
Pesawat pribadi Zeroun terbang dengan begitu tenang. Kedatangan Zeroun malam itu, di sambut meriah oleh awak pesawat yang selama ini setia kepadanya. Mereka sangat bahagia, karena kini Bos yang selalu mereka hormati tidak lagi Buronan di Inggris. Bahkan, pesawat mereka bisa dengan bebas terbang ke tempat yang mereka inginkan.
Emelie memperhatikan beberapa pramugari yang menyambutnya malam itu. Lagi-lagi ia merasakan pirasat yang aneh. Ya, penampilan pramugari itu tidak sama dengan pramugari pada umumnya. Walau terlihat cantik dan anggun, tapi ada sisi bahaya yang membuat penampilan pramugari-pramugari itu berbeda.
Di tambah lagi, Emelie bisa melihat jelas pistol yang terselip rapi di samping pinggang ramping pramugari cantik itu. Membuat Emelie sangat yakin, jika Pramugari yang berdiri di sampingnya pasti bisa untuk bela diri.
Emelie duduk manis di dalam pesawat pribadi Zeroun. Menunggu pesawat itu untuk terbang. Di dalam pesawat, Emelie tidak terlalu banyak bicara. Wanita itu hanya tersenyum saat melihat pemandangan kota di malam hari. Lampu-lampu yang ada di setiap gedung terlihat begitu indah. Satu bantal ukuran kecil ada di atas pangkuannya.
Emelie sangat bahagia malam itu. Kini ia bisa selalu bersama dengan Zeroun. Berada di samping pria yang ia cintai merupakan mimpi terindahnya selama ini.
“Apa yang Kau pikirkan, Emelie?” Zeroun menatap wajah bahagia Emelie dengan senyuman. Pria itu juga merasakan kebahagiaan saat melihat wajah berseri wanitanya.
“Pemandangan di bawah sangat indah,” jawab Emelie dengan suara yang pelan.
Zeroun memandang keluar jendela. Selama ini ia tidak pernah peduli dengan pemandangan di bawah saat dirinya berada di dalam pesawat. Tapi, malam itu bersama dengan Emelie, Zeroun juga memandang pemandangan di bawah dengan seksama.
“Sudah sangat malam, apa kau tidak ingin istrahat?” Zeroun beranjak dari duduknya. Melepaskan jas miliknya.
“Istirahatlah, kita akan tiba besok pagi.” Zeroun menutupi tubuh Emelie dengan jas miliknya.
“Kita mau pergi kemana?” tanya Emelie penuh keraguan. Sejak awal, Putri Kerajaan itu tidak tahu kemana tujuan mereka saat ini.
“Brazil,” jawab Zeroun dengan tenang.
Emelie mengangguk pelan, “Aku mau tidur.”
Zeroun tersenyum. Mengusap lembut rambut Emelie sebelum kembali ke kursi miliknya. Hatinya sudah cukup tenang dengan menghapus wajah sedih Emelie. Ia tidak ingin membuat wajah Emelie menjadi khawatir atas misi yang akan ia jalani.
Maafkan Aku Emelie. Aku belum bisa menceritakan semuanya sekarang. Tapi, Aku akan terus berusaha untuk membuatmu tetap aman.
Zeroun juga memejamkan matanya untuk beristirahat. Melupakan semua beban yang memenuhi isi kepalanya untuk sejenak. Perlahan napasnya mulai berangsur tenang.
Namun, getaran ponsel di dalam sakunya mengagalkan tidurnya malam itu. Zeroun menatap Emelie yang sudah tertidur sebelum mengangkat panggilan masuk itu.
“Selamat malam, Inspektur Tao.” Zeroun tahu, nomor itu milik teman barunya.
[Zeroun ....] Suara Inspektur Tao terdengar kesakitan dan tersiksa.
“Apa yang terjadi?” Wajah Zeroun berubah serius.
[Damian, Damian ....] Panggilan telepon itu terputus.
Zeroun menatap layar ponselnya sambil mengeryitkan dahinya. Ia menghubungi nomor Inspektur Tao kembali. Tetapi, nomor itu tidak lagi bisa di hubungi. Pria itu tahu, sesuatu telah terjadi pada Inspektur Tao. Tidak hilang akal, Zeroun menghubungi bawahannya yang masih tersisa di Cambridge.
“Damian ....” Zeroun menatap wajah Emelie dengan seksama.
