Moving On

Moving On
S2 Bab 3



Emelie memandang wajah baby El dengan senyuman. Wanita itu sangat ingin menggendong dan bermain dengan bayi Serena.


“Serena, boleh aku menggendong baby El?” ucap Emelie ragu-ragu. Wanita itu memandang wajah Serena dengan tatapan memohon. Sudah sejak semalam ia ingin menggendong bayi mungil dan menggemaskan itu. Hanya saja, ia tidak memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang dengan baby El.


“Tentu saja, Emelie.” Serena menyerahkan baby El kepada Emelie. Wanita itu mengukir senyuman saat melihat baby El tidak menangis, “Sepertinya ia sangat menyukaimu, Emelie.”


“Benarkah? Aku sangat suka anak kecil.” Emelie mengecup pipi baby El berulang kali.


“Zeroun, biar terlihat lebih lengkap. Kau harus menggendong baby Al. Aku ingin ia menjadi pria yang tangguh seperti dirimu.” Tanpa permisi Daniel meletakkan baby Al di atas pangkuan Zeroun.


Zeroun segera memegang tubuh baby Al agar bayi mungil itu tidak terjatuh. Gaya menggendong mantan bos mafia itu terlihat sangat kaku. Hal itu memang baru pertama kali terjadi di dalam hidupnya. Ia tidak pernah bersentuhan dengan anak kecil seumur hidupnya.


“Apa seperti ini menggendongnya?” ucap Zeroun dengan wajah kebingungan.


“Kakak ipar, kau harus banyak belajar dari Daniel. Ia pria yang cukup hebat dalam menangani bayi.” Kenzo menyelesaikan sarapan paginya. Pria itu membersihkan mulutnya dengan tisu.


“Tidak seperti itu. Pegang bagian ini,” protes Emelie sambil mengajari Zeroun cara menggendong bayi yang benar.


Serena dan Daniel melanjutkan sarapan pagi mereka yang telah tertunda. Sepasang suami istri itu kembali makan dengan tenang saat melihat kedua buah hatinya baik-baik saja.


“Kenzo, kau sebentar lagi juga memiliki bayi. Kau harus banyak belajar dari Daniel.” Zeroun menatap wajah Kenzo dengan tatapan sinis.


“Aku sudah cukup ahli, Baby. Hmm, maksudku merawat baby,” ledek Kenzo sebelum melepas tawanya.


Zeroun yang terlihat kesal melempar sebuah sendok ke arah Kenzo. Dengan gerakan cepat Kenzo menangkap sendok itu dan melepas tawanya.


Daniel mengangguk pelan sambil mengunyah makanannya, “Lanjutkan. Itu teknik latihan dasar yang mungkin bisa di kuasai oleh baby Al,” ucap Daniel polos sebelum melepas tawanya.


Kenzo mencengkram kuat sendok pemberian Zeroun lalu melemparnya ke arah Daniel. Pria itu berniat untuk memberi pelajaran kepada Daniel. Kenzo tahu kalau Daniel tidak kan bisa menangkis sendok yang ia lemparkan.


Sendok itu melayang ke arah wajah Daniel dengan begitu cepat. Bahkan Daniel sendiri tidak sadar kalau ada benda yang akan segera melukai wajahnya. Dengan gerakan cepat Serena menangkap sendok itu dan memainkannya dengan senyuman tipis, “Apa kau ingin olahraga pagi, Kenzo?”


“Apa-apaan ini. Kenapa jadi serius seperti ini,” umpat Shabira dengan wajah kesal. Sudah cukup sering candaan yang terjadi di antara Kenzo dan Serena berakhir dengan pertarungan. Pagi ini Shabira tidak setuju kalau harus melihat kedua orang yang ia sayangi bertarung lagi.


Zeroun mengukir senyuman kecil sebelum mengecup pipi baby Al, “Ide yang bagus. Aku juga sangat ingin bertarung dengan Serena. Kali ini aku ada di pihak Kenzo.”


“Zeroun, aku membelamu. Kenapa kau membelanya,” protes Serena dengan wajah kesal. Wanita itu beranjak dari duduknya sebelum pergi meninggalkan meja makan.


Daniel mengangguk pelan dengan satu senyuman, “Kau memang selalu tahu bagaimana sikapnya. Terima kasih, Zeroun. Idemu cukup berhasil mengurungkan niatnya pagi ini.” Daniel manatap wajah Kenzo dengan seksama, “Kenapa kau selalu mudah terpancing seperti Serena. Kita sedang ada di dalam istana. Apa kau ingin memamerkan profesi lamamu di sini?”


“Serena wanita yang cukup menarik. Aku selalu suka menggunya sejak pertama kali bertemu dulu. Ia wanita tangguh yang manja.” Kenzo menatap wajah Shabira dengan senyuman, “Sama sepertimu, Sayang.”


Emelie memandang wajah Zeroun dengan seksama, “Jadi itu tadi hanya sebuah trik agar Serena tidak jadi bertarung?”


“Ya, sayang. Wanita itu tidak bisa di pancing. Walau sudah memiliki anak seperti ini, ia masih mencintai pertarungan.” Zeroun mengusap lembut pipi Emelie.


Emelie tertawa kecil sambil mengecup pipi baby El, “Mamamu wanita yang cukup hebat, Sayang. Apa kau mau menjadi wanita tangguh seperti mamamu?"


"Tidak tidak. Aku tidak ingin Putriku seperti Serena. Sungguh merepotkan menghadapi dua wanita dengan karakter yang sama," ucap Daniel sambil menggeleng cepat.


Semua orang yang ada di meja makan itu langsung tertawa serentak saat mendengar jawaban Daniel. Dari jawaban Daniel saja semua orang sudah bisa menilai. Kalau Daniel cukup kesulitan menghadapi sikap Serena.


.


.


.


Kalau ada waktu luang pasti crazy up. 😘


Jangan lupa like ,vote dan komen. Untuk Novel Biao's Lovers, mulai besok akan up siang. Terima kasih.