjara. Aku baru saja tahu dari anak buahku. Sungguh sial! Lukas pasti dalam masalah saat ini. Apa dia ada memberimu kabar tentang ini?] Suara Kenzo mulai diselimuti keseriusan.


Zeroun mengusap wajah pipi Emelie sebelum menurunkan ponselnya, “Sayang, sebaiknya kau mandi duluan. Aku akan menyusul nanti.”


Emelie melirik ponsel yang di turunkan Zeroun. Ia cukup tahu, kalau adegan mesra mereka tidak akan berlangsung lagi. Dengan bibir tersenyum Emelie mengangguk setuju. Wanita itu pergi ke arah kamar mandi untuk mandi lebih dulu.


Setelah melihat Emelie telah masuk ke dalam kamar mandi, Zeroun melekatkan kembali ponselnya di telinga. Kali ini menyangkut Lukas. Hal apapun yang menyangkut nama Lukas akan menjadi hal yang cukup serius bagi Zeroun.


“Dimana pria itu sekarang?” tanya Zeroun sambil berjalan menuju ke arah jendela.


[Spanyo]


Zeroun mengukir senyuman. Satu kebetulan yang membuat satu keuntungan tersendiri baginya. Memang setelah puas bermain di Dubai, ia akan mengunjungi Spanyol bersama Emelie.


“Aku akan membereskannya nanti,” jawab Zeroun dengan senyuman penuh arti. Bahkan sebelum menyerang saja, Zeroun sudah cukup yakin akan menang. Karena saat ini musuh yang ia hadapi hanya sebuah gangster. Bukan bos mafia besar seperti biasanya.


[Tidak semudah itu. Kau sudah menikah dengan Emelie. Kau juga sudah menyandang status Pangeran saat ini. Namamu sudah menjadi sorotan semua orang. Penyerangan ini akan memiliki resiko besar dengan jabatan dan tahta yang di miliki Emelie. Apa kau siap dengan semua itu?]


Zeroun termenung beberapa saat. Semua yang di katakan Kenzo memang benar. Dengan jabatannya sebagai seorang Pangeran, ia tidak bisa berbuat sesuka hati. Di tambah lagi, selama bulan madu. Paman Arnold telah mengirim banyak pengawal kerajaan untuk melindunginya dan Emelie.


[Semua orang belum tahu kalau kau seorang Bos Mafia. Jika sampai ada yang tahu dan memiliki bukti. Maka habislah kau!] ucap Kenzo dengan nada yang tidak bisa pelan lagi.


“Apa kau punya rencana?”


[Tentu saja punya. Aku akan mengirim orang untuk membantu Lukas dan Aku juga akan turun tangan jika memang masalahnya cukup serius. Kurang baik apa aku sebagai Adik ipar?] Ada tawa renyah yang terdengar. Kenzo merasa cukup bangga dengan jasa yang ia tawarkan saat itu.


“Jika kau membantu Lukas, itu akan membuat Serena dan yang lainnya tahu. Aku tidak ingin mengganggu hidup Serena lagi. Biar aku yang mengatasi semuanya dengan caraku sendiri. Kau tetap di Sapporo menjaga Shabira.” Zeroun mengatur napasnya yang terasa cukup berat.


[Kau yakin?]


“Ya. Apa kau tidak percaya dengan kemampuanku?”


[Ya. Kau yang paling hebat. Kabari aku segera saat kau butuh pertolongan.]


Kenzo memutuskan panggilan teleponnya. Zeroun memandang layar ponselnya beberapa detik sebelum menggenggam ponsel miliknya. Wajah pria itu diselimuti rasa bersalah karena sudah membebaskan musuh bawahannya sendiri.


“Morgan? Jika tidak ada yang membantunya, aku cukup yakin kalau Lukas sendiri akan berhasil mengalahkannya.”


Zeroun memutar tubuhnya lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Pria itu tidak mau terlalu pusing memikirkan masalah di momen bulan madunya. Walaupun terasa cukup sulit saat bersikap pura-pura tidak tahu. Apa lagi masalah ini berhubungan dengan Lukas.