Moving On

Moving On
Jebakan Part. 1



Lana membuka matanya secara perlahan. Salah satu tangannya memegang kepala yang terasa sangat sakit. Samar-samar ingatan saat gedung itu meledak kembali muncul. Lukas berlari dengan gerakan cepat sebelum menarik tubuhnya untuk melompat. Tidak lagi menggunakan tali saat melompat karena tidak ada lagi waktu yang tersisa. Mereka berdua melompat dengan bebas di udara.


Lukas mengincar kolam renang yang terbentang luas di samping gedung Kasino. Kedua tangan Lukas menggenggam erat pinggang Lana agar wanita itu tetap berada di dekat tubuhnya. Hingga beberapa detik kemudian tubuhnya terasa basah. Bahkan seluruh tubuhnya seperti di penuhi air.


“Apa kau sudah bangun?” ucap Lukas dengan wajah yang cukup menyeramkan. Ia tidak lagi mengenakan pakaian saat itu. Tato Gold Dragon di bagian dadanya terlihat dengan begitu jelas. Sejak dulu, hanya tubuh Lukas dan Zeroun yang memasang tato Gold Dragon di bagian dada.


“Apa kita masih hidup?” Lana duduk dan bersandar. Kedua bola matanya terlihat menyelidik kamar yang kini ia tempati.


Suara pintu terbuka saat Lana belum mengeluarkan kata tanya. Seorang pria yang sangat dikenali Lana berdiri di ambang pintu dengan sarapan di tangannya.


“Lana, apa kau sudah sadar?” tanyanya sambil meletakkan sarapan yang ia bawa di atas meja.


“Joy, kau selamat?” ucap Lana tidak percaya.


“Ya, aku yang menolong kalian tadi malam. Setidaknya aku cukup berjasa bukan?” Joy menyeringai menatap wajah menyeramkan milik Lukas, “Ini minumlah.” Memberikan sebotol air mineral.


“Terima kasih,” ucap Lukas pelan sambil menerima botol air mineral yang baru saja di berikan Joy padanya.


“Ya. Sama-sama, Bos Lukas.” Joy tertawa bahagia hingga memamerkan giginya yang putih.


“Aku ingin menghubungi Bos Zeroun. Apa kau bisa meminjamkan ponselmu?” Lukas menatap tajam wajah Joy yang kini berdiri di hadapannya.


“Maaf, Bos. Kita kehilangan semua barang-barang penting yang kita miliki. Termasuk ponsel dan senjata api.” Joy menunduk sedih, “Bahkan Inspektur Tao tidak menunggu kita.”


“Sekarang kita ada di mana?” tanya Lana penasaran.


“Kita masih ada di Monako. Sesuai dugaan Bos Lukas sebelumnya. Kota ini sudah terkunci dan kita tidak akan memiliki kesempatan untuk keluar dengan selamat.”


Lukas melirik sekilas ke arah Lana sebelum memasang wajah kesal, “Apa kau ingat dengan apa yang kau lakukan? Hingga akhirnya membuat kita bisa terjebak di kota ini. Kau memang wanita yang cukup ceroboh, Lana.”


Lana kembali mengingat apa yang telah ia lakukan hingga membuat dirinya mengalami semua ini, “Kalungku. Dimana kalungku,” ucap Lana dengan wajah panik.


“Ini?” Lukas memegang kalung panjang milik Lana di tangan kanannya. Tatapan kedua bola matanya cukup tajam pagi itu, “Karena sebuah kalung kau mengorbankan nyawamu?”


Lana menghela napas lega, “Terima kasih. Apa kau mau memberikannya padaku?”


Lukas melempar kalung itu dengan ekspresi dingin favoritnya. Terdengar suara sirine polisi di lantai bawah. Lukas mengintip dari balik jendela dengan tatapan waspada.


“Kita harus segera pergi dari sini,” ucap Lukas sebelum mengenakan kemeja berwarna hitam yang ia temukan di dalam lemari.


Lana menyibakkan selimut yang sempat menutupinya. Dengan gerakan cepat ia berdiri untuk berlari. Tapi, belum sempat ia melangkahkan kakinya, semua terasa seperti bergoyang. Bahkan wajah Lukas juga terlihat mulai tidak jelas.


