Moving On

Moving On
Pertolongan Lagi



Emelie melangkah dengan langkah yang cepat untuk meninggalkan Apartemen mewah itu. Beberapa pengawalnya telah menunggu di sebrang jalan. Emelie memperhatikan jalanan yang terlihat sangat sunyi. Hanya ada beberapa mobil terparkir di pinggiran jalan. Emelie mulai menurunkan kakinya ke jalan. Melangkah dengan langkah yang cepat, untuk menyebrang. Tiba-tiba sorot lampu terang membuat Emelie menutupi matanya dengan satu tangan.


Pengawal-pengawal yang berdiri di ujung jalan mulai berteriak dan berlari untuk menolong Emelie. Satu mobil merah kini melaju kencang tepat di posisi Emelie berdiri. Putri Kerajaan itu berdiri di tengah persimpangan jalan. Mobil itu berjalan melalui jalur kanan dari posisi Emelie berdiri.


Emelie mematung saat memperhatikan laju mobil itu. Kakinya terasa kaku hingga tidak bisa bergerak. Mobil itu kini hanya berjarak beberapa meter dari posisi dirinya. Bahkan pengawal-pengawal yang berlari juga tidak memiliki waktu lagi untuk menolong Emelie.


Dari arah depan, mobil hitam juga melaju dengan cepat. Saat mobil merah itu hampir menyentuh tubuh Emelie, dengan cepat mobil hitam itu menabrak bagian depan mobil merah. Membuat mobil merah itu kehilangan keseimbangan. Mobil itu lari dari jalurnya menabrak tiang lampu merah yang ada di ujung jalan. Terdengar suara rem yang berasal dari kedua mobil itu. Dengan cepat mobil hitam itu pergi meninggalkan lokasi.


Emelie masih mematung melihat apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Hampir saja ia kehilangan satu-satunya nyawa yang ia miliki. Tapi, malam itu masih ada yang melindungnya. Jantung Emelie berdebar dengan sangat cepat. Ia tidak lagi bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika mobil hitam itu tidak menghalangi.


“Putri, apa anda baik-baik saja?” tanya pengawal-pengawal itu dengan wajah khawatir.


Emelie menggeleng pelan, “Aku tidak apa-apa.”


“Tangkap supir mobil itu,” teriak salah satu pengawal. Beberapa pengawal berlari ke arah mobil merah. Namun, semua sia-sia. Pengemudi mobil merah itu telah hilang entah kemana.


“Putri, mari kita kembali ke istana.”


Emelie menangguk, mengikuti pengawal yang mengawal dirinya. Emelie memandang ke arah jalan tempat mobil hitam itu pergi. Ada rasa penasaran di dalam dirinya. Mobil itu terlihat sengaja untuk menolong dirinya dari insiden kecelakaan itu.


“Kenapa mobil itu pergi begitu saja, aku ingin mengucapkan terima kasih.” Emelie memandang jalanan lurus yang sunyi itu.


“Mungkin mobil itu kebetulan lewat dan ingin menolong anda, Putri.” Pengawal itu membukakan pintu mobil untuk memberi jalan kepada Emelie. Emelie masuk dan duduk dengan posisi nyaman. Ia berusaha untuk kembali tenang dan melupakan kejadian mengerikan itu.


Disisi lain. Zeroun mengemudikan mobilnya dengan cepat. Ia ingin mengejar pengemudi mobil merah yang ingin mencelakai Emelie. Setelah gagal mencelakai Emelie, pengemudi mobil itu meninggalkan mobilnya dan masuk ke dalam mobil lain yang sudah menunggunya. Kini mobil itu lagi dalam pengejaran Zeroun Zein.


“Apa yang akan terjadi padanya, jika tadi aku tidak mengikutinya. Kenapa hidupnya selalu berada dalam bahaya seperti ini. Siapa yang ingin mencelakainya?” Zeroun terus berpikir keras dengan beberapa musibah yang kini mengincar Emelie.


Sejak Emelie pergi meninggalkan dirinya di Apartemen. Zeroun tidak bisa duduk dengan tenang. Dengan sembunyi-sembunyi ia mengikuti Emelie untuk melindungi wanita itu dari bahaya.


Tidak di sangka, sebelum Emelie berada di bawah penjagaan pengawal pribadinya, sudah ada bahaya yang mengejar dirinya. Dengan sigap Zeroun menabrakkan mobil yang ia kemudikan, untuk menghalangi rencana jahat orang-oramg tersebut. Hanya itu satu-satunya cara untuk melindungi Emelie dalam situasi terdesak seperti tadi.


