
Pagi hari di kota Salvador. Angin berhembus dengan sangat kencang. Cuaca terlihat sangat cerah hari ini. Emelie bangun dari tidurnya sambil mengukir senyuman indah. Wanita itu duduk sambil meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat lelah. Sejenak Emelie melamun sambil membayangkan kejutan ulang tahunnya tadi malam. Wanita itu langsung menatap kado yang telah tersedia di samping bantal tidurnya.
“Kadoku,” ucapnya penuh semangat. Emelie meraih kado itu dan menatapnya dengan seksama. Kotak kado itu berwarna hitam dengan sebuah pita yang berwarna hitam juga. Belum melihat isinya saja sudah membuat jantung Emelie berdetak cepat. Dengan hati-hati ia menarik pita hitam agar bisa membuka tutup kotaknya. Ia sudah tidak sabar untuk melihat kado yang diberikan oleh Zeroun.
“Apapun isinya. Pasti akan aku jadikan benda favoritku,” ucap Emelie pelan sebelum membuka tutup kotak yang berwarna hitam. Di dalam kotak itu, Emelie menemukan kotak lagi yang berbentuk persegi. Dengan jantung yang berdebar-debar, Emelie mengeluarkan box kecil yang ada di dalam kotak kardus kecil itu.
Ada sebuah kalung berlian yang sangat indah di dalamnya. Emelie mengeluarkan kalung berlian itu dengan hati-hati. Ia tidak pernah menyangka, kalau kekasihnya akan memberinya hadiah yang memiliki nilai cukup fantastis seperti itu. Kalung berlian itu memiliki batu permata berwarna biru tua dengan beberapa permata berwarna putih yang melingkarinya. Bentuknya sedikit oval. Pantulan cahaya dari jendela membuat berlian itu semakin bercahaya.
Emelie beranjak dari tempat tidurnya dengan gerakan cepat. Setelah memakai sandal, Emelie berlari menuju ke arah cermin. Emelie melekatkan kalung itu di leher jenjangnya. Bibirnya mengukir senyuman indah saat itu.
“Ini sangat indah,” ucap Emelie dengan senyuman yang cukup indah.
Tiba-tiba suara pintu terbuka. Zeroun muncul dengan beberapa sarapan di tangannya. Pria itu mengukir senyuman saat melihat kekasihnya baru saja bangun tidur.
Emelie memutar tubuhnya untuk memandang wajah Zeroun. Wanita itu menggenggam kalung pemberian Zeroun sebelum berjalan pelan.
“Aku sangat suka dengan kalung ini,” ucap Emelie dengan senyuman indah.
“Benarkah?” ucap Zeroun dengan senyuman kecil, “Aku tidak tahu, bagaimana selera putri raja sepertimu, Emelie.” Zeroun meletakkan sarapan itu di atas meja. Ia duduk di sofa sambil memandang wajah Emelie yang kini berdiri di hadapannya.
“Apa kau mau tahu?” Emelie duduk di sofa yang sama dengan Zeroun.
Zeroun mengangguk pelan, “Ya, tentu saja aku mau tahu. Apa yang kau suka dan apa yang tidak kau suka.”
“Semua benda yang kau berikan adalah benda yang paling aku suka,” jawab Emelie cepat.
“Lalu, apa yang tidak kau suka?”
“Kau!” jawab Emelie sambil memandang kalung itu lagi.
“Aku?” tanya Zeroun sambil mengeryitkan dahi.
“Satu-satunya hal yang tidak aku suka saat kau pergi meninggalkanku. Aku tidak mau kau pergi, Zeroun.” Emelie menatap wajah Zeroun dengan seksama.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, Emelie. Sekarang cepat habiskan sarapanmu. Kita akan segera berangkat untuk jalan-jalan.”
“Jalan-jalan? Kemana?” tanya Emelie dengan wajah bingung. Sudah hampir satu minggu ia berada di dalam rumah baru itu. Hatinya juga cukup bahagia saat hari ini Zeroun ingin mengajaknya untuk jalan-jalan.
“Kota Rio,” jawab Zeroun dengan senyuman penuh arti, “Kau akan melihat kado keduamu di sana.”
“Kota Rio?” ucap Emelie untuk kembali memastikan. Ia tahu, di tempat itu semua musuh Zeroun tinggal. Bagaimana mungkin hari ini Zeroun ingin mengajaknya untuk berkunjung ke kota yang dipenuhi musuh bebuyutan kekasihnya. Di tambah lagi kado kedua. Emelie tidak mau kadi keduanya diberikan di kota itu.
“Hei, jangan melamun. Cepat habiskan sarapanmu. Aku akan menunggumu di bawah, Emelie.” Zeroun mengecup pucuk kepala Emelie sebelum pergi meninggalkan kamar itu.
Di dalam kamar, Emelie masih mematung dengan wajah penuh tanya, “Untuk apa Zeroun membawaku ke kota itu lagi?”
