
Senja di sebuah gedung kumuh. Lukas dan pasukan Gold Dragon sudah berkumpul untuk menyusun rencana mereka. Pria itu berdiri di depan pasukan Gold Dragon yang kini sedang berbaris rapi. Tidak jauh dari lokasi itu, ada Lana yang terlihat mengamati. Inspektur Tao dan Agen Mia juga ada di lokasi itu. Namun, mereka berada di jarak yang cukup jauh dari posisi Lukas dan Lana berada.
Lukas memberi tahu tugas masing-masing pasukan yang kini ia pimpin. Pria itu menatap tajam satu persatu wajah anggotanya. Terutama yang di bagian depan. Hampir setiap hari pasukan yang ia miliki wajahnya berganti. Hanya tato yang kini ada di punggung tangan masing-masing anggota, yang membuat Lukas mengenali anggotanya. Satu pria dengan wajah cukup mencurigakan ada di dalam rombongan pasukan itu.
Lukas mengeryitkan dahi saat memperhatikan wajah pria itu. Di tambah lagi tidak ada tato di punggung tangannya. Tanpa menunggu lama, Lukas mengeluarkan pistol yang ia miliki. Pria itu sangat benci dengan penyusup. Ia ingin segera menghilangkan nyawa penyusup itu tanpa mau mendengarkan penjelasan pria itu lebih dulu.
“Lukas! Hentikan!” teriak Lana. Wanita itu berlari saat Lukas ingin menembak sosok pria yang sangat ia kenali. “Dia temanku. Aku bertemu dengannya tadi siang. Dia juga bisa berkelahi.”
Lukas menghela napas sambil menatap wajah Lana dengan seksama. Pria itu sangat tidak setuju dengan tindakan Lana. Apapun itu alasannya, membawa orang yang bukan pasukan pilihan Zeroun maupun dirinya sendiri maka bisa membuat rencana mereka gagal.
“Apa kau berpikir sebelum melakukannya?” Lukas memasukkan pistolnya. Menatap wajah Lana dengan tatapan sangat-sangat tajam.
“Maaf,” ucap Lana pelan. “Aku ingin memberitahumu setelah ini.”
Ponsel Lukas berdering. Pria itu menghentikan omelannya kepada Lana. Melupakan masalah yang baru saja terjadi. Tertulis nama Zeroun di layar ponselnya. Lukas berjalan menjauh dari semua orang. Pria itu melekatkan ponselnya dengan wajah serius.
“Selamat sore, Bos.”
“Malam ini atau tidak sama sekali,” ucap Zeroun singkat.
“Baik, Bos.” Panggilan terputus. Lukas menatap ke arah gedung kasino yang kini menjulang tinggi di hadapannya. Pria itu mengukir senyuman tipis saat memikirkan rencana besarnya beberapa saat kemudian.
“Lukas, apa kita harus melakukannya secepat itu?” Inspektur Tao berdiri di belakang Lukas. Di sampingnya ada Agen Mia yang juga menatap wajah Lukas dengan tatapan tidak percaya.
“Kita tidak bisa menghancurkan gedung setinggi itu dalam hitungan menit,” ucap Agen Mia dengan tangan di depan dada.
Lukas menatap wajah Inspektur Tao dan Agen Mia secara bergantian, “Aku tidak meminta kalian untuk percaya apa lagi mengikutiku hingga ke sini,” ucap Lukas sebelum epergi meninggalkan kakak beradik itu.
“Pria itu cukup menyebalkan!” umpat Agen Mia dengan wajah kesal. “Ini semua karena Kakak terlalu percaya dengan mafia seperti mereka. Kalau saja kita.”
“Stop, Mia! Kita ikuti rencana mereka. Maka semua ini akan segera berakhir secepatnya. Menghancurkan harta Damian itu sama saja menghancurkan hidupnya.” Inspektur Tao pergi meninggalkan Agen Mia sendiri. Pria itu sudah cukup bosan mendengar kalimat penolakan yang keluar dari bibir adiknya. Inspektur Tao sudah pergi sejauh ini. Ia tidak ingin pulang ke kota Rio dengan kegagalan.
