Moving On

Moving On
Persembunyian



Brazil.


Lukas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tiga mobil milik Gold Dragon juga megiringinya dari belakang. Sesekali, tangan kanan Zeroun Zein itu memandang Emelie dari balik kaca spion. Ia masih penasaran dengan hubungan bosnya dengan wanita kerajaan itu. Ada rasa ingin bertanya, namun tidak berani. Jika menyangkut soal hati, tidak akan mudah untuk bertanya langsung dengan Zeroun Zein.


“Bos Lukas. Kenapa dari tadi kau menatap wajahku? apa hari ini Aku terlihat sangat cantik?” ledek Emelie dengan tawa kecil.


Lukas membisu tanpa berani membantah. Aksinya yang sembunyi-sembunyi telah diketahui oleh Emelie. Zeroun yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, kini memandang ke arah depan. Wajahnya terlihat serius saat memandang ke arah Lukas.


“Bos, maafkan saya.” Lukas tahu arti tatapan Zeroun pagi itu.


Zeroun memandang wajah Emelie dengan seksama. Ia tahu, kini tangan kanannya itu pasti penasaran dengan keberadaan Emelie.


“Zeroun, apa ini lokasi rumah kita? kenapa terlihat sangat meyeramkan?” Emelie memandang lokasi yang di tumbuhi rumput-rumput yang tinggi.


Tidak hanya itu, rumah itu terlihat tidak terawat dan sangat kotor. Tempat tinggal mereka seperti gedung yang terbengkalai. Di halamannya di tumbuhi rumput-rumput yang menghalangi pandangan mata. Beberapa Gold Dragon berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan Zeroun.


Lana juga berdiri di sana. Wanita tangguh itu menatap dengan serius saat Emelie turun dari dalam mobil.


Lukas memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Zeroun dan Emelie turun dari mobil secara bersamaan saat pintu mobil terbuka.


“Kemarilah,” ucap Zeroun sambil memandang Emelie yang sejak tadi mematung. Putri Kerajaan itu tidak percaya dengan lokasi yang kini akan ia tempati. Lokasi itu bisa dibilang rumah hantu yang begitu menyeramkan.


“Apa ini benar-benar rumah?” ucap Emelie pelan saat Lukas berdiri di sampingnya.


Lukas hanya menunduk tidak berani menjawab. Di tambah lagi, Zeroun kini berdiri tidak jauh dari posisinya.


“Emelie,” ucap Zeroun yang mulai kesal.


Emelie berjalan cepat mendekati Zeroun. Tanpa permisi, Zeroun menggandeng pinggang Emelie membawa wanita itu masuk ke dalam. Seluruh pasukan Gold Dragon menunduk sambil mengucapkan selamat pagi. Senjata api melekat rapi di samping pinggang Gold Dragon.


‘Apa berpacaran seperti ini? sungguh manis dan sangat bahagia.


Lagi-lagi Emelie berbunga-bunga saat tubuhnya berada tidak jauh dari posisi Zeroun. Ia merasa seperti wanita yang akan selalu dilindungi oleh Zeroun. Pipinya merona malu dengan kepala yang menunduk. Satu senyuman terukir indah di wajah Emelie untuk mewakili hatinya yang sangat bahagia.


Langkah Emelie terhenti saat melihat isi rumah itu. Matanya terbelalak kaget, saat melihat kemewahan yang tertata rapi di dalamnya. Ia tidak pernah menyangka, kalau di dalam rumah terbengkalai itu di dalamnya adalah sebuah istana yang sangat megah.


“Bos, kami sudah mengganti kacanya dengan kaca anti peluru. Menyiapkan beberapa perlengkapan di ruangan bawah tanah.” Lukas menjelaskan semua persiapan yang sudah ia kerjakan selama beberapa hari ini.


“Lana,” teriak Zeroun. Dalam waktu sekejab, wanita berpakaian hitam-hitam itu muncul di hadapan Zeroun. Membungkuk hormat dan siap untuk menerima perintah Zeroun.


“Bawa Emelie ke kamar. Ada urusan yang harus Aku selesaikan.” Zeroun melepaskan pinggang Emelie. Menyentuh rambut Emelie dengan begitu lembut.


“Istirahatlah. Apapun yang kau perlukan. Minta pada Lana, dia akan membantumu.”


Emelie mengangguk setuju, “Setelah ini kita akan jalan-jalan bukan?” Wajah Emelie terlihat berseri.


“Ya, kau bisa memikirkan tempat yang bagus untuk di kunjungi. Kita akan berkunjung ke tempat itu.”


“Mari, Nona.” Lana memberi jalan kepada Emelie.