“Aku harus berhasil mengetahui identitas pengemudi mobil tadi.” Zeroun menambah laju mobilnya agar tidak tertinggal jauh dengan targetnya di depan.


***


Mobil pria asing itu berhenti di depan rumah kosong. Ada 4 orang yang berada di dalam mobil itu. Keempat pria itu berjalan masuk ke dalam rumah kosong itu. Sebelum masuk, mereka memperhatikan keadaan sekitar. Mereka memastikan sekali lagi, kalau tidak ada orang yang mengikuti mereka malam itu.


Dari kejauhan, Zeroun berdiri dengan tenang memperhatikan lokasi itu. Mengambil pistol yang tersimpan di dalam sakunya. Dengan penuh waspada ia menerobos masuk ke dalam rumah kosong itu. Di dalam rumah itu tidak terlalu ramai. Hanya ada belasan pria yang berkumpul. Sepertinya mereka hanya preman-preman kecil yang menerima perintah untuk mencelakai orang lain. Walau gagal dalam misinya, pria-pria itu masih terlihat menikmati permainan kartunya.


Zeroun berdiri dengan tenang di depan pintu. Menatap satu persatu wajah musuhnya dengan tatapan membunuh.


“Siapa kau?” teriak salah satu preman. Dengan sigap, seluruh preman itu berdiri dan mengacungkan belati di hadapan Zeroun.


“Ternyata kau salah satu pengawal putri Emelie?” jawab salah satu preman lainnya.


Semua pria itu mengambil posisi siap siaga. Beberapa di antaranya juga mengeluarkan senjata api dari bawah meja.


Zeroun tersenyum tipis saat melihat ujung pistol itu kini mengarah langsung ke tubuhnya. Dengan sigap, Zeroun memutar tubuhnya dan berjongkok. Menembak satu persatu musuh yang ada di hadapannya.


Baku tembak terjadi. Zeroun melindungi dirinya di balik tembok sebelum melanjutkan aksinya. Ia tidak ingin melumpuhkan semua musuhnya. Pria itu ingin mengetahui identitas orang yang mengirim preman-preman itu untuk mencelakai Emelie.


Zeroun melihat satu pria lari keluar rumah. Dengan cepat, Zeroun menghabisi sisa preman yang ada di dalam. Setelah berhasil melumpuhkan musuhnya yang ada di dalam rumah. Zeroun berlari kencang untuk mengejar orang yang kabur dari rumah itu.


DUARR!


Zeroun menembak kaki musuhnya. Membuat lawannya tidak bisa berjalan lagi. Preman itu terjatuh dengan darah yang berkucur deras di bagian kakinya.


“Katakan?” Zeroun melekatkan pistol miliknya di pelipis preman itu.


“Jangan bunuh saya.” Preman itu terlihat ketakutan.


“Katakan,” ucap Zeroun dengan nada penuh penekanan.


“Kami di bayar oleh seseorang,”


Zeroun melepas satu tembakan ke arah langit. Bukan itu jawaban yang ia inginkan. Kesabarannya sudah mulai habis.


“Ini kesempatan terakhirmu,” ucap Zeroun sekali lagi dengan nada mengancam. Membuat lawannya tidak lagi bisa menutup-nutupi apa yang seharusnya tidak diucapkan.


Zeroun mulai menarik pelatuk pistolnya secara perlahan.


“Adriana, putri Adriana yang meminta kami untuk melakukannya.” Pria itu menunduk takut dengan tangan gemetar.


“Adriana?” Dahi Zeroun mengkerut.


“Benar,” jawab preman itu cepat.


Zeroun tidak lagi memiliki belas kasih. Dengan cepat ia menarik pelatuk pistolnya, membuat preman itu kehilangan nyawanya yang berharga. Setelah preman itu tergeletak di atas tanah, Zeroun pergi meninggalkan kekacauan itu. Setidaknya ia sudah berhasil mengetahui identitas musuh tersembunyi yang selalu ingin mencelaki Emelie selama ini.


Zeroun membawa mobilnya pergi meninggalkan rumah kosong itu.


“Adriana? bukankah dia adik Emelie? untuk apa dia mencelakai kakak kandungnya sendiri?” Zeroun masih tidak yakin dengan apa yang ia dengar. Bisa saja seseorang ingin menjebak Adriana dan membuat hubungan adik kakak itu menjadi rusak.


“Sepertinya aku harus menyelidiki masalah kerajaan ini juga.” Zeroun menambah laju mobilnya. Menembus kabut malam yang begitu tebal dan dingin.