Moving On

Moving On
S2 Bab 68



Matahari muncul dengan begitu cerah. Menghiasi awan putih dan bentangan langit biru yang cukup indah. Angin berhembus tidak terlalu kencang. Lukas tertidur di samping tempat tidur Lana. Pria itu duduk di sebuah kursi dengan kepala di atas tempat tidur. Matanya terpejam dengan hembusan napas yang cukup teratur.


Lana mulai membuka matanya. Ia menutup wajahnya saat melihat cahaya matahari telah masuk menembus gorden yang cukup tipis. Lana tersenyum. Pagi itu tubuhnya tidak lagi merasa sakit.


Kepalanya miring untuk melihat wajah Lukas. Bibirnya tersenyum bahagia saat melihat Lukas tidur dengan tenang di sampingnya. Satu tangan Lana berada di dalam genggaman Lukas.


“Pagi,” ucap Lana dengan suara yang serak.


Lukas mulai menggerak-gerakkan matanya. Pria itu membuka matanya secara perlahan saat mendengar suara kecil Lana, “Sudah bangun? Bagaimana keadaanmu saat ini?”


“Sudah jauh lebih baik,” jawab Lana dengan wajah yang sudah memerah. Bibir Lana juga tidak lagi pucat. Senyum indah wanita itu terukir dan terlihat sangat manis.


Lukas kembali bernapas lega. Pria itu mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana dengan durasi yang cukup lama, “Aku sangat mengkhawatirkanmu, Lana.”


“Lovely, estoy aqui contigo (Aku di sini bersamamu),” celetuk Lana dengan tawa kecil, “Estoy bien cariño (Aku baik-baik saja).”


Lukas menunduk dan tertawa kecil, “Kau memang wanita yang cukup aneh. Aku tidak pernah menyangka bisa jatuh cinta padamu, Lana.”


Lana menatap wajah Lukas. Wanita itu mengusap lembut pipi Lukas dengan tangan kanannya, “Jangan tinggalkan aku. Berjanjilah kalau kita akan bersama seperti ini selamanya.”


Lukas mengangguk pelan, “Ya. Aku berjanji.” Lukas mendaratkan bibirnya di bibir Lana. Hatinya bahagia bisa melihat wanita yang ia cinta kembali pulih seperti itu. Walau Lana belum bisa menggerakkan tubuhnya dengan bebas. Tapi, senyuman Lana sudah mewakili kesehatannya.


***


Di tempat lain. Morgan duduk dengan tangan menopang kepala. Seorang pria telah babak belur di hadapannya. Morgan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Walau wajahnya juga telah di penuhi luka pagi itu.


“Bos, saya sudah mengumpulkan semua bukti. Pria ini benar penghianat yang dikirimkan Gold Dragon.” Salah satu orang kepercayaan Morgan terlihat murkah melihat sosok mata-mata yang di kirimkan oleh Zeroun.


“Apa yang ia lakukan?” tanya Morgan dengan suara yang dipenuhi tekanan. Sorot matanya cukup tajam.


“Pria ini mencuri obat penawar yang anda simpan di kamar lalu memberikannya kepada Zeroun Zein,” jawab pria itu dengan cukup yakin.


Morgan menaikan satu alisnya dengan wajah yang cukup tenang. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, “Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi. Kirimkan salah satu organ tubuhnya ke markas Gold Dragon.”


Morgan beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu lebih memilih pergi untuk menikmati cahaya matahari pagi. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Wajahnya tidak terbaca sama sekali.


“Lana? Wanita itu selalu membuat masalah.” Morgan memegang besi balkon yang menjadi tempatnya berdiri, “Seharusnya aku tahu, kalau keadaan seperti ini akan segera terjadi. Tapi, kenapa sejak awal aku tidak ingin membuang semua penawar itu. Aku justru menyisakan satu di kamar.”


Morgan menutup wajahnya dengan tangan. Lagi-lagi hatinya harus terluka dan kecewa saat membayangkan penghianatan Lana terhadap dirinya.


“Bos, anda masih mencintai Nona Lana?” ucap salah satu pria yang sejak tadi mendampingi Morgan.


Morgan membuka tangan yang sejak tadi menutupi wajahnya. Pria itu tertawa kecil, “Cinta? Apa pria sepertiku pantas untuk mengenal cinta. Kau pasti tahu, apa alasan utamaku dekat dengannya lagi.”


Pria yang berada di belakang Morgan menunduk, “Maafkan saya, Bos.”


Morgan mencengkram kuat tangannya, “Aku masih ingat kejadian malam itu. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan Lukas. Jika Lana memilih untuk bersama dengannya, maka itu berarti ia memutuskan untuk menjadi musuhku.”


Beberapa bulan yang lalu yang lalu.


Morgan berniat untuk melakukan penyerangan terhadap Lukas. Setelah bertahun-tahun menghilang, Morgan kembali muncul untuk membalaskan dendamnya terhadap Lukas yang pernah terjadi di Granada. Kali ini dua pria tangguh itu kembali di pertemukan di Valencia. Lagi-lagi karena Lukas harus menyelesaikan urusannya di kota tersebut.


“Kau terlalu sibuk hingga tidak lagi peduli denganku,” ucap Lana dengan nada manja. Wanita itu memeluk Morgan dari belakang.


