Moving On

Moving On
Terluka Lagi



Hari yang gelap telah berganti. Matahari kembali muncul ke permukaan dengan terang. Masih di rumah sakit yang sama. Zeroun sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Kini ia berdiri di samping tempat tidur Lukas dengan tatapan tidak terbaca. Hatinya di selimuti khawatir, saat melihat tangan kanannya itu tidak kunjung membuka mata.


Zeroun memperhatikan wajah Lukas dengan seksama sambil mengeryitkan dahi. Melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya.


“Apa kau ingin mengambil cuti panjang?” umpat Zeroun kesal.


Terdengar suara pintu terbuka secara tiba-tiba. Zeroun mengalihkan tatapan matanya pada pintu yang sedang terbuka. Lana muncul dari balik pintu bersama Dokter yang akan memeriksa Lukas. Wanita itu juga terlihat kurang sehat atas pukulan bertubi–tubi yang ia terima tadi malam. Zeroun menyingkir, memberi jalan kepada Dokter yang baru tiba untuk memeriksa keadaan Lukas. Ada harapan baik dari ekspresi wajah Dokter muda itu.


“Kondisinya sudah berangsur baik, tinggal menunggu pasien sadar.” Dokter itu memperhatikan Zeroun dengan seksama.


“Tuan, saya Dokter yang di kirimkan oleh pak Tua dari Hongkong.” Dokter itu tersenyum penuh arti.


“Pak tua itu tidak bisa mengikuti aksi anda lagi. Jadi, mulai sekarang saya yang akan menjadi Dokter pribadi anda,Tuan Zeroun Zein.” Dokter itu membungkuk hormat di hadapan Zeroun layaknya Bos yang harus ia hormati.


“Terima kasih, Dokter.” Zeroun mengulurkan tangannya. Memandang wajah Lukas dengan seksama. Ada senyum kecil di wajahnya saat membayangkan Dokter tua yang selama ini merawat dirinya saat dalam keadaan berbahaya.


“Kami tidak bisa lama–lama di rumah sakit ini,” sambung Zeroun dengan tatapan penuh arti.


Dokter itu juga memandang wajah Lukas dengan tak berdaya, “Kami akan menyiapkan segalanya, Tuan.” Dokter itu membungkuk.


“Saya permisi dulu, Tuan.”


Zeroun tersenyum kecil memandang kepergian Dokter barunya itu. Ia tidak perlu merasa khawatir lagi dengan keadaan Lukas saat ini. Semua sudah teratasi dengan sempurna.


Lana memandang wajah Zeroun dan Lukas secara bergantian. Tubuhnya membungkuk sebelum ia mengeluarkan isi hatinya. Ada perasaan ragu untuk berbicara, namun pertanyaan itu sudahmemenuhi isi hatinya sejak tadi. Menyesakkan dada untuk ingin segera diungkapkan. Dengan tangan terkepal kuat, Lana mengangkat kepalanya. Memberanikan dirimemandang wajah Zeroun secara langsung.


“Ada apa?” tanya Zeroun yang seolah mengerti dengan suasana hati Lana saat ini.


“Boz, apa saya boleh tidur?” ucap Lanasambil memejamkan mata menahan napas.


Zeroun mengangkat satu alisnya, “Siapa yang pernah melarangmu untuk tidur?”


“Pergilah kembali ke markas. Kau bisa istirahat di sana. Biar anggota Gold Dragon yang lain yang menjaga Lukas di sini.” Zeroun berjalan ke arah sofa.


“Terima kasih,Bos.” Lana membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


Zeroun menggeleng kepalanya pelan melihat sifat polos Lana pagi itu. Memandang wajah Lukas dari kejauhan.


“Apa kau yang melarangnya tidur?” ucap Zeroun pelan, sebelum memandang keluar jendela. Memandang kota Cambridge dari ketinggian. Jalanan yang panjangterlihat jelas dari atas gedung tinggi itu. Beberapa orang yang berjalan dipinggiran jalan terlihat berukuran kecil. Di langit, gumpalan awan putih terlihat menghiasi langit biru. Menjadikan angkasa seperti sebuah lukisan yang begitu indah.


“Apa sekarang kau lagi menangis? Apa kau bisa bangkit dari tempat tidur?”


Tiba-tibasaja ia kembali ingat dengan Emelie. Hari ini adalah jadwal persemayaman terakhir Ibu kandung dari Emelie. Zeroun kembali ingat dengan kesedihan Emelie saat Raja meninggal. Emelie terlihat putus asa dan tidak ingin makan atau minum. Ada rasa kasihan saat membayangkan penderitaan yang kini di alami oleh Putri Kerajaan yang bernasip malang itu. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak. Semua masalah ini bukan menjadi tanggung jawabnya. Ia tidak ingin ikut campur dalam masalah yang dihadapi Emelie. Sebisa mungkin, Zeroun memasang sifat masa bodoh atas semua yang terjadi.


***


Cuaca memang terlihat sangat cerah. Tapi, tidak dengan suasana hati Emelie pagi itu. Perasaannya terasa gelap dan sangat sulit untuk menemukan cahaya hidup. Hatinya lagi-lagi terasa perih walau tidak ada yang mengiris hatinya. Kehilangan, lagi-lagi ia kehilangan.


Emelie berdiri di depan peti Ratu dengan mata bengkak. Wajahnya masih tetap terlihat pucat, walaupun sudah di lapisi make up. Di sampingnya juga ada Adriana yang memasang wajah sedih. Seluruh anggota kerajaan telah berkumpul. Kakak laki–laki Ratu yang menjabat sebagai Letnan colonel, kini bertanggung jawab atas upacara persemayaman Ratu.


Ratu di semayamkan di lokasi yang sama dengan Raja. Peti ratu di kelilingi pasukan penjaga lengkap dengan topi dari kulit beruang dan satu senapan yang tunduk di lantai. Di luar gerbang para jurnalis dan seluruh masyarakat juga telah berkumpul untuk menyaksikan proses persemayaman. Polisi dan seluruh angkatan bersenjata juga berkumpul untuk melindungi seluruh anggota kerajaan yang ada.


Emelie tidak bisa lagi mengeluarkan air mata. Ia hanya diam memandang peti yang akan segera di benamkan di dalam tanah. Tangannya terkepal untuk menahan amarah. Ia ingin berteriak untuk meluapkan amarahnya, rasa kesal. Baginya Dunia ini tidak adil. Ia baru saja kehilangan sosok Ayah, tapi sekarang ia harus kehilangan sosok Ibu.


Namun, semua luapan emosi itu hanya tertahan dihati. Setelah berjam–jam ada di lokasi pemakaman dan menyelesaikan tradisi yang ada. Emelie dan Adriana kembali ke istana. Tidak ada yang ingin mengeluarkan kata dalam suasana berkabung itu. Bahkan setelah tiba di istana, Emelie berjalan menuju kamar tidurnya di temani oleh beberapa pelayan setianya.


Sedangan Adriana hanya bisa bernapas lega saat Ratu kini sudah tiada untuk selama-lamanya. Setidaknya tidak ada lagi orang yang akan melanjutkan rencana pernikahan Damian dan Emelie. Pagi itu Pangeran Damian tidak terlihat di acara persemayaman Ratu. Pria itu bertugas untuk menyelidiki penyebab kecelakaan.


Crazy up. Bagi poin dan Koin ya. jgn pelit2 sama author. ne author begadang lho ngetiknya...🤭


like jgn lupa.