Moving On

Moving On
S2 Bab 66



Di jalanan yang sunyi dan diselimuti kabut malam, mobil Lukas dan Morgan saling kejar-kejaran. Pasukan milik mereka telah tertinggal jauh. Lukas tidak tahu kenapa Morgan cukup keras kepala mengejarnya.


Tapi, Lukas tidak terlalu memperdulikan mobil Morgan yang kini ada di belakangnya. Pria itu memakai kemeja putih yang ada di dalam mobil. Mengancing satu persatu kacing kemejanya sambil tetap kosentrasi pada jalanan di depan.


Ponsel Lukas berdering. Ada nama Kenzo di dalam layar ponselnya. Tanpa mau menunggu, Lukas melekatkan ponselnya di telinga. Pria itu melirik ke arah mobil Morgan melalui spion.


“Kita gagal. Pesawat itu berangkat setelah aku tiba!” ucap Kenzo dengan napas yang terputus-putus. Jika di dengar dari nada bicara Kenzo sudah bisa di pastikan kalau pria itu baru saja melewati pertarungan yang cukup menguras tenaga.


Lukas hanya diam membisu mendengar kabar buruk yang baru saja diucapkan oleh Kenzo. Pria itu merasa kecewa dan patah semangat. Ia tidak sanggup untuk pulang ke markas hanya dengan kegagalan. Ia tidak ingin Lana tersiksa lebih lama lagi.


“Lukas, apa kau mendengarku?” ucap Kenzo saat Lukas tidak mengeluarkan satu katapun.


“Ya, Bos. Saya dengar apa yang anda katakan.” Lukas menginjak pedal gasnya lalu memutar stir mobilnya. Jika malam ini ia tidak berhasil mendapatkan penawar untuk Lana, setidaknya ia berhasil merenggut nyawa Morgan.


“Apa kau baik-baik saja? Aku dalam perjalanan pulang ke markas. Soal penawar itu, sebaiknya besok kita bicarakan lagi dengan Zeroun. Aku cukup yakin, kalau penawar itu akan segera kita dapatkan.”


“Ya, Bos.”


Setelah mendengar jawaban singkat Lukas, Kenzo memutuskan panggilan teleponnya. Lukas menggenggam stir mobilnya dengan begitu kuat. Ponselnya telah tergeletak bebas di atas dashboard mobil.


Morgan menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Pria itu mengukir senyuman. Ia sudah lebih dulu tahu kalau orang yang di cari Lukas dan Kenzo telah berhasil kabur. Pria itu cukup yakin, kalau kali ini pertarungannya dengan Lukas dialah pemenangnya.


“Kau harus membayar mata yang pernah kau rusak, Lukas.” Morgan menggenggam stir mobilnya. Pria itu menekan-nekan gas mobilnya sebagai sebuah aba-aba.


Lukas tetap di dalam mobil dengan posisi menghalangi. Wajahnya tampak kaget saat melihat segerombolan orang menodongkan senjata api ke arah mobilnya. Spanyol memang benar-benar rumah bagi Morgan. Kemana saja pria itu berdiri selalu saja ada orang yang berada dipihak Morgan. Posisi Lukas malam itu terpojokkan. Ia tidak mendapatkan bantuan dari siapapun. Menghubungi Kenzo juga tidak ada waktu lagi.


Morgan keluar dari dalam mobil. Pria itu masih belum puas dengan pertarungannya yang sempat gagal bersama dengan Lukas tadinya. Sama halnya dengan Lukas. Pria itu juga keluar dari dalam mobil.


Beberapa pasukan Gold Dragon yang baru saja tiba kembali membantu Lukas. Mereka menghujani pasukan Morgan dengan pukulan yang cukup menyakitkan. Lukas juga terlihat bertarung untuk menghabisi pasukan Morgan yang berusaha melukai tubuhnya.


“Kau memang pria yang hebat dan cukup kuat,” ucap Morgan sambil memandang Lukas yang masih terlihat bersemangat saat bertarung.


Lukas berhasil mengalahkan satu persatu pasukan Morgan yang berusaha untuk mencelakainya. Pria itu kini belari kencang untuk menyerang Morgan, Tidak ada lagi kata maaf bagi Morgan kali ini. Lukas tidak lagi mau membiarkan Morgan bebas malam itu.


Morgan sudah bersiap untuk menyambut pukulan Lukas. Pria itu memutar tubuhnya lalu memberikan tendangan. Tapi, kakinya berhasil di tahan oleh Lukas. Lukas mendorong tubuh Morgan hingga pria itu berada dalam posisi tergeletak di bagian depan mobil.


Lukas menghujani Morgan dengan pukulan yang tanpa ampun. Genggamannya cukup kuat dan dipenuhi dendam. Morgan melalukan tendangan dengan kaki. Kali ini tendangannya berhasil membuat Lukas kesakitan. Bagaimana tidak. Bagian terpenting pria itu yang mendapat tendangan dari Morgan.


Morgan berdiri sambil membersihkan darah di sudut bibirnya. Tubuhnya di penuhi dengan keringat yang terus saja berkucur deras. Wajahnya sudah di penuhi luka akibat pukulan dari Lukas. Dari kejauhan, masih terdengar jelas pasukan milik Morgan dan Lukas yang sedang bertarung.


