
Zeroun terlihat bingung dengan laju mobil Kenzo yang tiba-tiba berubah. Pria itu juga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengikuti kemana Kenzo pergi malam ini.
Emelie hanya menunduk tanpa mau memandang mobil yang ada di depannya. Wanita itu juga tidak tahu, kemana malam ini mereka akan pergi. Jemarinya saling bertaut . Wajahnya tampak gelisah. Ia sangat takut jika Zeroun malam itu marah padanya.
“Maafkan aku,” ucap Emelie masih dengan wajah menunduk.
“Sayang, jangan bersedih seperti itu. Aku tidak akan menyalahkanmu. Aku hanya tidak ingin tanganmu kotor. Itu saja,” ucap Zeroun sambil tetap kosentrasi pada laju mobilnya.
Emelie memandang wajah Zeroun dengan seksama, “Sama halnya denganku. Aku tidak mau melihatmu berada dalam posisi yang cukup sulit.”
Zeroun meraih tangan Emelie. Pria itu mengecup punggung tangan Emelie berulang kali, “Terima kasih, Baby. Aku tidak tahu kau bisa seberani itu. Keputusan itu cukup sulit. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa tadi.”
Emelie menjatuhkan kepalanya di pundak Zeroun. Kedua matanya terpejam dengan senyum kecil yang indah, “Semua akan baik-baik saja. Aku juga tidak suka melihat wanita itu. Bukankah mia mencintaimu? Anggap saja aku menembaknya karena cemburu.”
Zeroun mengukir senyuman sebelum mendaratkan bibirnya di pucuk kepala Emelie. Ia menambah laju mobilnya saat melihat Kenzo lebih cepat lagi mengendarai mobil. Ada rasa kesal dan tidak suka saat melihat kelakuan Kenzo malam itu.
“Apa dia tidak berpikir kalau Shabira sedang hamil besar?” umpat Zeroun kesal.
“Apa mereka bertengkar?” ucap Emelie dengan wajah yang tidak kalah khawatir dari Zeroun.
“Sayang, berpeganganlah. Aku akan menghalangi laju mobilnya. Aku akan memberinya satu peringatan.” Zeroun mengatur posisi menyetirnya. Ia berniat untuk menghentikan laju mobil Kenzo. Hatinya cukup khawatir melihat adik kandungnya ada di dalam mobil yang kini sedang melaju dengan kecepatan tinggi.
Tidak sulit bagi Zeroun untuk mengimbangi laju mobil Kenzo malam itu. Dengan sedikit trik saja mobil Zeroun sudah berhasil menyalip dan berada di depan mobil Kenzo. Setelah menemukan lokasi yang pas, Zeroun menghadang mobil Kenzo agar berhenti. Pria itu keluar dari dalam mobil bersamaan dengan Emelie.
Lukas yang baru saja tiba juga menghentikan laju mobilnya di belakang mobil Kenzo. Pria itu keluar dari dalam mobil bersamaan dengan Lana.
Kenzo membuka kaca mobilnya dengan wajah protes. Ia menatap wajah Zeroun dan Emelie yang kini ada di samping mobilnya.
“Zeroun, kenapa kau menghalangiku. Apa kau tahu kalau aku harus segera tiba di rumah sakit!” protes Kenzo dengan wajah yang sangat panik.
“Rumah sakit?” celetuk Zeroun dan Emelie secara bersamaan.
“Shabira. Perutnya sangat sakit. Aku tidak tahu apa yang kini terjadi padanya,” sambung Kenzo sebelum memundurkan mobilnya. Pria itu menutup kembali kaca mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak mau membuang-buang waktu jika itu menyangkut istri dan anak tercintanya.
Zeroun dan Emelie saling memandang satu sama lain. Mereka terlihat panik lalu berlari masuk kembali ke dalam mobil. Sedangkan Lukas dan Lana. Sepasang kekasih itu terlihat kesal karena tidak tahu apa yang terjadi. Mobil Zeroun tiba-tiba berhenti sebelum tiba-tiba melaju lagi.
“Apa terjadi sesuatu?” ucap Lana sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
***
Beberapa saat kemudian, Rumah Sakit.
