
Emelie menatap wajah Zeroun dan dua pria itu secara bergantian. Ada rasa tidak suka saat melihat wajah kekasihnya mengancam dua pria tidak berdosa itu. Dalam waktu singkat, rasa simpati Emelie tergoyahkan. Wanita itu berkecak pinggang dengan wajah angkuh miliknya.
“Zeroun, mereka sudah menjelaskan apa yang mereka ketahui. Kenapa kau terlihat tidak terima seperti itu? apa kau berpikir kalau mereka berbohong?” ucap Emelie dengan nada lantang. Wanita itu memang tidak pernah takut dengan Zeroun selama ini. Hanya saja, rasa cinta itu selalu mengubah jati dirinya yang kuat itu berubah menjadi lemah.
“Emelie,” ucapan Zeroun terhenti. Pria itu juga tidak ingin berdebat dengan kekasihnya dalam situasi seperti ini.
“Maafkan Aku,” sambung Zeroun sebelum membuang tatapannya ke arah lain.
“Bukankah Kau biasa memasang camera cctv kecil di setiap orang. Kenapa tidak melihat rekaman yang ada pada Id mereka.” Emelie menaikan wajahnya dengan ekspresi sok pintar.
Zeroun mengukir senyum tipis sebelum menjawab perkataan kekasihnya sore itu, “Emelie sayang, rekaman seperti itu hanya ada di dalam gelangmu. Aku tidak meminta bawahanku untuk memakai camera seperti itu. Karena mereka memiliki privasi sendiri untuk kenyamanan mereka.”
“Berbeda denganmu, semua yang kau lakukan harus Aku ketahui,” sambung Zeroun dengan wajah penuh percaya diri.
Sungguh jawaban yang cukup jujur.
Emelie menundukkan kepalanya saat kehabisan kata untuk melawan Zeroun saat itu. Putri Kerajaan itu mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan air putih. Meneguknya secara perlahan dengan wajah memandang arah lain. Terlihat jelas, kalai wajah Zeroun memang sudah berubah saat itu. Jiwa angkuh Emeliepun meleleh bagaikan lilin dalam waktu sekejab.
Zeroun beranjak dari duduknya. Pria itu mengulurkan tangannya untuk mengajak Emelie pergi meninggalkan meja makan, “Ayo,” ucap Zeroun singkat. Tanpa banyak protes lagi, Emelie berubah menjadi wanita penurut.
“Apa kalian sudah memeriksa ruang pendingin minuman kita?” Zeroun menggenggam tangan Emelie sambil memandang wajah dua bawahannya itu.
“Be-belum, Bos.” Ada rasa tidak yakin kalau dua orang pintar dan tangguh itu kini berada di dalam ruangan itu. Bahkan, orang bodoh sekalipun tidak akan mau berada di dalamnya.
Zeroun mengangguk pelan sebelum melangkah menuju ke lorong yang menghubungkan mereka ke ruangan pendingin itu. Entah kenapa, pirasat pria itu sangat kuat, kalau kini dua bawahannya ada di dalam ruangan yang terbilang mustahil itu.
Semoga saja Lana dan Lukas segera ditemukan.
Emelie mengimbangi langkah kekasihnya yang terbilang cepat itu. Wanita itu memperhatikan lampu merah berkedip dari bahan peledak yang tertempel di dinding-dinding itu. Ada rasa penasaran di dalam hatinya saat melihat bahan peledak yang sengaja di pasang itu. Bagaimanapun juga, rumah adalah tempat untuk berlindung. Dengan melihat bom-bom itu, Emelie merasa tempat mereka berlindung saat ini merupakan tempat paling berbahaya saat ini.
“Zeroun, apa itu bahan peledak?” tanya Emelie dengan wajah sedikit takut.
“Ya,” jawab Zeroun singkat.
“Apa kau takut?” sambung Zeroun saat tidak mendapat respon lagi dari kekasihnya.
Emelie menggeleng pelan dengan senyuman yang dipenuhi kebohongan, “Selama Kau ada di sampingku. Aku tidak akan pernah merasa takut.”
Zeroun mengangguk pelan, “Bagus.”
