Moving On

Moving On
Cahpter 7



(Nino)


Saat ini,aku sedang mengendarai mobil menuju ketempat janji temu dengan Almira. Aku aku akan bertemu dengannya di cafe.


Entah kenapa,aku menjadi ragu. Bukannya aku sangat merindukannya. Melihatnya kembali di waktu pernikahanku, membuat aku ingin memeluknya dengan erat. Dan mengatakan bahwa dirinya begitu mencintainya.


Selama ini, aku mencari keberadaannya. Tapi usahaku tak pernah ada hasilnya. Dia menghilang seperti di telan bumi.


Takdir begitu kejam denganku. Aku kehilangan orang yang selalu mengerti diriku,ketika keluarga tak ada yang mengerti aku. Kebahagiaanku terampas oleh keluargaku sendiri.


Seharusnya, keluarga seperti rumah. Tapi bukan rumah yang aku dapatkan. Hanya kesepian yang aku dapatkan. Terlahir menjadi anak orang kaya belum tentu bahagia secara lahir dan batin.


Selama 15 menit perjalanan, akhirnya aku sampai di cafe. Aku memarkir mobil ,kemudian masuk kedalam. Sepertinya Almira belum sampai, aku memilih tempat duduk di lantai atas.


Aku memilih meja di bagian pojok. Dan pelayan menghampiri,dan menyodorkan menu di cafe ini. Setelah membaca menu, aku memesan makanan dan minuman untuk diriku. Aku bingung ingin memesankan untuk Almira.


Setelah menunggu 5 menit, pelayan membawa makanan dan minuman pesananku. Kemudian pelayan menyuguhkan di meja, dan setelah itu pelayan kembali ke bawah.


Aku mengirim pesan sama Almira.


✉️ Almira


Aku sudah sampai. Meja di lantai atas.


Oke.


Ku masukan kembali Hp-ku kedalam tas. Sambil menunggunya, aku meminum kopi yang tadi di pejawabnya


Aku melihat kedatangan mereka berdua,Almira dengan putrinya. Aku melambaikan tangan ke arahnya. Dia melangkah dengan menggenggam tangan mungil putrinya.  Pemandangan  yang mengharukan buatku.


Mereka duduk di hadapanku. Mataku tak luput dari putrinya. Hatiku berdebar-debar melihatnya.


Almira tersenyum kepadaku, aku membalas senyumannya. Dia benar-benar berubah, semakin dewasa.


"Apa kabar, Al." sapaku.


"Baik, Nin."jawabnya.


Suasana menjadi hening dan canggung.   Seakan mulutku susah untuk mengatakan apa yang ada dipikirkanku.


"Mom, Ara haus."celetuk putrinya.


"Sorry, tadi aku bingung mau pesan buat kalian." ujarku.


"Nggak apa-apa. Aku yang pesan aja." Dia berdiri beranjak dari kursinya


Almira berpamitan dengan putrinya,dan membelai rambutnya dengan lembut.


"Mommy tinggal sebentar ya Ara. Jangan nakal sama Om."ujarnya.


"Iya mom." jawabnya.


"Titip Ara ya, Nin."kata Almira.


"Oke."


Aku mencoba mengajak berbicara dengan Putri Almira. Dia begitu cantik, tetapi dia seperti keponakanku. Aku berpikir sambil memandangnya. Benar, dia sangat mirip sekali dengan keponakanku. 


"Hai,nama adek siapa?" tanyaku.


"Arabela,Om. Terus,nama om siapa ?"


"Nama om, Nino." Aku mencoba membelai rambutnya dengan sayang. Hatiku kembali berdebar-debar. 


"Umur Ara sekarang berapa?" tanyaku.


"Hmm. Lima tahun Om."


Aku sempat terdiam,mendengar jawabannya. Aku berpikir berapa lama kepergian Almira.


"Terus, Papa Almira nggak ikut kesini ya Ara."


Raut wajahnya berubah menjadi sedih.


"Ara, gak punya Papa. Ara gak pernah liat papa."


"Maafin om sayang. Bikin Ara jadi sedih." Aku merasa bersalah bertanya pada anak kecil, hatinya masih rapuh.


Aku memeluknya, dengan erat."Maaf sayang."


"Gak apa-apa kok Om." jawabnya.


Aku dengan Ara banyak mengobrol tentang Almira. Tak menyangka Almira begitu hebat menghadapi semua ini. Hatiku sangat sakit, melihat kesedihan di mata Ara.


Ara ketawa dengan keras, ketika aku bercerita tentang mamanya yang begitu ceroboh. Kemudian Almira sudah kembali dari lantai bawah. Dia mendekat ke arah kita.