Mobil Zeroun, Kenzo dan Lukas berhenti di depan rumah sakit. Ketiga mobil itu berbaris rapi. Bahkan penghuni di dalamnya juga keluar dalam hitungan waktu yang sama. Kecuali Shabira. Wanita itu tetap duduk di dalam mobil dengan wajah menahan sakit.
Kenzo membuka pintu mobil lalu mengangkat tubuh Shabira ke dalam gendongannya.. Seorang perawat berlari dengan brangkar yang di dorong di hadapannya. Brangkar itu untuk Shabira.
Kenzo meletakkan tubuh Shabira di atas brangkar sebelum akhirnya brangkar itu di dorong masuk ke dalam IGD.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Zeroun dengan ekspresi wajah yang cukup serius.
“Aku juga tidak tahu. Dia tiba-tiba mengatakan kalau perutnya sakit.” Kenzo tampak stress dengan keadaan yang saat itu ia alami. Pria itu duduk di sebuh kursi sebelum menjambak rambutnya, “Shi*t! Aku yakin ada yang memberi tahu Shabira tentang rahasia ini.”
Emelie dan Lana saling memandang dengan tatapan penuh kode. Dua wanita itu berusaha menutupi kehadiran Inspektur Tao. Mereka tidak ingin ada masalah baru muncul malam itu.
Zeroun dan Lukas melirik wajah wanita yang mereka cintai. Tanpa meminta penjelasan saja dua pria itu sudah cukup paham kalau wanita yang mereka cintai telah menyimpan satu rahasia saat itu. Tapi, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, Zeroun lebih memilih diam dan tidak mau bertanya.
Lorong itu menjadi sunyi seketika saat semua orang lebih memilih untuk mengunci mulut mereka. Hanya kabar Shabira yang kini ingin mereka dengar. Sisanya bisa mereka urus belakangan.
Seorang Dokter keluar dari dalam IGD dengan beberapa perawat di belakangnya. Pintu terbuka dengan lebar. Mereka ingin memindahkan Shabira ke ruang perawatan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Shabira hanya mengalami kontraksi karena terlalu stress. Dokter telah berhasil menyelamatkan kandungan Shabira agar tetap berada di dalam perut.
Kenzo memegang tangan Shabira. Wanita itu hanya diam dengan mata yang memerah karena habis menangis. Shabira membuang tatapan matanya saat melihat Zeroun berada di dekatnya. Wanita itu cukup kecewa dengan keputusan dan rencana Zeroun malam itu.
Emelie hanya berdiri mematung pada posisinya. Ia tidak berani mendekati Shabira. Wanita itu hanya berani melihat wajah Shabira dari kejauhan. Lana yang selalu menemani Emelie. Wanita itu berdiri di samping Emelie seolah mengerti dengan apa yang dipikirkan Emelie malam itu.
“Nona, anda harus mengganti pakaian anda. Saya akan membawakan baju yang kering. Anda bisa sakit jika mengenakan pakaian basah seperti ini.” Lana memegang pundak Emelie dengan ragu-ragu. Ia tidak berani berbuat lancang. Tapi, malam itu ia juga sangat ingin memeluk tubuh Emelie. Ia ingin menjadi tempat Emelie melampiaskan kesedihannya.
“Aku wanita yang cukup bodoh. Seharusnya aku bisa mencegah semuanya tadi agar Zetta tidak melihat kejadian itu.” Emelie memeluk tubuh Lana. Tangisnya pecah karena hatinya sangat sedih melihat wajah sedih Shabira malam itu.
Lana mengusap lembut punggung Emelie, “Nona, tenanglah. Anda tidak boleh bersedih hingga seperti ini. Kita akan menjelaskan semuanya kepada Nona Zetta. Nona Zetta wanita yang cukup baik. Ia pasti mengerti dengan semua keputusan yang hari ini di ambil oleh Bos Zeroun. Semua pasti akan baik-baik saja.”
Lukas berdiri tidak jauh dari posisi Emelie dan Lana berada. Pria itu memutuskan untuk tetap berada di lorong itu. Ia tidak ingin ikut dengan Kenzo dan Zeroun yang saat itu pergi ke lantai lain untuk mengantarkan Shabira pindah ruangan.