“Baiklah, Aku memiliki banyak tempat impian di Brazil. Aku akan memikirkan tempat yang paling bagus untuk dikunjungi pertama kali.” Emelie berjalan ke arah tangga dengan wajah bahagia. Putri Kerajaan itu benar-benar tidak tahu dengan masalah besar yang dimiliki oleh Zeroun saat ini.


Zeroun memandang kepergian Emelie dengan satu senyuman kecil. Bahkan ia tidak menyadari, jika sejak awal Lukas dan Gold Dragon memandangnya dengan senyuman bahagia. Tidak ada wajah serius dan menyeramkan pagi itu. Semua itu disebabkan oleh wajah polos Emelie yang begitu menggemaskan.


“Apa malam ini kita sudah bisa memulainya?” Zeroun memasang ekspresi dingin sambil terus berjalan mengikuti beberapa pasukan Gold Dragon.


“Malam ini Heels Devils akan mencuri chip berharga. Chip itu berisi serangkaian kode yang menunjuk ke suatu wilayah persembunyian senjata milik Amerika.”


“Kita harus melihat aksi mereka malam ini. Saat Hells Devils ingin mencuri senjata itu, kita juga harus ada di sana untuk merebut apa yang ingin mereka ambil.”


“Baik, Bos.” Lukas membuka pintu yang menghubungkan ke markas bawah tanah. Ada tangga yang menyambut mereka di balik pintu cokelat itu.


“Silahkan, Bos.”


Zeroun berjalan lebih dulu menuruni anak tangga. Lukas dan beberapa Gold Dragon mengikuti langkahnya dari belakang.


Ruangan itu terlihat terang dengan sofa di tengah-tengahnya. Ada lemari yang berisi senjata laras panjang untuk para sniper. Di dinding yang bercat cokelat, ada banyak pistol dan belati yang tersusun rapi.


Zeroun berjalan ke arah meja besar yang memiliki banyak laci. Menarik salah satu laci untuk melihat isinya. Ada banyak peluru dari berbagai ukuran di dalam laci itu. Ada senyum puas dari bibir Zeroun atas kerja keras Lukas selama beberapa hari ini.


“Bagaimana dengan bahan peledak?” Zeroun menatap wajah Lukas dengan serius.


“Di sini, Bos.” Lukas menekan satu tombol untuk membuka satu pintu rahasia di ruangan itu. Pintu itu terbuka dan menampakkan isinya. Seperti sebuah lemari yang tersembunyi. Ada banyak bahan peledak dengan berbagai bentuk di dalamnya. Mulai dari tingkat ledakan kecil hingga yang paling besar.


“Sejauh ini, senjata kita sudah cukup stabil, Bos. Tapi, jika Hells Devils berhasil mencuri chip itu dan mengambil seluruh senjata yang disembunyikan, kita akan kalah dengan jumlah senjata yang mereka miliki.”


“Kita juga harus bisa mendapatkan senjata baru buatan Amerika.” Zeroun berjalan ke arah sofa. Memikirkan strategi yang pas untuk penyerangan mereka malam ini.


“Apa Jesica sudah kembali?”


“Jesica masih di dalam perjalanan, Bos. Dia akan tiba di Brazil nanti malam. Semua sudah ia susun dengan begitu rapi, Bos.”


“Bos, bagaimana dengan Putri Emelie. Apa anda ingin membawanya?”


“Emelie ingin jalan-jalan. Ia pasti akan sangat bahagia, jika kita membawanya jalan-jalan nanti malam.”


“Bos, Tapi ....”


“Mulai sekarang, kau harus melindunginya seperti kau melindungiku, Lukas.” Zeroun menatap wajah Lukas dengan tatapan tajam.


“Baik, Bos.” Lukas tidak lagi berani membantah.


“Pergilah, Aku ingin istirahat di ruangan ini.” Zeroun menyandarkan tubuhnya di atas sofa yang empuk itu. Mengangkat kedua kakinya di atas meja kaca.


“Baik, Bos.”


Lukas membawa Gold Dragon untuk meninggalkan Zeroun sendirian di ruangan itu. Walaupun tidak memiliki ventilasi udara, tapi ruangan itu tetap terasa segar dan nyaman. Lukas memang mempersiapkan ruangan itu sebagai ruang pribadi milik Zeroun. Di sudut ruangan itu juga ada lemari yang berisi aneka wine dan gelas kristal. Semua minuman kesukaan Zeroun ada di dalam lemari kaca itu.


Vote, like, komen...


biar author semangat.


Terima Kasih untuk Reader setia.


Love u Pulll....💗