Moving On

Moving On
Kehilangan



Emelie sudah tiba di rumah dengan selamat. Pakaiannya juga sudah terganti menjadi pakaian tidur. Kini wanita berusia 25 tahun itu berbaring di atas kasurnya yang empuk. Menatap langit-langit kamarnya dengan senyum yang begitu indah. Wajah Zeroun memenuhi pikirannya saat itu.


“Anda pria yang sempurna, Zeroun. Aku bisa melihat semua kebaikanmu dengan kedua mataku. Anda pria yang sopan, baik dan sangat lembut. Apa aku bisa bertemu denganmu lagi?” Emelie meraih bantal yang ada di sampingnya. Menutup wajahnya yang merona saat membayangkan wajah Zeroun.


“Apa ini? kenapa jantungku berdebar dengan cepat seperti ini.” Emelie mencengram kuat bantal yang menutupi wajahnya.


Suara ketukan pintu membuat nama Zeroun tiba-tiba saja hilang. Emelie beranjak dari tempat tidurnya berjalan ke arah pintu. Merapikan rambutnya sebelum menarik handle pintu itu.


Terlihat Adriana yang berdiri di balik pintu. Matanya memerah dan bengkak. Wanita itu terlihat sangat sedih.


“Putri.” Adriana memeluk tubuh Emelie.


“Adriana, ada apa?” tanya Emelie bingung.


“Yang Mulia ... Yang Mulia mengalami kecelakaan, Putri.” Adriana menangis sejadi-jadinya.


Sedangkan Emelie hanya berdiri mematung dengan napas tertahan. Bibirnya membisu. Matanya mulai terasa perih, tetes demi tetesa buliran air mata mulai jatuh. Seperti ada yang menusuk hatinya detik itu. Tiba-tiba saja hatinya terasa sangat sakit.


“Apa yang kau katakan, Adriana? Aku akan menghukumku, jika kau becanda dengan menggunakan nama Yang Mulia.” Emelie mendorong tubuh Adriana, membuat Adriana terjatuh di lantai.


“Putri ....” Pelayan Adriana membantu Adriana untuk berdiri.


Dari kejauhan, Pangeran Damian muncul dengan wajah tak terbaca. Pria itu memandang wajah Emelie dengan wajah sedih.


“Emelie, Kita harus segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ratu.”


“Kalian semua pembohong! Yang Mulai lagi tidur dikamarnya!” Emelie berlari menuju ke arah kamar Ratu yang ada dilantai bawah.


“Emelie, hentikan! Kita harus pergi sekarang juga.” Damian menahan tangan Emelie agar Emelie tidak bersikap seperti orang bodoh.


“Ibu ....” ucap Emelie dengan nada yang lirih. Kakinya terasa sangat lemah, semua yang ada di hadapannya goyang. Emelie memejamkan matanya, ia tidak lagi sadarkan diri.


Adriana berlari mendekati posisi Emelie, menatap tajam wajah Damian dengan tatapan tidak suka. Damian melepas tangannya dari tubuh Emelie.


“Pelayan, bawa Putri kembali ke kamar.” Perintah Adriana.


“Baik, Putri.” Pelayan itu bersama-sama mengangkat tubuh Emelie menuju ke kamar.


Damian memandang tubuh Emelie yang terlihat tidak berdaya. Adriana menatap wajah Damian dengan cemburu. Tangannya menyentuh pelan bagian tubuh Pangeran Damian sambil tersenyum manis. Tidak ada siapapun di tempat itu, hanya ada Adriana dan Damian.


“Kita harus ke rumah sakit,” ucap Damian pelan.


Adriana mengangguk setuju. Wanita itu berjalan berdampingan dengan Damian. Tidak ada lagi yang ditakutkan oleh Adriana saat itu. Semua kekacauan ini memang dia yang menyebabkannya.


***


Zeroun tiba di rumah sakit tempat Lukas di rawat. Satu pengawal Gold Dragon sudah menyambut kedatangan Zeroun malam itu. Suasana rumah sakit terlihat sangat sunyi. Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Udara terasa sangat dingin dan menusuk hingga ke tulang paling dalam.


“Mari, Bos.” Salah satu pasukan Gold Dragon memimpin jalan. Berjalan dengan tenang menuju ke arah lift yang ada di ujung ruangan. Zeroun memperhatikan sekeliling rumah sakit, saat pintu lift hampir tertutup.


“Apa Lana ada di sini?” Zeroun memandang wajah bawahannya.


“Nona Lana ada di ruangan Bos Lukas, Bos.”


“Pastikan rumah sakit ini aman. Jangan sampai ada musuh yang tahu, kita ada disini.”


“Baik, Bos.”


Zeroun kembali diam dengan ekpresi dinginnya. Hatinya sudah tidak sabar menunggu kabar dari pasukan Gold Dragon. Saat mencari informasi tentang kecelakaan yang menewaskan anggota kerajaan itu.


Pintu lift terbuka. Zeroun keluar dari dalam lift menuju ke arah kamar Lukas. Di depan pintu kamar Lukas, terlihat pasukan Gold Dragon yang berjaga-jaga. Semuanya menundukkan kepala saat melihat kehadiran Zeroun. Membukakan pintu untuk memberi jalan kepada Zeroun.


