Moving On

Moving On
Royal Wedding



Malam yang indah dengan gemerlap lampu dan dekorasi bunga yang cukup menawan. Resepsi pesta pernikahan Zeroun dan Emelie di adakan di dalam gedung istana. Ada banyak tamu dari kalangan kelas elit dan beberapa rekan bisnis Zeroun yang hadir.



Sepasang pengantin berdiri di depan kue tart pengantin yang cukup indah. Mereka akan memotong kue itu secara bersamaan di depan semua tamu. Suasana malam itu semakin romantis saat alunan musik terdengar dengan merdu. Zeroun dan Emelie saling bersuapan kue tart yang baru saja mereka potong.


Setelah acara potong kue, sepasang pengantin berdansa di tengah-tengah kerumunan tamu. Malam itu Emelie menggunakan gaun yang tidak terlalu panjang seperti siang dan saat pernikahan. Malam ini adalah gaun ketiga yang ia gunakan sejak akad pernikahan yang ia jalani. Malam itu Zeroun mengenakan jas hitam yang cukup elegan.



Zeroun menggandeng pinggang Emelie dengan begitu mesra. Bibirnya tersenyum bahagia sambil menatap wajah cantik Emelie yang berdiri di hadapannya. Emelie mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang milik Zeroun. Wanita itu juga mengukir senyuman yang tidak kalah indah dari Zeroun.


“Aku sangat bahagia malam ini,” ucap Emelie dengan wajah berseri, “Terima kasih karena kau telah memilihku sebagai wanita terakhir dalam hidupmu Zeroun Zein.”


“Terima kasih karena memilihku menjadi lelaki pertamamu, Sayang.” Zeroun menarik pinggang Emelie agar wanita itu semakin mendekat dengannya. Dengan gerakan lembut bibirnya mulai menyentuh bibir Emelie yang sejak tadi cukup menggoda.


Lagi-lagi sorak tepuk tangan terdengar dengan begitu meriah. Dansa sepasang pengantin baru itu memang sedang di saksikan semua tamu undangan.


“I love you, Baby,” ucap Zeroun saat kecupan mesranya telah berakhir.


“I love you to, Baby,” jawab Emelie sebelum melepas kedua tangannya yang ada di leher Zeroun. Wanita itu memilih menggandeng lengan Zeroun sambil melambaikan tangan kepada semua tamu undangan. Wajahnya hanya memancarkan kebahagiaan malam itu.


Beberapa saat kemudian.


Pesta pernikahan berjalan dengan lancar dan sempurna. Para tamu undangan telah meninggalkan lokasi pesta. Sedangkan Serena dan Daniel masih bertahan di istana. Mereka akan tinggal beberapa hari di Inggris untuk menikmati keindahan London bersama dua baby kembar. Sepasang suami istri itu juga berencana untuk pulang ke Sapporo bersamaan dengan Shabira dan Kenzo.


Emelie terlihat bahagia berbincang dengan beberapa putri kerajaan yang masih tersisa di lokasi pesta. Zeroun mengukir senyuman saat melihat istrinya dari jarak jauh. Lelaki itu tidak ingin mengganggu kesenangan Emelie. Ia lebih memilih mencari Daniel dan yang lainnya yang belum tidur dan duduk di suatu tempat.


.


.


.


Lokasi taman belakang yang di penuhi lampu-lampu yang cukup terang menjadi pilihan Serena dan yang lainnya. Lagi-lagi ada banyak anggur merah di atas meja tempat mereka berkumpul. Kali ini keluarga mereka telah bertambah. Biao, Tama dan yang lainnya sudah pulang sejak sore. Mereka memiliki banyak urusan yang tidak bisa di tinggalan walau hanya satu hari.


“Kak, apa baby Al dan baby El sudah tidur?” tanya Shabira sambil meneguk air putih yang ada di atas meja. Wanita itu harus menahan hasratnya untuk meneguk anggur merah yang cukup menggiurkan. Ia tidak ingin mencelakai anak yang ada di dalam kandungannya.


“Ya. Mereka sudah tidur di kamar. Ada baby sister dan beberapa pelayan yang di pilihkan Emelie untuk menjaga mereka berdua.” Serena meneguk minuman kaleng yang ada di hadapannya.


“Apa kalian memilih untuk bersenang-senang tanpaku?” ucap Zeroun dari kejauhan.


Semua orang yang mengelilingi meja memandang wajah Zeroun. Ada senyum bahagia saat akhirnya mereka bisa bertemu langsung dengan pengantin yang sedang berbahagia. Sejak tiba di lokasi pernikahan, sangat sulit bagi Serena dan Daniel berbincang langsung dengan Emelie dan Zeroun. Mereka hanya bisa mengucapkan kalimat selamat sebelum berpisah tadinya.


“Dimana Kak Emelie, Kak?” tanya Shabira dengan wajah mencari.


“Dia masih berkumpul dengan beberapa putri kerajaan lainnya,” ucap Zeroun sebelum duduk di salah satu kursi yang ada di sampig Daniel. Lelaki itu menatap wajah Daniel sekilas sebelum menuang wine ke dalam dua gelas kristal, “Maafkan aku karena tidak memperdulikan kalian hari ini.” Zeroun memberikan satu gelas kepada Daniel sebelum meneguk gelas yang menjadi miliknya.


“Ya. Kau mengalami perubahan yang cukup jauh. Dari bos mafia menjadi seorang Pangeran. Kami pasti bisa mengerti kesulitan yang kini kau alami,” ucap Daniel sebelum menepuk pelan pundak Zeroun.


