Moving On

Moving On
Pertarungan Jalanan



Kenzo melajukan mobil hitam dengan kecepatan tinggi. Sesekali lelaki itu melirik ke arah belakang. Tidak ada satupun mobil musuh yang berhasil mengikutinya. Hal itu justru membuat firasat buruk di dalam hatinya. Jika musuh-musuh mereka tidak mengejar mobil mereka. Sudah bisa di pastikan kalau kini Biao yang berada di dalam masalah.


“Kota ini sangat indah. Sayang sekali kita ke sini hanya untuk bertarung,” ucap Serena sambil memandang indahnya kota Cambridge pada siang hari.


“Kita bisa berkunjung ke kota ini lain waktu setelah berhasil menyelesaikan misi ini. Bukankah Kakak ipar Kenzo akan menjadi Pangeran di kota ini?” ucap Daniel dengan tawa kecilnya.


Serena menatap wajah Daniel. Pernyataan pria itu kembali mengingatkannya dengan Emelie. Wanita yang pernah mengangkat teleponnya beberapa waktu yang lalu. Ia tidak pernah menyangka, kalau sudah sejauh ini perjuangan cinta sahabatnya itu demi mendapatkan wanita yang ia cintai.


“Dimana Zeroun?” celetuk Kenzo sambil memandang ke arah jalan depan.


“Sepertinya dia juga ada di kota ini,” jawab Serena pelan.


“Aku tidak menyangka kalau pria itu tiba-tiba memberi kabar duka yang begitu mengejutkan. Kenapa dia tidak memberi tahu kita kesulitan yang ia punya?” protes Daniel dengan wajah cukup kesal.


Serena mengukir senyuman kecil, “Memang seperti itu sifatnya.”


“Sepertinya ada yang mengikuti kita,” ucap Kenzo saat melihat satu mobil hitam melaju dengan cukup cepat. Lelaki itu menambah laju mobilnya.


Tiba-tiba ponsel Daniel berdering. Lelaki itu mengeryitkan dahi saat melihat nama Biao di layar ponselnya, “Ada apa? Apa kau berhasil menyelesaikan tugasmu?”


[Tuan, Nona Emelie sudah berangkat dengan pesawat Tuan Zeroun menuju ke Hongkong. Sekarang kami ada di belakang anda,] ucap Biao.


Daniel memiringkan tubuhnya untuk melihat mobil hitam yang kini ada di belakangnya. Panggilan telepon itu terputus, “Di belakang mobil Biao.”


Serena juga memutar tubuhnya untuk memeriksa, “Dia mengganti mobilnya?” ucap Serena sambil mengeryitkan dahi.


Tiba-tiba di depan jalan ada segerombolan mobil yang berjajar dengan cukup rapi. Pria berbadan tegab dan bersenjata api terlihat menyambut Serena dan yang lainnya. Kenzo menghentikan laju mobilnya tidak jauh dari posisi musuhnya berada. Pria itu memandang keadaan sekitar yang terlihat sunyi dan tidak berpenghuni. Hanya ada lapangan luas dengan pepohonan di lokasi itu.


Serena dan Daniel menggenggam pistol. Di samping Mobil mereka ada mobil Biao yang juga berhenti.


“Sayang, apa itu pria yang akan menikahi kekasih Zeroun?” tanya Daniel dengan wajah cukup penasaran.


Serena menggeleng kepalanya pelan saat melihat sang pemilik wajah bukan sosok Damian. Wanita tangguh itu membuka pintu mobilnya dan siap untuk menyerang. Namun, gerakannya terhenti saat tangan Daniel menahannya.


“Ada apa?” ucap Serena dengan wajah bingung.


“Aku hanya ingin bilang. Apapun yang kau lakukan nanti, ingat kedua anak kita. Aku tidak ingin kau terluka dan membuat buah hatiku bersedih.” Daniel menarik pundak Serena sebelum mendaratkan satu kecupan di bibir istrinya.


Kalimat yang di ucapkan Daniel juga membuat Kenzo kembali ingat dengan Shabira dan calon anak yang di kandung wanita itu. Keputusan apapun yang akan mereka hadapi hari ini hanya memiliki dua pilihan. Hidup atau mati.


“Aku akan baik-baik saja,” jawab Serena sambil mengusap lembut wajah Daniel.