“Adriana dan Damian bekerja sama untuk membunuh Emelie.”
Detik itu juga Zeroun sudah paham dengan alur cerita yang terjadi di kerajaan. Semua masalah yang menyebabkan Ratu meninggal. Hingga akhirnya teror yang dilayangkan untuk Emelie. Semua itu untuk menguasai harta milik Ratu yang sudah diwariskan kepada Emelie.
Emelie belum mau menceritakan semuanya secara langsung. Ia juga tidak tahu, kalau Damian dan Adriana bekerja sama selama ini. Putri kerajaan itu masih menyimpan rapat masalah yang ia miliki. Semua rasa kecewa dan sakit hati terhadap dirinya, masih ia simpan sendiri di dalam hati. Ia masih enggan untuk membagikan rasa sakit itu bersama dengan Zeroun.
Apa Kau benar-benar mencintaiku, Emelie? Kenapa masih menyimpan semua masalahmu sendiri?
Tiba-tiba saja hatinya memiliki pertanyaan seperti itu. Saat Emelie tidak ingin jujur dengan semua masalah yang ia miliki. Zeroun merasa, Emelie tidak berani terbuka kepada dirinya. Pernah merasakan sakit hati yang begitu besar, membuat Zeroun lebih sensitive terhadap hubungan percintaanya kali ini.
Tetapi, wajah polos Emelie. Membuat semua firasat buruk itu hilang seketika. Zeroun berusaha untuk berpikiran positif. Pria itu melanjutkan tidurnya agar tidak terus-terusan menyimpan curiga terhadap wanita yang ada di hadapannya.
Baru beberapa menit Zeroun memejamkan mata. Lagi-lagi ia mendengarkan tangisan Emelie. Wanita itu mengalami mimpi buruk yang membuat dirinya ketakutan saat memejamkan mata.
Tubuh Emelie basah karena keringat yang mengucur deras dari tubuhnya. Kepalanya terus saja menggeleng walau ia masih memejamkan mata. Kedua tangannya mecengkram bantal kecil yang ada di pangkuannya. Bibirnya terus saja menyebutkan nama Adriana. Sepertinya, Adriana lagi-lagi ingin membunuhnya di dalam mimpi.
Zeroun terbangun, menatap wajah Emelie dengan seksama. Pria itu beranjak dari duduknya untuk mendekati posisi Emelie. Menepuk pelan pipi Emelie dengan wajah khawatir. Berulang kali ia memanggil nama Emelie dengan nada yang lembut.
Tapi, Emelie tidak kunjung bangun dari tidurnya. Justru air mata yang menetes deras membasahi wajahnya. Wanita itu menangis hingga senggugukan.
Zeroun menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya. Menggertakan giginya dengan begitu kuat. Kini Bos Mafia itu menyimpan dendam kepada musuh yang di miliki Emelie. Setelah Jesica, Pria itu bertekad untuk membalaskan rasa sakit hati Emelie kepada Damian dan Adriana.
Emelie berangsur tenang. Wanita itu terlihat sangat nyaman saat tubuhnya berada di dalam pelukan Zeroun. Perlahan, napasnya kembali normal. Mimpi buruk itu sudah tidak menggaggu dirinya lagi. Kedua tangannya mengunci pinggang Zeroun, agar pria itu tidak berada jauh dari dirinya.
Zeroun tersenyum kecil memandang kelakuan Emelie malam itu. Dengan wajah pasrah, Zeroun juga tertidur di kursi yang sama dengan Emelie. Dada bidangnya menjadi bantal untuk Emelie malam itu. Kedua tangan Zeroun memeluk tubuh Emelie dengan penuh kehangatan.
Satu kecupan diberikan Zeroun di pucuk kepala Emelie. Pria itu bersandar dengan posisi nyaman. Memejamkan mata sambil memeluk wanita yang ia cintai.
“Emelie, selama Aku masih bernyawa. Tidak akan ada satu orangpun yang bisa melukaimu.”
Janji itu lagi-lagi diucapkan Zeroun untuk Emelie. Janji yang hanya ia berikan kepada orang yang berarti dalam hidupnya. Janji yang akan ia pertanggung jawabkan, apapun keadaannya nanti. Janji yang melambangkan kesungguhan cintanya kepada wanita yang memenangkan hatinya.
Vote, like, komen...
biar author semangat.
Terima Kasih untuk Reader setia.
Love u Pulll....💗