Moving On

Moving On
Wasiat Ratu



Emelie duduk di kursi yang ada di ruang utama. Beberapa keluarga kerajaan berkumpul mengelilingi meja besar itu. Adriana duduk di samping Emelie. Semua sorot mata terpusat pada wajah Emelie. Ada perasaan kesal dan bingung atas kelakuan Emelie malam itu.


“Putri, kita akan mendengar wasiat terakhir Yang Mulia. Kenapa Putri kabur dari rumah?” Adriana memegang tangan Emelie dengan akting sok perhatian. Membuat semua anggota keluarga menyimpan simpati terhadap dirinya saat itu.


“Saya hanya rindu pada Yang Mulia,” jawab Emelie dengan ekspresi datar.


“Putri Emelie, apa anda baik-baik saja? Siapa pria yang ingin mencelakai Putri? Apa anda kenal dengan orang itu?” tanya salah satu anggota keluarga dengan wajah khawatir.


Emelie menggeleng pelan, ”Aku tidak mengenalnya. Pria itu menggunakan masker yang menutupi wajahnya.” Emelie kembali teringat dengan kelakuan Zeroun yang terlihat tidak biasa. Ada rasa curiga di dalam hatinya.


Sial, kenapa mereka membahas kecelakaan Ratu lagi. Jika Emelie tahu pria itu kini buronan, semua akan menjadi berantakan.


Adriana terlihat sangat panik. Jika salah satu anggota keluarga kembali menceritakan surat penangkapan untuk Zeroun. Maka Emelie akan menggagalkan penangkapan Zeroun detik itu juga. Tidak ingin semua rencananya gagal, Adriana mengeluarkan kata untuk melupakan masalah itu.


“Sebaiknya kita beri waktu kepada pengacara untuk berbicara,” sambung Adriana cepat.


Emelie memandang pengacara itu dengan tatapan tidak tertarik. Sejak dulu, ia hanya butuh kasih sayang. Bukan harta dan tahta seperti yang diperebutkan saat ini.


Pengacara itu berdiri sambil memegang surat yang sudah di siapkan oleh Ratu. Bibirnya tersenyum sebelum mengeluarkan kata. Semua menerima keputusan yang dibaca oleh pengacara itu.


Tidak dengan Adriana. Wanita itu mengumpat di dalam hati saat isi wasiat itu satu persatu dibacakan oleh pengacara Ratu. Semua keputusan Ratu hanya menguntungkan Emelie sepihak.


Untuk apa harta? sejak dulu aku hanya butuh kasih sayang. Cuma kasih sayang yang tidak bisa diperebutkan di istana ini. Kenapa mereka harus membahas semua ini saat liburan ibu belum juga kering. Entah kenapa, hatiku semakin luka dan terasa perih. Apapun isinya aku tidak akan berkata terima kasih.


Sedangkan Emelie terlihat tidak tertarik dengan isi surat itu walaupun kini semua itu akan segera menjadi miliknya.


Ratu akan menurunkan posisi Ratu kepada Emelie saat ia sudah menikah. Untuk sementara kerajaan di ambil alih oleh Paman Emelie yang juga sangat menyayangi Emelie.


Setelah Emelie menikah, semua itu akan dikembalikan kepada Emelie lagi. Sedangkan Adriana, ia tidak disebutkan sedikitpun oleh Ratu di dalam wasiat. Membuat semua orang menyimpan tanda tanya. Tidak ada yang tahu rahasia Adriana selama ini.


“Yang Mulia pernah bilang akan memberikan kekayaan yang ia miliki kepada kami berdua. Kenapa di situ hanya tertulis untuk saya saja? Apa tidak ada yang salah dari surat wasiat itu?” tanya Emelie dengan wajah serius.


“Yang Mulia menyuruh saya menukar semua isi yang pernah ia buat. Sebelum kecelakaan itu terjadi. Malam itu Yang Mulia tiba-tiba datang menemui saya dan meminta saya membuat surat ini. Sepertinya Yang Mulia sudah punya pirasat kalau hidupnya tidak lama lagi,” jawab pengacara itu sambil membungkuk hormat.


