Moving On

Moving On
S2 Bab 74



Lana kembali menutup pintu ruangan itu. Ia menghentikan langkah kakinya saat Emelie berhenti di tengah jalan. Wanita itu mengeryitkan dahinya dengan wajah bingung. Kedua bola matanya beralih kepada Shabira yang kini dalam posisi miring. Terdengar suara isak tangis wanita itu.


“Kak, mereka membohongiku. Aku cukup kecewa kepada mereka,” ucap Shabira di sela-sela isak tangisnya.


Emelie menunduk sambil berpikir. Namun, dalam hitungan detik ia telah mengerti siapa lawan bicara Shabira malam itu, “Serena. Ya, hanya Serena wanita yang cukup dekat dengannya.”


Emelie memutar tubuhnya. Ia tidak ingin mengganggu obrolan antara Shabira dan Serena. Wanita itu lebih memilih untuk mengalah dan pergi dari ruangan itu. Lana menatap wajah Emelie dengan rasa kasihan. Ia tahu kalau kini istri bosnya sedang bersedih. Ia juga pasti cukup cemburu karena adik iparnya jauh lebih dekat dengan Serena.


“Kak,” ucap Shabira dengan suara yang serak.


Emelie memejamkan mata. Satu tangannya berada di depan dada dengan hati yang sangat-sangat luka. Sapaan lembut Shabira malam itu cukup indah. Sayangnya sapaan itu bukan untuknya.


Lana memegang lengan Emelie. Wanita itu menggeleng kepalanya pelan sebelum membuat tubuh Emelie kembali berputar. Shabira duduk di atas tempat tidur sambil memandang wajah Emelie. Wanita itu menangis dengan wajah yang sedih.


“Peluk aku,” sambung Shabira dengan tetes air mata yang semakin deras.


Emelie meneteskan air mata bahagia. Wanita itu berlari kencang untuk memeluk tubuh adik iparnya. Ia bahagia. Bahkan sangat-sangat bahagia. Emelie tidak menyangka kalau masih bisa mendapat perlakuan lembut Shabira seperti itu.


“Maafkan aku, Zetta.” Emelie mengusap lembut rambut Shabira. Wanita menangis seolah menyesali semua kebohongannya selama ini. Apapun keadannya, memang kejujuran adalah hal yang penting. Dalam keadaan apapun itu.


Shabira memejamkan mata sambil memeluk tubuh Emelie dengan begitu erat. Masih mengiang jelas di dalam pikirannya kalimat yang diucapkan Serena di telepon tadi.


“Apa kau merindukanku? Kau menangis karena kau merindukanku atau karena kehilangan Mia?” ucap Serena dengan suara yang cukup lembut.


“Aku menangis karena merindukan Kakak,” jawab Shabira dengan suara yang cukup menyedihkan.


“Apa kau yakin?” Serena semakin menekan kalimat yang baru saja ia katakan.


“Ya. Aku menangis karena merindukan Kakak. Gak tahu kenapa, malam ini aku sangat membutuhkan Kak Erena.”


“Aku ada di sampingmu,” jawab Serena dengan penuh ketulusan, “Selama aku tidak ada di sampingmu. Emelie akan mewakili tubuhku untuk memeluk dan menerima keluh kesalmu. Emelie ada di sana bukan? Dia sama sepertiku. Kami sama-sama menyayangi dan mencintaimu. Tidak terlebih lagi Zeroun. Semua orang menyayangimu. Hidup kita memang selalu seperti ini. Bukankah kehilangan adalah hal yang sudah cukup sering kita rasakan?”


“Aku tidak menyalahkan Kakak. Aku tahu, semua yang terbaik untukku,” jawab Shabira dengan tetes air mata yang masih deras.


Emelie menghapus setiap tetes air mata yang jatuh membasahi wajah adik iparnya. Wanita itu juga sedih melihat Shabira seperti itu, “Mia bukan wanita yang baik. Ia yang membuat Lana seperti itu. Bahkan ia juga memiliki niat untuk mencelakaiku dan merebut Zeroun dariku.”


Walau cukup pahit dan sulit di terima. Tapi, Shabira berusaha mendengarkan cerita Emelie malam itu. Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang akhirnya merugikan dirinya sendiri, “Kak, Maafkan aku.”


Emelie menggeleng pelan sebelum memeluk lagi tubuh Shabira, “Apa Serena yang membujukmu?”


Shabira mengangguk pelan, “Aku menyayangi kalian semua.”


“Ya. Aku cukup paham bagaimana posisimu saat ini. Cukup sulit membenci orang yang kita sayangi walau kita sudah tahu kejahatannya.” Entah kenapa, nasip yang kini menimpah Shabira kembali mengingatkannya kepada Adriana. Wanita jahat dan licik dengan sejuta rencana jahat. Walau seperti itu, hingga detik ini Emelie tidak bisa melupakan Adriana. Nama wanita itu selalu abadi di dalam hatinya menjadi sosok adik yang pernah ia sayangi bahkan sangat ia cintai.


