Moving On

Moving On
Bertemu Lagi Part. 1



Lana tidur di atas pangkuan kakaknya. Seharian penuh ia ingin menghabiskan waktu di rumah untuk beristirahat. Sudah cukup bermain perang-perangan yang selama ini ia lewati. Lana tidak mau mengulang itu semua. Rasanya tubuhnya dan emosinya terlalu lelah untuk melakukan hal seperti itu lagi.


Matanya terpejam namun ia masih bisa mendengar jelas suara kakaknya. Rambutnya yang lembut sejak tadi di elus dengan sentuhan manja. Bagi Lana, tempat ternyaman yang pernah ia rasakan di dalam hidupnya adalah di atas pangkuan kakaknya.


“Lana, apa kau memiliki hubungan khusus dengan Bos Lukas?” ucap Alika dengan wajah penuh selidik, “Kakak melihat Bos Lukas memperhatikanmu berulang kali. Apa kau membuat masalah hingga ia marah dan dendam padamu?”


Lana mengangguk masih dengan mata terpejam. Wanita itu mengukir senyuman saat membayangkan kebersamaannya dengan Lukas selama beberapa hari ini.


“Lana, Kakak sudah pernah bilang padamu. Jangan membuat masalah dengan Bos Lukas. Kenapa kau tidak mau mendengarkan perkataan Kakak!” Alika mulai kesal atas prilaku adiknya saat itu. Tangannya yang sejak tadi ada di rambut Lana juga sudah terlepas.


Lana beranjak dari pangkuan Alika. Wanita itu menatap wajah kakaknya dengan wajah bahagia dan senyuman indah.


“Kau selalu saja seperti itu. Setiap kali buat masalah bukan meminta maaf justru tertawa dan membuat hatiku kesal,” umpat Alika kesal. Wanita itu ingin beranjak dari sofa yang ia duduki. Namun, langkahnya tertahan saat Lana menarik tangannya.


“Kak, jika aku mengatakan sesuatu apa kakak akan percaya padaku?” ucap Lana ragu-ragu.


“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Alika sambil mengeryitkan dahi. Wanita itu kembali duduk pada sofa yang sempat ia duduki untuk mendengar cerita Lana.


“Kak, aku dan Bos Lukas pacaran,” ucap Lana penuh percaya diri.


Alika menatap wajah Lana dengan seksama. Tidak ada kedipan mata untuk beberapa detik. Hingga akhirnya tawa wanita itu pecah dan memenuhi isi ruangan yang menjadi tempat tinggal mereka saat itu.


“Apa kau ingin mengerjaiku?” ucap Alika di sela-sela tawanya, “Lana, sebaiknya jangan membuat lelucon seperti itu lagi atau aku akan menarik telingamu.” Alika beranjak dari duduknya. Wanita itu mengusap rambut Lana sebelum pergi menuju ke arah dapur.


Lana menghela napas secara kasar, “Kenapa Kakak tidak percaya padaku?” ucap Lana sebelum menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas sofa. Wanita itu memejamkan mata untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda.


Di sisi lain.


Lukas kini berada di parkiran apartemen yang di tempati awak pesawat milik Zeroun. Lelaki itu sedikit ragu dengan keputusannya untuk menemui Lana. Ia tidak pernah peduli dengan apapun yang berhubungan dengan awak pesawat. Kecuali ada masalah yang cukup serius baru ia turun tangan langsung.


Kepalanya melirik bunga mawar yang ada di jok samping. Tangannya sedikit ragu untuk menggenggam bunga mawar itu. Tadinya ia ingin membuat kejutan untuk Lana dengan memberinya bunga mawar. Tidak di sangka, saat sudah tiba di lokasi justru hatinya semakin tidak karuan.


Dengan wajah frustasi, Lukas menjatuhkan kepalanya di stir mobil. Lelaki tangguh itu terlihat bingung dengan keputusan yang akan ia ambil. Tidak ingin membuat masalah, Lukas kembali menghidupkan mesin mobilnya. Kakinya secara perlahan ingin menginjak pedal gas mobil itu. Lukas mengurungkan niatnya untuk mengunjungi Lana.


Sudah terbayang jelas di dalam pikirannya. Bagaimana nanti cara Lana membuatnya malu di depan semua awak pesawat yang selama ini menghormati dan sangat takut padanya.


“Wanita itu. Kenapa nomornya tidak aktif. Seharusnya dia yang datang menemuiku di sini,” umpat Lukas kesal. Sekali lagi ia mematikan mesin mobilnya. Kali ini ia bertekad untuk keluar dan menemui Lana.


Lukas menghirup udara segar yang tersaji di depan matanya sebelum mengeluarkannya secara perlahan. Jantungnya berdebar tidak karuan, “Sepertinya Bos Zeroun melakukannya dengan sangat mudah. Kenapa saat aku alami ini terasa jauh lebih sulit. Aku bahkan lebih memilih membunuh daripada harus menemuinya saat ini.”


“Sepertinya aku tidak perlu membawa bunganya ke dalam. Aku akan membawa Lana ke mobil lalu memberikan bunga itu nanti,” ucap Lukas sambil membuka pintu mobil. Lelaki itu merapikan kembali penampilannya sebelum melangkah menuju ke arah lift. Sorot matanya yang tajam tidak lagi mau melihat ke arah belakang. Ia benar-benar tidak sanggup kalau harus membawa bunga itu dan memberikannya kepada Lana secara langsung.


Lukas menatap lorong yang terlihat sunyi. Detik itu napasnya sedikit lega. Bahkan ia berharap memang tidak ada satupun anak buahnya yang keluar untuk melihat kedatangannya. Setelah tiba di depan kamar Lana tinggal, Lukas mengatur napas dan debaran jantungnya lagi. Secara perlahan tangannya terangkat untuk mengetuk pintu ruangan itu.


Tidak perlu menunggu lama, pintu ruangan itu telah terbuka. Alika muncul dari balik pintu dengan wajah kaget. Dengan gerakan cepat wanita itu berlutut dan menundukkan kepalanya, “Selamat sore, Bos. Apa saya melakukan kesalahan hingga anda datang ke sini?” ucap Alika dengan tangan gemetar.


Terakhir kali Lukas datang berkunjung ke apartemen itu ada pertumpahan darah hingga menewaskan awak kapal yang berkhianat. Kini isi kepala Alika sudah dipenuhi pikiran yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


“Kak, siapa yang datang?” teriak Lana dari arah dalam.


Lana memandang wajah Lukas tanpa mengeluarkan kata. Wanita itu berdiri sambil bersandar di balik dinding. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan tatapan penuh arti.


Alika memutar kepalanya untuk melihat tingkah laku adik semata wayangnya. Tangannya memukul dahi saat melihat tingkah laku adiknya yang tidak sopan.


“Lana, apa yang kau lakukan? Cepat beri hormat kepada Bos Lukas,” ucap Alika dengan suara serak dan gemetar.