Lanabersandar di dinding sambil menatap tajam wajah Agen Mia. Wanita tangguh itu mengukir senyuman menghina kepada Agen Mia. Detik ini saatnya Lana membalas semua perbuatan Agen Mia.
“Apa yang kau lihat?” Agen Mia menatap wajah Lana dengan wajah menantang. Mereka memiliki usia yang sama. Bukan hanya itu, karakter dan postur tubuh kedua wanita itu juga sama.
“Apa kau tidak suka bergabung di sini?” ledek Lana dengan tawa kecil.
“Kau tidak punya pilihan kenapa terlihat seolah memiliki banyak pilihan. Agen Mia.” Lana pergi meninggalkan Agen Mia sendiri di tempat itu. Wanita itu tidak ingin terlalu lama berada di hadapan Agen Mia.
***
Malam hari, Casino Carlos.
Lana dan Lukas sudah berada di dalam Casino yang malam itu dipenuhi banyak tamu. Dua mafia itu manatap satu persatu wajah Gold Dragon yang kini sudah berpencar di segala arah. Agen Mia dan Inspektur Tao juga sudah berada di dalam ruangan yang sama dengan Lana dan Lukas.
Beberapa pria berbadan tegab dengan kepala botak menatap curiga Lana dan Lukas. Salah satu dari Bodyguard milik Damian berjalan mendekati posisi Lana dan Lukas berada. Lukas bersiap untuk mengenggam pistol yang sudah ia persiapkan sejak awal.
Lana memegang lengan Lukas untuk mencegah pria itu, “Jangan, ini tugasku,” ucap Lana dengan senyuman.
Lana berjalan menuju ke arah bodyguard berbadan tegab yang ada di hadapannya. Wanita itu membuka jaket hitam yang ia kenakan hingga hanya tersisa kaos ketat yang memamerkan lekuk tubuhnya. Lukas mengeryitkan dahi saat melihat tingkah laku bawahannya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Honey?” ucap Lana dengan suara manja. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher pria berbadan kekar itu. rok hitamnya yang cukup pendek menjadi sasaran tangan pria yang kini ada di pelukan Lana.
Lukas menggertakkan giginya saat melihat adegan itu di hadapannya. Tidak ingin terpancing emosi, Lukas pergi meninggalkan lantai dasar casino mewah itu. Diikuti Inspektur Tao dan Agen Mia dari belakang.
Lana melirik kepergian Lukas dan timnya yang lain dengan senyuman tipis. Setidaknya teknik penggodaannya berjalan lancar.
Lukas naik ke lantai atas dengan menggunakan lift yang terletak di sudut ruangan. Setelah pintu lift terbuka di lantai tiga, Inspektur Tao dan Agen Mia keluar dari dalam lift. Mereka akan memasang lima bom di setiap lantainya. Lukas bertahan di lift itu untuk mengikuti laju lift ke lantai tertinggi. Di lantai itu nantinya ia akan memasang bom dengan ledakan cukup besar agar bisa meratakan banguna casino berbentuk istana megah itu.
Pintu lift terbuka. Dii hadapannya telah berbaris beberapa pria bersenjata yang kini mengincar nyawanya. Lukas melirik pasukan yang ia miliki kini sudah tergeletak tidak bernyawa. Ada senyum tipis di bibirnya sebelum ia mengeluarkan senjata api yang sejak tadi menemaninya.
DUARR DUAAR
Baku tembak itu pun terjadi lagi. Lukas menyelamatkan bom yang kini ada di dalam tas hitam yang sejak tadi ia bawa. Tas itu ia letakkan dengan hati-hati sebelum melawan musuh yang kini berbaris di hadapannya. Satu persatu musuhnya kalah karena terkena tembakan Lukas. Tidak puas hanya dengan tembakan, Lukas memberi hadiah lawannya dengan satu tendangan yang sangat kuat.
“Hentikan!” teriak seseorang dari kejauhan.
Tiba-tiba saja gerakannya terhenti. Segerombolan orang tiba di lantai tertinggi gedung itu dengan Agen Mia sebagai tawanan mereka.
Like sama Votenya makin sedikit🤧 Gimana aku semangat buat Crazy up Minggu ini.