Lukas menatap wajah Morgan dengan kesal. Pria itu kembali maju untuk membalas perbuatan Morgan. Malam itu Morgan berbuat curang. Pria itu mengeluarkan sebuah belati secara tiba-tiba dan melayangkannya ke arah lengan Lukas.


Morgan menyayat lengan Lukas. Setelah melihat sobekan pada kulit lengan Lukas, Morgan menekan luka itu dengan tangannya hingga membuat Lukas merasakan sakit yang luar biasa.


Morgan mendorong tubuh Lukas dengan sekuat tenaga. Tangan Morgan di penuhi darah yang berasal dari lengan Lukas, “Malam ini aku yang menang!”


“Apa kau berhasil mendapatkannya?” ucap Zeroun tanpa mau memandang.


“Ini penawarnya, Bos,” ucap pria itu sambil memberikan botol kecil berisi cairan bening, “Saya menemukan benda itu di dalam kamar Morgan. Saya sempat melihat Morgan menyimpan penawar itu. Walau sebagian lagi sudah ia buang.”


“Kerja bagus,” ucap Zeroun dengan ekspresi dingin favoritnya. Pria itu menerima penawar untuk Lana dan memasukkannya ke dalam saku.


“Bos, ada hal lain yang bisa saya lakukan?” ucap pria itu dengan wajah penuh harap.


“Tidak ada. Kembalilah. Jangan sampai Morgan tahu kalau kau adalah orangku.” Zeroun kembali mengatur bidikan sniper yang ada di tangannya.


“Baik, Bos.” Pria itu membungkuk lagi sebelum pergi meninggalkan Zeroun sendirian di tempat itu.


“Pria yang cukup menyedihkan. Aku tahu, dia tidak tega melakukan hal itu kepada Lana. Tapi, untuk apa ia memberikan racun aneh seperti itu hanya untuk menyiksa wanita yang ia benci.”


Zeroun mengukir senyuman kecil sebelum menarik pelatuk snipernya. Pria itu ingin memberi hadiah pada kaki Morgan sebuah timah panas. Hanya hal seperti itu yang bisa ia lakukan untuk membantu Lukas.


Lukas tergeletak di atas tanah. Morgan berdiri di hadapannya. Pria itu mengacungkan belati kecil dan siap menusuk mata Lukas.


“Kau pernah membuatku buta. Malam ini kau harus merasakan hal yang sama seperti apa yang pernah aku rasakan dulu.” Morgan memainkan belati itu. Ia sudah tidak sabar untuk melukai mata Lukas dan membuat pria itu buta.


Tapi, tiba-tiba saja langkah Morgan terhenti. Kakinya mengeluarkan darah yang segar. Morgan menunduk untuk melihat kakinya yang tiba-tiba terluka. Detik itu ia sadar kalau sejak tadi ada yang mengincarnya dari jarak jauh. Hingga akhirnya tanpa ia sadari, sebuah peluru menancap di kakinya.


Lukas memanfaatkan kesempatan itu. Ia berdiri lalu memberi satu tendangan di kaki Morgan hingga membuat Morgan terjatuh dan terlihat tidak berdaya di permukaan tanah.


“Aku sudah pernah bilang, kalau kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku!” ucap Lukas dengan senyuman tipis.


Morgan menatap wajah Lukas dengan seksama. Ada tawa kecil di bibir Morgan malam itu. Ia tahu kini ia sudah kalah. Kapan saja penembak rahasia milik Lukas menembaknya maka ia akan mati.


“Apa kau mau membunuhku malam ini?” ucap Morgan dengan nada menantang.


Lukas tidak ingin menjawab lagi. Kali ini gantian pria tangguh itu yang memainkan senjata tajamnya dan siap untuk menusuk lawannya. Tapi, dari kejauhan terdengar suara tembakan yang cukup memekakan telinga.


Lukas mengganti senjata tajamnya dengan sebuah pistol. Pria itu membalas tembakan yang berusaha menyerangnya. Dari kejauhan, Zeroun terus membantu Lukas dengan menembak secara diam-diam.


Morgan mengeluarkan bom asap. Ia tidak tahu, siapa yang baru saja muncul untuk menolongnya. Yang terpenting bagi Morgan malam itu adalah kabur. Memang seperti itu sifat Morgan sejak dulu. Kabur di detik-detik kekalahan ingin menghampirinya.


Lukas tidak dapat melihat apapun saat asap putih itu menghalangi pandangannya. Ia terus saja mengeluarkan tembakan yang tidak tentu arah. Hingga tiba-tiba asap itu hilang bersamaan orang-orang yang baru saja muncul menyerangnya.


“Shi*t!” umpat Lukas kesal. Pria itu mengamuk dengan hati kecewa. Ia tidak berhasil merenggut nyawa Morgan dan tidak juga berhasil mendapatkan penawar Lana. Lukas tidak tahu, kalau secara diam-diam Zeroun telah menolongnya untuk mendapatkan penawar itu bahkan telah berhasil.


Dari kejauhan, Zeroun menurunkan senjata apinya. Wajahnya tampak bingung, “Siapa mereka?” ucapnya penuh tanda tanya, “Sepertinya pertarungan selanjutnya akan segera terjadi.”