
Emelie juga memejamkan matanya dengan kepala bersandar di dada milik kekasihnya. Putri Kerajaan itu teringat dengan satu kata mesra yang selama ini ingin ia dengar dari bibir Zeroun. Wanita itu tesenyum sebelum memandang wajah Zeroun yang ada di sampingnya.
“Zeroun,” ucapnya dengan begitu lembut dan menggoda.
“Hmm.” Masih tetap memejamkan mata.
“Panggil Aku dengan sebutan yang sedikit mesra,” ucap Emelie pelan.
Zeroun membuka matanya sambil mengeryitkan dahi, “Sebutan mesra?”
“My Love … Honey … Darling … Baby ….” jawab Emelie dengan senyuman manis ciri khasnya.
“Seperti sepasang kekasih pada umumnya yang sedang berpacaran. Aku sering mendengarkan kata-kata itu saat nonton film romantis.” Wajah Emelie merona bahagia.
Zeroun tertawa kecil saat mendengar permintaan kekasihnya pagi itu, “Apa itu satu kewajiban?”
Emelie memasang wajah kesal saat tidak mendapat respon baik dari Zeroun. Dengan kasar, Emelie melepaskan pelukan Zeroun yang sempat mengunci perutnya. Wanita itu berdiri di depan pintu kaca yang menghadap ke arah kolam. Kedua tangannya ia lipat di depan dada.
“Kau memang pria yang sangat menyebalkan Zeroun.”
Zeroun melanjutkan tawanya saat melihat wajah cemberut kekasihnya itu. Bos Mafia itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berpacaran dengan wanita polos dan lugu seperti Emelie memang membuat dirinya sedikit kesulitan.
“Emelie, kemarilah. Kenapa kau sangat suka menjauh dariku?” Zeroun menepuk pelan sofa yang ada di sampingnya.
“Aku tidak mau dekat-dekat denganmu. Aku hanya ingin kau memilih salah satu sapaan yang Aku sebutkan tadi, kenapa kau mala tertawa. Apa itu lucu?” Wajah Emelie terlihat marah.
“My Love, kemarilah.” Zeroun mengalah dengan kekasihnya. Hanya dengan menuruti perkataan Emelie, maka semua masalah akan segera terselesaikan.
“Aku sudah tidak mau mendengarkannya lagi,” jawab Emelie masih dengan wajah kesal.
“Honey … kemarilah,” bujuk Zeroun tidak mau kalah.
“Darling ....” sambung Zeroun dengan nada yang cukup mesra.
Emelie terlihat menahan tawa saat mendengar perkataan Zeroun. Hatinya kembali luluh dengan senyuman yang begitu indah.
“Baby … kemarilah,” ucap Zeroun tanpa henti.
"Emelie Sayang ...." sambung Zeroun yang masih terus berusaha merayu wanitanya.
Emelie tersenyum kecil sebelum memutar tubuhnya untuk memandang wajah Zeroun,
“Baby?" ucap Emelie sambil berjalan ke arah Zeroun. Wanita itu duduk di atas pangkuan Zeroun dengan dua tangan melingkari leher Zeroun.
“Bukankah itu sangat manis.” Mencubit pipi Zeroun.
“Baby? Emelie, kau ingin Aku memanggilmu dengan sebutan Baby?” Zeroun memandang wajah Emelie dengan begitu serius.
Emelie mengangguk, ”Yes, Baby.”
“Baiklah, tapi jangan gunakan kata-kata itu ketika kita berada di depan Gold Dragon.” Zeroun menarik pinggang ramping kekasihnya agar tidak terjatuh.
“I Love You, Baby,” ucap Emelie dengan penuh cinta.
“I Love You to, Baby.” Zeroun menarik kepala Emelie agar melekat dengan wajahnya. Pria itu mencium bibir kekasihnya dengan begitu mesra.
“Emelie sayang, berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkanku.” Zeroun menatap wajah Emelie yang kini hanya berjarak beberapa centi dengan wajahnya.
“Aku berjanji, Baby,” jawab Emelie penuh keyakinan.
Zeroun melanjutkan cumbuan mesranya. Memejamkan kedua matanya untuk menikmati kecupan demi kecupan di leher jenjang milik kekasihnya. Setelah puas menghirup aroma kekasihnya, Zeroun kembali mengecup bibir Emelie dengan begitu mesra.
Zeroun menguasai mulutnya dengan sentuhan hangat yang begitu menggoda. Membuat Emelie melayang dan terlena.
Suara ketukan pintu mengganggu momen romantis keduanya. Zeroun melepas cumbuannya dengan mata berkabut. Pria itu memandang wajah Emelie dengan senyuman bahagia. Mengusap lembut rambut Emelie yang terlihat sedikit berantakan.