“Yang Mulia mengganti semuanya sebelum kecelakaan?” Emelie mengeryitkan dahinya.


“Benar Putri,” jawan Pengacara itu dengan penuh hormat.


Emelie memandang wajah Adriana dengan senyuman kecil. Memegang punggung tangan Adiknya, “Adriana, jangan bersedih. Aku akan membagi dua semua bagian yang aku dapat kepadamu.”


Emelie hanya bisa tersenyum kecil. Hatinya benar-benar tidak bahagia dengan keputusan itu.


‘Aku tidak terlalu menikmati harta ini jika kedua orang tuaku tidak ada lagi di dunia ini.


Ungkap Emelie di dalam hati sambil menatap surat wasiat yang ada di genggaman tangannya. Ada rasa sedih dan rindu saat Emelie memandang stempel dan tanda tangan Ratu. Baginya, Ratu masih ada di dalam Istana itu dengan kesibukan negaranya.


Setelah acara penyampaian wasiat itu selesai. Semua orang kembali ke kamar masing-masing. Emelie sangat ingin berkunjung ke kamar sang Ibunda. Wanita itu berjalan ke kamar Ratu dan Raja dengan wajah sedih.


Membuka pintu kamar berukuran besar denganpenuh hati-hati. Setelah melangkah masuk ke dalam, aliran darahnya terasa cepat. Hatinya lagi-lagi berubah sedih. Emelie memperhatikan isi kamar itu dengan seksama.


Emelie berjalan ke arah tempat tidur yang telah tertata rapi. Duduk di ujung tempat tidur sambil mengusap lembut permukaan seprei berbahan sutra itu.


“Waktu kecil, aku sangat suka tidur di kamar ini. Sekarang kamar ini sudah tidak akan berpenghuni lagi.” Emelie memandang kaca rias yang biasa digunakan Ratu untuk mempercantik diri. Hatinya sedikit tertarik untuk duduk di kursi rias itu.


Emelie membuka laci meja rias dengan wajah sedih. Ada satu surat di dalamnya. Dengan penuh curiga, Emelie mengambil surat itu. Membuka isinya dengan cepat.


Emelie sayang …


Saat Kau membaca surat ini mungkin Ibu sudah tiada. Maafkan Ibu, Ibu harus meninggalkanmu. Ibu menulis surat ini dengan penuh derai air mata dan rasa luka di hati. Emelie, dengarkan Ibu. Apapun yang terjadi, jangan pernah biarkan istana kita jatuh ke tangan orang yang jahat. Ibu tidak pernah sadar, kalau wanita yang selama ibu sayangi adalah wanita yang berhati kejam.


Ibu tidak bisa menulis banyak. Ibu takut tidak memiliki banyak waktu untuk mengurus masalah yang lain. Ingat pesan Ibu, Emelie. Adriana bukan saudara kandungmu. Jangan lagi percaya dengan dirinya.


Tangan Emelie gemetar saat memegang kertas putih yang ada di tangannya. Bagaimana mungkin, adik yang selama ini ia anggap adik kandungnya ternyata bukan saudara kandungnya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Emelie menatap wajahnya di depan kaca.


“Aku harus menyelidiki semua ini secepatnya.” Emelie menyobek surat itu hingga jadi serpihan yang tidak terbaca. Membuangnya di tong sampah.


Emelie pergi meninggalkan kamar Ratu dengan wajah tak terbaca. Satu pelayan pribadinya berdiri menunggu Emelie di depan kamar. Menunduk hormat saat Emelie keluar dari dalam kamar.


“Beri perintah kepada pengawal setia Ratu. Saya ingin bertemu dengannya.”


“Baik, Putri.” Pelayan itu membungkuk hormat.


Emelie berjalan ke arah kamar miliknya dengan tangan terkepal. Tidak tahu apa yang sudah terjadi. Tapi, sesuatu yang mencurigakan dari kematian sang Ibu berkaitan dengan nama Adriana. Dadanya dipenuhi sesak dan sulit untuk bernapas. Hatinya belum siap kalau adik yang selama ini ia sayangi terlibat dalam kematian sang Ibunda.