“Lana, apa kau baik-baik saja?” Joy memegang kedua lengan Lana dengan begitu erat. Ia tidak membiarkan Lana untuk terjatuh di lantai.


Pria yang menjadi rekan Lana mengukir senyuman licik. Sejak awal, ia memang sudah memihak ke Damian. Hal itu yang membuat rencana Lukas hampir gagal tadi malam.


Maafkan aku Lana. Aku akan membuatmu tetap hidup karena kau sangat sering menolongku selama ini. Tapi, untuk pria ini. Aku terpaksa mengirim nyawanya ke Pangeran Monako. Biar Pangeran Damian yang menentukan penyiksaan yang pantas untuknya nanti.


Joy mengangkat tubuh Lana dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu. Membiarkan Lukas tergeletak agar polisi Monako bisa dengan mudah menangkapnya.


***


Kota Salvador


Zeroun menatap ke luar jendela dengan tatapan kesedihan. Satu tangannya menekan dinding yang ada di samping jendela kaca. Sudah satu hari ia menunggung. Namun, tidak juga mendapatkan kabar tentang Lana dan Lukas. Ingin sekali detik ini juga ia pergi ke Monako dan mengobrak-abrik kota itu untuk mencari keberadaan bawahannya yang hilang.


“Zeroun, apa kau baik-baik saja?” Emelie melingkarkan kedua tangannya diperut Zeroun. Menyandarkan kepalanya dengan posisi yang cukup manja.


“Sayang, aku memikirkan Lukas. Hingga sekarang, ia tidak kunjung memberi kabar.” Zeroun memegang kedua tangan Emelie.


“Apa yang sebenarnya kau rencanakan di Monako?” Emelie melepas pelukannya. Wanita itu berjalan pelan untuk bisa berdiri di hadapan Zeroun.


“Aku menghancurkan kasino Damian,” jawab Zeroun dengan suara yang sangat pelan.


“Kasino mewah itu?” tanya Emelie tidak percaya.


Zeroun mengangguk, “Kasino itu sudah hancur dan rata dengan tanah. Tapi, Lukas tidak kembali bersama Lana. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga ia tidak kembali tepat waktu.”


“Tapi, Monako wilayah kekuasaan Damian. Bagaimana bisa mereka masuk?” tanya Emelie dengan tatapan cukup serius.


“Kami memiliki perjanjian kerja sama di kasino itu. Sebelum Damian memberi perintah kepada bawahannya, kami sudah menyerang lebih dulu kasino itu.”


Emelie menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu kekasihnya saat ini. Jika semua masalah ini tidak terjadi, mungkin Emelie masih memiliki hak penuh untuk memberi perintah kepada polisi Monako.


“Emelie, jangan berpikir terlalu keras seperti itu. Biar aku yang memikirkan solusinya.” Zeroun mengangkat wajah Emelie hingga membuat mata mereka saling memandang.


“Maafkan aku karena tidak bisa membantumu dalam kesulitan, Zeroun.” Emelie memgang pipi Zeroun dengan lembut.


Zeroun mengukir senyuman kecil sebelum menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya, “Senyumanmu itu adalah kekuatan untukku, Emelie. Jadi, jangan memasang wajah sedih seperti ini.” Zeroun memejamkan mata dengan hembusan napas yang cukup berat. Untuk saat ini akan sulit bagi Zeroun untuk mengirim bala bantuan. Ia juga tidak bisa bertindak ceroboh hingga nantinya terjebak di dalam kota itu. Belum lagi masalah Jesica di kota Rio yang harus segera ia selesaikan secepatnya.


“Aku yakin. Lukas akan segera kembali ke sini. Dia pria yang cukup tangguh.”


Zeroun mempererat pelukannya. Membenamkan kepalanya di bahu Emelie hingga bisa dengan bebas mencium aroma rambut kekasihnya. Hatinya cukup sedih saat ini. Lukas segalanya bagi Zeroun. Hanya ada Lukas di dalam hidupnya selama ini. Bahkan status saudara saja tidak cukup untuk menggambarkan hubungan antara dirinya dan Lukas.


“Aku selalu berdoa agar semua baik-baik saja, Sayang.” Emelie mengusap lembut pundak Zeroun.