“Aku tidak bisa berpikir jernih tadi.” Shabira menatap wajah Emelie dengan seksama.


Shabira mengangguk pelan, “Ya. Aku mau menemui mereka. Walau aku masih sedikit kesal karena mereka telah membohogiku.”


Emelie mengukir senyuman kecil. Ia menatap wajah Lana untuk memberi satu perintah, “Panggilkan Zeroun dan Kenzo, Lana.”


“Baik, Nona.” Lana mengangguk pelan sebelum berjalan ke arah pintu. Wanita itu terlihat bahagia karena masalah yang di hadapi oleh atasannya cepat diselesaikan.


Tidak menunggu waktu yang lama. Setelah Lana keluar dari ruangan itu dan menutup kembali pintu dari luar. Di saat itu juga Kenzo dan Zeroun muncul. Dua pria itu cukup bahagia karena bisa di panggil masuk ke dalam.


“Sayang, apa kau sudah memaafkanku?” ucap Kenzo dengan wajah berseri.


“Zetta, maafkan Kakak.” Zeroun juga tidak mau kalah dalam membujuk adiknya.


Shabira menunduk, “Katakan apa lagi yang tidak aku ketahui. Aku tidak ingin tahu dari orang lain lagi.”


Emelie duduk di pinggiran tempat tidur. Tangan Shabira yang bebas dari jarum infuse telah ada di atas pangkuannya. Ia mengelusnya dengan lembut.


“Zeroun yang mengetahui semuanya, Sayang. Aku hanya sebagai bawahan yang menurut saja.” Kenzo tidak tahu harus bercerita dari sudut mana. Dari pada salah lagi, Kenzo memutuskan untuk menyerahkan masalah itu kepada ahlinya.


Zeroun melirik Kenzo dengan tatapan tidak suka. Bisa di bilang Adik iparnya yang satu ini cukup durhaka.


“Zeroun, katakan semuanya. Kasian Zetta jika harus memikirkan masalah seperti ini terus-terusan.” Emelie menatap wajah Zeroun dengan penuh harapan.


Zeroun menghela napas sebelum mengeluarkan kata, “Zetta, keluarga Alexander adalah keluarga yang mengangkat Mia sejak kecil. Karena satu kesalahan dan dendam pribadi, Mia telah memanfaatkanmu waktu itu. Ia mengajakmu untuk membantai keluarga Alexander. Setelah pembantaian itu, kau menjadi buronan karena Mia menjebakmu. Ia menggunakan namamu untuk memmbersihkan namanya sendiri. Inspektur Tao juga hadir dalam hidup Mia dan memabantu wanita itu untuk menyembunyikan identitasnya.”


“Aku seharusnya tahu dan bisa membedakan mana sahabat yang tulus dan mana yang hanya ingin memanfaatkanku.” Shabira tampak sedih dan kecewa saat membayangkan kejahatan yang telah dirancang Mia untuk dirinya.


“Mia mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia. Inspektur Tao hanya menceritakan perbuatannya terhadap keluarga Alexander agar dia mau operasi plastik dan menghilangkan jejak. Padahal rencana Inspektur Tao saat itu agar kau dan Mia tidak lagi bertemu dan menjalin hubungan baik.” Zeroun memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Sudah cukup cerita yang memang ingin ia beri tahu Shabira sejak kemarin-kemarin.


“Sayang, sekarang apa kau percaya kalau Mia adalah wanita yang jahat?”


Shabira mengangguk pelan, “Ya. Maafkan aku. Sepertinya aku yang pantas menembaknya tadi. Bukan Kak Emelie.”


Emelie mengukir senyuman dengan napas yang lega. Wanita itu beranjak dari tempat tidur yang ia duduki lalu memeluk tubuh Zeroun dengan mesra. Sama halnya dengan Kenzo. Pria itu juga memilih untuk memeluk Shabira dengan penuh cinta. Tidak ada lagi masalah yang harus mereka pusingkan. Semua telah teratasi dengan sempurna.


Emeli mencari-cari keberadaan Lana. Wanita itu tidak lagi masuk ke dalam ruangan bersama dengan dirinya. Kejadian beberapa hari yang lalu cukup membuat trauma bagi Emelie, “Zeroun, dimana Lana?”


.


.


Yang masih bingung cara penilaian komennya. Jadi kalau up tiga bab kalau ada satu aja komennya di salah satu bab itu gpp. Masih di hitung. Tapi, kalau missal up tanggal 12 komennya tgl 13, maka di anggap gagal ya. Yuk, Vote yang banyak biar dpt Tumber atau Mug cantik.