Kini pemimpin aksi mereka adalah Serena. Zeroun belum juga menampakkan batang hidungnya. Hingga membuat mereka bingung harus mengikuti strategi siapa.


Lukas menundukkan tubuhnya saat Serena menatapnya dengan tatapan tajam. Lana mengikuti gerakan kekasihnya saat pria itu memberi hormat kepada Serena. Hatinya merasa cukup bahagia karena bisa bertatap muka langsung dengan wanita tangguh yang selama ini ia kagumi. Bibirnya mengukir senyuman manis. Satu keberuntungan bagi Lana karena bisa melakukan aksi di bawah pimpinan wanita tangguh itu.


Tidak selang beberapa menit kemudian. Tim yang dipilih Kenzo dan Biao juga tiba dengan segudang senjata api yang mereka miliki. Jumlah pasukan yang dimiliki oleh Serena juga tidak kalah dengan jumlah musuh yang kini ingin menyerang mereka.


“Erena, senang bertemu dengan anda,” ucap salah satu pria yang menjadi tangan kanan Jesica. Lelaki berbadan tegab itu menunduk dengan senyuman menghina, “Untuk ketiga kalinya anda tidak akan bisa menghindar dari malaikat maut.”


“Anda salah, Tuan. Saya sudah tiga kali bertemu dengan maut,” jawab Serena asal saja sambil memperhatikan satu persatu lawannya. Satu wajah yang ia incar saat ini adalah Jesica. Wanita itu cukup yakin kalau Jesica tidak akan melewatkan pertarungan besar hari ini.


Pria itu menatap tajam dengan tatapan kebencian. Rasanya ia sudah tidak sabar dengan penyerangannya siang itu. Ia ingin segera membunuh Erena.


Dari arah belakang Serena, Lukas maju beberapa langkah. Lelaki itu ingin memberikan satu info penting kepada Serena.


“Nona, wanita itu ada di arah jam tiga dengan mobil hitam veyron sport. Saya sudah menyiapkan mobil untuk anda di belakang,” ucap Lukas dengan suara pelan. Bahkan suaranya tidak ada yang bisa mendengar selain Serena.


Serena mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Lukas. Ada senyum kecil di sudut bibirnya saat mendengar kabar baik yang di sampaikan Lukas siang itu.


“Good job!” ucap Serena. Wanita itu mengangkat dua pistol yang ada di genggaman tangannya. Sorot matanya cukup tajam memandang ke arah musuh.


Gerakan spontan yang dilakukan oleh Serena membuat semua pasukan yang ia miliki juga mengangkat senjata api mereka masing-masing, “Aku akan mengejarnya. Tetaplah di sini untuk membantu Daniel dan Kenzo.”


“Baik, Nona,” jawab Lukas.


DUARRR! DUARRR!


Dua tembakan yang di lepas Serena memulai baku tembak yang memekakan telinga siang itu. Beberapa pria tangguh keluar dari barisan musuh dan siap untuk melawan.


Serena memutar arah tubuhnya untuk masuk ke dalam mobil yang di sediakan oleh Lukas. Dari kejauhan Daniel melirik istrinya dengan perasaan campur aduk. Lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa.


Daniel dan Kenzo menghadapi satu pria berbadan tegab yang berjalan ingin menerkam mereka. Sedangkan Biao memimpin pasukan miliknya untuk terus menembak dan membuat jumlah musuh mereka berkurang. Lukas dan Lana juga maju untuk mengalahkan pria berbadan tegab yang ingin menyerang mereka.


Serena menghentikan langkah kakinya. Wanita itu memandang ke arah baku tembak yang terjadi di lokasi pertarungan. Ada rasa khawatir di dalam hatinya. Hari ini mereka menghadapi musuh dengan level tarung kelas tinggi. Akan cukup sulit bagi tim miliknya untuk menang karena tim yang ia bawa juga bukan berasal dari komplotan mafia yang terlatih.


“Aku harap kalian semua baik-baik saja. Aku tidak ingin kalian terluka,” ucap Serena sebelum masuk ke dalam mobil sport. Wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk membalaskan dendamnya kepada Jesica.


Lukas menghalangi beberapa musuh yang ingin mengejar mobil Serena. Lelaki itu tidak akan membiarkan satu orangpun lolos dan berhasil mengikuti mobil Serena.


Nona, saya harap kali ini anda tidak lagi terluka.