
Jesica adalah big bos dari geng mafia terbesar di Eropa. Heels Devils. Pembunuh bayaran sekaligus pengedar obat-obatan terlarang terbesar yang ada di benua Eropa. Masa kejayaannya berlangsung selama 1 tahun terakhir ini. Wajar saja, kalau Zeroun sampai tidak pernah menyadari kehadiran Geng mafia Heels Devils.
Jesica tidak akan segan untuk membunuh siapapun yang berniat menghalangi misinya. Baginya, nyawa manusia hanya sebuah taburan debu yang harus segera dibersihkan. Organisasi kriminal Jesica berpusat di Brazil dengan anggota ratusan ribu orang. Berulang kali polisi berhasil menangkap anggota Heels Devils saat beraksi. Namun, tidak lebih dari 24 jam.
Mereka semua berhasil lolos dan tidak bisa ditemukan lagi. Tidak hanya pembunuh dan pengedar obat-obat terlarang. Merampok beberapa benda berharga juga menjadi salah satu misi Heels Devils. Jesica mempunyai peran yang penting saat bawahannya tidak berhasil menyelesaikan misinya. Gagalnya membunuh Putri Emelie saat Zeroun Zein ikut campur, membuat Jesica murkah. Wanita itu keluar dari zona amannya selama ini berkunjung ke Inggris.
Belum ada yang pernah mengetahui identitas asli pemimpin mafia besar Eropa itu. Selama ini semua bawahannya hanya mendengar perintah melalui ponsel. Tidak pernah satu orangpun memiliki pemikiran, kalau aksi berbahaya mereka selama ini di pimpin oleh seorang wanita.
Jesica melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menembus keramaian kota dengan satu senyuman licik. Barisan mobil kerajaan ada di hadapannya. Beberapa bawahannya juga sudah memberi kode siap siaga. Jesica semakin semangat melanjutkan misinya malam itu.
Ledakan terus terjadi hingga mobil pengawal tidak lagi tersisa. Jesica memasang handsfree di telinga kiri ketika melihat panggilan masuk.
“Selamat malam Putri Adriana. Anda akan menerima paket terbaik besok pagi.” Senyum licik mengembang di bibir Jesica.
Jesica adalah pembunuh bayaran yang dikirim oleh Adriana. Putri Kerajaan itu sangat marah, ketika Emelie masih hidup. Jesica mengambil tugas itu secara langsung karena tidak ingin gagal lagi.
Jesica mendahului mobil yang membawa anggota kerajaan itu. Memutar mobilnya agar bisa berhadapan langsung dengan mobil yang menjadi targetnya. Dengan cepat, ia injak gas mobilnya dengan arah berlawanan. Kecepatan mobil Jesica sangat tinggi.
Terdengar suara benturan yang sangat kuat. Mobil kerajaan itu berguling-guling di jalanan kota. Sedangkan mobil Jesica tidak ada tergores sedikitpun. Wanita itu tersenyum dengan penuh kemenangan. Sudah bisa dipastikan, semua penumpang yang ada di dalam mobil itu akan tewas.
Jesica melajukan mobilnya meninggalkan lokasi kecelakaan itu. Layar ponselnya berbunyi lagi. Sejumlah uang dalam jumlah besar baru saja ia terima.
“Senang bekerja sama dengan anda, Putri Adriana,” ucap Jesica. Mobil itu melaju cepat meninggalkan kota Cambridge.
***
Zeroun melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke markas sementara miliknya yang ada di kota Camridge. Hatinya di selimuti kekhawatiran dengan kondisi Lukas saat ini. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Laju mobil Zeroun terhenti saat jalan utama menuju ke markas miliknya di tutup.
“Apa lagi ini!” umpatnya kesal.
Zeroun melonggarkan dasinya saat tubuhnya merasa panas. Memukul-mukul stir mobil dengan jarinya. Tidak ada lagi jalan untuk memutar mobilnya saat itu. Mobil Zeroun di apit oleh beberapa pengguna jalan lainnya.
Terdengar sirine polisi dan ambulan dimana-mana. Jalanan itu tidak hanya dipenuhi mobil tetapi kerumunan orang yang ingin tahu.
Tiba-tiba saja, ia kembali ingat dengan pertemuan singkatnya dengan Emelie. Ada senyum kecil di sudut bibirnya saat membayangkan wajah gugup Emelie saat berdansa dengan dirinya tadi.