“Masuk!” ucap Zeroun cepat.
Emelie melebarkan kedua bola matanya. Wanita itu berusaha untuk beranjak dari pangkuan Zeroun. Ia tidak ingin ada orang lain yang melihat kelakuannya yang cukup berani pagi itu.
Tetapi, belum sempat Emelie menjauh dari tubuh Zeroun. Pria itu lebih dulu mengunci tangannya di perut Emelie. Tenaganya yang cukup kuat, membuat Emelie tidak berhasil untuk beranjak dari pangkuan Zeroun.
Lukas muncul dari balik pintu dengan beberapa lembar kertas yang ada di tangannya. Pria itu berdiri di depan Zeroun dengan ekspresi dingin favoritnya. Kedua bola matanya tidak terlalu peduli dengan pemandangan yang kini ada di depan matanya.
“Bos, ini data yang anda minta.” Lukas memberikan beberapa lembar kertas itu di hadapan Zeroun.
Emelie menundukkan wajahnya masih dengan ekspresi malu. Menyembunyikan wajahnya di pundak Zeroun agar tidak melihat langsung wajah bawahan kekasihnya itu.
“Apa sudah semua?” Zeroun melirik Emelie dengan senyuman kecil, sebelum melanjutkan pembicaraannya dengan Lukas.
“Sudah, Bos.” Lukas membungkuk sedikit saat menjawab.
Emelie sedikit tertarik dengan foto wanita yang kini di genggam kekasihnya. Dengan hati-hati, Emelie memandang wajah wanita berambut cokelat itu. Tertulis jelas di situ namanya Jesica Gigante.
Setelah lembar atas di tukar, ada wajah wanita lainnya yang kini diperhatikan Zeroun. Wanita itu mengenakan seragam polisi dengan tubuh yang begitu bertenaga.
“Agen Mia. Wanita ini yang ditugaskan untuk menangkap kita, Bos.” Lukas menjelaskan foto wanita itu.
“Semua lawanmu wanita, Zeroun. Apa kau bisa mengalahkannya?” Emelie merebut paksa kertas-kertas yang ada di tangan Zeroun.
“Kenapa nama Adriana tidak ada. Seharusnya kau juga memberi hukuman kepadanya.” Emelie mengembalikan tumpukan kertas itu kepada Zeroun.
“Tentu saja Aku bisa mengalahkan mereka semua. Hanya satu wanita tangguh yang tidak pernah bisa Aku kalahkan.” Zeroun tersenyum memandang wajah Emelie.
“Siapa?”
“Serena,” jawab Zeroun cepat.
“Dia bisa menembak dan berkelahi?” Emelie terlihat antusias saat mendengar nama Serena.
“Ya, semua yang Aku lakukan juga bisa ia lakukan.” Zeroun masih tetap fokus pada kertas yang ada di genggamannya.
“Sekarang dia ada dimana?” Emelie menarik wajah Zeroun agar menatap wajahnya saat berbicara.
“Jepang,” jawab Zeroun dengan senyuman.
Lukas melirik sepasang kekasih itu sebelum membuang napasnya secara kasar. Situasi genting dan berbahaya yang mereka hadapi saat ini seakan tidak terasa mencekam lagi.
Emelie memperhatikan dengan seksama wajah Jesica. Tertulis jelas di situ semua info tentang geng Mafia Heels Devils milik Jesica. Pekerjaan bahkan alamat markas besar yang mereka miliki.
“Jesica, apa dia yang membunuh Ratu?” Emelie mencoba untuk menyatukan semua pristiwa yang terjadi di dalam hidupnya.
Zeroun mengangguk pelan, “Jesica pembunuh bayaran yang dikirim oleh Adriana. Namun, sekarang dia tidak lagi bekerja dengan Adriana. Dia bekerja dengan Damian untuk mengalahkanku.”
Emelie menatap wajah Zeroun dengan begitu sedih, “Semua karenaku. Kalau saja sejak awal kau tidak meno-“
“Ssttt, jangan katakan hal itu lagi. Aku sangat senang bisa bermain-main dengan senjata lagi. Sudah satu tahun kami berlibur dan bersantai.”
Lukas berdiri diam seribu bahasa. Pria itu hanya menjadi pendengar tanpa bisa ikut dalam obrolan antara Zeroun dan Emelie.
Mungkin semua ini sudah takdir. Dulu, kami melibatkan Nona Erena di dalam musuh kami. Sekarang, kami terlibat dalam musuh milik Nona Emelie.