“Aku harus membunuh seseorang. Tadinya aku sudah melupakannya, tapi hari ini ia kembali muncul dihadapanku,” jawab Morgan dengan wajah yang cukup serius.


“Ikut,” rengek Lana dengan wajah memohon.


Morgan menghentikan aktifitasnya. Pria itu meletakkan benda yang memiliki daya ledak tersebut kembali ke atas meja. Ia memutar tubuh Lana agar bisa melihat langsung wajah cantik wanitanya.


“Tetap di sini. Tunggu aku. Aku akan kembali dengan kata kemenangan. Pria itu akan mati di tanganku hari ini.” Morgan menarik pinggang Lana. Ia mengecup bibir Lana dengan begitu rakus dan memiliki.


“Aku akan menunggumu di sini,” ucap Lana dengan senyum di bibirnya.


Morgan menatap wajah Lana dengan seksama, “Aku tidak bisa janji akan kembali. Walau hari ini aku menang, tetap saja kita harus berpisah. Kau membuatku menjadi lemah, Lana. Aku tidak tahu, perasaan seperti apa yang kini aku rasakan. Saat berada di dekatmu. Aku selalu melakukan segalanya dengan menggunakan hati,” gumam Morgan di dalam hati.


“Hei, apa kau mendengarkanku, Honey?” ucap Lana sambil menatap serius wajah Morgan.


Morgan tersadar dari lamunannya, “Ya. Aku akan kembali.” Morgan mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana. Pria itu mengacak-ngacak rambut pendek Lana sebelum pergi.


“Siapa nama pria itu?” ucap Lana saat Morgan sudah melangkah menjauh.


“Kau tidak perlu mengetahuinya,” ucap Morgan sebelum pergi meninggalkan kamar.


Pagi itu adalah pertemuan terakhir Lana dan Morgan sebagai kekasih. Karena setelah bertemu dengan Lukas dan kalah dari pertarungan, Morgan mulai menghindari Lana. Bahkan di saat matanya buta, Morgan lebih memilih bersembunyi di suatu tempat agar tidak berhasil ditemukan oleh Lana.


Tapi, Lana wanita yang cukup pintar. Wanita itu berhasil menemukan persembunyian Morgan. Ia muncul dan menangis sedih saat melihat Morgan dalam keadaan buta. Ia memeluk tubuh Morgan dengan penuh rasa cinta.


Morgan merasa kalau itu hanya sebuah rasa kasihan dari Lana. Dengan kejam Morgan mengusir Lana. Ia melempar sebuah huruf berbentuk L yang menjadi inisial nama Lukas. Hanya benda itu yang selalu ia genggam untuk mengingatkannya dengan dendamnya terhadap Lukas.


Lana dan Morgan berpisah. Tidak selang beberapa lama, Morgan di tangkap polisi. Pria itu tidak memiliki pilihan lain selain menurut karena memang pasukannya telah habis di bantai oleh Lukas.


Di mata Lana, Morgan menghilang karena meninggalkannya. Wanita itu tidak pernah tahu kalau kekasihnya telah tertangkap oleh polisi dan mendekam di dalam penjara.


Berulang kali Morgan berusaha lari. Hingga akhirnya ia berhasil kabur dan berhasil juga melakukan operasi mata hingga ia bisa melihat.


Namun, lagi-lagi nasip buruk menimpahnya. Morgan tertangkap lagi saat itu dan ia dipenjarakan di kota Cambridge. Tempat dimana Inspektur Tao dan Agen Mia di tahan.


Walau di dalam penjara, tetap saja Morgan bisa bergerak bebas. Ia memiliki tangan kanan bernama Joy. Melalui pria itu Morgan tahu, kalau Lana kini berada di dalam Gold Dragon. Rasa dendam itu kembali muncul. Morgan mengatur segala cara untuk mengalahkan Lukas. Kali ini ia berniat untuk memanfaatkan Lana. Ya. Sejak awal tujuan Morgan hanya memanfaatkan.


Morgan tidak pernah menyangka. Kalau rasa cinta yang sempat ia kubur dalam-dalam harus kembali muncul. Hingga akhirnya membuat dirinya menjadi lemah karena rasa cinta itu sendiri.


“Bos, saya belum berhasil menyelidiki sekelompok orang yang tadi malam membantu kita,” ucap pria itu.


Morgan tersadar dari lamunannya. Pria itu menatap wajah bawahannya dengan tatapan yang cukup tajam. Ia kembali ingat kalau tadi malam ada sekelompok orang yang muncul secara tiba-tiba untuk membantunya.


“Aku juga tidak peduli dengannya.” Morgan memutar tubuhnya untuk memandang ke arah pemandangan laut lagi, “Jangan ganggu aku. Aku ingin menenangkan pikiranku di tempat ini selama beberapa hari.”


“Baik, Bos,” ucap pria itu sebelum pergi meninggalkan Morgan sendirian di ruangan berukuran luas tersebut.


Morgan memejamkan mata untuk menikmati hembusan angin dan hangatnya matahari di pagi hari, “Lana, apa kau tahu kalau kau wanita pertama yang bisa membuatku mengenal cinta.”