Zeroun masuk dengan wajah yang begitu tenang. Walaupun kini hatinya bercabang dengan perasaan yang campur aduk.


Lana berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Zeroun. Berjalan mendekati Zeroun sebelum menundukkan kepalanya.


“Bagaimana keadaannya?” Zeroun menatap wajah Lukas dengan seksama.


“Kata Dokter, Bos Lukas sudah melewati masa kritisnya. Ada beberapa koyakan pada tubuhnya, tetapi sudah berhasil di tangani, Bos.” Lana menjelaskan detail keadaan Lukas.


Zeroun mengangguk pelan. Sudah jatuh satu korban di rumah sakit. Ia tidak ingin terus-terusan begini.


“Bos, apa anda baik-baik saja?” tanya Lana dengan wajah khawatir. Sebelum meninggalkan Zeroun, pria itu masih bertarung dengan monster yang tersisa.


“Aku baik-baik saja.” Zeroun berjalan ke arah sofa. Menjatuhkan tubuhnya di sofa berwarna putih. Tubuh dan pikirannya terasa sangat lelah. Suara ponsel berdering. Zeroun sedikit kaget ketika melihat nama yang terukir di layar ponsel miliknya.


“Daniel, apa kabar?” tanya Zeroun dengan nada yang begitu tenang. Ia tidak ingin membuat orang yang mendengarkan suaranya menjadi panik.


[Kami akan pergi menolongmu, jika kau dalam bahaya saat ini.] jawab Daniel tanpa basa-basi. Pria itu mendapat kabar dari Kenzo kalau Zeroun meminta mereka memperkuat pertahanan di Kota Sapporo, Jepang.


“Jangan lakukan itu jika kau ingin misiku berhasil.” Zeroun memijat dahinya pelan.


[Zeroun, apa kau melupakan sahabatmu ini.] Terdengar suara Serena dengan nada yang meninggi.


“Hei, kenapa kau belum tidur. Jam berapa ini? aku akan menghukum Daniel karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Kenapa dia membiarkanmu terjaga di jam segini.” Zeroun tertawa kecil untuk menghilangkan kesedihan di hatinya.


[Zeroun ...] suara Serena berubah pelan.


“Maafkan Aku Serena, Aku akan menyusahkan hidup kalian lagi. Kemungkinan dalam waktu dekat, mereka akan menyerang kalian. Tetap tinggal di kota itu. Anakmu masih terlalu kecil, ditambah lagi Shabira baru saja mengandung sejak 1 tahun menunggu. Kalian harus tetap ada di sana. Jangan pergi kemanapun jika ingin keluarga yang kalian miliki baik-baik saja.”


[Zeroun, Aku akan segera menyelesaikan tamu yang datang. Setelah selesai aku akan tetap menemuimu.]


“Serena, wanita itu sama sepertimu.” Zeroun tersenyum kecil.


[Wanita? kau berhadapan dengan wanita tangguh lagi?]


Zeroun mengangguk, walaupun rekan bicaranya tidak bisa melihat ekspresinya.


[Biar Aku yang menghadapinya, kau pikirkan saja bagaimana caranya bertahan hidup sampai aku tiba di sana.]


Zeroun tertawa lagi, kali ini tawanya terdengar dengan jelas.


“Kau ini, kau sudah menjadi ibu. Apa kau tidak memikirkan kedua anakmu itu? Masih ingin bertarung? He?” tanya Zeroun dengan penuh penekanan.


[Aku akan memikirkan caranya.] jawab Serena dengan suara pelan.


“Terserah kau saja,” jawab Zeroun penuh putus asa.


[Zeroun, aku akan melindungi semua kaluarga yang aku miliki termasuk dirimu.] jawab Daniel.


“Terima kasih, Daniel. Sebisa mungkin aku akan mengahadapi wanita itu. Jaga semua keluargaku di sana.”


Zeroun memutuskan panggilan masuknya. Meletakkan ponsel itu di atas meja dengan wajah yang dipenuhi beban berat.


Lana memperhatikan Zeroun tanpa bisa mengeluarkan kata. Raut wajah Zeroun sudah menggambarkan masalah yang kini mereka hadapi. Suasana berubah menjadi sangat hening, hingga beberapa menit kemudian suara pintu terbuka. Orang yang dikirim Zeroun telah kembali. Pria itu menunduk di hadapan Zeroun untuk menyampaikan semua info yang ia dapat.


“Bos, Ratu kota Cambridge yang tewas. Heels Devils yang menyebabkan semuanya. Kini seluruh aggota Heels Devils telah kembali ke markas utama mereka di Brazil.”


Zeroun sedikit bernapas lega saat Emelie masih baik-baik saja. Kepalanya mengangguk pelan sebelum menatap wajah pria yang berdiri di hadapannya.


“Kita akan istirahat selama beberapa hari, sebelum pergi ke Brazil untuk menemui wanita itu.”


“Baik, Bos.” Pria itu menunduk sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Lana juga ikut pergi meninggalkan ruangan itu mengikuti pasukan Gold Dragon untuk berjaga. Zeroun menyandarkan tubuhnya dengan tenang, sebelum memejamkan mata.