Seluruh pendingin yang menyala di dalam ruangan itu mati. Lukas menatap ke arah pintu yang tiba-tiba saja terbuka. Ada rasa lega di dalam hatinya saat melihat ada malaikat penolong yang kini menemukannya.
Saat pintu terbuka sempurna, orang yang pertama kali di pandang oleh Lukas adalah wajah Bosnya. Zeroun dan Emelie terlihat bingung saat melihat posisi Lana yang kini memeluk tubuh Lukas dengan begitu erat.
Dua pasukan Gold Dragon terlihat menunduk sambil menahan tawa. Pemandangan romantis yang kini ada di depan matanya merupakan momen langkah yang mungkin hanya bisa mereka lihat sekali ini saja.
“Apa semua baik-baik saja?” ucap Emelie dengan wajah polosnya.
Zeroun memandang Lukas sambil mengeryitkan dahi. Kedua tangan bawahannya itu terlihat menahan pinggang Lana agar tidak terjatuh. Di tambah lagi, di permukaan lantai terlihat banyak pecahan kaca yang begitu tajam dan berbahaya.
“Apa yang terjadi pada Lana?” Emelie melepas genggaman tangannya dari Zeroun dan berjalan masuk ke dalam. Dengan cepat, Zeroun menarik tangan kekasihnya agar tidak terkena pecahan kaca yang berserak di lantai.
“Emelie,” celetuk Zeroun sambil menahan langkah kekasihnya itu.
“Ada apa?” Emelie terlihat bingung dengan tingkah laku Zeroun.
“Jangan masuk, akan sangat berbahaya.” Zeroun menarik kembali tubuh Emelie agar mendekat dengan tubuhnya.
“Bawa Lana kembali ke kamar dan bereskan semua ini.” Zeroun membawa tubuh Emelie meninggalkan ruangan itu. Pria itu tidak ingin banyak tanya dengan apa yang terjadi dengan dua bawahannya. Baginya, melihat Lukas dan Lana masih bernapas sudah cukup lega bagi dirinya.
“Baik, Bos,” ucap mereka secara serentak.
Lukas tidak lagi memiliki pilihan lain. Pria itu mengangkat tubuh Lana ke dalam gendongannya. Pria itu melirik dua bawahannya dengan tatapan sinis.
“Aku akan memotong lidah kalian jika hal ini diketahui yang lainnya,” ancam Lukas sebelum berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
“Maaf, Bos. Kami akan merahasiakannya sampai kami mati.” Dua bawahan Lukas terlihat takut dan gemetar. Ancaman Lukas cukup membuat lidah mereka terasa nyeri dan kaku saat itu. Jangankan untuk menceritakan kejadian itu kepada rekan lainnya. Bahkan, untuk mengingat kejadian itu sudah tidak mau lagi. Lebih baik melupakan dan menghapus semua yang telah mereka lihat daripada tidak dapat berbicara lagi untuk selamanya.
Dengan ekspresi dingin, Lukas membawa Lana menuju ke kamar tidur wanita itu. setelah keluar dari ruangan itu, tubuh Lana yang tadi dingin seperti es kini berubah menjadi panas dengan suhu yang cukup tinggi.
“Apa dia benar-benar sakit?” ucap Lukas pelan. Dengan hati-hati ia membuka pintu kamar Lana dan masuk ke dalamnya. Meletakkan tubuh Lana di atas tempat tidur dengan lembut. Pria itu melekatkan tangannya di dahi Lana untuk memeriksa suhu tubuh wanita tangguh itu.
“Sepertinya dia benar-benar sakit.” Lukas menutupi tubuh Lana dengan selembar selimut sebelum pergi meninggalkan kamar berukuran sedang itu.
“Aku harus segera menemui Bos Zeroun secepatnya.” Lukas melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke kamar tidur miliknya. Pria itu ingin segera menemukan ponsel miliknya dan meminta Dokter untuk memeriksa keadaan Lana saat ini. Lukas juga ingin mengobati lukanya lebih dulu sebelum menemui Zeroun.
Like, Vote, and Comen...Thank you...💗