Zeroun mengangguk pelan, “Aku hanya tidak ingin membuatnya dalam kesulitan. Aku tidak ingin membuatnya memilih antara aku dan kerajaan ini.”


“Apa kau tidak bahagia dengan jabatan barumu sebagai seorang Pangeran?” ucap Daniel sambil mengeryitan dahi.


Zeroun menaikan kedua bahunya secara bersamaan, “Itu bukan status baru yang terbilang buruk. Aku suka mencoba hal-hal baru yang jauh lebih menantang,” jawab Zeroun dengan senyuman.


Daniel tertawa saat mendengar jawaban dari Zeroun, “Kalian lebih cocok di sebut Mafia pengsiun,” ucapnya dengan gelak tawa yang tak tertahan lagi.


Mendengar kalimat yang di ucapkan Daniel, semua orang ikut tertawa terbahak-bahak. Kenzo yang tidak mau kalah juga mengeluarkan kata untuk meledek Zeroun malam itu. Pria itu menatap wajah Shabira lalu mengusap lembut pipi istrinya.


“Baby, aku sangat mencintaimu. Apa kau juga sangat mencintaiku?” ucap Kenzo sambil melirik sekilas kepada Zeroun. Tatapan pria itu sudah cukup menunjukkan satu gertakan kepada Zeroun. Ada Daniel di meja itu. Ceo makanan ringan itu tidak akan melepaskan Zeroun begitu saja saat Kenzo memberi tahu sebutan mesra Zeroun dan Emelie selama ini.


“Baby?” celetuk Serena dengan alis terangkat, “Apa sejak hamil Shabira berubah menjadi wanita manja?” ledek Serena dengan tawa kecilnya.


“Serena, apa aku cocok memanggil Shabira dengan sebutan Baby?” tanya Kenzo dengan senyum tertahan. Shabira mendaratkan satu cubitan di perut suaminya. Ia sudah cukup paham dengan kejahilan Kenzo malam itu.


“Tentu saja cocok. Kau memang pria yang cukup manis dan cocok menyebutkan kata manis itu,” jawab Serena sambil meneguk minuman kalengnya yang masih berisi.


“Kalau Zeroun yang mengatakannya bagaimana?” sambung Kenzo lagi.


Serena tersedak seketika. Wanita itu menatap wajah Kenzo dengan seksama sebelum meletakkan minuman kalengnya di atas meja, “Tentu saja tidak cocok. Zeroun pria yang cukup dingin dan tangguh. Sangat aneh jika ia menyebutkan kata manis seperti itu.” Serena melirik wajah Zeroun dengan senyuman kecil.


Zeroun hanya bisa mengatur napasnya yang terasa sesak. Ia ingin segera berlari agar bisa menjauh dari lokasi itu. Bahkan pria tangguh itu cukup menyesal sudah memilih duduk bersama dengan Serena dan yang lainnya di taman.


Lana menahan tawa saat mendengar kalimat yang telah di ucapkan oleh Serena dan Kenzo. Wanita itu mengambil segelas wine yang ada di hadapannya lalu meneguknya dengan penuh penghayatan.


Lukas melirik wajah Lana sekilas. Ia masih menyimpan rasa kesal malam itu. di tambah lagi, Lana belum juga mau menjelaskan semua yang terjadi secara jelas dan terperinci. Namun, ia tidak ingin Lana mabuk dan tidak sadarkan diri.


“Jangan minum terlalu banyak,” ucap Lukas dengan suara yang cukup pelan. Bahkan kalimat yang ia ucapkan hanya bisa di dengar oleh Lana.


Lana mengukir senyuman saat mendengar kalimat itu. Dengan segera ia meletakkan kembali minuman itu di atas meja. Lana memilih untuk meneguk minuman kaleng yang sama dengan Serena agar terhindar dari minuman beralkohol.


“Bukankah jika aku mabuk kau bisa mengorek informasi yang jujur dariku?” sindir Lana dengan sebelah mata berkedip.


Lukas tidak lagi mau menjawab pertanyaan Lana. Pria itu lebih memilih untuk mendengar drama selanjutnya yang akan terjadi kepada bos yang selalu ia hormati.


Kenzo tertawa terbahak-bahak saat mendengar jawaban yang diucapkan oleh Serena, “Apa kau tidak tahu kalau sebenarnya.”


“Sayang, apa itu lucu? Kau tertawa sendirian. Kami tidak mengerti apa yang kau tertawakan malam ini,” ucap Shabira dengan mesra. Wanita itu sengaja menghentikan perkataan Kenzo agar tidak memojokkan Zeroun malam itu.


Serena menggeleng pelan saat mendengar tawa Kenzo. Wanita itu menatap wajah Zeroun yang sejak tadi mulai salah tingkah. Ada senyum kecil di sudut bibirnya, “Baby?” celetuk Serena dengan nada yang sedikit meninggi.


Zeroun juga menatap wajah Serena. Lelaki itu mengangkat kedua bahunya dengan bibir tersenyum.


“Apa yang terjadi dengan kata baby? baby itu milik kedua buah hatiku. Baby Al dan Baby El,” potong Daniel dengan wajah mulai kesal. Ia tidak mengerti dengan apa yang kini di bahas antara Kenzo, Serena dan Zeroun.


“Baby, apa aku terlalu lama meninggalkanmu?”