"Sepertinya, lagi seru nih. Mommy ikut dong!" ujarnya


"Hehehe, rahasia mommy." jawabnya Ara.


Ara memandang ke arahku,aku pun ikutan tersenyum dan menggerakkan tangganku seperti mengunci mulut. Ara kembali tertawa dan mengikuti gerakanku.


Almira hanya menggelengkan kepala melihatnya. Kemudian, almira menyodorkan minuman untuk Ara.


Setelah minum, Ara beranjak menuju ke tempat bermain. Di dalam cafe ini, ada mini tempat bermain untuk anak-anak. 


"Mom, Ara mau bermain dulu ya."ujarnya.


"Iya sayang. Hati-hati mainnya."


"Iya mommy."


"Kok istri kamu nggak di ajak?" tanyanya.


"Dia lagi ada urusan pekerjaan."


"Owh seperti itu."


"So, sekarang kamu sibuk apa?" tanyaku


"Aku buka butik di Jakarta."


"Akhirnya cita-cita kamu tercapai ya."ujarku.


Aku tersenyum kepadanya, meski hatiku terasa sakit. Setelah mengetahui apa yang di alaminya.


"Ya. Aku dapat beasiswa dan aku langsung mengambilnya." jawabnya sambil memainkan sedotan minumannya.


Dia berubah menjadi emosional.


"Maaf, untuk semuanya."ucapku.


"Aku baik-baik saja kok." jawabnya


"Aku tau. Kamu pasti berjuang sendiri. Sekali lagi maaf, aku gak berada disisimu."


Dia hanya terdiam saja. Kepalanya hanya menuduk.


"Sepertinya, terjadi sesuatu yang aku tak tau?" tanyaku.


Dia masih terdiam mendengarkanku. Tangannya berpindah berada di bawah meja. Dia seperti ketakutan. Aku masih memandangnya.


Hingga dia mengangkat kepalanya dan memandangku. Hatiku benar-benar sakit melihatnya. Kita saling bertatap mata, aku melihat di dalam matanya, dia pun terluka.


Dia menangis, dan meraih tanganku. Dia menggenggam tanganku dengan erat.


"Maafkan aku." katanya.


Dia menggumamkan kata"Maaf" terus menerus. Mataku mulai berkaca-kaca.


Kita saling terluka. Meski aku lah orang yang memberikan luka untuknya.


Aku beranjak dari kursi dan berpindah di sebelahnya. Aku memeluknya dengan erat. Aku ingin memberikan kekuatan padanya, bahwa sekarang dia tak sendiri. Ada aku yang akan selalu disisinya seperti dulu.


Dia sudah berhenti menangis, aku memegang pipinya. Ku pandangi matanya dan kubelai wajahnya.


"Kau tau. Kamu tetap berarti buat aku."


"Aku tau."Almira kembali memelukku dengan erat. Kubelai rambutnya dengan lembut.


"Aku mencintaimu hingga sekarang. Aku selalu mencarimu." ujarku.


Selama ini aku ingin mengatakannya bahwa aku sangat mencintainya, hingga akhirnya dia pergi meninggalkanku.


"Maaf." katanya.


"Arabela,dia mirip keponakanku." kataku.


Almira semakin memelukku dengan erat. Dia masih terdiam, enggan menjawabnya.


"Aku senang melihatnya. Dia cantik,kaya kamu. Hmmm..." ungkapku.


"Iya dia cantik. Mukanya kaya kamu." jawabnya


"Aku tau." kataku sambil tertawa kecil. Aku mengeratkan pelukannya.


Aku tau, keadaan sudah berubah. Aku sudah menikah, tapi aku ingin menikmati orang yang aku cintai. Apalagi aku memiliki Putri kecil yang tak pernah ku ketahui.


"Bukannya, kita harus berbicara dengan Ara?" tanyaku


"Biar aku saja yang bilang sama Ara."


"Oke."


Aku tersenyum kepadanya. Semua ini juga berat untuknya. Aku tak ingin memaksakan kehendak. Biarkan pelan-pelan saja.


Tiba-tiba Anita menelfon. Dia melepaskan pelukanku. Kemudian aku mengangkat telfonnya


"Halo"


"Halo mas"


"Iya, gimana Nit."


"Mas lagi dimana?"


"Lagi ketemu teman, sebentar lagi pulang."


"Yaudah mas, aku udah pulang. Aku tunggu yaa. "


"Iya"


Setelah sambungan terputus, aku memandangi wajahnya. Dia tersenyum kearahku. Aku merasa sangat bersalah padanya. Kenapa takdir mempermainkan aku.


Setelah itu, akhirnya kita pulang. Langit sudah berubah menjadi gelap. Dan kita berpisah lagi.


Selamat membaca chingu 🥰


Jangan lupa like dan koment yaa 😊