Beberapa saat kemudian. Emelie menuruni anak tangga dengan gerakan cepat. Wanita itu mengenakan gaun berwarna putih dengan high heels berwarna hitam. Kalung yang menjadi hadiah ulang tahun untuknya juga Ia kenakan untuk menyempurnakan penampilannya pagi itu.
Di lantai bawah. Zeroun sudah bersiap untuk pergi. Pria itu menggenggam senjata api di tangannya sambil mengukir senyuman yang cukup indah.
“Pagi, Sayang. Kau terlihat sangat cantik hari ini.” Zeroun berjalan mendekati posisi Emelie berdiri.
“Apa kita akan pergi bertarung hari ini?” tanya Emelie dengan ragu-ragu.
“Kita hanya jalan-jalan. Pistol ini hanya untuk jaga-jaga,” jawab Zeroun dengan ekspresi yang cukup menyakinkan.
Emelie mengangguk pelan. Mengukir senyuman indah walaupun di dalam hatinya masih belum percaya.
“Ayo kita berangkat.” Zeroun menarik tangan Emelie, membawanya pergi meninggalkan rumah itu. Di halaman depan sudah ada beberapa pasukan Gold Dragon yang berbaris. Wajah sangar anggota mafia itu cukup membuat Emelie merasa merinding. Wajah-wajah Gold Dragon kali ini lebih menyeramkan dari biasanya.
Namun, saat Zeroun dan Emelie keluar dari dalam rumah. Semua pria berwajah sangar itu kini membungkuk hormat sambil mengucapkan salam. Salah satu dari pria menyeramkan itu berjalan untuk mendekati Zeroun.
“Mereka sudah berangkat, Bos.” Pria sangar itu memberi kabar tentang keberadaan Lukas. Sejak pukul empat pagi tadi, Lukas dan Lana memang sudah ada di dalam perjalanan menuju ke Monako. Misi mereka hari ini harus berjalan secara bersamaan. Lukas menguasai Monako sedangkan Zeroun menguasai kota Rio. Zeroun akan membuat Damian sangat sibuk hari ini hingga ia tidak tahu bagaimana keadaan kasino miliknya yang ada di Monako.
“Dimana Lana?” tanya Emelie sambil mencari-cari. Biasanya wanita tangguh itu selalu berdiri tidak jauh dari posisinya berada. Tapi pagi ini, Emelie tidak bisa menemukan wanita tangguh itu di sampingnya.
“Lana sedang bersama Lukas, Sayang. Ada beberapa hal penting yang harus mereka kerjakan. Mereka akan segera kembali beberapa hari lagi.”
Emelie membisu beberapa saat. Wanita itu memperhatikan pasukan Gold Dragon yang kini menyimpan bahan peledak dan senjata api di bagasi mobil. Suasana yang dilihat Emelie pagi itu sangat mirip dengan persiapan sebelum pergi perang. Hati Emelie semakin di selimuti rasa curiga.
“Ayo kita berangkat,” ucap Zeroun sambil menarik pinggang Emelie. Membawa wanita itu berjalan menuju ke arah mobil. Emelie memandang wajah Zeroun sejenak sebelum masuk ke dalam mobil. Hatinya mulai merasakan firasat yang tidak enak. Aura kekasihnya juga terlihat sangat berbeda jika di bandingkan dengan hari-hari sebelumnya.
Walaupun Zeroun mengukir senyuman untuknya. Emelie merasa ada sesuatu yang kini sedang di rencanakan oleh pria tangguh itu.
“Apa kita benar akan jalan-jalan atau bertempur?” celetuk Emelie pelan saat Zeroun sudah duduk di depan kemudi.
“Kita hanya akan jalan-jalan,” jawab Zeroun cepat masih dengan kalimat yang sama.
Zeroun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Langit cerah pagi itu mengawali aktifitasnya untuk berkunjung ke kota Rio. Zeroun sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Damian. Bukan hanya Damian, Zeroun juga sudah mengatur satu rencana agar Adriana juga ada di lokasi yang sudah ia rencanakan. Bos mafia itu bukan hanya dendam dengan Damian. Tapi ia juga dendam dengan Adriana. Zeroun ingin segera menghabisi siapa saja yang pernah membuat kekasihnya meneteskan air mata. Jika Emelie tidak bisa melakukannya sendiri, maka Zeroun yang akan melakukannya demi Emelie.
Zeroun ingin, Adriana juga merasakan penderitaan yang lebih kejam daripada penderitaan yang selama ini di rasakan oleh Emelie.
Aku akan membuat mereka membayar semua perbuatannya hari ini, Sayang.
Like dan vote ya reader. buat yang belum baca cerita Biao, silahkan di baca.
Author tamati dulu Mafia's in Love ya. Setelah itu kita akan sering update banyak lagi.😉
Tanggal 31 Uda tamat kok. Jadi tgl 1 aku janji akan update 3 bab buat Moving On. Soalnya Uda masuk part Action, GK seru juga kalau cuma satu bab perhari. yang paling penting, readerku kudu sabar🤣