“Emelie ... Dia wanita yang sangat istimewa. Cerdas, hangat, kuat dan sangat mempesona. Terkadang penuh dengan kelembutan, namun terkadang berubah menjadi sok berani. Tidak akan habis kata untuk menilai dirinya. Sepertinya aku kagum padanya. Ya, hanya kagum. Tidak lebih dari itu.” Zeroun menyeringai lalu menatap luar jendela. Ada banyak polisi dan ambulan yang berlalu lalang dari jalur lain.
Zeroun membuka kaca mobilnya untuk mencari info kepada beberapa orang yang berlalu lalang.
“Maaf, Tuan. Apa yang terjadi di jalan depan?” Zeroun bertanya pada pria paruh baya yang melintas di samping mobilnya.
“Ada kecelakaan beruntun di depan,” jawab Pria itu sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat ke depan.
“Kecelakaan?” Zeroun mengernyitkan dahinya saat mendengar kata kecelakaan. Sudah biasa ia mendengar kata-kata itu. Bahkan di setiap misi yang ia lakukan korban yang berjatuhan sudah pasti jauh lebih banyak.
Zeroun menekan tombol yang ada di sampingnya untuk menutup kembali kaca mobilnya.
“Emelie ....” Jantungnya berdetak sangat cepat dengan perasaan khawatir yang begitu besar. Zeroun keluar meninggalkan mobilnya berlari kencang untuk melihat kondisi kecelakaan.
Menembus keramaian yang ada di sepanjang jalan itu. Zeroun ingin memastikan sendiri, kalau korban kecelakaan itu bukan Emelie. Entah kenapa hatinya tiba-tiba takut kehilangan wanita yang sempat mengganggu pikirannya itu.
Ponsel Zeroun berdering. Zeroun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Ada nama Lana terukir dilayar itu.
“Ada apa?” Tatapannya masih terus mencari-cari pusat kecelakaan.
“Sepertinya kita harus membawa Bos Lukas ke rumah sakit, Bos. Denyut nadinya semakin lemah.” Suara Lana terdengar sangat panik.
“Ya, bawa dia ke rumah sakit. Aku akan segera kesana.” Panggilan terputus. Ponsel itu ada di dalam genggamannya.
Zeroun menatap jalanan ramai yang ada di depan matanya. Matanya teralihkan pada gerombolan orang yang merupakan bagian dari mafia Heels Devils. Ingin sekali ia berlari dan menyerang musuhnya itu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat polisi yang masih berkumpul di lokasi itu.
“Apa mereka yang menyebabkan semua ini?” ucap Zeroun dengan wajah menahan emosi.
“Emelie ....” ucapnya lagi.
“Hanya Emelie yang menjadi target wanita itu.” Napas Zeroun terasa sangat sesak.
“Kasian sekali, sepertinya korbannya tewas,” ucap salah satu wanita yang juga menjadi penonton dalam kecelakaan itu.
Zeroun mematung mendengar perkataan semua orang yang ada di sekitarnya. Entah kenapa, air matanya menetes keluar dengan perasaan yang sangat sedih. Hatinya belum siap untuk menerima kabar kalau Emelie yang menjadi korban kecelakaan itu.
“Bos.” Salah satu pasukan Gold Dragon mengganggu lamunan Zeroun.
Zeroun menatap wajah Gold Dragon dengan mata berkaca-kaca.
“Bos, kami sudah menyiapkan mobil untuk anda.”
Zeroun mengangguk pelan. Memutar tubuhnya, memandang ke arah lokasi kecelakaan lagi sebelum berjalan dengan langkah yang berat.
“Emelie, Aku harap kau tidak ada di dalam kecelakaan ini.”
Keramaian itu terasa sangat sunyi bagi Zeroun. Pikirannya di penuhi dengan nama Emelie dan Emelie. Tidak ada status apapun antara dirinya dan Emelie saat ini. Zeroun terlihat bingung untuk memilih keputusan yang harus ia ambil saat ini.
“Bos, silahkan.” Gold Dragon membukakan pintu mobil untuk Zeroun.
Zeroun memutar tubuhnya lagi sebelum masuk ke dalam mobil.
“Selidiki kecelakaan ini,” perintahnya cepat.
“Baik, Bos.” Anggota Gold Dragon itu melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke arah rumah sakit tempat Lukas di rawat.
Bagi vote koin atau poin ya... 🤭 ud 4 bab hari ini lho.